
Setelah Haris pulang, Hanun langsung masuk ke dalam rumahnya dan langsung disambut heboh oleh Aqila, adiknya.
“Siapa, Teh? Pacar baru? Terus A Hafidz di kemana-in? Teteh selingkuh?” tanya Aqila dengan sederet pertanyaannya.
“Apa sih anak kecil. Sembarangan aja kalau ngomong. Tadi itu kakaknya Hafidz.” Hanun menjawab sambil membuka sepatunya.
“Ko, bisa diantar kakaknya, sih? Teteh selingkuh sama kakaknya?”
Hanun mendelik dan mengacak-ngacak rambut panjangnya Aqila. “Tadi, teteh itu main ke rumahnya Hafidz. Mau menanyakan soal kabarnya dia. Karena udah malam, jadi diantar pulang. Jangan suka bikin gossip aneh, deh.”
“Kakaknya ganteng juga. Buat aku juga bisa kan, yah?”
“Maunya kamu itu, mah. Udah, ah, teteh mau mandi dulu.”
❤❤❤
Hanun baru saja turun dari angkot. Begitu ia berjalan menuju gerbang sekolah, ia tak menyangka bisa melihat sosok Hafidz yang sedang berdiri di sana menunggunya. Ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Melihat Hafidz kembali, membuat Hanun begitu senang. Bahkan, ia sampai berlari menghampirinya.
Begitu berdiri di hadapan Hafidz yang hanya berjarak beberapa centi meter darinya, mereka saling melempar senyum dan saling menatap satu sama lainnya.
“Hai, calon pacar,” katanya pelan sambil tersenyum lebar.
“Hai, calon pacar. Kamu kemana aja, kenapa semua telepon aku dan chatt aku nggak kamu balas?”
“Aku lagi sibuk,” jawabnya cepat.
“Sibuk apa?” tanya Hanun bingung.
“Sibuk memikirkan kamu,” jawabnya yang membuat mata Hanun berkaca-kaca. “Maaf, yah?” katanya lagi.
“Maaf untuk apa?” tanya Hanun mengulang.
“Maaf, karena sudah membuatmu menungguku. Dan, maaf sudah membuatmu jadi merindukanku. Kamu merindukan aku, kan?”
“Sangat rindu,” jawab Hanun dengan cepat.
“Seberapa rindu?”
“Lebih dari rindumu padaku,” jawabnya yang membuat Hafidz tersenyum kecil dan menarik hidung Hanun dengan gemas.
“Nun, boleh aku minta izin?”
“Izin apa?”
“Izin untuk mencintaimu,” katanya pelan.
“Pagi-pagi udah gombal,” kata Hanun yang langsung menyenggol lengan Hafidz pelan.
“Biar apa?”
“Biar kaya Iwan Fals. Jadi, bisa dibuat lagu,” katanya yang membuat Hanun mendengarnya langsung terkekeh.
“Aku nggak perlu kamu seperti Iwan fals yang bisa membuat lagu.” Hafidz terdiam hingga membuat Hanun menatap kedua bolanya dengan lebih dalam. “Aku cuma butuh kamu yang selalu ada bersamaku. Tanpa menghilang, tanpa tak ada kabar. Aku ingin melihatmu terus, sampai tak pernah mengenal kata lelah dan bosan.”
Hafidz tertegun. Ia tak menyangka jika perempuan yang disukainya itu akan mengucapkan kalimat yang membuatnya tersentuh dan juga tersenyum bahagia. Sungguh hadiah luar biasa yang Tuhan berikan kepadanya selama ini.
“Fidz,” kata Hanun memanggil.
“Iya?” jawabnya pelan.
“Aku benci ketika tidak bisa bertemu denganmu dan aku juga benci ketika kamu tak berada di sampingku.”
Hafidz terdiam. Ia hanya bisa tersenyum dan menarik hidung Hanun kembali seperti kebiasaannya.
“Anun, boleh minta izin lagi nggak?”
“Izin apa?”
“Peluk kamu,” katanya yang membuat Hanun terkejut mendengarnya.
“Jangan.”
“Kenapa jangan?”
“Jangan di sini. Jangan di sekolah, malu tahu.”
“Jadi, kalau bukan di sekolah boleh?” katanya kembali yang membuat Hanun langsung salah tingkah. “Kalau izin pegangan tangan boleh nggak?”
“Kalau itu boleh. Tanpa kamu minta izin pun, aku izinin.”
Hanun dan Hafidz tertawa bersama. Hafidz memberanikan diri untuk meraih tangan Hanun dan menggenggamnya. Mereka berdua bergandengan tangan hingga membuat beberapa orang yang melihat kedekatan mereka berdua tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru mereka lihat.
Hafidz mengantar Hanun sampai kelasnya. Saat di depan kelas, mereka masih bergandengan tangan dan membuat teman-teman sekelasnya kasak-kusuk tidak jelas.
“Jangan nakal, yah?” kata Hafidz sambil menarik hidung Hanun.
“Kamu juga. “
“Bye, calon pacar.”
“Bye juga, calon pacar.”
Hafidz melambaikan tangannya dan beranjak pergi. Hanun terlihat tersenyum riang hingga membuat Gita yang melihatnya, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh temannya juga.