This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Keluarga yang Menyenangkan



“Salma ganti baju dulu yah, Bu.”


Ibu mengangguk. Begitu Salma masuk ke dalam kamarnya, Haris pulang dengan membawa bungkusan makanan yang begitu banyak.


“Assalamualaikum.”


“Waaalaikumsalam. Wah, itu apa, Har? Banyak sekali bungkusannya?” tanya ibu yang langsung menghampiri Haris dan membantu anaknya itu untuk menyimpan beberapa bungkusan yang di bawanya.


“Ini dari tante Rahma. Haris tadi ke rumahnya, mumpung lewat jadi mampir dulu. Eh, ini siapa, Bu?” tanya Haris begitu melihat Hanun.


“Calon pacarnya A Hafidz, Aa!” teriak Salma begitu keluar dari kamarnya.


“Oh, ini toh yang diceritakan Hafidz tempo lalu. Pintar juga dia cari pacar. Hai, aku Haris kakaknya Hafidz sama Salma,” katanya memperkenalkan diri.


“Hanun, Kak.”


“Ya udah, sekarang makan dulu, yuk. Ini masakan ibu sama Hanun. Cobain dulu.”


Haris dan Salma mengangguk. Saat mereka tengah menikmati hidangan makan malam mereka, Hanun tak henti-hentinya tersenyum dan menyimak keakraban keluarganya Hafidz. Ia begitu senang bisa mengenal keluarga Hafidz yang begitu ramah dan baik padanya.


Walau Hafidz saat ini tidak ada di sini, tapi Hanun cukup terhibur dengan keluarga Hafidz yang begitu welcome padanya. Setelah makan malam bersama, tadinya Hanun hendak pulang dengan menggunakan ojek online. Tapi, ibu Hafidz menyarankan Hanun untuk pulang diantar Haris.


Awalnya Hanun menolak karena tidak ingin merepotkan. Tapi, akhirnya ia menerima tawaran ibunya Hafidz dan pulang bersama Haris. Begitu berpamitan kepada ibunya Hafidz dan juga Salma, ia berpelukan hangat dengan mereka berdua. Seperti berpelukan dengan keluarganya sendiri. Dan, Hanun sangat menyukainya.


“Hafidz itu waktu kecil nakal banget. Sering banget buat Salma nangis,” cerita Haris membuka suara, saat mereka dalam perjalanan pulang di atas motor.


“Oh, iya?”


Haris mengangguk dan kembali bercerita.


“Dulu, Salma sama Hafidz sering rebutan boneka. Tahu nggak kenapa?” tanya Haris yang membuat Hanun menggeleng. “Dia bilang, pengen jadi perempuan seperti Salma dan ibunya,” katanya sambil tertawa.


“Loh, ko, jadi perempuan?”


“Katanya, kalau jadi perempuan dia gak perlu sholat kalau lagi datang haid. Itu jawaban Hafidz saat masih berumur 6 tahun.”


“Tapi, semenjak tahu kalau jadi perempuan itu harus melahirkan. Hafidz langsung berteriak pada ibu. Katanya dia, aku nggak mau jadi perempuan. Aku nggak mau hamil. Hamil itu merepotkan,” tawanya hingga membuat keduanya langsung tertawa bersama.


Hanun senang sekali mendengar cerita masa kecil Hafidz dari Haris. Itu membuatnya mengetahui banyak hal tentangnya yang selama ini tak pernah ia tahu.


“A Haris dekat dengan Hafidz?” tanya Hanun.


“Dekat, tapi waktu kecil kita sering berantem. Biasalah anak laki, kalau bukan berantem bukan anak laki namanya,” katanya sambil tertawa.


“Kayanya Hafidz deket banget yah sama keluarganya?”


Haris mengangguk dan tersenyum kecil. “Iya. Dia sangat menyayangi keluarganya. Kalau ada yang buat Salma nangis, dia pasti bakalan buat orang yang sudah membuat Salma menangis jadi ikut menangis juga.”


“Kalau Hafidz sendiri yang buat Salma menangis gimana?”


“Dia bakalan pura-pura menangis,” katanya yang membuat keduanya kembali tertawa.


Sesampainya di depan rumah, Hanun langsung turun dari motor dan membuka helm milik Haris, seraya mengembalikannya kepadanya.


“Makasih sudah mengantar pulang, A Haris. Mau mampir dulu?” kata Hanun begitu sampai.


“Lain kali saja. Salam untuk orang tuamu.”


“Iya. Hati-hati di jalan.”


Haris mengangguk dan tersenyum tipis. “Nggak nyangka banget yah, Nun. Kamu ternyata tetanggaan sama tante Rahma. Dunia begitu sempit, yah?”


Hanun tertawa kecil hingga membuat adiknya Hanun yang berada di dalam rumah, mengintip kebersamaan kakaknya dengan Haris dari balik jendela.


“Aku pulang, yah? Bye, Anun.”


“Bye, A Haris.”