This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Story of Hafidz



Sarah dan Hafidz kembali pergi bersama ke sekolah. Begitu di tempat parkiran, mereka berdua kembali bertemu dengan Rama yang baru saja memparkirkan motor Ninja hitamnya.


Mereka bertiga saling beradu pandang, beberapa detik kemudian Hafidz langsung merangkul bahu Sarah dan mengajaknya untuk pergi.


“Ayo, ke kelas,” ajak Hafidz yang langsung memalingkan pandangan matanya dari pandangan Rama.


“Tunggu!” teriak Rama yang membuat langkah Sarah dan Hafidz terhenti.


Rama langsung berlari menghampiri Sarah dan juga Hafidz. Ia berdiri di hadapan keduanya dan menatap mereka dengan mata sendunya.


“Sudah hampir 3 tahun. Hubungan kita apa harus seperti ini terus?” tanya Rama membuka suara.


“Kalau bisa sih selamanya,” jawab Hafidz datar.


“Masa lalu kita yang suram tidak usahlah kita ungkit-ungkit lagi. Itu semua sudah berlalu.”


“Begitu ya menurut lo?” tanya Hafidz sinis dengan salah satu alisnya yang mengangkat.


“Tak bisakah kita seperti dulu lagi?” tanya Rama setengah berharap.


“Mustahil. Lo tahu bahasa Inggrisnya mustahil? Impossible dan tidak akan pernah mungkin terjadi,” jawab Hafidz yang langsung menarik tangan Sarah yang sejak tadi diam saja, untuk pergi meninggalkan Rama.


“Elo nggak merindukan masa lalu kita, Fidz, Rah?” teriak Rama tiba-tiba hingga membuat Hanun yang baru saja datang tampak begitu bingung melihat mereka bertiga bersitegang seperti itu.


Hafidz tak menjawab. Ia malah terus menarik tangan Sarah dan mengajaknya pergi. Begitu Rama membalikkan badan dan melihat ada sosok Hanun di belakangnya, ia hanya tersenyum kecil kemudian pergi.


Hanun merasa ada tingkah laku mereka yang sangat aneh. Selama ini, ia tidak pernah melihat ada interaksi diantara mereka. Karena tidak mau ambil pusing, ia langsung bergegas pergi menuju kelasnya.


“Git, aku boleh nanya sesuatu sama kamu?” tanya Hanun saat sudah berada di dalam kelasnya dan melihat Gita tengah menulis sesuatu di dalam buku catatannya.


“Tanya apa?”


“Kamu bilang, kamu temen satu Smp nya Hafidz, kan? Terus, kamu bilang juga dia punya masa lalu yang suram, kan? Boleh, aku tahu itu apa?”


“Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal itu?” tanya Gita yang langsung menaruh pulpennya dan menatap wajah Hanun bingung.


“Kamu lagi pendekatan sama Hafidz? Ko, bisa?” tanya Gita tak percaya dengan kedekatan teman sebangkunya itu dengan Hafidz.


“Bisa dibilang seperti itu. Aku nyaman sama Hafidz, dia laki-laki yang berbeda dengan orang-orang yang dulunya pernah deket sama aku. Please, tolong ceritakan tentang masa-masa Hafidz Smp dulu, Git.”


Karena Hanun meminta dengan sedikit memaksa. Akhirnya, Gita menceritakan semuanya kepada Hanun. Begitu mendengar kisahnya, Hanun nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Gita bilang, Hafidz, Sarah dan Rama dulunya adalah teman dekat. Mereka sudah saling mengenal dan berteman baik sejak masih SMP.


Mereka itu troble makernya sekolah dan selalu menjadi biang keributan. Setiap kali ada masalah di sekolah, itu pasti ulah mereka bertiga. Bahkan, katanya Gita, mereka sering kali ikutan tawuran antar sekolah dan menjadi preman sekolah yang ditakuti teman-temannya.


Karena sesuatu hal, Rama jadi merenggang dengan kedua temannya. Gita tidak tahu pasti masalahnya apa. Tapi, semenjak mereka merenggang dan tak menjadi teman lagi, Rama berubah menjadi laki-laki yang lebih baik dari sebelumnya. Bahkan, ia menjelma menjadi laki-laki paling populer di sekolah dan menjadi murid teladan di kelasnya dengan segala prestasi dari mulai akademik sampai non akademik.


Sementara Hafidz dan Sarah, mereka juga mulai berubah. Tapi, tidak ke arah yang lebih baik. Mereka seperti orang buangan di kelasnya dan semua orang menjauhi mereka berdua.


Katanya Gita, saat kelas sepuluh mereka terlibat kasus yang cukup menghebohkan. Hafidz dan Sarah ditemukan baru saja keluar dari club malam saat pagi buta. Mereka dikabarkan mabuk berat. Maka dari itu, mereka sering kali di ejek oleh teman-temannya sebagai pasangan alay. Karena teman-temannya menggosipkan, kalau mereka itu pacaran dan menikah diam-diam. Dan lebih parahnya lagi, ada yang mengatakan kalau Sarah itu hamil di luar nikah dan melakukan aborsi.


“Separah itukah, Git?” tanya Hanun tak percaya.


“Iya. Dulu, katanya Sarah pernah nggak masuk sekolah seminggu. Bilangnya sih sakit demam berdarah. Tapi, anak-anak bilang Sarah melakukan aborsi,” jelas Gita.


“Kamu percaya?” tanya Hanun lagi.


“Gossipnya beredar begitu cepat. Percaya nggak percaya, sih. Tapi, aku nggak tahu juga, Nun. Bingung aku.” Gita menatap wajah Hanun dengan bingung dan membuat Hanun masih terus menyimak cerita Gita.


“Sedekat itu yah, Sarah dan Hafidz? Sampai dibilang pacaran?”


“Deket banget, Nun.” Gita menjawab hingga membuat Hanun teringat akan kejadian di mana ia melihat saat Sarah dan juga Hafidz bersama.


“Mereka seperti orang pacaran, lengket banget. Kemarin juga ada kejadian Sarah ditampar Revika, terus sampai berantem segala. Dan, di situ Hafidz nolongin Sarah. Bahkan, Hafidz sampai ke kelasnya Radian yang merupakan pacarnya Revika untuk menyelesaikan masalahnya Sarah.”


Mendengar cerita itu, Hanun sama sekali tidak percaya. Bahkan, Hanun merasa itu semua hanyalah sandiwara. Karena selama ini, Hafidz yang ia kenal selalu bersikap baik dan santun kepadanya.