This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Cemburu yang Membuat Iri



"Ngapain kamu di kelasku?” tanya Hanun sinis, saat melihat Rian kembali menemuinya di depan kelasnya. “Nggak cukup dengan kejadian tempo lalu?” sindirnya.


“Kejadian waktu itu aku minta maaf banget, Nun. Aku ingin mengajakmu untuk balikan lagi. Kita berhubungan lagi seperti dulu, yah?" katanya terlihat serius dan bersungguh-sungguh.


“Balikan? Semudah itu kamu bilang untuk balikan lagi seperti dulu? Kamu lupa, dulu kamu selingkuh dengan adik kelas kita? Terus, kamu juga suka main tangan dan kasar sama perempuan. Sama kaya tempo lalu kamu yang nyakitin aku.”


Hanun bersuara dengan nada tinggi dan cukup keras. Beberapa teman sekelasnya memperhatikan ke arahnya dan juga Rian. Hanun sadar akan hal itu, tapi ia sama sekali tidak peduli.


“Aku menyesal, Nun. Aku sadar aku salah, aku masih sayang sama kamu. Kamu maaffin aku, yah? Aku janji nggak akan kasar lagi sama kamu.”


Rian menggenggam kedua tangan Hanun dan membuat Hafidz yang tadinya hendak menemui Hanun di kelasnya, langsung mengurungkan niatnya.


Wajahnya mengisyaratkan kekecewaan dan penyesalan yang begitu mendalam. Entah apa yang sekarang Hafidz fikirkan, matanya hanya tertuju ke arah tangan Hanun yang sedang digenggam tangannya oleh pria yang berada di hadapannya. Karena tidak ingin mengganggu, ia langsung membalikkan badan kemudian pergi.


Hanun melepaskan genggaman tangan Rian dari kedua tangannya dengan kasar. Ia menatap wajah mantan kekasihnya itu dengan nanar.


“Aku nggak suka punya pacar yang kasar kaya kamu. Aku juga nggak mau punya pacar yang kurang sopan santun kepada keluargaku. Aku sangat menyesal dulu pernah pacaran dan sayang sama kamu. Mendingan kamu pergi, aku nggak mau ketemu kamu lagi.”


“Tapi, aku masih sayang sama kamu, Nun,” katanya kembali yang berusaha meraih tangah Hanun, tapi langsung ditepisnya secara kasar.


“Tapi, aku sudah tidak menyayangimu lagi. Sayangku sudah ku berikan untuk orang lain,” tegasnya.


“Untuk siapa? Kamu punya pacar?” teriaknya yang membuat orang-orang di sekitarnya langsung menatap kembali ke arahnya dan juga Hanun yang sedang bertengkar.


“Kamu nggak harus tahu. Itu bukan urusan kamu lagi!"


“Bilang sama cowo yang deket sama kamu itu. Dia nggak akan pernah bisa dapetin kamu, sebelum dia berhadapan sama aku. Cam kan itu, Hanun!” serunya kasar kemudian pergi.


Hanun terlihat begitu emosi saat Rian merutuknya seperti itu. Ia sangat kecewa, bahkan sangat membencinya ketika tahu sifat aslinya seperti itu. Berbanding terbalik dengan Hafidz yang tidak pernah berteriak kasar padanya.


“Aku benci sama kamu, Rian,” katanya pelan terdengar kesal.


Hafidz duduk termenung di bangku kelasnya. Ia teringat kejadian saat Hanun yang tengah berpegangan tangan dengan seorang pria yang ternyata adalah Rian. Ia tidak tahu wajah pria itu seperti apa, ia hanya bisa melihat punggung pria itu dari kejauhan. Melihat Hafidz yang sejak tadi hanya melamun saja, Sarah datang menghampirinya dan duduk di sampingnya.


“Kenapa lo?” tanya Sarah.


“Lagi cemburu gue kayanya, Ra.”


“Hah? Cemburu sama siapa? Elo bisa cemburu juga ternyata, gue kira nggak bisa,” kelakar Sarah.


“Nggak enak yah punya hubungan tanpa status kaya gini. Cemburu aja gue gak bisa.” Hafidz menekuk wajahnya frustasi.


“Mau di bawa ke pelaminan,” jawab Hafidz terkekeh.


“Dih, gombal lu, kampret!”


Hafidz tertawa kecil. Namun, ia kembali memasang ekspresi wajah bingungnya.


“Jadi, gue mesti gimana, Ra?”


“Elo serius cemburu?” tanya Sarah kembali untuk memastikan. “Cemburu itu cuma buat orang yang iri, Fidz. Elo iri Hanun dekat dan mesra-mesraan sama cowo lain selain lo?”


Hafidz terdiam. Mungkin, yang dikatakan Sarah barusan memang benar. Hafidz tidak berpengalaman dalam urusan percintaan maupun berpacaran. Yang namanya jatuh cinta saja tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan, perasaan itu muncul begitu tiba-tiba ketika awal pertama mereka masuk sekolah.


“Gue nggak berani cemburu, Ra. Untuk jatuh cinta sama dia aja awalnya gue ragu.”


“Ragunya?” Sarah menatap wajah Hafidz penasaran.


“Dia cantik. Pertama kali gue lihat dia saat masa-masa MOS, rasanya sangat aneh. Pertama kali lihat dia di marahi oleh senior, di hukum senior, mata gue tidak pernah bisa berhenti untuk tidak menatapnya.”


“Jadi, elo udah suka sama Hanun sejak masa-masa MOS? Ko, elo nggak pernah bilang sama gue, sih?” serunya kesal.


“Elo tahu, Ra? Gue semakin mengaguminya ketika melihat dia tersenyum. Tertawa bahagia saat ia memenangi lomba cerdas cermat, kesal saat tidak bisa menjawab pertanyaan dari juri, tersenyum lebar ketika sedang menyapa teman-temannya.


“Awalnya, gue kira gue cuma suka aja melihat dia punya banyak sejuta ekspresi wajah dalam dirinya. Tapi, lama-lama gue jadi sering memperhatikannya,” kenangnya kembali saat pertama kali melihat Hanun di masa-masa orientasi.


Hafidz tersenyum lebar begitu mengenang pertama kali ia mengagumi sosok Hanun. Ia sama sekali tidak menyangka, kekagumannya bisa menjalar jadi rasa suka yang teramat besar padanya. Ia juga tidak menyangka bisa sedekat ini dengan Hanun, sampai-sampai ia berani mengajak Hanun untuk jalan bersama.


“Jadi?” tanya Sarah membuka suara.


“Gue kagum sama dia, Ra. Terus, saat kejadian pecahnya jendela kelasnya, dari situlah awal gue memberanikan diri untuk mendekatinya. Walau secara tiba-tiba, dia tampar gue.”


“Nampar cinta itu namanya, kampret!” seru Sarah sambil mengacak-ngacak rambutnya Hafidz hingga membuat Hafidz membalasnya dengan merangkul leher Sarah dengan kasar.


“Ajarin gue dong, Suhu! Jangan pelit berbagi ilmu soal cinta sama sahabat sendiri.”


“Ajarin noh sama pak Wawan, mau lo?” katanya yang langsung terkekeh.


“Ogah. Pak Wawan galak, bukan type gue.”


“Kalau type lo berarti lo homo dong, kampret! Ngarang lo!” katanya yang membuat keduanya langsung tertawa.