This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Selangkah Lebih Dekat



Hanun jalan bersama dengan Hafidz menyusuri tempat wisata bernama Stone Garden. Hanun juga terlihat begitu senang, saat ia diajak oleh Hafidz ke tempat seperti ini. Selama ini, ia memang jarang sekali pergi ke tempat wisata yang berada di Bandung.


Sebenarnya, Hanun memang bukan asli orang Bandung.


Ia lahir di Surabaya, tapi dibesarkan di Jakarta. Saat Smp, ia baru pindah ke Bandung karena ayahnya sudah resmi menjadi seorang Dosen di salah satu universitas Negeri. Ibunyalah yang asli orang Bandung dan dibesarkan di Bandung.


Saat kuliah di Universitas Indonesia, di sanalah pertama kalinya beliau bertemu dengan suaminya yang kini menjadi ayahnya Hanun.


“Jadi, elo bukan asli orang Bandung?” tanya Hafidz saat mereka duduk bersama di salah satu batu yang cukup besar sambil menikmati pemandangan sekitar.


Hanun mengangguk dan tersenyum tipis.


“Papah asli Betawi, sedangkan mamah Sunda. Memangnya kamu asli Bandung?”


“Iya.” Hafidz mengeluarkan dua buah permen kaki dari dalam tasnya dan memberikan salah satunya kepada Hanun.


“Makasih,” katanya pelan sambil menerima permen kaki pemberian dari Hafidz.


“Ayah gue asli Bandung, sedangkan ibu asli Medan. Gue sudah menghabiskan masa kecil gue selama ini di kota Kembang. Gue punya kakak laki-laki yang sekarang sudah semester lima di salah satu Universitas Negeri. Sedangkan adik perempuan gue, dia masih Smp. Dia sudah kelas 9 dan sedang mempersiapkan ujian Nasional,” ceritanya panjang lebar.


“Wah, enaknya punya kakak. Sejak dulu, aku ingin sekali punya kakak. Tapi, sayangnya nggak punya. Aku cuma punya adik perempuan yang sekarang sama juga seperti adikmu, masih kelas 9 dan sedang mempersiapkan ujian.


“Papah itu dosen di salah satu Universitas Negeri. Kalau mamah, dia itu dosen di Universitas Swasta daerah Setia budi. Keluargaku memang berasal dari dunia pendidikan. Makanya, kalau kuliah nanti aku diminta mereka untuk menjadi guru kalau tidak dosen.”


“Elo mau?” tanya Hafidz sambil menatap wajah Hanun yang ikut menatapnya juga.


Hanun menggeleng sambil membuka bungkusan permen kaki yang diberikan oleh Hafidz tadi.


“Sebenarnya, impianku sejak dulu itu ingin menjadi seorang penulis. Karena aku sangat menyukai sekali yang namanya menulis. Menulis itu sudah menjadi hobbyku. Tapi, sepertinya keluargaku tidak menyukainya.”


“Kenapa?”


“Mereka pasti akan menentangnya. “


“Elo pernah bilang soal impian lo sama keluarga lo?”


Hanun mengangguk dan menatap langit sore yang masih berwarna biru cerah.


“Apa kata mereka?”


“Penulis itu bukan pekerjaan tetap yang menghasilkan. Masa depannya juga tak pasti. Kalau sukses kamu beruntung, kalau tidak? Karyamu akan terbuang sia-sia. Begitu kata mereka padaku.”


Hafidz manggut-manggut dan menatap lurus ke depan sambil tersenyum kecil.


“Kalau begitu, tugas lo sekarang adalah buktikan kepada mereka kalau impian lo itu akan menjadi kenyataan dan sukses.”


“Caranya?”


Hafidz menatap wajah Hanun dengan lembut. Ia memegang bahu kanan Hanun dengan tangan kirinya.


“Kembangkan bakat lo. Sesuatu yang menjadi hobby pasti akan mudah jika lo kembangkan menjadi impian. Apa yang lo sukai ke depannya pasti akan mudah kalau menekuninya.


“Kalau tidak lancar, menemui berbagai rintangan, itu wajar. Mana ada sih segala sesuatu yang mau kita lakukan itu lancar jaya macam jalan tol. Pasti berkelok-kelok dan penuh hambatan. Asal lo tekun, niat, berusaha dan berdoa, niscayalah lo akan berhasil walau harus menunggu bertahun-tahun. “


Hanun tersenyum dan menatap wajah Hafidz dengan mata berbinar-binar yang terkesan kagum dengan semua ucapannya.


“Kenapa? Ada yang salah sama ucapan gue?”


“Ternyata kamu dewasa juga, Fidz. Aku senang bisa banyak cerita dan diskusi sama kamu. Apapun yang kita bicarakan pasti akan nyambung, kamu juga selalu membuatku tertawa dengan semua tebak-tebakkanmu. Aku nyaman sama kamu, Fidz. Terima kasih banyak.”


Hafidz tertawa lebar dan menyubit pipi kanan Hanun yang chubby.


“Sama-sama. Gue senang kalau lo nyaman sama gue. Berarti usaha gue untuk melakukan pendekatan sama lo berhasil,” katanya riang yang membuat Hanun kini tertawa lebar.


“Ko, pendekatan bilang-bilang, sih? Aneh


kamu.”


“Gue orangnya to the point dan nggak suka bertele-tele, Nun. Jujur aja nih, gue lagi melakukan pendekatan sama lo.”


Mereka berdua sama-sama tertawa. Walau pertemuan pertama mereka terbilang aneh dan tidak menyenangkan. Tapi, Hanun rasa Hafidz orang yang tepat untuk menemani kekosongan hatinya.


“Sekarang giliran kamu yang cerita tentang kamu dan keluarga kamu.”


“Tentang gue? Gue nggak ada yang special sama sekali. Yang special itu cuma martabak telor,” candanya yang kembali membuat keduanya tertawa.


“Cerita, dong. Aku kan tadi udah cerita banyak soal diriku. “


“Soal gue? Oke, gue punya kakak laki-laki dan adik perempuan seperti yang tadi gue bilang sama lo. Gue juga punya ibu yang menjadi guru di salah satu Sma negeri. Ibu gue itu guru Sejarah yang cukup bawel dan juga galak.”


“Masa, sih?” tanya Hanun tidak percaya.


“Iya. Waktu kecil dulu, gue sama kakak gue sering banget di marahin ibu kalau sampai nggak tahu soal sejarah Indonesia. Tiap hari ibu sering banget cerita soal Indonesia dulu itu seperti apa. Walau ibu gue galak dan tegas, tapi dia baik. Gue paling suka kalau ibu sudah memberikan uang jajan lebih sama gue, jadi gue nggak perlu tuh yang namanya uniko,” paparnya.


Hanun mengerutkan kening bingung. “Uniko? Apa itu uniko?”


“Termasuk kamu, yah?”


“Gue, adik gue dan kakak gue nggak pernah kaya gitu. Kalau kita perlu uang, ya tinggal minta aja.”


“Kalau nggak di kasih?” tanyanya lagi.


“Nyolong celengan adik gue,” tawanya terbahak-bahak hingga membuat Hanun ikut tertawa juga mendengarnya.


“Kakak yang jahat.”


“Biarin, adik gue juga suka kaya gitu sama gue dan kakak gue.”


“Kalau ayahmu?”


Hafidz memicingkan matanya dan tampak sedang berfikir.


“Ayah? Ayah gue itu polisi. Kalau ada yang macam-macam sama lo, elo tinggal bilang sama gue aja. Biar ayah gue tembak pelakunya,” katanya.


“Ha . . .ha . . . ha . . .Kalau ayah kamu polisi, berarti beliau galak, dong?”


Hafidz mengangguk dan memasang ekspresi wajah yang terlihat serius.


“Waktu kecil, kalau gue sama kakak gue nakal kita sering banget di kunci di kamar mandi. Ayah sama ibu tidak pernah mendidik kita dengan kekerasan. Tapi, mereka mendidik kita secara keras dan tegas.


“Kalau gue nakal di sekolah, uang jajan gue di potong. Kadang, kita sering di bawa ke gudang yang gelap banget dan dikurung di sana biar kita kapok.”


“Terus, kalian kapok?”


“Nggak. Ha . . . ha . . . ha . . .”


Hanun kembali tertawa. Ia paling senang mendengar suara Hafidz dan ekspresi wajahnya ketika bercerita. Ia juga paling suka kalau Hafidz bercerita banyak soal dirinya. Dengan begitu, Hanun merasa selangkah lebih dekat dengannya.


“Impianmu apa, Fidz?”


“Impian gue? Gue nggak tahu.”


“Ko, nggak tahu?” Hanun menatap wajah Hafidz heran.


“Harus gue cari dulu impian gue.”


“Cari di mana?”


“Di kamar mandi,” candanya yang membuat Hanun langsung mengacak-ngacak rambut Hafidz kesal.


“Ih, dasar pea!”


Karena hari sudah mulai senja, mereka berdua memutuskan untuk pulang. Hafidz membantu Hanun untuk turun dari bebatuan yang cukup tinggi dan juga runcing itu. Tidak terasa, waktu bergulir begitu cepat dengan semua obrolan mereka yang sangat menyenangkan.


Hafidz memberikan helmnya kepada Hanun. Hanun menerimanya dan memberikan topi yang dipinjamkan Hafidz tadi kepadanya.


“Buat lo,” katanya memberikan.


“Serius?”


“Iya, gue masih punya banyak di rumah. Jadi, topinya buat lo aja. Biar selalu inget sama gue, kalau topi itu kenangan pertama lo sama gue saat kita jalan-jalan bareng."


Hanun tersenyum. Karena sudah semakin gelap, mereka cepat-cepat bergegas untuk pulang. Selama di perjalanan, Hanun dan Hafidz kembali berbincang-bincang dan selalu ada gelak tawa yang menyelimuti obrolan mereka berdua.


“Gue boleh minta izin gak sama lo,” katanya tiba-tiba.


“Izin apa?”


“Izin supaya lo meluk gue. Gue mau ngebut ini, biar kita nggak kemalaman di jalan.”


Hanun menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali tertawa.


“Iya, aku izinin.”


“Kalau udah dapat izin, sekarang lo peluk gue, dong. Tapi lo tenang aja, ini bukan modus. Ini keadaan darurat biar lo gak terbang. Jangan sampai gue di motor sendirian. Pas gue lihat ke belakang, nanti elo malah nggak ada di motor dan malah kebawa angin lagi,” celotehnya.


“Pea!” seru Hanun yang langsung menoyor kepala Hafidz dan membuat keduanya kembali tertawa .


Hanun langsung memperdekat jarak duduknya dengan Hafidz. Ia melingkarkan kedua tangannya ke dalam perut Hafidz dan membuat Hafidz langsung berteriak keras.


“Asyik, di peluk Anun!” teriaknya yang langsung membuat Hanun terkejut dan menyubit kecil perut Hafidz.


“Pea! Kenapa malah teriak-teriak segala!”


Stone Garden