This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Si Payang



Begitu mendengar semua cerita Hafidz, Hanun ikut merasakan dengan apa yang dirasakan oleh kekasihnya. Hanun meneteskan air matanya dan memeluk Hafidz begitu erat sebagai tanda simpatinya.


“Kamu sahabat yang baik, Fidz. Beruntung Jeri mempunyai sahabat seperti kamu dan juga Sarah.”


Hafidz hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya. Hanun melepaskan pelukannya seraya menatap wajah Hafidz dengan seksama.


“Aku yakin, suatu hari nanti pelakunya pasti akan ketemu. Dan, dia pasti akan mendapatkan ganjarannya. Tuhan Maha Adil, Hafidz.”


Hafidz mengangguk dan memandangi langit sore yang sudah mulai terlihat berwarna jingga.


“Tapi, aku masih belum bisa memaafkan Rama, Nun. Dia tiba-tiba menghilang saat aku dan teman-temanku diringkus polisi. Dia tidak ada di saat-saat terakhirnya Jeri di rumah sakit. Dia nggak ada di pemakamannya Jeri, dia sama sekali tak terlihat. Aku masih belum bisa memaafkannya,” katanya sambil menatap Hanun penuh emosi.


“Aku tahu dan mengerti perasaanmu. Tapi, berfikirlah positif. Mungkin, ada sesuatu hal yang terjadi kepada Rama, kenapa dia tidak ada saat itu. Percayalah, suatu hari nanti Rama pasti akan menceritakan semuanya sama kamu. Rama mana mungkin tega meninggalkan sahabat-sahabatnya, apalagi sahabat sejak kecil. Iya, kan?”


Hafidz tersenyum dan memegang kepala Hanun sambil menatapnya dengan hangat dan juga lembut. “Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku, terimakasih juga sudah membuatku tenang. Aku beruntung bisa memilikimu.”


Hanun membalasnya dengan senyuman. Setelah motor Vespa milik Hafidz sudah kembali normal, mereka segera bergegas pulang karena hari sudah malam. Hari itu tidak akan pernah Hanun lupakan seumur hidupnya. Hari di mana ia resmi menjadi kekasih Hafidz dan juga mengenal Hafidz lebih dekat.


Liburan kenaikan kelas selama 2 minggu berlalu begitu cepat. Liburan kali ini ia gunakan untuk menghabiskan waktunya bersama dengan keluarganya dan juga Hafidz. Hari ini adalah hari pertama Hanun dan Hafidz menjadi siswa dan siswi kelas dua belas. Mereka kembali pergi bersama dengan menggunakan motor kesayangan Hafidz.


Hari pertama sekolah, malah ada satu kejadian paling menyebalkan yang dialami oleh mereka berdua. Motor Vespa Hafidz kembali mogok untuk kesekian kalinya hingga membuat keduanya harus mendorong motor itu bersama-sama.


“Si Payang kayanya sudah lelah,” kata Hafidz membuka suara.


Payang adalah nama motor Vespa Hafidz yang ia berikan nama. Yang artinya Vespa sayang. Pertama kali ia menamakan motor itu ada sejarahnya, di balik nama itu ada alasannya tersendiri saat Hafidz mengajari Hanun mengendarai motor beberapa hari yang lalu.


“Yang bener dong ngajarinnya, jangan ketawa-tawa terus!” seru Hanun saat tengah diajari mengendarai motor oleh Hafidz.


“Ini udah bener, Anun. Katanya pinter, masa dari tadi nggak bisa-bisa? Ini sama aja kaya naik sepeda. Seimbangkan dulu badannya!” perintahnya.


“Udah, tapi susah. Kakinya jatuh terus ke tanah,” rengeknya.


“Ya udah kakinya potong aja, biar gak jatuh terus ke tanah. Merepotkan!” katanya asal.


“Ih, kalau di potong aku nggak bisa jalan nanti. Kamu mau punya pacar yang kakinya gak ada?”


“Kan bisa ngesot, biar kaya suster ngesot. Jadinya, Hanun ngesot,” tawanya hingga membuat Hanun kembali kesal dan menjitak kepalanya. “Kalau kamu gak punya kaki, aku siap menjadi kaki kamu. Biar aku deket terus sama kamu setiap harinya,” katanya kembali hingga membuat Hanun tersenyum.


“Jadi, gimana? Masih mau tetep ngajarin aku naik motor nggak?”


“Ngapain diajarin? Itu kamu udah bisa naik motor, kan?” katanya tertawa.


Hanun yang kesal dengan jawaban Hafidz langsung mengacak-ngacak rambutnya dan merangkul lehernya dengan kasar.


“Bercanda lagi aku lempar ya kamu!”


“Kalau lemparnya ke hati kamu, aku mau.”


“Gombal aja terus,” katanya sambil menarik hidung Hafidz gemas.


“Tapi,aku paling suka saat kamu duduk bersama denganku di motorku ini. Aku jadi bia dipeluk-peluk terus sama kamu. Vespa ini sudah menjadi kesayangannya aku, sama seperti kamu.”


“Jadi kamu sayang sama Vespa kamu atau sayang sama aku?” tanya Hanun sambil menunjuk wajah Hafidz dengan telunjuknya.


“Dua-duanya, tapi lebih sayang sama kamu. Kalau kamu bisa dipeluk manja sama dicium, kalau Vespa nggak,” tawanya yang membuat Hanun juga jadi ikut tertawa bersamanya. “Payang, bagus nggak?” katanya tiba-tiba.


“Payang? Apaan, tuh?”


“Ha . . . ha . . . ha . . . lucu!”


Kejadian itulah yang membuat Hafidz memberi nama motor Vespanya itu Payang. Dengan si Payang, Hafidz dan Hanun sering menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan mengelilingi kota Bandung.


Hanun juga teringat ketika mereka pergi bersama ke daerah Gunung Tangkuban Perahu. Dulu, Hafidz berjanji akan mengajaknya ke tempat-tempat wisata bagus di Bandung. Karena mereka telah resmi berpacaran, Hafidz pun mengajak Hanun ke Gunung Tangkuban Perahu untuk merayakan 7 harinya mereka berpacaran.


“Kaya tahlilan aja harus dirayain segala,” kata Hanun, saat mereka baru saja sampai di lokasi.


“Ya nggak apa-apa dong. Emangnya kamu nggak mau ngerayain 7 harinya kita pacaran?” kata Hafidz menjawab sambil menggandeng tangan Hanun.


“Dirayain itu kalau udah setahun dua tahun. Bukan 7 hari kaya gini. Aneh!”


“Kalau setahun dua tahun nggak perlu dirayain segala.”


“Kenapa?” Hanun menatap wajah Hafidz bingung.


“Kalau satu atau dua tahun ke depan rayainnya di rumah kamu. Nanti, aku bawa keluargaku ke rumah kamu.”


“Buat apa?” tanya Hanun semakin bingung.


“Ngelamar kamu,” jawab Hafidz yang membuat Hanun mendengarnya langsung tertawa kecil.


“Kita kan masih muda, kenapa nikah cepet-cepet?”


“Takut kamu diambil orang.”


“Aku setia sama kamu, ko.” Hanun menjawab.


Hafidz tersenyum dan kembali menggandeng tangan Hanun dengan mesra.


“Aku serius,” kata Hanun kembali, "kamu nggak percaya sama aku?”


“Bukan gitu. Emangnya kamu nggak mau nikah muda sama aku?” tanya Hafidz kembali.


“Kalau nikah mudanya sama kamu, aku mau.”


Hafidz tersenyum. Ia kembali menggenggam tangan Hanun dengan lembut. “Aku pengen deh jadi Sangkuriang,” katanya tiba-tiba sambil melihat ke arah kawah gunung Tangkuban perahu yang berkabut.


“Kenapa?”


“Biar bisa buatin 1000 perahu buat kamu. Tapi, nggak mau sampai terbalik perahunya, nanti kita berdua kelelep. Kamu bisa berenang nggak?”


“Nggak,” jawab Hanun sambil tertawa.


“Sana berenang di kawah Tangkuban perahu! Nanti, aku nggak mau nolongin,” katanya yang kemudian tertawa.


“Jahat!!”


Mengenang kebersamaan mereka berdua memang sangat menyenangkan. Walau pun terkadang ada kesulitan yang menimpa, tapi mereka selalu bisa menjalaninya dengan santai.


Payang