
“Nun, kamu jadian sama Hafidz?” tanya Linda teman sekelasnya.
“Kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa?”
“Ko, kamu mau sama Hafidz? Masih mendingan Rian atau gak Rama deh dari pada Hafidz,” katanya kembali.
“Hafidz juga gak kalah lebih baiknya dari mereka berdua,” jawab Hanun santai.
Hanun langsung menyimpan tasnya dan duduk di kursinya sambil membuka buku catatannya.
“Kamu tahu nggak, Hafidz punya kasus sama Sarah waktu kelas sepuluh, loh,” kata Sisy yang duduk di depan kursi Hanun sambil membalikkan badannya.
“Iya bener. Gosipnya, dia itu cowo nakal. Suka ngerokok dan minum-minum,” sambung Neni.
“Bukannya Hafidz itu pacaran sama Sarah? Ko, dia deketin Hanun?” tanya Linda bingung.
Hanun hanya tertawa mendengarnya hingga membuat teman-teman sekelasnya terlihat bingung dengan sikap santainya Hanun.
“Nun, jangan mau sama Hafidz. Dia nggak cocok sama kamu," kata Sisy memberi saran. “Git, kamu kan temen satu sekolahnya Hafidz. Pasti tahu dong nakalnya dia kaya apa?”
Gita hanya tersenyum dan tak menjawab. Hal itu kembali membuat teman-temannya bingung dengan sikap mereka berdua.
“Ko, kalian santai banget?” tanya Neni.
“Hanun punya hak jalan sama siapa aja. Mau sama Hafidz sekali pun, itu hak dia. Kita mah gak usah ikut campur,” kata Gita yang akhirnya membuka suara.
“Kan, kita cuma ngasih tahu aja. Kalau Hafidz itu gak cocok buat Hanun,” kata Linda menimpali.
“Makasih loh, kalian udah perhatian sama aku. Aku tahu ko masa lalu Hafidz seperti apa. Gita juga udah cerita banyak sama aku. Bahkan, Sarah juga udah cerita sama aku. Asal kalian tahu, Sarah itu temennya Hafidz dari kecil, bukan pacarnya,” tutur Hanun panjang lebar.
“Terus, kalau udah tahu Hafidz kaya gimana. Kamu masih tetep mau?” tanya Neni kembali.
Hanun mengangguk dan membuat teman-temannya terkejut.
“Aku nggak peduli dengan semua masa lalunya, aku nggak peduli dia terlibat banyak kasus apa pun itu. Aku suka sama dia bukan karena masa lalunya, tapi sikap manisnya selama ini sama aku.”
“Itu bisa aja modus. Yang namanya pedekate kan emang suka manis, beda pas udah pacaran. Nanti, kamu nyesel loh sama Hafidz,” kata Linda kembali.
Hanun menyikapinya dengan santai. Bahkan, ia terkesan tak peduli dengan pernyataan-pernyataan teman-temannya itu.
“Itu resiko aku. Apa pun pilihanku, aku sudah tahu resikonya dan aku berani menghadapinya. Aku berani tanggung jawab dengan pilihanku. Senakal-nakalnya orang, sebejat-bejatnya orang, dia tetap manusia. Sama-sama makan nasi dan tinggal di bumi.
“Dan, yang namanya manusia itu punya hati dan juga fikiran. Sudut pandang orang itu berbeda-beda dan menurut sudut pandangku, Hafidz itu orangnya pintar dan baik. Hanya saja, kalian tidak bisa melihat sisi baiknya dia.”
Gita memberikan dua jempolnya. Dengan pernyataan Hanun tentang Hafidz kepada teman-temannya, mereka semua terdiam dan tak banyak komentar lagi.
Saat acara pembagian raport, Hanun mengenalkan ibunya kepada ibunya Hafidz. Mereka cukup lama bercakap-cakap dan sepertinya sudah cukup akrab karena sama-sama berprofesi sebagai guru dan bekerja dalam bidang pendidikan.
Hanun cukup puas dengan hasil raportnya. Ia berhasil mendapatkan ranking 2 di kelasnya. Sementara Hafidz, guru-guru dan teman-teman sekelasnya pun tak menyangka, kalau ia berhasil mendapatkan rangking dua dan menggeser posisi Ahmad yang selama ini selalu mendapat ranking 2.
Hafidz memang anak yang pintar seperti yang dikatakan ibunya. Kalau ia mau dan niat belajar, pasti nilainya akan melampaui teman-teman sekelasnya. Pada dasarnya, ia memang cerdas dan cepat faham dengan materi yang sekali dijelaskan. Dengan begitu, ia dengan mudah mengerjakan soal-soal ujian yang cukup sulit itu.
Sarah sendiri merasa bisa berbangga diri dengan hasil raportnya. Walau tidak berhasil masuk dalam 10 besar, tapi ia puas dengan hasil raportnya yang mulai membaik.
“Tante, soal yang waktu itu?” kata Hafidz, saat tengah berjalan bersama dengan ibunya Hanun.
“Tante faham maksud kamu, Hafidz,” tutur ibunya Hanun, saat tengah berbincang di tempat parkir begitu mengantar dirinya menuju mobilnya.
“Jadi, gimana, Tan?” tanya Hafidz kembali menunggu.
“Silahkan. Kamu sudah dapat izin dari tante.”
“Benarkah, Tan?” tanya Hafdz tak percaya.
Ibu Hanun mengangguk dan tersenyum kecil. “Tolong jagain Hanun di sekolah, yah. Tante banyak berharap sama kamu.”
“Pasti, Tante. Terima kasih banyak dan hati-hati di jalan.”
“Pamit dulu, yah? Pulangnya nanti jangan kemalaman kalau ngajak Hanun jalan,” katanya yang sudah mulai bersiap untuk mengemudikan mobilnya.
“Siap ibu dosen,” jawab Hafidz sambil memberi hormat.
Ibu Hanun tersenyum, kemudian pergi sambil melambaikan tangannya. Hafidz terlihat begitu senang, bahkan ia sampai meloncat-loncat kegirangan karena berhasil mendapatkan restu dari ibunya Hanun.
“Hei,” sapa Hanun yang langsung menghampiri Hafidz di parkiran begitu melihatnya.
“Hei,” balasnya menyaut.
“Tadi, ngobrol apa sama mamahku?”
“Rahasia,” katanya sambil tersenyum jahil.
“Jadi penasaran aku.” Hanun mengernyitkan keningnya.
“Lapar nih, makan mie ayam di depan, yuk?” ajak Hafidz yang langsung diberi anggukan oleh Hanun.
Karena sudah mulai lapar, Hanun dan Hafidz langsung menuju warung mie ayam dan makan bersama di sana.