This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Tentang Jeri



Akibat kejadian tersebut, Rama dan Hafidz langsung di bawa ke ruang BP. Sementara itu, Hanun, Sarah dan Gita begitu terkejut saat mendengar Rama dan Hafidz bertengkar hingga di bawa ke ruangan BP. Mendengar hal tersebut, mereka langsung bergegas berlari ke sana.


“Siapa yang mulai duluan?” todong pak Wawan.


Rama dan Hafidz tidak menjawab. Sama-sama tidak ada yang mau mengaku, pak Wawan kembali mengulangi pertanyaannya.


“Siapa yang mulai duluan? Kau Rama? Atau kau Hafidz?”


Rama dan Hafidz saling memalingkan wajah, hingga membuat kesabaran pak Wawan di uji dan beliau pun langsung menggebrak meja.


“Jawab!!” teriaknya.


“Saya yang mulai duluan, Pak,” jawab Hafidz membuka suara.


“Saya yang mulai duluan, Pak,” kata Rama mengikuti.


“Rama, kenapa kamu jadi sering bermasalah akhir-akhir ini? Kamu ini siswa berprestasi, anak yang baik. Tapi, kenapa kamu jadi sering membuat keributan akhir-akhir ini?” tanya pak Tatang yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara.


“Maafkan saya, Pak. Saya memang salah, saya juga khilaf.” Rama menjawab sambil menundukkan kepalanya menyesal.


“Ini baru selesai ujian terakhir. Tapi, kalian sudah mengecewakan saya. Dengan ini, saya akan memberi hukuman. Kedua orang tua kalian saya panggil besok untuk menghadap kepala sekolah. Dan, kalian berdua, sekarang lari keliling lapangan sebanyak 20 putaran. Saya juga menskorsing kalian selama 3 hari. Di mulai dari besok.”


Setelah menyelesaikan perkataannya, pak Wawan langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Sementara Rama dan juga Hafidz langsung berpamitan kepada guru-guru yang ada di sana, kemudian ke luar.


Begitu ke luar ruangan, mereka mendapati teman-temannya berada di luar untuk menguping dan melihat keadaan mereka sekarang. Hafidz juga sangat terkejut begitu melihat ada sosok Hanun yang menatapnya dengan cemas. Namun, Hafidz hanya bisa menunduk pasrah dan mulai menjalani hukumannya untuk berlari mengitari lapangan sekolah.


“Kita dulunya sahabatan, Nun. Sejak kecil,” tutur Sarah membuka suara, saat mereka berada di tepi lapangan yang sedang memperhatikan Rama dan juga Hafidz ketika sedang menjalani hukuman berlari mengitari lapangan.


“Gue, Rama, Hafidz dan ada almarhum Jeri. Kami dulu sangat dekat, ke mana-mana selalu bersama dan kita selalu satu sekolah. Dulu kita anak yang nakal dan sering banget berbuat onar. Tapi, nakal yang wajar. Sering ngisengin teman di sekolah, sering terlambat masuk sekolah dan suka buat keributan di kelas.


“Walau nakal, Rama dan Hafidz itu anak yang berprestasi. Gue dan Jeri yang punya otak pas-pas an, sering di marahi mereka kalau nilai ujian kita jeblok. Kita sering belajar bareng, mereka sering membantu kita dalam urusan pendidikan,” cerita Sarah yang kembali mengenang persahabatannya dulu.


Matanya sempat meneteskan air mata, tapi dengan cepat langsung ia hapus oleh punggung tangan kanannya. Hanun sempat melihat Sarah menangis, tapi ia langsung mengalihkan pandangan matanya.


“Geng itu sering mengajarkan keburukan kepada Kami. Mereka sering banget ikutan tawuran. Bahkan, nyaris hampir saling membunuh. Disitulah letak awal permasalahan kami. Jeri di kabarkan meninggal dan kami pun sangat sedih.”


Suara Sarah mulai terdengar parau dan terbata-bata. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis. Menangisi kisah persahabatannya yang hancur. Dan, itu membuat Hanun langsung merangkul Sarah dan mencoba menenangkannya dengan mengusap-ngusap pundaknya pelan.


“Begitu mendengar Jeri meninggal, semua awal permasalahan terjadi. Hafidz dan gue sempat masuk kantor polisi. Hafidz juga hampir masuk penjara. Kalau saat itu ayah Hafidz tidak datang membantu, mungkin Hafidz akan mendekam di penjara.


“Begitu bengalnya kami dulu. Semenjak masuk geng itu, mereka jadi rusak. Sering bolos sekolah, tawuran, bahkan merokok. Jujur, gue juga dulu sempat ikut-ikutan merokok, tapi kami tidak pernah menyentuh sedikit pun botol minuman keras. Kami menjauhi hal tersebut.


“Gara-gara hal itu, Hafidz sering di marahi orang tuanya dan sering di panggil ke ruangan BP. Tapi, semenjak meninggalnya Jeri, Hafidz berjanji pada ayahnya tidak akan membuat masalah lagi. Sejak itulah, hubungan persahabatan Hafidz dengan Rama merenggang dan kami jadi bermusuhan sampai sekarang.”


Hanun sama sekali tidak menyangka, kisah masa lalu mereka begitu pelik. Bahkan, sampai berurusan dengan polisi segala. Membayangkannya saja membuat Hanun merinding, mengerikan dan sangat brutal.


Setelah selesai menjalani hukuman, Hafidz menghampiri Hanun dan mengajaknya untuk pulang bersama.


“Elo nggak apa-apa pulang sendiri, Ra?” tanya Hafidz saat berada di parkiran.


“Nggak apa-apa. Gue bisa pakai ojek online. Gue tahu ada banyak hal yang ingin lo bicarakan dengan Hanun. Elo sama Hanun aja.”


“Makasih yah, Sarah. Hati-hati di jalan,” kata Hanun sambil memeluk Sarah.


Sarah mengangguk dan tersenyum. Begitu motor Vespa Hafidz berlalu, Sarah bergegas pergi. Namun, Rama tiba-tiba saja datang dan menarik tangannya.


“Ada apa?” tanya Sarah dengan mata berkaca-kaca.


“Gue kangen sama lo, Rah. Boleh gue peluk lo, 3 menit aja?” pintanya.


Tanpa jawaban, Rama langsung memeluk Sarah yang saat itu berada di parkiran. Rama tidak peduli dengan orang-orang yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Bahkan, sampai ada yang mencibir segala. Rama juga tidak peduli dengan semua itu, yang ia pedulikan hanya Sarah, sahabat lamanya.


Jeri