
“Jeri mau jadi polisi seperti ayah Tora,” kata Jeri saat melihat album masa muda ayahnya Hafidz yang terlihat keren dan juga tampan.
“Kalau begitu, belajar yang rajin. Biar pintar dan menjadi polisi,” jawab ibu.
“Memangnya, kalau jadi polisi harus pintar ya, Bu?”tanya Rama penasaran.
“Mau jadi apa pun, kalian memang harus pintar. Makanya, jangan suka bolos sekolah,” nasehat ibu menyindir hingga membuat Rama, Hafidz dan juga Jeri langsung mengalihkan pandangan mereka.
“Hafidz gak pernah bolos ko, Bu!” kilah Hafidz dengan ekspresi wajahnya yang terlihat serius.
“Bohong, Bu. Hafidz suka bolos,” kata Rama menimpali.
“Ih, Rama sama Jeri tuh yang suka bolos!” balas Hafidz tak mau kalah.
“Sudah-sudah. Pokoknya, kalian bertiga harus rajin sekolah, biar pinter dan membanggakan kedua orang tua kalian.”
“Kalau begitu, Rama mau jadi polisi juga, ah. Biar keren kaya ayah Tora.”
“Hafidz juga mau jadi polisi!” teriaknya bersemangat.
Mendengar cerita ibunya Hafidz, Hanun sampai meneteskan air mata harunya. Hanun benar-benar kagum dengan rasa persahabatan mereka berempat. Sungguh luar biasa.
“Rama, Hafidz dan Jeri itu sangat menyayangi Sarah. Mereka sudah menganggap Sarah sebagai adik mereka sendiri. Mereka bilang, Sarah itu seperti anggota tubuhnya mereka. Makanya, mereka sangat menyayangi Sarah dan melindungi Sarah dalam hal apa pun,” cerita ibu kembali.
“Sarah beruntung yah punya teman yang baik dan begitu melindunginya.”
“Iya. Setiap kali ada yang membuat Sarah menangis dan marah, mereka bertiga pasti akan maju terlebih dahulu dan membalaskan dendam Sarah. Mereka itu lucu, ibu kadang suka merindukan persahabatan mereka.”
Hanun kembali memandangi foto Jeri yang sedang bersama dengan Hafidz. Andai saja Jeri belum meninggal, pasti Hanun akan bertemu dengannya dan berteman dengannya. Andai saja Jeri tidak meninggal, mereka berempat pasti masih akan bersahabat seperti dulu.
“Harusnya sih kemarin pulang. Mungkin, masih betah di sana. Anun nggak coba buat telepon Hafidz?”
“Hanun udah coba. Tapi, telepon Hanun sama sekali nggak diangkat. Bahkan, Line Hanun aja nggak di read, Bu. Hafidz marah sama Hanun ya, Bu?”
Ibu Hafidz beranjak dari tempat duduknya. Ia langsung mendekati Hanun dan duduk di sampingnya. Sambil menggenggam kedua tangan Hanun, ibu mendekapnya dan membelai-belai rambut Hanun seperti anaknya sendiri. Tiba-tiba saja beliau menitikkan air matanya dan membuat Hanun bingung seketika.
“Ibu kenapa? Kenapa ibu menangis?”
Ibu menghapus air matanya dan kembali mendekap Hanun semakin erat. Karena sama sekali tak menjawab, Hanun hanya bisa membalas pelukan ibu Hafidz dengan memeluknya semakin erat.
Karena hari sudah malam, Hanun berpamitan pulang. Tapi, sebelum pulang, ibu mengajak Hanun untuk makan malam di rumah bersamanya. Karena tidak ingin mengecewakannya, Hanun mengangguk dan membantu ibu Hafidz memasak di dapur.
“Ibu!!” teriak Salma yang datang tiba-tiba.
“Eh, ada tamu, yah?” katanya begitu melihat Hanun berada di dapur yang tengah membantu ibunya menyiapkan hidangan makanan.
“Hay, kamu pasti Salma adiknya Hafidz, yah?” kata Hanun sambil tersenyum simpul.
“Teteh pasti calon pacarnya A Hafidz, yah?” katanya menggoda hingga membuat Hanun tersipu malu mendengarnya.
“Salma! Kebiasaan banget kalau sampai rumah nggak pernah salam.”
“Lupa, Bu. Salma balik lagi, deh,” katanya yang membuat Hanun bingung.
Salma kembali ke luar rumah dan mengucapkan salam seperti sebelumnya. Melihat kelakukan Salma yang unik seperti Hafidz, Hanun sampai tertawa lebar dengan perilakunya yang memang mirip seperti kakaknya itu.