
“Hafidz ke mana, Rah?” tanya Hanun, saat sedang bersama Sarah dengan Gita di kantin sekolah. "Aku udah hampir 3 hari ini nggak lihat dia. Kita bener-bener lost contact. Aku kangen sama Hafidz, aku juga khawatir sama dia.”
“Gue nggak tahu, Nun. Waktu gue ke rumahnya, ibunya bilang Hafidz ke Bogor nginep di rumah neneknya. Line gue juga sama sekali belum di read, jadi gue nggak tahu kabar Hafidz sekarang seperti apa.” Sarah menjelaskan apa yang ia tahu. Ia sendiri tidak tahu kenapa Hafidz pergi tak ada kabar seperti ini.
“Apa ini ada hubungannya sama Rama? Rama hari ini udah masuk sekolah, loh,” kata Gita yang membuat Sarah dan juga Hanun saling menatap satu sama lainnya.
Mendengar Rama sudah mulai masuk sekolah, Sarah dan Hanun memutuskan untuk mencari Rama ke kelasnya. Namun, ia sama sekali tak ada di sana. Mencari ke lapangan basket, akhirnya Rama di temukan juga. Ia sedang berkumpul dengan teman-teman basketnya. Dan, Rama cukup terkejut begitu melihat Hanun dan juga Sarah datang bersama untuk mencarinya.
“Ada apa?” tanya Rama yang mengajak Sarah dan Hanun untuk menjauh dari teman-teman basketnya.
“Elo tahu apa yang terjadi dengan Hafidz?” Sarah langsung menodong Rama dengan pertanyaannya secara to the point.
“Gue bukan saudaranya, bukan kakaknya atau pun ibunya. Yang harusnya tahu dia kenapa itu ya cuma elo. Elo kan sahabatnya,” kata Rama menjawab.
“Terakhir kali gue lihat kalian berdua itu, saat orang tua kalian di panggil ke sekolah. Hanun bilang sama gue, dia sempat melihat lo dan juga Hafidz pergi bersama. Elo pergi ke mana dengannya?” katanya kembali.
“Iya Rama, tolong jawab. Kamu dengan Hafidz pergi ke mana waktu itu?” tanya Hanun yang kali ini ikut membuka suara.
“Gue nggak bisa jawab. Elo tanya aja sama orangnya langsung.”
Rama bergegas pergi, tapi Sarah tidak tinggal diam begitu saja. Ia langsung menghadang jalan Rama dengan merentangkan kedua tangannya.
“Ram, jujur sama gue. Elo pergi ke base camp Broxe?”
Rama memalingkan wajahnya. Ia tidak menjawab dan membuat Sarah semakin curiga dengan gelagatnya.
“Apa benar kalian bertemu lagi dengan anak-anak Broxe?” tanyanya kembali.
“Elo tanya aja langsung sama orangnya. Gue nggak bisa jawab, Rah. Gue nggak punya wewenang untuk menjawab pertanyaan lo,” katanya kemudian pergi.
“Kalau lo emang beneran sayang sama gue, harusnya lo jawab pertanyaan gue dengan jujur!” teriak Sarah yang membuat langkah Rama terhenti hingga membuat Hanun begitu terkejut mendengarnya.
Rama membalikkan badan. Ia menatap wajah Sarah dengan sorotan matanya yang terlihat sendu. Mereka saling beradu pandang dengan cukup lama. Ada rasa rindu yang mendalam dari balik tatapan mereka berdua. Namun, mereka tidak bisa mengatakan hal itu secara langsung. Terlalu gengsi untuk mengucapkan kata rindu itu.
Rama kembali melanjutkan langkahnya untuk menghampiri teman-temannya. Ia sama sekali enggan untuk menjawab semua pertanyaan Sarah barusan. Sarah hanya bisa menghela nafas pendek hingga membuat Hanun menghampirinya sambil merangkulnya.
Sepulang sekolah, Sarah dan juga Hanun mengunjungi rumah Hafidz dengan menggunakan ojek online. Begitu sampai di rumah Hafidz, Sarah langsung menarik tangan Hanun dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Sarah?”
“Ibu.”
Sarah menghampiri ibunya Hafidz dan mencium telapak tangannya. Sementara Hanun, ia masuk dengan langkah perlahan dan melihat ke arah sekelilingnya yang dipenuhi dengan foto keluarga Hafidz.
“Bu, Sarah bawa temen spesialnya Hafidz,” bisik Sarah.
“Siapa?”
“Hanun!” panggil Sarah setengah berteriak hingga membuat Hanun berjalan menghampirinya. “Ini Hanun, calon pacarnya Hafidz,” kata Sarah sambil merangkulnya hingga membuat Hanun tersipu malu mendengarnya.
“Oh, jadi ini yang namanya Anun?”
“Anun? Ibu tahu panggilan itu juga?” kata Sarah mengulang.
“Iya, Hafidz sering bilang namanya Anun. Dia ceritanya gitu sama ibu,” kata ibu menjelaskan. “Sini, Nak,” kata ibu kembali lembut memanggil.
Hanun mengangguk dan menghampiri ibunya Hafidz sambil mencium punggung tangan kanannya. “Saya Hanun, Tante.”
“Iya, ibu tahu. Jangan panggil tante, panggil ibu aja.” Ibu Hafidz tersenyum dan merangkul Hanun seperti kepada anaknya sendiri.
“Kalau gitu Sarah pulang dulu, deh. Katanya, Hanun mau ketemu ibu dan ngobrol-ngobrol sama ibu.”
“Loh, ko, pulang?” tanya Hanun terlihat bingung dan salah tingkah.
“Udah, lo di sini aja. Ibu baik nggak akan gigit. Iya kan, Bu?” canda Sarah yang membuat semuanya tertawa.
“Iya. Yuk, sini duduk.”