This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Terungkapnya sebuah Rahasia



Semenjak meresmikan hubungannya, Hafidz dan Hanun terlihat begitu romantis. Sarah yang mengetahui sahabatnya sudah berpacaran ikut senang mendengarnya.


Selama Hafidz dan Hanun berpacaran, Sarah dan Gita selalu membuntuti mereka dan mengganggu kemesraan mereka. Namun, Hafidz dan Hanun tidak sama sekali terganggu dengan kehadirannya mereka. Malah, mereka berdua senang dengan keakraban yang mereka berempat miliki sekarang ini.


Singkat cerita, hubungan Hanun dengan Hafidz pun sudah terjalin 3 bulan lamanya.


Hafidz terlihat tertawa-tawa sendiri begitu sepulang dari rumah Hanun. Selama di perjalanan, ia terlihat begitu senang. Namun, keceriaannya berhenti seketika begitu membaca pesan masuk di handphonenya.


Begitu membacanya, wajahnya langsung berubah seketika. Ekspresi wajahnya terlihat dingin. Hafidz pun langsung mengendarai vespanya dengan kecepatan tinggi. 30 menit kemudian, ia tiba di depan base campnya anak-anak Broxe.


Deretan motor juga sudah terlihat begitu banyak, Hafidz yang baru saja tiba langsung masuk ke dalam sambil membuka pintu dengan membantingnya begitu kasar.


“Apa maksud perkataan lo tadi di Line, Rey?” tanya Hafidz berapi-api begitu melihat Rey sedang bersama anak-anak Broxe lainnya.


“Fidz, lo tenang. Duduk dulu, kita jelasin pelan-pelan,” kata Ohen mencoba untuk menenangkan temannya yang sudah terbakar api emosi.


“Gimana gue bisa tenang, Hen. Apa maksud dari perkataan Rey yang bilang kalau yang sudah menyebabkan Jeri meninggal itu adalah Rama. Jelasin sama gue yang sebenar-benarnya!” katanya menggebu-gebu dengan dadanya yang sudah mulai naik-turun.


Emosi Hafidz hari ini benar-benar sedang memuncak. Fikirannya kacau, ia tidak bisa menahan emosinya begitu ia mendengar Jeri meninggal karena Rama. Sedangkan Rama sendiri mengatakan, kalau dirinya tidak ada sangkut pautnya dengan kematian sahabatnya itu.


“Jujur, kita baru tahu semua ini dari Ruli,” kata Rey yang membuat semua teman-temannya terperangah dan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


“Ruli?” kata Agus mengulang nama Ruli tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“Ruli bilang, ada sikap Rama yang aneh ketika tawuran hari itu. Dan, kalian tahu apa kata Ruli? Jeri meninggal karena menolong Rama dari serangan tusukan si Bule, ketua Drozr. Saksinya Asep dan Luki,” katanya Rey menjelaskan hingga membuat semuanya terkejut begitu mendengar informasi tersebut.


“Iya, lagi pula memang ada yang aneh, sih. Kejadian di rumah sakit, pemakaman dan di kantor polisi mereka menghilang begitu saja. Ruli, Rama, Luki dan Asep nggak ada sama sekali. Bahkan, hampir 3 tahun ini mereka jarang kumpul dan hilang begitu aja,” kata Ohen yang dapat anggukan dari teman-temannya yang lain.


“Iya, bener banget. Setiap kali di ajak berkumpul, mereka terkesan menjauhi. Bahkan, Ruli yang tadinya sulit dihubungi untuk diajak berkumpul, sekarang dia mau kumpul lagi dengan syarat Rama juga harus ikut hadir dalam perkumpulan kita. Sekarang, kepingan-kepingan masalah kita mulai menemukan titik temu. Gue panggil Luki, Ruli sama Asep dulu buat ke sini,” kata Rey yang langsung keluar.


Beberapa saat kemudian, Rey datang dengan membawa Asep, Ruli dan juga Luki, hingga membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut langsung menatap mereka dengan sinis.


“Elo kenapa nggak ngomong dari dulu soal ini?” teriak Hafidz sambil menarik pakaian Asep kasar.


“Tenang dulu, Fidz. Kita bisa jelasin pelan-pelan. Sep, maneh jelaskeun heula,” kata Ohen berusaha menenangkan.


“Sebelumnya, hampura urang gak ada di saat terakhirnya Jeri. Tapi, maraneh kudu apal kunaon sababna urang, Rama, Ruli jeung Luki cicing wae.” Asep membuka suara dan kembali mengambil nafas panjang. (Sebelumnya, maaf saya nggak ada di saat terakhirnya Jeri. Tapi, kalian harus tahu penyebab kenapa kita semua diam saja).


“Yang ngebunuh Jeri itu si Bule. Urang, Luki, Ruli, Rama saksina. Awalnya, si Bule mau nusuk Rama dengan pisau belatinya karena dia nggak suka dengan sifat Rama yang songong dan angkuh. Target Bule awalnya Rey. Tapi, dia nggak ada di tempat. Jadi, dia ganti target yaitu Rama. Kelihatan sama Jeri, jadi Jeri nolongin Rama dengan cepat hingga beberapa tusukan itu tepat di tulang rusuk dan ginjalnya Jeri.”


“Iya, Asep bener. Kita berusaha untuk menolong, tapi polisi keburu datang dan mereka semua kabur. Yang bawa Jeri ke rumah sakit juga kita. Bahkan, Rama kelihatan banget paling terpukul saat kejadian itu berlangsung. Dia merasa bersalah dengan kematiannya Jeri. Bahkan, saat kalian ada di RS, kita semua juga ada di sana melihat kalian dari jauh. Kita bukannya lari dari tanggung jawab, tapi malu dan bingung harus bagaimana menyampaikannya,” sambung Luki panjang lebar.


“Rama menangis hebat. Dia juga sangat emosi dan langsung mencari si Bule pada hari itu juga. Kita mengikuti Rama dari belakang karena takut terjadi apa-apa sama dia. Tapi, si Bule hilang entah kemana. Yang ada hanya teman-temannya dan Rama menghabisi mereka semua sampai babak – belur, sendirian tanpa bantuan kita,” kata Ruli yang membuat semuanya merasa sangat syock mendengar kenyataan pahit ini.


Apalagi Hafidz, ia tak menyangka kalau selama ini Rama memikul beban yang begitu berat. Bahkan, ia sampai menyembunyikan semua ini darinya selama 3 tahun hingga mereka pada akhirnya bermusuhan cukup lama akibat kejadian itu.


“Semenjak kejadian itu, Rama bilang sama kita. Jangan sampai anak-anak Broxe tahu kebenarannya seperti apa, sampai dia berhasil menemukan si Bule. Dan, kalian tahu? Selama 3 tahun, Rama masih terus mencari si Bule. Dia ingin mencari Bule sampai ketemu dan membawanya kepada kalian dengan berkata ‘ini pembunuh Jeri, sahabat kita’. Tapi, si Bule sampai saat ini masih belum ditemukan.” Ruli menambahi hingga membuat semua teman-temannya menunduk sedih.