
“Itu Hafidz!” teriak Sarah menunjuk. “Dia dengan siapa?”
“Dia bawa bantuan,” kata Ohen menjawab dan terlihat tersenyum senang.
“Serang!!” teriak Rey memberi aba-aba.
Pertumpahan darah mulai terjadi di mana-mana. Hafidz dan Jeri datang membantu. Rama yang melihat sahabatnya sudah datang, merasa mendapatkan semangat baru yang begitu membara.
“Jangan sampai terluka,” kata Hafidz pelan sambil memegang bahu Rama dan juga Sarah.
“Harus saling melindungi, jangan sampai berpisah,” kata Jeri menambahi.
Rama, Ohen dan Sarah mengangguk. Mereka langsung berlari dan menghajar orang-orang yang ada di depan mereka dengan brutal. Setelah 1 jam berlalu, mobil polisi mulai berdatangan. Mereka yang masih bisa berjalan, mulai kabur dengan mengendarai motor mereka.
Sarah celingak-celinguk mencari Rama, tapi temannya itu sama sekali tidak terlihat. Karena mulai panik, ia ikut bersama Hafidz yang mengajaknya untuk kabur.
“Berpencar, jangan sampai ditangkap polisi!” teriak Hafidz memberi tahu.
Semua anak-anak Broxe mulai kabur dan berpencar untuk melindungi diri mereka dari kejaran polisi. Tapi naas, Hafidz, Sarah, Ohen, Agus dan sebagian yang lainnya berhasil diringkus oleh polisi. Karena kejadian itu, membuat mereka semua di bawa ke kantor polisi.
Sejak di bawa polisi, mereka diintograsi satu - persatu untuk diminta menjawab pertanyaan mereka. Begitu ada salah satu polisi yang mengatakan kepada rekannya ada salah satu pelaku yang masuk rumah sakit dalam keadaan parah, mata Hafidz dan teman-temannya mulai membelalak karena terkejut.
“Maaf, Pak. Kalau boleh tahu yang masuk rumah sakit siapa?” tanya Hafidz hati-hati dan terlihat panik.
“Kalau tidak salah namanya Jeri,” jawab polisi itu yang membuat Sarah menjerit histeris begitu mendengar nama Jeri disebutkan.
“Pak, boleh kami ke rumah sakit untuk melihat keadaannya?” tanya Hafidz kembali dengan mata yang mulai berair.
Polisi itu bertanya kepada rekannya. Setelah diperbolehkan, mereka langsung menuju rumah sakit, meski dalam keadaan tersangka dan di bawah kendali polisi. Begitu sampai di rumah sakit, mereka semua berlari-lari kecil sampai akhirnya mereka tiba di depan ruangan tempat Jeri di rawat.
Di sana, sudah ada beberapa keluarga Jeri, keluarga Sarah bahkan orang tua Hafidz sendiri ada di sana. Teman-temannya juga mulai berdatangan dan melihat kondisi Jeri yang sangat memprihatinkan.
“Jeri?” ucap Hafidz pelan dari balik jendela kamar, dengan air mata yang sudah beruraian.
Begitu dokter memasuki ruangan dan berbicara dengan orang tuanya Jeri, ibunya Jeri tiba-tiba saja berteriak histeris. Jantung Jeri tiba-tiba berhenti berdetak, itu membuat beberapa perawat dan dokter yang berada di sana mulai sibuk menanganinya. Namun, takdir berkata lain, salah satu perawat menutup tubuh Jeri dengan kain putih dan itu membuat Sarah dan teman-teman yang lainnya kembali menangis.
Apalagi Sarah, ia sampai terjatuh di lantai dasar rumah sakit dan menangis hebat. Semua orang menangisi kepergian Jeri. Entah apa yang terjadi kepada Jeri, tapi Hafidz hanya bisa menatap tubuh Jeri yang terkujur kaku dengan kedua bola matanya yang mulai memerah.
“Apa yang terjadi? Kenapa Jeri pergi? Jeri selalu ada bersama gue, kenapa dia pergi? Kenapa?” teriak Hafidz mulai emosi hingga membuat yang lainnya hanya bisa menunduk sedih dan membuat Sarah semakin menangis hebat.
“Kenapa? Bu, katakan Jeri tidak pergi, kan? Bu!!” teriak Hafidz emosi kepada ibunya.
“Ikhlaskan Jeri, Nak. Jeri sudah meninggal,” tangis ibunya sambil berusaha untuk menenangkan anaknya.
Hafidz terjatuh dan duduk di lantai dasar rumah sakit sambil menangis. Rey dan Ohen mendekati Hafidz sambil memegang bahunya untuk menenangkannya. Sementara Sarah, ia datang menghampiri Hafidz dan memeluknya dari samping.
“Jeri, Fidz. Jeri udah nggak ada,” katanya kembali menangis dan memeluk Hafidz.
Hari itu adalah hari yang paling buruk dalam sepanjang sejarah hidup Hafidz dan teman-temannya. Setelah magrib, jenazah Jeri di ke bumikan. Semua teman-teman dan guru-guru berdatangan untuk melayat. Tangis haru mulai menyelimuti pemakaman. Tak bisa dijelaskan oleh kata-kata, hari itu begitu banyaknya polisi dan teman-temannya yang berdatangan silih berganti.
“Bu, Pak, saya mewakili teman-teman yang lainnya mau meminta maaf atas meninggalnya Jeri. Saya . . . "
Belum sempat Hafidz melanjutkan perkataannya, ibunda Jeri memeluk Hafidz begitu erat. Beliau menangis dalam pelukan Hafidz, hingga membuat Hafidz sendiri terenyuh dan meneteskan air matanya kembali.
“Maafkan Hafidz, Bu.”
“Hafidz nggak salah. Ini sudah takdir, jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Ibu tahu, Hafidz selalu ada untuk melindungi Jeri kapan pun dan di mana pun. Ibu percaya sama kamu.”
Hafidz kembali meneteskan air matanya hingga membuat ibunda Jeri kembali memeluk Hafidz sambil membelai-belai rambut Hafidz dengan lembut dan penuh kasih sayang. Setelah pemakaman Jeri selesai, Hafidz dan teman-temannya kembali di bawa ke kantor polisi.
Begitu kembali diperiksa, ayah Hafidz yang merupakan kepala polisi langsung mendatangi anaknya. Begitu bertemu anaknya, tiba-tiba saja ia menampar Hafidz begitu keras, sampai membuat orang-orang yang melihatnya begitu terkejut.
“Rek jadi naon maneh? Geng motor? Perusak bangsa? Mau jadi pembunuh?” teriak ayahnya begitu emosi. (Mau jadi apa kamu).
Hafidz tetap terdiam dan menunduk. Pipinya mulai memerah akibat ditampar oleh ayahnya tadi.
“Mempermalukan keluarga. Sudah ayah bilang jangan ikut-ikutan tawuran seperti ini. Masih tidak mau menurut? Lihat, sekarang temanmu meninggal. Kamu ingin seperti temanmu yang sudah meninggal?” katanya kembali hingga membuat Hafidz semakin menundukkan kepalanya malu, ia malu untuk menatap ayahnya.
“Ayah itu sayang sama kamu, Nak. Jangan kecewakan ayah dan ibumu. Jangan kecewakan almarhum Jeri juga. Ayah tahu Jeri itu sahabatmu sejak kecil, ayah juga sayang sama sahabatmu itu.”
Hafidz tetap menundukkan kepalanya. Sarah dan teman-temannya yang lain juga jadi ikut merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Hafidz. Karena masalah ini, Hafidz jadi kena imbasnya. Ia dimarahi oleh ayahnya di depan rekan kerja ayahnya sendiri, bahkan semua polisi kini menatap ke arah mereka berdua.
“Sekarang, kamu dan teman-temanmu pulang. Biarkan ayah yang urus masalah kalian di sini. Pak Sastra?” katanya memanggil salah satu polisi yang beliau kenal.
“Siap, Pak?” katanya sambil memberi hormat.
"Biarkan anak-anak ini pulang. Saya beri jaminan, kalau mereka tidak terlibat dalam kasus terbunuhnya teman mereka.”
“Siap, Pak Tora!”
“Untuk masalah tawuran, tulis saja nama mereka dalam catatan hitam kepolisian dan serahkan ke sekolah mereka masing-masing. Tapi, mereka harus tetap dalam pengawasan polisi sampai masalah ini selesai dan tidak terulang kembali.”
“Siap, Pak!”
Begitu masalah mulai selesai satu persatu, Hafidz dan teman-temannya kembali pulang. Walau sampai saat ini mereka masih belum tahu siapa yang membunuh Jeri, tapi setidaknya Hafidz sudah berjanji kepada ayahnya, ia tidak akan mengikuti tawuran antar sekolah lagi.