
3 Tahun yang lalu . . . .
“Kapan nyerang?” tanya Ruli saat anak-anak Broxe tengah berkumpul bersama di base camp.
“Lusa. Urang pokoknya nggak suka anak-anak Broxe di hina sama anak-anak Drozr,” kata Jeri terlihat emosi.
“Hayangna naon sih barudak Drozr, teh? Perkarana naon sampai berbuntut panjang gini?” seru Rama yang mulai terlihat naik pitam dan berusaha ditenangkan oleh Ohen. (Maunya apa sih anak-anak Drozr itu. Masalahnya apa).
“Ini pasti ada yang jadi mata-mata di grup kita. Ada yang ngobrolin soal planning nyerang sekolah lain nggak di luar selain di sini?” tanya Rey.
Semua menggeleng. Hafidz yang sejak tadi hanya diam di pojokan dan sibuk merokok, membuat Ruli datang menghampiri dan merangkulnya.
“Mikirin apa lo? Ada yang jadi ganjalan?”
“Ram, Tito ke mana?” tanya Hafidz tiba-tiba.
“Nggak tahu. Coba tanya Sarah, mungkin dia lagi sama Sarah,” jawab Rama.
“Panggil Sarah ke sini,” kata Hafidz yang membuat semuanya bertanya-tanya dan saling memandang satu sama lainnya.
Rama mengangguk dan segera menghubungi Sarah. 30 menit kemudian, akhirnya Sarah datang bersama Tito, pacarnya.
“Ada apa manggil gue ke sini?” tanya Sarah yang diikuti Tito dari belakang.
“Jeri kangen sama lo katanya,” jawab Hafidz yang membuat Jeri langsung menggeleng-gelengkan kepalanya hingga melempari Hafidz dengan bungkusan permen kaki.
“Sialan, urang nggak ngomong gitu, Rah. Bohong tuh si kampret!” kilah Jeri.
“Serius, ih!” kata Sarah terlihat kesal.
“Nggak ada apa-apa, sih. Kita lagi mau bahas penyerangan kita lusa nanti ke sekolah lain,” kata Hafidz menjelaskan.
“Lusa? Jam berapa?” tanya Sarah.
“Jam 12, saat jam pulang sekolah. Kumpul di depan Taman Lalu Lintas.” Rey memberi tahu.
“Oh, ikutan, yah?” kata Sarah.
“Cewe jangan ikutan,” tutur Rama sambil mengacak-ngacak rambut Sarah. “To, urusin cewe lo, nih. Jangan suka ikutan tawuran sama kita. Nggak baik cewe ikut-ikutan.”
“Susah, Ram. Dia pasti maksa pengen ikut,” kata Tito yang langsung mendapatkan jeweran dari kekasihnya. “Aww, sakit, Rah!”
“Kalau Rama, Jeri sama Hafidz ikutan nyerang. Gue juga ikut nyerang. Satu nyerang, semua harus ikut nyerang,” kata Sarah ber api-api.
“Iya dah, Teletubis kan gak pernah pisah. Kudu, wajib banget ke mana-mana barengan!” seru Rey dengan wajah datarnya.
“Kalau be’ol? Barengan juga?” tanya Ohen yang membuat semuanya tertawa. (Buang air besar).
“Koplok, geleuh sia, teh!” seru Jeri yang langsung melempari Rey dengan gulungan kertas. (Seruan dalam bahasa Sunda yang bisa dikatakan dari objek kata kasar. Jijik kamu itu).
“Jadi, gimana?” tanya Ruli kembali untuk memastikan.
“Yang tadi kata gue bilang. Lusa, jam 12 siang kumpul di Taman Lalu Lintas. Jangan pakai seragam yang ada badge sekolah dan nama kita, yah? Semua harus polos dan jangan lupa pake scarf,” kata Rey yang membuat anak-anak lainnya mengangguk tanda mengerti.
“Bawa juga peralatan,” kata Hafidz sambil melirik ke arah Tito yang sejak tadi memegang handphonenya.
Semua mengangguk hingga membuat anak-anak yang lain bubar seketika, ketika rapat hari ini selesai.
“Ko, Taman Lalu Lintas? Bukannya, kita janjian di Gasibu?” bisik Jeri saat semua teman-temannya bubar.
“Elo, gue, Agus sama Asep langsung ke Gasibu,” jawab Hafidz menjelaskan.
“Lah, katanya tadi Taman Lalu Lintas. Gimana sih ini?” tanya Jeri yang masih bingung.
“Tito mata-mata,” bisik Hafidz kembali.
“Hah? Maneh serius, Bleh?” Jeri nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Urang serius, Bleh. Yang lain jangan pada tahu dulu planning asli kita kaya gimana. Yang tahu cuma urang, maneh, Asep, Rey sama Agus. Rey memang harus tahu karena dia ketua Broxe, Agus juga harus tahu karena dia mantan ketua. Kalau Asep, lo tahu sendirilah, dia sesepuhnya Broxe.”
“Rama?”
Hafidz menghela nafas pendek. Ia mengeluarkan sebatang rokok dari kantong celananya kemudian menyalakannya dan menghisapnya.
“Jangan tahu dulu, Bleh.”
“Kenapa? Dia temen kita, Bleh.”
“Rama jadiin tumbal dulu, Bleh.”
“Naha kitu?” (Kenapa begitu).
“Dia deket sama Tito, Rama nggak bisa berakting. Biarkan Rama cari informasi soal Tito dulu. Kalau Rama tahu planning kita. Sarah bisa dalam bahaya, Jer.”
Mendengar Sarah dalam bahaya, Jeri akhirnya setuju dengan rencana Hafidz. Ia juga tidak mau sampai membuat sahabatnya sendiri dalam bahaya hanya karena masalah mereka. Dengan rencananya mereka yang sudah terorganir. Malamnya, Jeri, Rama, Hafidz dan Sarah berkumpul bersama di daerah Caringin Tilu, Bukit Bintang, Bandung.
Ruli
Tito