
“Gue kangen banget sama lo, Rah. Sangat, sangat rindu.” Rama memeluk Sarah begitu erat hingga membuat Sarah sempat meneteskan air matanya begitu mendengar penuturan Rama barusan.
Sarah terdiam dan kembali meneteskan air matanya. Rama sempat menyarankan Sarah untuk pulang dengannya. Dengan sedikit paksaan, akhirnya Sarah menerima tawaran Rama untuk pulang bersama.
Sebelum pulang, Rama sempat mengajak Sarah pergi ke taman Babakan Siliwangi untuk mengobrol dan menghabiskan waktu bersama.
“Gue di skors selama 3 hari,” katanya membuka suara seraya berdiri di sebuah jembatan dan memandang lurus ke depan.
“Gue tahu.” Sarah menjawab dan berdiri di samping Rama dengan jarak beberapa centi meter.
“Gue sayang sama lo, Rah,” aku Rama yang membuat Sarah terdiam, "sayang banget, sayang laki-laki untuk perempuan. Bukan sayang sebagai sahabat.”
Sarah menunduk dan tak berani menatap wajah Rama yang kini sedang menatapnya.
“Sejak kecil, perasaan itu sudah ada. Awalnya, gue menyerah, Rah. Gue kira Hafidz juga suka sama lo. Gue nggak mau bersaing dengan sahabat sendiri. Makanya, gue putuskan untuk mundur saja. Tapi, Jeri bilang Hafidz gak suka sama lo. Dia cuma menganggap lo teman tidak lebih dari itu.Tapi, sayang, gue terlanjur pacaran dengan orang lain.
“Sejak saat itu, gue putuskan untuk mengenalkan lo sama Tito. Tapi, sepertinya gue salah mengenalkan orang. Gue akui, gue kangen dengan persahabatan kita, gue rindu itu semua. Tapi, gue takut dan gengsi untuk meminta maaf. Gue memang egois, tapi ada hal yang membuat gue tak berada di samping kalian saat itu.”
Sarah masih diam. Ia hanya bisa menyimak apa yang Rama ceritakan. Sarah tak berani bersuara, ia takut salah berucap.
“Gue semakin iri dan cemburu melihat kedekatan lo dengan Hafidz. Saat gue tahu kalian masuk sekolah ini, gue memutuskan untuk bersekolah di tempat yang sama dengan kalian. Gue memantau kalian dari jauh, gue fikir kalian sudah berpacaran. Bahkan, saat gue dengar kasus kalian saat kelas sepuluh, gue semakin yakin kalau kalian sudah berpacaran.
“Gue nggak bisa lepas dari pandangan mata lo, Rah,” katanya sendu, “Rah, apa lo merasakan hal yang sama seperti yang gue rasakan?”
Sarah masih belum bisa menjawab dengan semua pertanyaan dan pernyataan yang di lontarkan Rama. Belum lama ini, ia sudah merasa cukup bahagia tanpa adanya Rama, tanpa adanya perkelahian kedua sahabatnya dan tanpa adanya pengakuan cinta Rama kepadanya.
Yang ada hanya kebahagiaan sahabatnya yang sedang merasakan rasanya jatuh cinta. Kebahagiaan ketika ia mendapatkan teman baru. Kebahagiaan ketika kebersamaannya dengan teman-temannya yang selalu ada bersamanya.
"Gue udah mati rasa, Ram."
"Rasa cinta dan rasa rindu gue untuk lo sudah hilang beriringan dengan kematiannya Jeri," katanya sambil menatap wajah Rama dengan nanar.
"Rah, gue . . . ."
“Ram, gue mau pulang. Bisa, kan?” potongnya cepat dengan kedua mata yang sudah memerah menahan tangis.
Rama menunduk pasrah. Ia terima jika sahabatnya itu tidak menjawab pengakuan cintanya. Mungkin, ini adalah waktu yang salah di mana ia berkata jujur tentang perasaannya.
"Lo tidak ingin menjawab pernyataan gue, Rah?" tanya Rama kembali sambil menatap wajah Sarah.
"Gue ingin pulang, Ram. Gue mohon," katannya tedengar lirih .
Karena tidak ingin dibuat kecewa lagi, Rama pun memutuskan untuk mengantar Sarah pulang. Saat diperjalanan pulang, Sarah dan Rama tidak sama sekali saling berbicara. Benar-benar sunyi senyap dan sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
"Gue kangen Jeri, Ram," tutur Sarah pelan membuka suara hingga membuat Rama yang mendengarnya terlihat sedih.
"Elo mau ke pemakamannya Jeri?"
"Nanti aja. Gue bisa ke sana bersama dengan Hafidz. Sekarang, lebih baik kita pulang."
"Kenapa harus Hafidz, Rah? Kenapa bukan gue?"
"Karena elo nggak ada di saat detik-detik Jeri tiada, Ram. Dan, sampai saat ini gue belum bisa menerima dan memaaffkan lo atas kejadian di masa lalu."
Rama terdiam dan tak kembali berbicara setelah Sarah mengucapkan kalimat tersebut.