
Hanun duduk termenung di tempat tidurnya. Ia memandangi sebuah bingkai foto kebersamaannya dengan Hafidz yang kini sudah berpacaran. Ia begitu rindu akan kekasihnya itu. Rindu ingin bertemu dengannya dan berbicara banyak hal padanya.
Hanun kembali mengenang kenangan singkatnya dengan Hafidz, saat pertama kali mereka meresmikan hubungan mereka di warung mie ayam 3 bulan lalu.
"Aku punya tebakan lagi, nih,” kata Hafidz di sela-sela mulut yang penuh dengan mie juga kecap saat mereka tengah makan bersama.
“Apa?” tanya Hanun sambil menghapus noda kecap yang berada di bawah bibir Hafidz dengan tangannya.
“Ban apa yang sangat berat?”
“Nggak tahu, ban apa emangnya?”
“Bantuin aku untuk mencintai kamu,” katanya girang hingga membuat Hanun tersipu malu mendengarnya.
“Gombal. Emang mencintai aku berat, yah?”
Hafidz mengangguk dan kembali memakan makanannya.
“Kenapa berat?”
“Berat aja. Soalnya mencintai kamu butuh tenaga extra. “
“Kenapa gitu?”
“Kalau sehari gak mencintai kamu, nanti aku sakit.” Hanun mengernyitkan keningnya bingung tidak mengerti. “Iya, sakit. Sakit dilanda kegalauan yang Maha Dahsyat.”
“Lebay!!” seru Hanun yang langsung tertawa geli mendengarnya.
Hafidz hanya tersenyum-senyum kecil dan kembali menatap wajah Hanun begitu lekat.
“Masih ada nih tebakannya. Bis apa yang biasanya ada di pohon?” Hanun menggeleng tidak tahu.
Sebenarnya sih bukannya tidak tahu, tapi Hanun malas untuk menjawab tebakan Hafidz hingga harus sampai berfikir keras segala. Jadi, ia hanya bisa bilang pura-pura tidak tahu dan selalu ingin mendengar suara Hafidz saat ia sedang berbicara.
“Bisa kucing, bisa monyet, bisa kamu,” katanya kembali hingga membuat Hanun langsung melempari wajah Hafidz dengan tissue.
“Dasar pea!”
Hafidz tertawa geli dan kembali menghabiskan sisa makanannya yang belum habis. Setelah selesai menghabiskan mie ayam miliknya, Hafidz kembali menatap wajah Hanun begitu lama hingga membuat perempuan yang duduk di hadapannya itu menjadi salah tingkah dibuatnya.
“Jangan lihatin aku kaya gitu, Fidz.”
“Kenapa memangnya? Aku paling suka ngelihatin kamu kaya gini.”
“Aku malu,” katanya yang langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kenapa harus malu? Kan, aku pacarmu,” ucap Hafidz tiba-tiba hingga membuat Hanun terkejut mendengarnya.
“Pacarku? Sejak kapan?” tanyanya bingung.
“Sejak saat inilah,” jawabnya cepat.
“Masa?” tanya Hanun lagi untuk memastikan.
“Ih, ngarang banget kamu.”
“Ha . . . ha . . . ha biarinlah, kali-kali.”
“Jadi?” tanya Hanun kembali.
“Jadi apanya?”
“Jadi gimana?”
“Gimana apanya?” tanya Hafidz kembali yang membuat Hanun gemas mendengar jawaban dari Hafidz yang terkesan menyebalkan dan bertele-tele.
“Ya, kita?” kata Hanun kembali menunggu kepastian hubungannya dengan Hafidz.
“Kan, tadi udah aku jelasin. Hari ini harinya Hafidz sama Hanun, titik nggak pake koma. Tanda seru nggak pake tanda tanya. Serius nggak pake bercanda, Cinta nggak pake mati. Sejati nggak pake bohongan. Kamu itu kalau dalam bahasa gaulnya itu My Girlfriend. Kalau dalam bahasa Jermannya, kabogoh. Faham sekarang?"
Hanun tersenyum kecil dan memegang kedua pipinya yang sudah mulai merona karena malu.
“Iya, Faham.”
“Bogoh teu?” tanya Hafidz kembali. (Cinta nggak?).
"Bogoh," jawan Hanun malu-malu.
“Pipinya nggak usah kaya tomat gitu, dong,” tawa Hafidz meledek hingga membuat Hanun kembali menundukkan kepalanya malu.
Setelah meresmikan hubungan mereka. Hanun dan Hafidz bergegas pulang setelah membayar pesanan mereka. Saat berada di motor, tanpa embel-embel izin terlebih dahulu, Hanun langsung memeluk Hafidz dengan begitu erat.
“Kamu harus bilang makasih sama mamang tukang tambal ban yang tempo lalu ban sepeda kamu kempes,” kata Hafidz saat di perjalanan pulang. (bapak pedagang).
“Kenapa memangnya?”
“Karena berkatnya, kamu sama aku jadi dekat dan punya sejarah perjalanan cinta kita,” katanya menjawab hingga membuat Hanun manggut-manggut mendengarnya.
Saat di perjalanan pulang, tiba-tiba saja motor Vespa Hafidz berhenti di tengah jalan hingga membuat Hanun bingung melihatnya.
“Kenapa, Fidz?”
“Kayanya mogok.”
“Mogok kenapa?”
“Nggak tahu, Nun. Harus ke bengkel dulu kayanya. Tapi, bengkelnya jauh.”
“Ya udah dorong aja motornya.”
“Nggak apa-apa?”
“Iya, nggak apa-apa.”
Merasa tak enak, pada akhirnya Hanun dan Hafidz berjalan bersama sambil mendorong motor Vespa Hafidz yang mogok.