
“Maaf ya, Anun.” Hafidz membuka suara dengan ekspresi wajah yang terlihat malu dan menyesal.
“Maaf untuk apa, Fidz?” tanya Hanun tidak mengerti.
“Padahal, ini hari bahagianya kita. Hari jadian kita, tapi kamu malah harus ngedorong Vespa aku. Kita malah jadi susah-susahan bukan seneng-senengan,” katanya terlihat sedih dan menyesal.
“Nggak apa-apa, ko. Asal ngedorong motornya sama kamu, berdua sama kamu, aku tetap senang.”
“Beneran? Nggak pake bohong?”
“Iya, Hafidz sayang.”
“Asyik dibilang sayang!” teriak Hafidz kegirangan.
“Kan, kamu udah jadi pacar aku, bukan calon pacar lagi. Jadi, boleh dong aku panggil sayang?”
“Iya, boleh.”
Mereka kembali saling melempar senyum dan mendorong motor Vespa Hafidz sambil mencari bengkel terdekat.
“Udah sore lagi. Kamu beneran nggak apa-apa? Nggak cape?” tanya Hafidz kembali.
“Sedikit.”
“Mau istirahat dulu nggak?”
“Keburu malam. Lanjut aja, Fidz.” Hanun menjawab sambil tersenyum tipis.
“Aku nggak tahu gimana jadinya kalau motor aku mogok pas jalan sama orang lain bukan sama kamu. Pasti, dia bakalan ngomel-ngomel, marah-marah sama aku dan buat aku pusing. Tapi, kamu nggak. Kamu perempuan luar biasa. Seneng aku jadinya.”
“Makasih,” katanya lembut.
Untuk beberapa saat Hanun terdiam. Ia hanya menundukkan kepala kemudian tersenyum tipis sambil menatap wajah kekasih barunya itu.
“Aku suka kamu apa adanya. Kamu selalu menjadi diri kamu sendiri meski lagi sama aku. Kamu nggak pernah malu membanggakan diri kamu, kamu pria yang jujur. Kamu tidak pernah menjadi orang lain atau berusaha untuk menjadi lebih baik. Kamu itu sederhana, sama seperti cinta kita yang sederhana. Aku suka kamu yang sederhana, Hafidz.”
Hafidz tersenyum lebar. Ia menggenggam tangan kiri Hanun yang tengah mendorong motornya. “Makasih, Pacar.”
“Sama-sama, Pacar.”
Setelah berhasil menemukan bengkel, Hanun dan Hafidz beristirahat sejenak. Bahkan, mereka membeli cilok di pinggiran jalan, sambil meminum teh botol dan menikmati pemandangan matahari terbenam dengan lembayung senja yang mulai terlihat.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Hanun menatap wajah Hafidz.
“Silahkan,” jawab Hafidz cepat.
“Waktu 3 hari kamu nggak ada kabar, kamu pergi ke Bogor?”
“Kenapa kamu tahu?” tanya Hafidz bingung.
“Aku ke rumahmu. Aku bertemu dengan keluargamu. Aku tahu semuanya dari ibumu. Ibumu banyak bercerita soal kamu, Sarah, Rama, Jeri, ayahmu, bahkan kejadian 3 tahun yang lalu.”
Hafidz terdiam dan tak menjawab. Ia tidak menyangka, kalau Hanun akan berkunjung ke rumahnya. Dan, ia juga tak menyangka kalau ibunya menceritakan banyak hal kepada Hanun. Padahal, ibunya itu bukan tipikal orang yang mudah bercerita jika belum begitu kenal dekat dengannya. Tapi, dengan Hanun, ibunya menceritakan banyak hal.
“Boleh aku tahu ada kejadian apa sebenarnya dengan Jeri?”
Hafidz menghela nafas pendek. Ia menatap wajah Hanun dengan sendu. Apa sudah saatnya ia bercerita dan menceritakan semuanya kepada Hanun? Apa sudah saatnya ia berbagi kisah dengan Hanun?
“Kamu bisa percaya padaku. Aku kan pacar kamu,” kata Hanun kembali yang melihat ada keraguan di wajah Hafidz.
“Aku nggak tahu, Nun. Aku nggak tahu kenapa Jeri meninggal. Yang aku tahu, Jeri meninggal karena terbunuh. Tapi, aku nggak tahu siapa yang membunuhnya.”