
Hanun berjalan menuju gerbang sekolah. Ia keluar dengan langkah perlahan dan dengan fikiran yang bercabang ke mana-mana. Sambil menunggu angkot arah tujuannya datang, ia menundukkan kepalanya dan membuat sebuah lingkaran di dasar tanah dengan menggunakan sepatunya.
Saat ia menunduk, tiba-tiba saja ia melihat ada sebuah bungkusan permen kaki dengan sepasang sepatu kets convers berwarna hitam, hingga membuatnya langsung mendongak.
“Hafidz?” katanya pelan begitu melihat ada sosok Hafidz di hadapannya.
“Hay, Anun,” sapanya sambil tersenyum lebar.
“Kamu kenapa ada di sini? Aku fikir, kamu sudah pulang.”
“Aku menunggumu,” katanya langsung memberikan bungkusan permen kaki miliknya kepada Hanun.
Hanun menerimanya dan langsung membuka bungkusan itu, kemudian ia makan.
“Sebentar lagi ujian kenaikan kelas, kamu mau bantu aku nggak?” tanya Hafidz.
“Bantu apa?”
“Belajar,” jawabnya sambil tersenyum hingga membuat Hanun ikut tersenyum lebar padanya.
“Boleh, kita bisa belajar bersama. Tapi, aku tidak mengerti semua materi anak Ips.”
“Gampang, yang penting kita belajar bersama aja dulu. Kamu kan bisa mengajariku soal matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda dan Bahasa Inggris. Materinya pasti sama kaya anak Ips, kan?”
Hanun mengangguk dan tersenyum. “Jadi?”
“Jadi, aku antar kamu pulang. Aku juga ada yang ingin aku katakan sama mamah kamu. Aku ingin ngobrol dengan beliau.”
“Mamahku? Kamu mau ngobrol apa sama mamah?” tanyanya penasaran.
“Rahasia,” katanya yang langsung berjalan menuju motor Vespanya. “Yuk, pulang?” katanya sambil menyerahkan helm miliknya kepada Hanun.
Hanun mengangguk dan langsung mengambil helm yang berada di tangan Hafidz. Selama di perjalanan, Hafidz dan Hanun kembali mengobrol dengan riang. Seperti biasanya, Hafidz selalu memberikan tebak-tebakkan kepada perempuan yang sangat disukainya itu.
“Buah apa yang bikin bingung?” tanya Hafidz.
“Jeruk?”
“Bukan.”
“Pepaya?”
“Bukan.”
“Lalu? Apa?”
“Apel,” katanya sambil tersenyum lebar.
“Ko, apel?” Hanun bingung.
“Tuh kan, kamu bingung jawabnya!” serunya yang langsung membuat Hanun tertawa ngakak dan kembali mengacak-ngacak rambut Hafidz seperti biasanya.
“Dasar cowo aneh.”
“Tapi, suka, kan?”
Hanun tidak menjawab. Ia hanya nyengir dan melingkarkan kedua tangannya ke dalam perut Hafidz.
“Nggak izin dulu sama aku, nih?” tanya Hafidz.
“Izin apa?” Hanun terlihat bingung.
“Peluk aku kaya gini?”
“Emangnya harus?”
“Nggak,” jawabnya sambil tertawa hingga membuat keduanya tertawa bersama.
Hanun dan Hafidz akhirnya sampai juga tepat di depan rumah Hanun. Sebelum masuk ke dalam, Hafidz sempat memegang tas ransel milik Hanun hingga membuat langkah Hanun terhenti.
“Kenapa?” tanya Hanun bingung.
“Boleh minta izin?” katanya.
“Izin apa?”
“Pegang tangan kamu?”
Hanun tertawa. Kemudian, ia langsung menganggukkan kepalanya hingga membuat Hafidz langsung meraih tangan Hanun dan menggenggamnya. Sampai di depan pintu, Hafidz langsung melepaskan genggaman tangannya kembali.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, udah pulang?” tanya mamahnya Hanun yang kelihatannya baru pulang juga.
“Hari ini mamah nggak ada jadwal ngajar. Eh, ada temenmu, Le?” tanya mamahnya Hanun begitu melihat Hafidz.
“Assalamualaikum, Tante."
“Waalaikumsalam.”
Hafidz berjalan menghampiri ibunya Hanun dan mencium telapak tangannya.
“Kita mau belajar bareng buat persiapan ujian kenaikan kelas, Tante. Boleh, kan?”
“Oh, boleh sekali. Itu bagus, dari pada main ke luar lebih baik belajar. Ya sudah, selamat belajar, yah?”
“Iya tante, terima kasih banyak.”
“Aku tinggal buat minuman dulu, yah?”
Hafidz mengangguk. Beberapa menit kemudian Hanun kembali datang dengan membawa minuman dan beberapa cemilan.
“Mau belajar apa dulu?” tanya Hanun.
“Matematika?”
Hanun membuat isyarat dengan jarinya yang membentuk huruf O. Setelah itu, mereka mulai membuka buku paket matematika dan menyamakan materi pembelajaran mereka di kelas.
“Sama, kan?” tanya Hafidz.
“Iya, sama banget.”
Karena materi pembalajaran mereka sama, Hafidz dan Hanun memutuskan untuk mengerjakan latihan soal yang mereka anggap cukup rumit. Melihat anaknya dan temannya itu begitu serius mengerjakan soal, sang ibu tersenyum kecil.
“Lagi belajar apa?” tanya ibu Hanun yang langsung duduk di sofa di samping Hanun.
“Tadi belajar matematika, Tante. Sekarang mau belajar Bahasa Indonesia.”
“Susah pelajarannya?”
“Lumayan, tapi tadi kita saling mengajari satu sama lain, ko.”
“Hafidz pinter loh, Mah. Ternyata, Hafidz lebih cepat mengerti rumusannya dari pada Ale,” ujar Hanun yang memuji Hafidz.
“Benarkah? Wah, hebat dong kamu, Fidz?”
“Ah, nggak ko, Tan. Masih pintar Hanun dari pada saya.”
“Perlu bantuan mamah nggak?”
“Banget!!” seru Hanun yang membuat Hafidz bingung. “Tenang, mamah ini dosen Bahasa Indonesia di kampus. Mamah bisa mengajari kita soal materi yang tidak kita mengerti, Fidz.”
“Wah, hebat, dong. Boleh-boleh!”
Hari sudah semakin larut. Cukup lama belajar bersama dengan Hanun dan juga mamahnya, Hafidz begitu mengagumi sosok ibu yang sudah melahirkan perempuan yang disukainya itu.
Selain baik hati, pintar dan ramah, ibu Hanun sudah menjadi panutannya. Bahkan, ibu Hanun merupakan sosok yang menyenangkan di mata Hafidz.
Karena cukup lelah dengan pembelajaran hari ini, ibu Hanun mengajak anaknya dan juga Hafidz untuk makan bersama dengan Aqila, anak bungsunya yang baru saja pulang les.
“Om, belum pulang, Tan?” tanya Hafidz ketika sedang menyantap hidangan makanan buatan mamahnya Hanun di meja makan.
“Pulangnya suka malam. Maklumlah, sibuk dengan urusan di kampus.”
“A Hafidz ini kabobohna teh Ale, nyak?” seru Aqila tiba-tiba yang membuat Hanun tersedak hingga membuat Hafidz hanya bisa tertawa lebar begitu mendengar celotehan adiknya Hanun.
“Aqila, pikasebeleun ih kamu mah pertanyaannya!” seru Hanun terlihat malu karena itu artinya Aqila mempertanyakan apakah Hafidz ini pacarnya?
Lantas, karena kesal Hanun langsung memarahi adiknya dan berkata Aqila itu menyebalkan.
“Calon, Dek!” seru Hafidz menjawab hingga membuat ibu Hanun ikut tertawa mendengarnya.
“Teh Ale kalau tidur suka ngorok, A Hafidz. Terus kalau mandi, pasti lama banget. Perilaku teh Ale tidak secantik wajahnya,” sindir Aqila yang membuat Hanun langsung menyenggol lengan adiknya dan membuat Hafidz semakin tertawa lebar.
“Nggak apa-apa, A Hafidz tetep suka. Oh iya, sebelumnya Hafidz mau minta izin sama tante. Boleh?” katanya tiba-tiba yang membuat Hanun langsung menatap ke arah Hafidz dan teringat kata-katanya tadi siang yang mengatakan, kalau dirinya ingin berbicara dengan mamahnya.
“Izin apa, Fidz?”
“Hafidz meminta izin ingin menjadikan Hanun Almeera Romeesa anak tante yang pertama ini, sebagai kekasih Hafidz. Hafidz ingin berpacaran dengan Hanun. Hafidz menyukai anak tante,” ucapnya yang cukup membuat Aqila, Hanun bahkan ibunya sendiri terkejut mendengar pernyataannya.
Hanun sama sekali tidak percaya kalau Hafidz akan seberani ini meminta izin kepada ibunya. Hafidz memang berbeda dengan pria-pria yang pernah dekat dengannya. Hafidz adalah orang pertama yang mengucapkan hal tersebut kepada orang tuanya.
Hafidz juga orang pertama yang makan malam bersama orang tuanya. Bahkan, Hafidz juga adalah orang pertama yang diajari materi pembelajaran oleh ibunya yang merupakan seorang dosen.