This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Izin Rama



Sepulang sekolah, Hanun terlihat berdiri di depan kelas Ipa 4 yang merupakan kelasnya Rama. Begitu kelas bubar dan Rama keluar dari kelasnya, ia langsung datang menghampirinya.


“Aku mau ngomong sama kamu, Ram.”


Rama menoleh. Teman-temannya mulai memperhatikan ke arah mereka berdua. Karena merasa jadi tontonan, Rama langsung mengajak Hanun untuk pergi ke lapangan basket.


"Ada apa?” tanya Rama begitu sampai di tepi lapangan basket.


“Bilang sama temenmu itu, jangan ganggu aku lagi. Dan, jangan pernah berharap untuk bisa bersama denganku lagi.”


“Kenapa?” tanya Rama tidak mengerti.


“Aku udah nggak ada rasa untuk Rian. Ada pria lain yang aku suka dan itu bukan Rian,” tegasnya.


“Siapa?” tanyanya penasaran.


“Temanmu,” jawab Hanun yang membuat Rama bingung.


“Temen gue? Siapa? Anak basket? Atau anak kelas gue?” todongnya dengan beberapa pertanyaan.


“Teman Smp kamu, Hafidz.”


Degghh . . . Rama terkejut bukan main mendengar jawaban Hanun yang terkesan begitu jujur dan juga berani. Ia bahkan tak segan-segan menyebutkan namanya dengan tegas dan tanpa banyak berfikir panjang.


“Elo serius, Nun? Elo tahu Hafidz orangnya kaya gimana, kan? Elo tahu dia punya kasus saat kelas sepuluh, kan?”


“Aku tahu. Aku tahu semuanya, aku tahu semua tentang masa lalunya. Aku tahu kenakalannya dulu.”


“Lantas?” tanya Rama yang masih tidak mengerti.


“Anggap saja masa lalu itu sebagai pengalaman hidup kita untuk belajar menjadi lebih baik. Toh, aku tidak ada dalam masa lalunya. Aku hadir hanya di masa sekarang dalam kehidupannya,” paparnya panjang lebar.


Rama tertegun. Ia tak menyangka, akan ada sosok seperti Hanun yang secara gamblang menyukai pria seperti Hafidz. Dan, orang itu tak lain dan tak bukan adalah Hanun, mantan kekasih sahabatnya.


“Aku mau minta izin sama kamu, Ram.”


“Izin untuk apa?” tanya Rama bingung.


“Untuk mendekati sahabatmu, Hafidz.” Hanun menatap Rama dengan cukup berani dan juga terlihat tegas.


“Untuk apa? Gue bukan keluarganya, gue juga bukan temannya lagi. Lagi pula, mau gue beri izin atau tidak, lo nggak akan pernah mau denger apa kata gue. Iya, kan?”


“Hafidz itu teman baikmu, Ram. Kenapa kalian harus musuhan seperti ini? Kamu tidak rindu masa-masa persahabatan kalian?” Hanun menatap wajah Rama dengan seksama.


“Rindu?” ulangnya yang langsung tersenyum sinis, “rindu itu hanya untuk orang yang mempunyai kenangan indah besamanya. Gue tidak punya kenangan itu dan gue tak pantas merindukannya.”


Hanun menghela nafas pendek. Ingin bertanya lebih banyak, tapi ini bukan urusannya lagi. Ini bukan porsinya, jadi Hanun lebih memilih untuk diam saja dan tak banyak ikut campur dalam urusan persahabatan mereka.


“Bertengkar dengan teman itu wajar. Dengan pertengkaran itu, kamu jadi bisa tahu dia itu peduli sama kamu atau tidak.”


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Hanun bergegas pergi meninggalkan Rama sendirian. Hanun sadar, sejak dari perjalanannya dari kelas Rama sampai lapangan basket, semua mata tertuju kepada mereka berdua. Hanun sadar akan hal itu, karena Rama itu sangat special di sekolahnya.


Rama itu populer, dia kapten basket, anaknya pintar dan banyak yang menyukainya. Rama juga merupakan temannya dulu, saat ia masih berpacaran dengan Rian yang merupakan teman dekatnya Rama.


Sebenarnya, Hanun ingin sekali berteman kembali dengan Rama seperti dulu. Tapi, dia takut, takut akan kecewa lagi akan perbuatan temannya itu.


Rama itu sebenarnya baik. Dia selalu menolongnya ketika Rian selalu bersikap kasar kepadanya. Tapi, ada satu hal yang cukup membuatnya kecewa yang begitu mendalam terhadapnya. Dan, itu membuatnya masih sakit hati dan belum bisa memaafkannya sampai sekarang ini.