This Is My Girlfriend

This Is My Girlfriend
Masa Masa Pacaran



“Kita bakalan telat nih sampai sekolah. Gimana, dong?” Hanun terlihat beberapa kali melirik jam tangannya.


“Hari pertama, yah? Mana ada pak Wawan nih pasti di depan gerbang. Gimana, yah?” katanya yang jadi berfikir mencari akal. “Kamu jalan duluan aja, deh. Dari pada kamu nanti di hukum?”


“Kamu gimana?”


“Aku gak usah kamu fikirin. Aku udah biasa di hukum.”


“Nggak, ah. Aku ikut sama kamu aja.”


“Kalau di hukum gimana?”


“Kan, di hukumnya barengan sama kamu. Jadi, nggak apa-apa.”


Hafidz tersenyum. Kalau Hanun sudah berkata seperti itu, ia tidak bisa melarangnya lagi. Dan, memang benar. Sesampainya di sekolah, Hanun dan Hafidz sudah disambut oleh wajah garangnya pak Wawan. Karena sudah terlambat, Hanun dan Hafidz pun diberi hukuman berlari mengitari lapangan sekolah sebanyak 10 keliling.


Hari-hari sekolah Hanun terasa lebih indah untuk kali ini. Selain mempunyai pacar baru yang begitu ia sayangi, Hanun juga bangga dengan prestasi Hafidz yang semakin meningkat. Hafidz juga sudah diakui oleh teman-temannya. Ia sudah tidak jadi orang buangan lagi. Perlahan tapi pasti, Sarah dan Hafidz sudah bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.


Mereka sudah mempunyai banyak teman dan melupakan kasus yang pernah terjadi saat Hafidz dan Sarah kelas sepuluh. Dulu Hafidz pernah bilang, kejadian itu tidak seperti yang mereka lihat. Kejadian itu terjadi sebenarnya ada alasannya tersendiri.


“Aku sama Sarah itu nolongin Agus, teman satu geng kita dulu di Broxe,” cerita Hafidz saat berada di kelas Hanun.


“Agus? Memangnya dia kenapa?”


“Dia memang seneng banget main ke club malam gitu, minum-minum, cari cewe-cewe yang tahulah kamu cewe seperti apa kalau main ke tempat seperti itu. Kita dapat kabar, Agus mabuk berat dan dikeroyok orang entah karena masalah apa. Tadinya, subuh-subuh itu aku mau jemput Agus sendiri. Tapi, Sarah juga dapat kabar dan dia ingin ikut.


“Akhirnya, kita jemput Agus ke sana. Masalah rokok, itu semua rokoknya Agus. Kita berdua mah udah lama banget nggak ngerokok. Dan, soal mabuk-mabukkan? Itu fitnah, mungkin mereka melihat kita seperti jalan sempoyongan. Tapi, itu bukan karena kita mabuk. Kita bawa Agus dengan keadaan dia mabuk berat dan tak sadarkan diri. Jadinya, kita tergopoh-gopoh gitu bawa Agusnya.”


Hanun percaya dengan semua yang diceritakan Hafidz padanya. Hanun juga yakin, Sarah dan Hafidz sudah menjauhi diri dari yang namanya mabuk-mabukkan dan juga merokok. Melihat Hafidz yang tengah berbincang-bincang dengan teman-temannya, Hanun sangat senang.


Hafidz sempat melihat ke arahnya, mereka saling beradu pandang dan melempar senyum. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. Pria yang dikatakan orang buangan dan preman sekolah, sudah berubah menjadi orang yang lebih baik.


Kadang-kadang, Hanun juga sering berkunjung ke rumahnya Hafidz untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Setiap kali ke rumah, ibunya Hafidz selalu menceritakan perjuangan Indonesia jaman dulu, karena pada dasarnya beliau adalah seorang guru Sejarah.


Hanun juga sering menemani Salma belajar dan berbincang-bincang tentang masa kecil Hafidz seperti apa. Sekarang, Salma sudah resmi menjadi anak Sma. Ia bersekolah di salah satu sekolah negeri daerah Dago. Salma satu sekolah dengan Aqila, adiknya. Mereka juga berteman dekat dan sering pergi bermain bersama.


Hafidz juga sudah bertemu dengan ayahnya Hanun. Awalnya, Hafidz ragu dan takut menghadapi ayahnya Hanun yang katanya tegas dan galak. Tapi, ternyata orangnya sangat welcome dan baik hati. Hanun selalu teringat ketika Hafidz yang pertama kali bertemu dengan ayahnya dan mengobrol bersama.


“Kamu pacarnya anak saya?” tanya ayah Hanun.


“Iya, Om. Saya pacarnya Hanun. Saya Hafidz, satu sekolah dengan Hanun,” jawabnya sambil menatap wajah ayah Hanun gugup.


“Orang tuamu kerja di mana?” tanya ayah Hanun terlihat seperti sedang mengintrogasi.


“Ayah saya kepala polisi, sedangkan ibu saya guru Sejarah di salah satu SMU negeri. Kakak saya kuliah di Unpad sedangkan adik saya masih kelas sembilan yang sebentar lagi masuk SMA.”


“Latar pendidikanmu bagus, tapi saya dengar kamu dulu preman sekolah? Benar itu?” tanyanya kembali.


“Sudahlah, Pah. Semua orang pasti punya masa lalu yang kelam. Yang namanya anak laki-laki, dulunya pasti pernah nakal. Papah juga dulu waktu Sma ikutan geng motor, kan?” kata mamahnya Hanun yang menyelamatkan Hafidz dari pertanyaan suaminya.


“Om, anak geng motor?” tanya Hafidz tak percaya.


Papahnya Hanun tertawa dan jadi teringat masa lalunya itu. Karena istrinya telah mengingatkan ke masa mudanya, papahnya Hanun malah jadi menceritakan masa-masanya di geng motor. Dan, Hafidz begitu antusias menyimak cerita papahnya Hanun. Sejak saat itu, Hafidz dan papahnya Hanun pun menjadi dekat. Mereka juga jadi sering bermain catur bersama.


Lain halnya dengan Hanun. Awal mula pertemuannya dengan ayahnya Hafidz terbilang lancar. Karena entah bagaimana ceritanya, ternyata ayahnya Hafidz adalah teman satu sekolah ibunya Hanun. Mereka dulu cukup dekat, tapi terpisah karena ibunya Hanun yang mulai kuliah di UI. Sejak mengetahui mereka berteman, ibunya Hanun akhirnya bisa bertemu kembali dengan ayahnya Hafidz.


“Dulu itu, mamahmu tomboy. Kaya laki waktu Smanya itu,” cerita ayahnya Hafidz saat Hanun ikut makan malam bersama di rumahnya Hafidz.


“Iyakah, Yah? Mamah seperti laki-laki?” tanya Hanun tak percaya dan sudah terbiasa memanggil ayahnya Hafidz dengan sebutan ayah.


“Iya. Mamahmu itu tidak ada sifat perempuannya sama sekali. Kerjaannya berantem terus di sekolah. Tapi, mamahmu itu pintar. Makanya, nilainya selalu aman meski sering berantem. Ya samalah seperti pacarmu ini, waktu Smp Hafidz juga suka berantem,” sindirnya yang membuat semua keluarganya tertawa.


“Ko, jadi Hafidz sih, Yah?”


“Lah, memang benar, kan? Kamu itu preman sekolah waktu Smp.”


“Tapi, dia udah taubat yah pas pacaran sama Anun,” kata Haris yang membuat semuanya kembali tertawa.


“Ha . . . ha . . . ha . . . bagus itu. Kalau dia macam-macam, bilang sama ayah. Biar ayah jebloskan dia ke penjara,” canda ayahnya Hafidz yang kembali membuat semuanya tertawa lepas.