
“Kenapa, Sal? Ko, kamu nangis?” tanya Hanun bingung.
“Ayah, Teh. Ayah,” tangisnya kembali dalam pelukan Hanun.
“Ayah kenapa, Sal?” tanya Sarah yang menghampiri Salma.
“Ayah mengundurkan diri dari kepolisian, Teh. Ayah mengundurkan diri karena kelalaiannya yang sudah membiarkan A Hafidz dan teman-temannya pergi dari kejaran polisi.”
Begitu mendengar hal tersebut, Hanun terjatuh dan terduduk di lantai rumah sakit. Ia tidak menyangka, hal ini akan menimpa dirinya. Begitu banyak masalah datang silih berganti menghampirinya. Sekarang, kedua kaki Hanun tak bisa berpijak, fikirannya kosong. Masalah ini benar-benar sudah membuatnya tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Esok harinya, sepulang sekolah Hanun berkunjung ke rumahnya Hafidz. Di rumahnya, Hanun melihat ayahnya Hafidz tengah berbicara dengan istrinya dan berusaha menghibur istrinya dari segala permasalahan yang ada.
“Ayah?” kata Hanun yang menghampiri ayahnya Hafidz.
“Anun? Kamu ke sini, Nak?” tanya ayah Hafidz begitu melihat Hanun.
“Hafidz belum pulang?”
Ayah menghampiri Hanun dan menggenggam kedua tangan Hanun dengan lembut. “Hafidz akan baik-baik saja. Percaya sama ayah.”
Hanun menatap wajah ayah Hafidz lirih. “Ayah kenapa harus mengundurkan diri dari jabatan ayah? Tidak adakah cara lain selain mengundurkan diri?” tangis Hanun yang membuat ibu Hafidz ikut menangis pilu mendengarnya.
Ayah Hafidz tersenyum tipis dan merangkulnya. “Ayah harus bertanggung jawab dengan segala perbuatan ayah. Ini resiko ayah, tidak menjadi polisi juga tidak akan mengalahkan ketampanan ayah. Iya, kan?” katanya yang berusaha menghibur dan membuat Hanun tertawa kecil mendengarnya.
“Ayah, Hanun suka ayah yang menjadi polisi. Hanun suka ayah yang sering memarahi Hafidz. Tapi, Hanun lebih suka ayah yang berani bertanggung jawab dan berani mengambil resiko demi anaknya. Ayah adalah polisinya Hanun yang keren.”
Ayah Hafidz memeluk Hanun dengan begitu erat, hingga membuat istrinya datang menghampiri dan memeluk mereka bersama.
Malam harinya, Hanun kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Rama. Di sana, sudah ada Sarah yang dengan setia menemaninya.
“Kapan kamu pulang?”
“Belum. Tadi siang aku baru dari rumahnya Hafidz.”
“Gimana kabar ayah?” tanya Sarah yang tengah mengupas apel.
“Baik, walau pun aku tahu pasti ayah sangat sedih.”
“Elo tenang aja, Nun. Gue sudah mencari bukti kuat yang akan membuat Hafidz terbebas dari permasalahan ini.”
“Maksudnya?” tanya Hanun tak mengerti.
Rama berusaha untuk berdiri dengan dibantu oleh Sarah. Ia mengambil beberapa lembar foto yang ia simpan di laci dan ia berikan kepada Hanun. Begitu menerimanya, Hanun langsung melihat foto-foto itu.
“Kamu dapat ini semua dari mana?” tanya Hanun sambil memandangi foto-foto tersebut.
“Tito, mata-mata Drozr yang sempat membuat Broxe mendapatkan masalah. Satu tahun yang lalu, Tito datang menghampiri gue. Dia minta maaf sama gue, dia menyesal sudah membuat geng kami kacau-balau. Tito juga sudah capek dengan anak-anak Drozr yang sering memalaknya, menyuruhnya ini-itu dan masih banyak lagi.” Rama tersenyum lebar hingga membuat Sarah dan juga Hanun bingung melihat arti dari senyumannya itu.
“Gue di sini mendapatkan informasi penting dari Tito. Kabarnya, ayahnya si Bule yang anggota DPR itu tersangkut kasus korupsi. Dia juga punya rekaman dan foto-foto rencana anak-anak Drozr, suara si Bule yang mau nyelakain Rey, Jeri, Hafidz dan juga gue.”
“Jadi, apa Hafidz bisa terbebas dari semua tuduhan ini?” tanya Hanun tak sabaran.
Rama mengangguk. Ia mulai menceritakan rencananya dengan Tito untuk menjebak anak-anak Drozr dan juga si Bule itu kepada Sarah dan juga Hanun. Begitu mengetahui semua rencananya yang sudah dipaparkan Rama barusan, kini Hanun dan Sarah bisa bernafas lega.
Rencana mulai di jalankan. Setelah Rama keluar dari rumah sakit, ia bertemu dengan teman-temannya. Suasana haru-biru cukup melekat diantara mereka. Walau mereka terkesan anak-anak yang urakan, berandalan dan sering membuat masalah, tapi persahabatan mereka begitu kuat.
Lebih kuat dari yang dibayangkan. Kini, Hanun mengerti satu hal tentang mereka yang dikatakan orang-orang, patut dijauhi. Sebenarnya, mereka adalah anak yang baik, beberapa dari mereka mengikuti perkumpulan ini karena berbagai alasan. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang broken home. Mempunyai masalah dengan keluarga dan kurangnya kasih sayangnya dari keluarga mereka.
Ada juga yang memang tertarik dan ingin bergabung. Ada yang ingin mencari teman dan ada pula yang ingin menuntut keadilan karena sekolah mereka sering dikucilkan atau di hina. Dan, ada beberapa alasan yang sangat sulit untuk diungkapkan. Seperti yang pernah Hafidz bilang, mereka tidak akan memulai bila orang-orang itu tak mengusik kehidupan mereka duluan.