
Suatu hari, Hafidz pernah mengatakan sesuatu kepada Hanun tentang kedekatannya dengan Sarah.
“Kamu jangan cemburu sama Sarah ya, Nun?” tutur Hafidz saat berada di perpustakaan sekolah.
“Kenapa memangnya?”
“Sarah itu sahabat aku sejak kecil. Kita dari dulu ke mana-mana selalu berdua. Dia sahabat terbaikku. Dia juga sangat mendukung sekali tentang kedekatan kita. Jadi, kamu jangan beranggapan kalau aku lebih sayang Sarah dari pada kamu. Kalau suatu hari aku lebih mengutamakan Sarah dari pada kamu, kamu jangan marah, yah?
“Aku sudah hampir 11 tahun bersama dengannya. Dia selalu ada di saat aku susah atau pun senang. Tapi, kamu tenang aja. Kalau urusan hati, aku lebih mengutamakan kamu,” katanya panjang lebar berusaha menjelaskan.
Hanun tersenyum kecil dan menatap kedua bola mata Hafidz dengan penuh kasih sayang.
“Cemburu itu wajar. Kan, cemburu itu tanda sayang dari aku ke kamu.”
“Jadi, kamu sayang sama aku?” tanya Hafidz tiba-tiba.
“Menurutmu?”
“Sayang pake banget,” jawabnya cengengesan hingga membuat Hanun menyentil kening Hafidz pelan.
“Tapi, aku menghargai kejujuran kamu sama aku, Fidz. Seperti yang kamu bilang, aku kan nggak ada di masa lalu kamu. Aku nggak ada di masa kecil kamu. Tapi, aku ada di masa kini bersama kamu. Aku suka sama Sarah, dia orangnya baik. Setengah dari umur kamu, kamu menghabiskan waktumu bersama Sarah. Aku bisa apa?
“Asalkan kamu selalu jujur sama aku dan apa pun yang kamu lakukan dengan Sarah masih dalam batas yang wajar, aku nggak akan cemburu sama kedekatan kalian berdua. Kalau aku cemburu, aku pasti bilang sama kamu. Temanmu itu berarti temanku juga."
“Aku suka jawabanmu,” katanya sambil tersenyum.
Kata-kata Hafidz kepada Hanun itulah yang selalu membuat Hanun tenang. Dan, hal itulah yang membuat ia suka kepada Hafidz. Hafidz pasti tidak akan pernah membiarkannya salah paham dengan apa yang telah terjadi.
“Jadi, gimana?” tanya Hanun yang menghentikan perdebatan Hafidz dengan Sarah.
“Aku antar kamu pulang. Sarah, lo juga gue anter. Kalau pergi bareng, pulang juga bareng. Udah, gue bonceng kalian berdua.”
“Aman nggak, nih?” tanya Sarah kembali.
“Aman, kampret! Bawel lo, yah? Gue sleding juga lo ke rawa-rawa!"
“Gue yang bakalan tendang lu ke Papua, biar pake koteka,” balasnya tak mau kalah hingga membuat Hanun yang mendengarnya, langsung membayangkannya dan jadi tertawa sendiri akibat membayangkan Hafidz memakai koteka.
“Jangan dibayangin, nanti malah makin suka,” bisik Hafidz di telinga Hanun.
“Ihhh!” Hanun mendelik tajam hingga membuat Hafidz langsung tertawa terbahak-bahak.
Karena Hafidz sedikit memaksa, akhirnya Hanun dan juga Sarah menurut. Hanun duduk di antara Hafidz dan juga Sarah. Hafidz juga memberikan helm yang ia pakai kepada Sarah. Mereka pun berboncengan bertiga hingga membuat semua orang melirik ke arah mereka dengan gelak tawa.
Sarah dan Hanun sendiri hanya bisa tertawa kecil dengan aksi konyol mereka hari ini. Sarah melingkarkan kedua tangannya ke arah perut Hanun dengan erat. Sedangkan Hanun, memeluk Hafidz tanpa meminta izin seperti biasanya.
Hafidz tiba-tiba saja ngerem mendadak. Ia terkejut karena di depannya sudah ada polisi yang sedang mengatur jalanan. Karena tidak ingin di tilang dan mempermalukan ayahnya, dengan cepat ia langsung berputar arah.
“Gawat, ada polisi!” seru Hafidz.
“Polisinya gendut, pasti lagi cari mangsa buat malak. Mending cari jalan lain.”
“Kamu kenal sama polisi tadi?” tanya Hanun.
“Nggak. Tapi, dia sering banget nilang pengemudi motor di daerah sini. Kita puter arah aja.”
15 menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Hanun. Hanun segera turun dari motor dan memberikan helmnya kepada Hafidz.
“Mampir dulu nggak?”
“Aku mau ke rumah tante Rahma dulu. Mau silahturahmi, udah lama juga gak ke sana. Padahal, sering banget ke sini.”
“Ya udah, salam buat tante Rahma.”
Hafidz mengangguk. Sarah dan Hafidz pun berpamitan untuk langsung menuju rumah tante Rahma yang berada di depan rumahnya, sementara Hanun langsung masuk ke dalam rumah begitu mereka pergi.
Setelah mengganti pakaian dan masuk ke dalam kamarnya, Hanun teringat kejadian kemarin saat sholat dzuhur bersama di mesjid sekolah.
“Lu ngapain, Fidz? Komat-kamit gak jelas gitu?” tanya Sarah bingung, saat mereka tengah memakai sepatu begitu selesai sholat.
“Lagi berdoa gue, Ra.”
“Berdoa apa?” tanya Hanun penasaran.
“Nilai ujian kita semoga bagus, terus kita lancar mengerjakannya.”
“Amiin,” jawab Hanun dan Sarah bersamaan.
“Aku juga berdoa, semoga Sarah nggak dekil lagi, aku cepet pacaran sama Anun. Terus, semoga kita bisa sama-sama sampai kita tua,” kata Hafidz kembali.
“Eh, kuya!!” teriak Sarah hingga membuat orang-orang yang berada di dalam mesjid langsung berdesis meminta untuk tetap tenang.
“Eh, kacang goreng, doa lu buat Anun bagus. Masa buat gue gitu banget?” katanya kembali dengan merendahkan volume suaranya.
“Kan, elo emang dekil, orang-orangan sawah!” timpal Hafidz.
“Pea lu!”
“Ih, Azis sama Nunung jangan berisik,” tutur Hanun dengan polosnya hingga membuat Hafidz dan juga Sarah tertawa lebar.
Membayangkan semua hari-harinya yang dipenuhi oleh Hafidz, memang tidak akan pernah ada habisnya. Hafidz selalu membuat Hanun tertawa bahagia dengan semua tingkah perilakunya. Bahkan, ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Sarah yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi bersama Hafidz.
Hanun melirik ke arah meja belajarnya. Di sudut meja belajarnya, terdapat sebuah bingkai foto di mana, di sana tertera foto ia bersama dengan Sarah dan juga Hafidz dengan gaya mereka yang konyol dan juga unik.
“Selamat tidur, Sarah. Selamat tidur, Hafidz.”