
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hari ini adalah hari pertama di mana sekolah Hanun dan juga Hafidz sedang melaksanakan ujian kenaikan kelas. Wajah Hanun, Hafidz dan Sarah terlihat tegang begitu mereka bertemu di dekat gerbang sekolah dan berjalan bersama menuju kelas mereka.
“Bismillah, demi kolor ijo pakai kolor warna pink menyala, demi Naruto bertemu dengan Wiro sableng. Semoga ulangan gue lancar,” celoteh Hafidz sambil berdoa dengan khusyuk hingga membuat Sarah juga Hanun tertawa mendengarnya.
“Pea lo, kampret!” seru Sarah sambil menoyor kepala Hafidz pelan.
“Lancar yah ujiannya,” kata Hanun setelah Hafidz dan Sarah mengantarnya sampai depan kelas.
“Elo juga, Nun. Sukses buat kita bertiga.” Sarah tersenyum lebar dan memberikan dua jempolnya kepada Hanun.
“Sukses untuk dunia persilatan!” celoteh Hafidz kembali yang membuat Sarah dan Hanun tertawa terbahak-bahak kembali mendengarnya.
Sarah melambaikan tangannya. Hafidz memegang kepala Hanun lembut kemudian pergi. Mereka berdua pun bergegas pergi menuju kelas mereka dengan saling merangkul satu sama lainnya.
“Siap gak lu, kuya?” tanya Hafidz sambil merangkul Sarah.
“Siap, dong. Gue kan udah belajar sama bidadari lo,” katanya menjawab.
“Udah minum juice tulisan rumus-rumus yang gue kasih tahu semalam belum?”
“Lu kire kite di dunia kartun apa. Pake acara minum juice begituan. Sarap lu lama-lama!” teriak Sarah hingga membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menatap ke arahnya dengan sinis.
Setelah masuk kelas, Sarah dan Hafidz pergi menuju bangku mereka masing-masing. Ujian yang sudah dipersiapkan secara matang-matang, membuat Hafidz, Hanun dan Sarah menjalaninya dengan semangat 45. Dan, mereka pun menjalani hari-hari ujian mereka dengan tenang juga santai.
Setiap selesai ujian, mereka bertiga sering pergi ke perpustakaan untuk belajar bersama dan membahas materi ujian selanjutnya meski mereka berbeda jurusan. Saling mengajari satu sama lainnya, membuat Sarah merasa senang. Karena Hafidz dan juga Hanun mau dengan sabar mengajarinya banyak hal.
Selama 5 hari, mereka begitu serius mengerjakan soal-soal yang cukup rumit dan juga sulit. Sama-sama saling mendukung satu sama lainnya, 5 hari itu pun berlalu begitu cepat.
Hari ini adalah hari terakhir ujian. Selesai ujian selesai, Hafidz, Sarah, Gita dan juga Hanun berkumpul bersama di kantin sekolah untuk melepaskan kepenatan mereka.
“Gimana, bisa ngerjain soalnya?” tanya Hafidz.
“Bisa, alhamdulillah.” Hanun menjawab sambil tersenyum tipis.
“Kalian udah pacaran?” tanya Gita tiba-tiba hingga membuat Hanun dan juga Hafidz yang mendengarnya cukup terkejut.
“Menurutmu gimana?” tanya Hanun balik.
“Kalian makin hari makin intens aja ketemunya. Kamu juga sekarang sering banget jalan sama mereka berdua dari pada aku,” tutur Gita mengeluh.
Hanun tertawa hingga membuat Gita hanya bisa manyun karena kesal. “Kamu cemburu?”
Gita mengangguk. “Iya, aku cemburu dengan kedekatan kalian bertiga. Kali-kali, ajak aku juga gabung, dong. Jangan tinggalin aku sendirian,” katanya kesal.
“Iya, lain kali aku ajakin. Nggak apa-apa kan, Fidz, Rah?” tanya Hanun sambil menatap wajah Sarah dan Hafidz silih berganti.
“No problem,” jawab Sarah yang membuat Hafidz mengangguk pertanda setuju.
Hafidz!” seru Rama memanggil hingga membuat Hafidz dan juga Sarah menoleh ke belakang.
“Kita harus ngobrol sebentar,” kata Rama dengan wajah seriusnya.
“Ok, tapi nggak di sini,” jawab Hafidz yang membuat Hanun dan Sarah saling beradu pandang. Namun, Sarah langsung mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu ketika Hanun bertanya kepada Sarah dengan isyaratnya.
“Gue ikut,” kata Sarah tiba-tiba.
“Nanti, gue mau ngomong sama Hafidz dulu 4 mata,” kata Rama yang membuat Hafidz langsung menggelengkan kepalanya menatap Sarah.
Sarah mengangguk dan membuat Hafidz langsung mengikuti Rama dari belakang menuju aula sekolah.
“Ada apa?” tanya Hafidz datar.
Rama membalikkan badan dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. Sambil menghela nafas pendek, ia menatap wajah Hafidz dengan tidak bersahabat.
“Gue dapat telepon dari Ruli. Elo udah di telepon sama dia?”
Hafidz menggeleng dan melipat kedua tangannya seraya menatap Rama tajam.
“Ini soal anak-anak Broxe.”
Begitu mendengar nama Broxe, Hafidz langsung memicingkan kedua matanya dan mengangkat sebelah alisnya.
“Soal kematian Jeri. Sekarang, masalahnya jadi berbuntut panjang. Gue udah nggak mau mencampuri lagi urusan anak-anak Broxe. Gue juga mau terlepas dari masa lalu gue yang suram.”
“Soal Jeri juga?" potong Hafidz cepat, “apa lo mau lepas dari tanggung jawab juga?” todong Hafidz.
“Gue nggak ada sangkut-pautnya dengan kematian Jeri,” elaknya.
“Tapi, lo udah ninggalin kita semua. Elo lupa, ke mana lo saat pekamanan Jeri berlangsung? Ke mana lo saat Jeri di rumah sakit? Dan, ke mana lo saat gue hampir masuk penjara gara-gara kematian Jeri?”
Rama terdiam. Mata Hafidz mulai memerah menahan emosi. Tangan kanannya mulai mengepal dan dadanya mulai terlihat naik-turun berusaha untuk tetap tenang.
“Lo nggak ada, Ram. Elo malah kabur dan lepas dari tanggung jawab lo. Sahabat macam apa lo yang tega membuat Sarah menanggung kesalahan lo dan disangka jadi tangan kanannya Tito, saat penyerangan dengan musuh sekolah kita tempo lalu?
“Gara-gara lo ngenalin Sarah ke Tito, terus mereka deket dan sampai pacaran, itu membuat nama Sarah tercoreng. Sarah jadi masuk catatan hitam kepolisian dan juga sekolah. Elo tahu nggak sebrengsek apa Tito dulu?”
Rama mulai menghembuskan nafas kesal. Dadanya jadi ikut naik-turun menahan emosi. Ia menatap sangar wajah Hafidz dan menarik kerah seragam Hafidz dengan kasar.
“Gue nggak tahu soal kejadian Sarah yang ikut masuk kantor polisi juga. Kenapa lo harus bawa-bawa Sarah di saat masalah lo sama gue dengan Broxe, brengsek!” teriaknya emosi.
“Sarah itu sahabat lo, Jeri juga sahabat lo. Sahabat macam apa lo yang sok paling terdzolimi dan paling benar? Urang nyesel nganggap maneh baheula jadi babaturan urang. Nu ngaranna babaturan kuduna aya ngadampingan basa arurang di kantor polisi. Ai maneh baheula ka mana, Anjing!!” (aku nyesel menganggap kamu dulu menjadi temanku. Yang namanya teman, harusnya ada mendampingi di saat kita semua ada di kantor polisi).
Rama tiba-tiba saja meninju pipi Hafidz begitu keras hingga membuatnya tersungkur jauh. Mereka bergulat di bawah lantai dasar aula sekolah. Perkelahian pun tak dapat dihindari lagi. Semua orang yang belum pulang dan mendengar ada suara keributan di aula, langsung berdatangan ke sana.
Begitu melihat Rama dan Hafidz berkelahi, teman-teman satu sekolahnya mulai memisahkan mereka berdua. Namun, yang ada suasana malah semakin kacau dan juga tegang. Guru kesiswaan dan guru BP mulai berdatangan. Mereka langsung menarik paksa kerah seragam Rama dan juga Hafidz.
“Ikut saya ke ruang BP. Sekarang!!” teriak pak Wawan menggelegar.