
Jangan lupa tap Like dan Rate nya ya ...
.
selamat membaca ☺️
Terik matahari sangat menyengat di siang itu, membuat warga enggan untuk keluar rumah. Tapi tidak untuk kakak beradik itu, mereka berjalan di pinggir jalan sambil membawa dagangan mereka.
Kue jualan mereka masih banyak, begitu juga dengan es lilin yang ada di dalam termos.
“Kak Denny, Khalis boleh makan esnya? Khalis haus." ucap Khalis.
“Tak boleh Lis, kalau kamu haus, bukankah di dalam termos itu ada minuman dalam botol buat kita. Tadi kakak yang menaruhnya di situ biar dingin."
Khalis segera mengambil botol minuman berukuran 250 ml, dan meminumnya hampir setengah botol.
“Apa kita tak istirahat dulu kak? Khalis capek, dari tadi dagangan kita masih belum laku."
“Ya, sudah. Kita istirahat dulu ya di mesjid itu”.
“Baiklah”
Mereka berdua menuju mesjid, lalu mereka menaruh dagangannya di teras mesjid.
Mereka berbaring di teras itu, lantai dingin keramik mesjid dan angin sepoi-sepoi membuat kedua kakak beradik itu menjadi mengantuk. Sehingga membuat keduanya tertidur di teras mesjid itu.
.
.
“Wah, enak nih...” ucap seseorang menikmati kue di dalam nampan yang tertutup plastik.
“Hei, sini...! Mumpung mereka tertidur, ayo kita sikat habis kuenya, hahaha!!”
Dua orang laki-laki menghampiri temannya yang sedang menikmati kue di teras mesjid itu.
Mereka memakan dengan rakusnya , seperti orang yang belum pernah makan tiga hari.
Celana jeans mereka tampak koyak di beberapa bagian. Preman kampung, itulah panggilan mereka bertiga, mereka hanya pengangguran yang suka memalak orang yang terlihat lemah bagi mereka.
Uangnya bukan untuk beli makanan, tapi kadang buat mereka beli minuman atau rokok. Sampah masyarakat itu sebenarnya beberapa kali sudah di usir warga, namun mereka tetap kembali ke kampung itu.
Mereka tak memakai baju, bajunya mereka gantung di bahu mereka masing-masing. Tampak sekali tubuh mereka yang berwarna coklat itu mengeluarkan keringat di hari yang sangat panas itu.
Mendengar suara yang berisik itu, membuat Denny terbangun. Ia kaget ketika dagangannya di makan oleh tiga orang preman kampung itu.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” Teriak Denny tak takut sedikit pun pada ketiga preman itu.
“Gak lihat apa? Kalau kami sedang makan?”
“Dia buta kali, hahaha”
“Nih ambil, kalau kamu mau,” kata seseorang lagi sambil melemparkan satu kue di depan Denny.
Denny mengepalkan kedua tangannya, dia sangat marah sekali pada ketiga preman itu.
“ITU DAGANGAN KAMI, BANGS*T!! KALIAN HARUS BAYAR!!” bentak Denny tanpa ragu-ragu.
Khalis terbangun karena mendengar teriakan kakaknya, ia kaget ketika dia bangun dagangan mereka sudah habis separuh di makan ketiga preman kampung itu.
Khalis berdiri di belakang Denny, dia sedikit takut dengan ketiga preman itu.
“Apa nih? Bocah ini berani sekali berteriak dengan kita. Hahaha.” satu orang menghadapi Denny, wajahnya garang dan berkumis dia menatap tajam ke arah Denny yang tingginya hanya sampai di dadanya.
Denny membalas tatapan preman itu dengan mengernyitkan kedua alisnya. Jelas sekali ia tak merasa takut pada ketiga preman itu. Tatapan Denny membuat preman itu jadi emosi.
“KAU MAU MENANTANGKU, HAH?!”
“Oi Pli.... Kamu mau menghajar anak itu? Biarkan sajalah dia, mereka masih kecil," sahut temannya.
“Tapi bocah ini membuatku kesal!” bentak preman itu, sebut saja namanya Kipli.
“Sudahlah, ayo kita pergi,” sahut temannya.
“TUNGGU!! KALIAN BELUM BAYAR! KALIAN HARUS BAYAR KUE YANG KALIAN MAKAN!!” Teriak Denny.
Teriakan Denny membuat Kipli emosi, ia lalu menampar Denny dengan kerasnya.
BUAKKK!!
Srakkk!!
Denny tersungkur di tanah, Khalis langsung menghampiri kakaknya.
“Bocah kurang ajar ini berani sekali menantang kami, hah?!” geram Kipli.
Kipli mau menghampiri Denny dan ingin memukulnya lagi.
BUKK!!
“Ukhh.." Kipli menahan punggungnya. Sebuah kayu yang cukup besar menghantam punggungnya. Kipli menatap pelaku yang telah memukul punggungnya itu, matanya tertuju pada Khalis yang sedang memegang kayu besar itu.
“KAAUUUU!!!” Teriak Kipli.
DUAKK!!!
Khalis terpental di tendang teman Kipli. Khalis menahan pinggangnya yang terkena pukulan keras dari preman itu.
Denny langsung menghampiri adiknya dan membantunya berdiri.
“Bocah-bocah ini ternyata berani sekali menantang kami!” geram teman Kipli.
“Heh! Sudahku bilang kan?!"
“Sepertinya kita harus memberi mereka pelajaran!” ucap teman Kipli lagi sambil membunyikan kepalan tangannya.
Dan akhirnya terjadi perkelahian di antara mereka, perkelahian yang tak adil karena di lakukan sama tiga orang dewasa dan dua anak kecil. Keributan itu membuat beberapa warga datang ke mesjid itu dan meleraikan perkelahian mereka.
Khalis menangis sekuat-kuatnya, karena tubuhnya terdapat banyak memar dan luka lecet. Begitu pula dengan Denny, dia hanya meringis kesakitan.
“BUKANKAH KALIAN INI TAK DI PERBOLEHKAN LAGI KESINI?!” Bentak Pak Mu'is, yang kebetulan rumahnya di dekat mesjid itu.
“BAHKAN KALIAN BERANI SEKALI MEMUKULI ANAK-ANAK!” Bentak Pak Mu'is lagi.
Ketiga preman itu lalu kabur, mereka tak bisa melawan pak Mu'is dan beberapa warga lain.
“Buu... Tolong anak-anak ini obati dulu” ucap Pak Mu'is memanggil istrinya.
Istrinya tak langsung menjawab, ia langsung ke dalam untuk mengambil kotak obat.
“Sini, nak. Kita obati dulu luka kalian,” kata istri pak Mu'is.
“Kami di sini saja, bu,” ucap Denny pelan, mereka duduk di teras rumah pak Mu'is.
“Baiklah, kita obati lukamu dulu, ya.”
“Obati, luka Khalis dulu bu, dia tadi nangis kesakitan. Sepertinya dia lebih parah bu,” ucap Denny.
Istri pak Mu'is lalu mengobati luka-luka Khalis.
Pak Mu'is dan beberapa warga masih geram pada ketiga preman itu, lalu ada juga warga yang memunguti sisa kue dan es yang terhambur di halaman mesjid.
“Ini dagangan kalian?” tanya pak Mu'is.
“Iya pak,” sahut Denny singkat.
“Kenapa kalian jualan?” tanya Bu Mu'is.
“Kami di suruh Ayah tiri kami pak” jawab Khalis spontan.
“Apa?!! Kenapa dia tega sekali menyuruh anak-anak seperti mereka berjualan keliling kampung?!” geram Pak Mu'is.
“Lalu, apa ibumu membiarkan kalian jualan seperti ini?” tanya Bu Mu'is.
Kedua kakak beradik itu terdiam, pak Mu'is dan istrinya paham dengan mereka.
“Nak, kami memang tak berhak ikut campur masalah keluarga kalian sih. Tapi melihat kalian seperti ini aku jadi tak tega. Orang tua macam apa mereka sampai membuat anak-anak seperti kalian jadi begini. Kalian harusnya bel boleh bekerja, kalian istirahat dan belajar di rumah,” ucap Bu Mu'is dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.
“Kalau kami tak kerja, kami tak bisa makan bu,” ucap Denny datar tanpa ekspresi sama sekali di wajahnya.
Ucapan Denny membuat hati Pak Mu'is dan beberapa warga di sana jadi sangat kasihan dengan kedua kakak beradik itu.
Pak Mu'is dan beberapa warga yang di sana menggantikan kue jualan mereka yang telah di makan preman kampung tadi.
"Terima kasih, Pak...Bu..." lirih Denny.
"Sama-sama nak, yang sabar ya kalian." ucap Bu Mu'is sambil mengusap rambut Khalis.
Denny hanya mengangguk pelan. ia mengangkat sisa nampan yang berisi sisa kue yang sudah kotor bekas jatuh ketanah. Sementara Khalis mengangkat termos es.
"Kalian pulanglah, lalu istirahat," ucap pak Mu'is lagi.
"baik pak!"
Kedua kakak beradik itu dengan langkah yang berat, mereka berjalan menuju rumah mereka.
Semua warga yang ada di sana turut prihatin dengan kedua anak-anak itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Bersambung...