
***Jangan lupa tap Like dan Ratenya*....
🌚 Selamat membaca 🌚**
“DARI MANA SAJA KAMU, HAH?!” Bentak Badrun dengan matanya melotot pada Reina.
Whusss...
Jelas sekali Reina melihat sosok mata merah di belakang Ayah tirinya yang juga sedang tersenyum menyeringai padanya.
“Eh?! Bukankah ini masih siang? Kenapa ada hantu siang-siang begini?” Batin Reina.
“JAWAB!!!”
PLAAKK!!
Sebuah pukulan keras mendarat lagi di wajah Reina. Reina meringis kesakitan sambil menahan pipinya.
“Da... Dari rumah teman...” lirih Reina sambil sesenggukan menangis.
“MEMANGNYA KAMU TAK PUNYA RUMAH, HAH?!!”
PAKK!!
Badrun memukul Reina dengan gagang sapu dari kayu, pukulannya mengenai lengannya.
“HUAAA!!!” Teriak Reina menahan bekas pukulan Badrun.
“DIAM!! DASAR ANAK TAK TAHU DI UNTUNG!!”
“KAKAKMU SEDANG BEKERJA, KAMU ENAK-ENAKAN MAIN KE RUMAH TEMANMU!!”
“SANA!! CUCI PIRING!! LALU SIANG INI KAMU TAK ADA JATAH MAKAN!!” bentak Badrun.
Reina terpaksa langsung menurut, ia lalu berlari kecil ke dapur dan memulai untuk mencuci piring-piring yang kotor.
“untunglah aku sudah makan siang di rumah Aida,” batin Reina sambil mencuci piring.
.
.
🌚🌚🌚
Usai mencuci piring, Reina mau masuk ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti karena Badrun memanggilnya.
“Mau kemana kamu?!”
“Tuh! Cucian yang sudah kering belum di lipat! Cepat kerjakan!”
Reina tak menjawab, ia langsung mengerjakannya meski dia melakukannya dengan sangat lambat, tapi dia bisa menyelesaikannya.
“Heh!! Anak haram?! Besok kalau ketahuanku kamu main sepulang sekolah, awas saja! Aku akan memukulmu lebih dari tadi. Kamu mengerti?!” bentak Badrun mengagetkan Reina.
“Anak haram?” gumam Reina tak mengerti.
“Ya, kamu itu anak haram. Aku dengar dari ibumu, kalau Ayahmu sendiri saja tak mengakuimu sebagai anaknya. Yah, wajar saja kan? Kakak-kakakmu berkulit hitam dan sawo matang. Sedangkan kamu, lihat?! Dari kulitmu saja ketahuan sekali kalau kamu berbeda dengan kakak-kakakmu” ucap Badrun mengejek Reina agar dia menjadi sedih.
Namun, Reina kecil masih tidak mengerti kata-kata Badrun.
“Heh?!! Kamu paham gak?! Dasar Bodoh!” bentak Badrun lagi karena tak ada tanggapan dari Reina.
Reina hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu itu anak hanya pungut, tahu!! Kamu itu anak yang di dapat dari hutan! Lalu ibumu yang menemukanmu!”
Reina masih terdiam, mencerna tiap kata-kata yang keluar dari mulut Badrun.
“Malang sekali nasibmu! Kamu disini bukan siapa-siapa! Makanya kamu jangan melawan! Tinggal di rumah ini saja kamu sudah untung! Jadi jangan seenaknya kamu main-main di luar sana. Kalau kamu mau hidup, ya kerja!! Seperti kakak-kakakmu! Kalau tidak kerja, kamu mau makan apa?! Hah?!!”
“Jadi ... Aku bukan anak ibu...?” tanya Reina dengan suaranya yang bergetar. Mendengar suara Reina yang sudah seperti itu, wajah Badrun berubah dengan kepuasan. Dia berhasil membuat anak di depannya merasa tertekan dan dia merasa yakin kalau anak di depannya itu bisa di manfaatkan olehnya.
“Ya! Ibumu saja yang berpura-pura sebagai ibumu. Lagi pula kalau dia benar-benar ibumu, dia akan mempercayai anaknya kan?! Haha” tawa Badrun meledak, seolah-olah hal itu lucu bagi dia. Tapi tidak untuk Reina, wajahnya sangat terlihat jelas menunjukkan kesedihan meski air matanya tak keluar.
“Lalu... Aku anak siapa?” gumam Reina pelan, namun bisa di dengar oleh Badrun.
“Mana aku tahu, bodoh! Suatu hari nanti aku yakin, kamu pasti di tinggalkan kakak-kakakmu! Karena kamu ini hanya anak pungut!”
“Bagaimana ya nanti nasibmu saat mereka meninggalkanmu? Hahaha.... Aku tak bisa membayangkan, ketiga kakakmu akan pergi ke tempat Ayah mereka, lalu kamu? Kamu pergi saja ke hutan kemarin! Aku pikir kemarin kamu akan tinggal selamanya di sana!”
Reina terdiam, ia masih tak mengerti perkataan Badrun. Dia kesulitan mencerna, karena ia masih anak kecil yang berusia 5 tahun.
Reina tak menanggapi semua perkataan Badrun, lalu ia mau ke kamarnya.
BRAKK!!
“WUAA!!”
Tiba-tiba saja Badrun memukulnya, tepat mengenai kepalanya. Pandangan Reina mulai berkunang-kunang, namun ia masih mencoba untuk menyadarkan dirinya.
“BERANI SEKALI KAMU MENGABAIKANKU!! KAMU MULAI MELAWAN, YA!!” Bentak Badrun kesal sambil menendang Reina dengan kasarnya.
BAKK!!
BAKK!!
“UKHH....A... Ampun,” lirih Reina terkulai di lantai sambil menahan bagian perutnya agar tidak terkena tendangan kaki Badrun.
“SIAL!! BERANI MELAWAN SEKALI LAGI, KAMU BAKAL ******!” Bentak Badrun dengan mengakhiri tendangan ke tubuh Reina bagaikan menendang bola ke gawang lawan.
Setelah puas menyiksa Reina, ia meninggalkannya dan menuju kamar untuk menemani anaknya.
Reina merasakan rasa sakit di semua bagian tubuhnya. Air matanya terus menerus mengalir di kedua pipinya. Ia mencoba bangkit dan menuju ke kamarnya. Lalu ia naik ke ranjang, setelah berbaring sebentar, ia langsung tertidur.
.
.
“Rei...Reina...!”
Reina membuka matanya perlahan karena mendengar panggilan dari seseorang. Orang itu adalah kakaknya, Denny.
“Ayo bangun. Lalu mandi”
Reina tak menjawab, dengan pelan ia bangkit dari ranjang. Seketika itu, ia baru merasakan rasa sakit yang ada pada tubuhnya. Tak terasa air mata Reina kembali mengalir di kedua pipinya.
“Ada apa?!” Tanya Denny pelan mendekati adiknya yang tiba-tiba menangis.
“Sakiit” rintih Reina berbisik pada kakaknya.
Dengan segera Denny tubuh adiknya. Dia kaget di bagian punggung adiknya ada beberapa memar membiru.
Reina hanya menggelengkan kepalanya.
“Ya, sudah. Kita mandi dulu, ya. Itu hanya sedikit sakit, tak akan perih kena air” ucap Denny mencoba menenangkan adiknya, ia menuntun adiknya pergi ke dapur untuk mandi.
.
🌚🌚🌚
Malam tiba...
Setelah makan malam ketiga bersaudara itu sibuk dengan buku mereka masing-masing.
“Kak, anak pungut itu apa?” tanya Reina pada Denny, Reina tengkurap di kasur sambil memainkan pensilnya.
Belum sempat Denny menjawab, Khalis langsung menjawabnya.
“Maksudnya anak yang di dapat dari tempat lain, biasanya bekas di buang orang lalu di taruh depan rumah orang. Begitu kayak di tv-tv”.
“Kenapa di buang?” tanya Reina.
“Mungkin karena orang tuanya tidak sayang pada anak itu” jawab Khalis asal saja.
“Kenapa orang tuanya tidak sayang?” tanya Reina lagi.
“Ya, mana kakak tau... Itu kan cuma di film-film” jawab Khalis lagi sedikit kesal dengan beberapa pertanyaan dari adiknya, lalu ia melanjutkan belajarnya.
Begitulah Reina, dia selalu bertanya dengan kakak-kakaknya. Pertanyaan pertama sudah di jawab, makan akan muncul pertanyaan lain. Rasa ingin tahunya sangat besar, walau yang di tanyakan kadang tak terlalu penting, tetap saja di tanyakannya. Kadang kakaknya sering kesulitan mencari jawaban yang bagus untuk Reina.
“Kenapa kamu ingin tahu tentang anak pungut?” Denny menatap Reina.
“Kata Ayah tiri kita, katanya aku ini anak pungut, karena kulit Reina beda sama kakak” lirih Reina dengan wajah kecewanya. Karena sudah mengerti perkataan Badrun siang itu.
“Hah?! Masa sih?” Khalis heran mendengar perkataan adiknya.
Denny menghela nafasnya.
“Reina, kamu tak perlu mendengarkan omongan laki-laki itu. Kamu juga Lis, jangan asal percaya saja. Aku yakin, laki-laki itu sengaja berbohong sama kamu,” ucap Denny, sehingga membuat perasaan Reina sedikit lebih tenang.
Tapi perasaan Reina tak tenang, ia jadi memikirkan kata-kata Badrun.
“Apa benar aku anak pungut? Apa karena aku anak pungut, ibuku tak peduli denganku? Apa karena aku anak pungut, warna kulitku beda dengan kakak-kakakku?” batin Reina.
“Reina, tak perlu kau pikirkan, anak pungut atau bukan. Kau tetap adik kami” ucap Denny menenangkan Reina yang masih terlihat kebingungan.
“Iya, kak” jawab Reina pelan.
.
.
Malam semakin larut, kedua kakak Reina sudah tertidur dengan lelap. Sementara Reina masih memikirkan kata-kata Ayah tirinya. Dia berbaring menghadap tembok kamar sambil memeluk gulingnya.
Bwosshhh....
Sosok kepala hitam muncul di tembok kamar, tepat di hadapan Reina. Reina kaget, namun ia menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Hei! Kamu ngagetin tau!” umpat Reina kesal pada makhluk hitam itu.
“Reina, ada apa? Kenapa belum tidur?” Denny terbangun mendengar adiknya yang sedang bicara dengan seseorang. Denny menatap Reina bergantian lalu menatap Khalis yang sedang tertidur.
“Kamu tadi bicara sama siapa?”
“Ini... Sama si hitam ini ngagetin aku, kak” ucap Reina menunjuk ke arah tembok kamar dimana sosok Hitam itu menampakkan dirinya.
Denny melihat ke arah yang di tunjuk Reina, namun ia tak melihat apa-apa. Kemudian ia menyalakan lampu kamar, tetap saja tak ada siapa-siapa yang di lihatnya. Yang ada hanya dirinya dan kedua adiknya.
“Reina.... Kamu hanya bermimpi. Ayo kembali tidur” Denny kembali mematikan lampu.
“HAHAHAHA....!” Gelak tawa sosok Hitam itu.
“Itu... Dia tertawa kak” ucap Reina lagi.
“Reina, ini sudah sangat malam, kakak sudah ngantuk. Nanti kita bicarakan lagi ya” Denny kembali ke dalam selimutnya.
Reina terdiam, dia menatap sosok hitam itu yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Kamu jadi terlihat menyeramkan” bisik Reina, dia tak ingin mengganggu kedua kakaknya tertidur, jadi dia hanya bisa berbisik ke sosok hitam itu.
Makhluk hitam itu tak langsung menjawab, ia keluar dari balik dinding itu dan menampakkan dirinya keseluruhan.
Reina berdiri di ranjangnya dan menghadap pada sosok Hitam itu yang sedang duduk di tepi ranjang.
“Kata kamu aku terlihat menyeramkan, tapi kenapa kamu tak takut padaku?” Ucap makhluk itu dengan suaranya yang masih cukup nyaring.
“Sssstttt.... Bicaramu tolong di pelankan, nanti kedua kakakku bangun”.
“Mereka tak akan bangun. Karena mereka tak mendengar suaraku!”
“Tapi aku dengar suaramu."
“Itu karena kamu berbeda dengan saudara-saudaramu."
“Berbeda? Berbeda kenapa? Apa benar karena aku anak pungut, jadi aku berbeda dengan kakak-kakakku?”
“Kenapa banyak sekali pertanyaanmu, bocah?!”
“Karena aku ingin tahu."
“Reina! Kamu bicara sama siapa? Sama hantu?” Tiba-tiba Khalis bangun dan mengagetkan Reina.
Sebelum Reina menjawab, makhluk hitam itu memperingatkan Reina.
“Hei bocah! Ingat... Dia tak melihatku! Bilang saja kamu lagi menghafal sesuatu”
“Reina lagi menghafal sesuatu...” ucap Reina.
Khalis menatap Reina yang seakan-akan masih belum percaya, “masa anak kelas 1 SD sudah ada pelajaran menghafal?”Begitu pikir Khalis.
“Bisa gak menghafalnya nanti saja, berisik tahu. Tidurku jadi terganggu” ledek Khalis dengan nada kesal.
“Baiklah” Reina lalu berbaring menghadap ke tembok kamarnya.
Khalis kemudian mencoba tidur kembali. Namun ketika dia hendak tertidur, ia mendengar adiknya lagi sedang berbisik-bisik. Seperti berbicara dengan seseorang.
Reina berbalik melihat ke arah Khalis, Khalis langsung menutup matanya agar terlihat pura-pura tertidur. Setelah Reina mengira Khalis sudah tertidur, dia kembali berbicara dengan seseorang. Ya, seseorang itu tidak bisa di lihat oleh Khalis. Sehingga membuat Khalis merinding, dia menutupi tubuhnya dengan selimut agar tak melihat adiknya yang sedang berbicara sendiri.
Bersambung...