
**Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗
.
.
Selamat Membaca 🤗**
“Bu, ucapan beliau serius?” Maya menanyakan setelah Badrun keluar dapur.
“Tak usah kalian pedulikan, dia hanya bercanda. Mungkin dia juga khawatir sama kalian, apalagi sampai membawa Reina, pasti repot kalau dia tertidur di mesjid.” Ucap Aminah tak ingin imej suaminya buruk di depan Maya.
.
.
“Gimana kak? Jadi gak kita tarawih di mesjid?” ucap Denny setelah makan malam. Ke empat bersaudara itu sudah berkumpul di kamar mereka.
“Kalian di rumah saja, biar kakak aja yang pergi. Jadi kalian bisa bukain pintu untuk kakak.”
Deny terdiam mendengar penuturan kakaknya.
“Aku ikut tarawih bareng kakak aja deh, biar kita tidur di tanah bareng,” Denny langsung mengambil sajadahnya.
“Hah?! Serius nih?”
“Aku juga ikut!” seru Khalis sudah siap dengan memakai baju koko lengkap dengan sarungnya serta sudah menyiapkan sajadahnya.
“Kalau gitu, Rei juga ikut..” sahut Reina pelan sambil menatap kakak perempuannya.
“Yakin Reina mau ikut? Nanti bakal ketiduran,” ledek Khalis.
“Pokoknya Rei juga mau ikut, Rei gak mau di tinggal...” lirih Reina seperti mau menangis.
“Baiklah kalau gitu, kita tarawih bareng di mesjid, ya.” Maya tersenyum melihat adik-adiknya yang mau mengikuti sholat sunah yang hanya ada di bulan suci Ramadhan. Maya berpikir kalau Badrun hanya menggertak mereka saja, supaya mereka tak keluar malam. Padahal jarak rumah mereka dengan mesjid tak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar 5 sampai 7 menit jalan kaki.
Setelah azan Isya berkumandang, mereka berempat pergi ke mesjid tanpa pamit. Karena saat mau pergi, kamar Ibunya tertutup. Jadi mereka tak ingin mengganggu.
Suasana di mesjid sangat ramai, penduduk di kampung itu seperti semangat sekali menyambut kedatangan bulan suci itu. Mungkin hanya di hari pertama yang selalu ramai mengikuti sholat tarawih di mesjid, di pertengahan bulannya mungkin mereka sholat di rumah.
Maya menaruh mukena dan sajadahnya serta menaruh mukena punya Reina di sampingnya. Reina senang sekali di ajak ke mesjid, bukan karena sholat tarawihnya, tapi karena ia bertemu teman-teman di sekolahnya. Bahkan sholat tarawihnya pun banyak bolong-bolong, karena dia kadang bermain dengan temannya.
“Hayoo... Katanya tadi mau ikut sholat tarawih. Kok malah main?” Maya sedikit mengejek sambil tersenyum pada Reina dan teman-teman adiknya.
“Kami gak main kak, kami Cuma cerita hantu aja!” seru Aida.
“Ssstt.... Ai, kamu ini masih saja cerita hal-hal seperti itu. Gak ada namanya hantu, yang ada Iblis, setan dan jin. Itu pun mereka sedang di penjara di bulan Ramadhan ini,” sahut Ibunya Aida.
“Di penjara?” gumam Reina.
“Kenapa mereka di penjara? Apa mereka melakukan kejahatan?” Tanya Reina dengan polosnya.
“Lalu siapa menangkap mereka? Apa polisi hantu juga ada?” sambung Reina.
Maya terkekeh mendengar pertanyaan Reina, bahkan Ibunya Aida juga ikut senyum-senyum mendengarnya.
“Wah! Kalau ada hantu polisi pasti keren!” seru Sari dengan suara yang agak nyaring. Sehingga Ibunya langsung menegurnya.
“Ssstt.... Kamu ini, jangan teriak-teriak dong kalau di mesjid.”
“Kalian sholat saja, nanti saja mainnya!” ucap Ibunya Sari tegas, membuat Reina dan Aida terdiam dan menurut untuk kembali ke atas sajadah mereka.
.
.
Saat melakukan sholat tarawih, Reina mulai terkantuk-kantuk dan akhirnya tertidur di atas sajadahnya. Maya membiarkan adiknya tertidur di sampingnya.
🌚🌚🌚
Usai sholat tarawih, mereka pulang. Saat mau masuk rumah. Alangkah kagetnya mereka, yang ternyata pintu rumah mereka sudah terkunci.
“Gimana nih kak? Masa kita membiarkan mereka tidur di tang?” bisik Denny pada Maya sambil menatap kedua adiknya. Sementara Reina sudah sangat mengantuk, matanya hampir terpejam sambil memegang tangan Maya.
Maya menghela napas, “Ya, sudah. Kita coba saja panggil ibu lagi.”
Beberapa kali Maya mengetuk pintu dan mengucap salam, masih belum ada tanda langkah kaki untuk membukakan pintu untuk mereka. Hampir 15 menit mereka menunggu di luar, Maya sudah hampir menyerah. Namun ia menatap adik-adiknya yang tampak Reina dan Khalis mau tertidur.
Maya berpikir keras, apa mungkin mereka akan tidur di luar. Tidak, yang ada malah nanti adiknya akan masuk angin.
“Gimana kalau kita malam ini nginap sementara sama Pak Husai?” Denny mengusulkan karena melihat Maya yang sudah pasrah.
“Jangan... Kalau kita nginap sama tetangga, mereka pasti bertanya macam-macam tentang keluarga kita, kan?”
“Jadi kita akan tidur di sini? Bilang saja pada mereka kalau Ibu dan B*bi itu ketiduran.” Ucap Denny enteng.
Cklek!
Terdengar kunci pintu rumah itu terbuka sedikit.
“Hah?! Secepat itu kah Ibu kembali ke kamarnya?” batin Maya.
“Ada apa kak?” ucap Denny heran melihat kakaknya kebingungan.
“Yang bukain pintu tadi siapa ya? Masa ibu membukakan pintu langsung balik ke kamarnya? Bahkan aku tak lihat ibu lari ke kamarnya.”
“Ngapain mikir itu, yang penting kita sudah di dalam rumah.” Sahut Denny datar sambil masuk ke dalam kamar di ikuti Khalis.
“Pintu depan sudah di kunci belum?” ucap Maya.
“Tuh, Reina terakhir mau kunci pintunya.” Sahut Khalis masuk ke kamar.
“Hahh... Kalian ini, masa menyuruh adik kalian yang meng...” Kalimat Maya terhenti saat melihat Reina seperti sedang berbicara dengan seseorang.
“Makasih sudah bukain pintunya buat kami,” ucap Reina sambil tersenyum. Tapi senyumannya sama siapa? Di hadapannya tak ada siapa-siapa? Hanya ada kursi tamu dan mejanya. Maya mengucek kedua matanya, ia khawatir kalau salah lihat. Kemudian ia melihat ke arah adiknya lagi, yang ternyata Reina sudah menatap ke arah dirinya.
“Kak, Rei tidak sampai mengunci pintu yang di atas,” Reina mendongak ke atas menatap Maya.
Maya tersadar akan lamunannya, “I-iya... Nanti kakak yang akan menguncinya. Kamu cuci tangan dan kakinya ya, jangan lupa gosok giginya juga, terus tidur.”
Reina mengangguk, sebelum melakukan apa yang di suruh kakaknya, ia ke kamar terlebih dahulu untuk menaruh mukenanya.
.
Maya melihat Reina yang masuk ke kamar dengan perasaan yang masih membingungkan.
“Apa aku tadi salah lihat? Tapi terlihat sangat jelas sekali tadi dia seperti sedang berbicara dengan seseorang. Bahkan dia bilang terima kasih... Apa sebenarnya yang membuka kan pintu untuk kami adalah orang lain? Atau.. masa sih hantu?” Maya membatin dan dia merasa tak berpikir jernih lagi. Masa adiknya bisa bicara dengan hantu? Oh atau mungkin karena dia mendengar teman-teman adiknya bercerita hantu waktu di mesjid tadi sehingga dia berhalusinasi? Maya tak ingin terlalu berpikir macam-macam, lalu ia mengunci pintu depan.
Sebelum Maya menyusul ke tiga adiknya, ia ke dapur terlebih dahulu untuk gosok gigi dan buang air kecil.
Saat ia keluar dari toilet, dia terkejut karena ibunya ada di dapur.
“Oh, kalian sudah pulang? Kapan? Ibu tadi ketiduran, makanya gak tahu kalau kalian sudah pulang.”
“Ketiduran?” gumam Maya.
“Jadi yang membukakan pintu untuk kami, si B*bi itu? Masa sih?” batin Maya.
“Oh, jadi yang bukain pintu Ayahnya si Putri?” tanya maya heran.
“Hah?! Apa maksudmu, May? Ayahnya Putri lebih dulu tidur, setelah isya tidur duluan sama Putri. Ibu kira kalian manggil ibu buat bukain pintu, apa aku lupa menguncinya ya? Padahal aku yakin sekali mengunci pintunya.” gumam Aminah.
Maya terdiam, dia akhirnya benar-benar heran, siapa yang telah membukakan pintu untuk mereka.
“Ngapain ibu pakai kunci pintu segala? Gimana kalau kami tertidur di luar? Untung pintunya gak terkunci,” sahut Maya dengan sedikit kesal, namun ia juga berbohong.
“Iya, maafin ibu. Tapi kalian kan sudah ada di rumah. Jadi gak perlu di besar-besarkan, ya.” Aminah mengakhiri, lalu masuk dalam toilet.
“Ah, sudah lah, benar kata ibu. Tak perlu di pikirkan. Yang penting kami sudah ada di rumah.” Maya membatin sambil menuju kamarnya.
Lagi-lagi Maya di buat kaget lagi sama Reina. Maya tak jadi masuk kamar, ia mengintip adiknya yang sedang duduk sambil bicara sama seseorang. Tak terdengar jelas, karena Reina bicaranya sangat pelan. Mungkin Reina bicara pelan khawatir kedua kakaknya akan terbangun jika dia terlalu berisik.
“Reina! Kamu belum tidur?!” Maya sengaja muncul tiba-tiba. Sehingga membuat Reina terkejut melihat kedatangannya.
“A-anu... Itu... Rei belum terlalu ngantuk kak.” Reina jadi tergagap menjawab pertanyaan kakaknya.
Dari jawaban Reina seperti itu, Maya sudah tahu kalau adiknya sedang berbohong, apalagi wajahnya tak berani menatap ke arahnya.
“Reina, kamu jangan bohongin kakak!” ucap Maya dengan tegas.
“Jawab dengan jujur! Kamu tadi lagi bicara sama siapa?!”
Reina menunduk, dia seperti takut untuk menjawab pada kakaknya. Maya mendekati Reina dan memegang kedua bahunya sambil menatap wajah Reina.
“Reina... Jawab, kamu tadi sedang bicara sama siapa?” ucap Maya merendahkan intonasi suaranya.
“Kalau Reina jawab, apa kakak percaya sama Reina?”
“Tentu saja. Asal kamu jujur sama kakak”
Reina terlihat ragu untuk mengatakannya.
“Reina lagi bicara sama orang yang membukakan pintu untuk kita...”
“Siapa dia?!” sahut Maya dengan cepat.
Reina terdiam sesaat, ia menoleh ke arah lain. Lalu menatap kakaknya.
“Dia orang yang datang bersama kakak tadi siang. Rei kira dia jahat, ternyata dia orang baik. Katanya dia menyukai kakak!” ucap Reina dengan wajah ceria.
.
**Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote, Rate, Komment, dan Favorite**.