The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 32 Aku Kembali



***Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗


.


.


Selamat Membaca*** 🤗


******


“Hiks...hiks...”


Reina terisak melihat keluarganya yang berusaha menahan amukan setan putih itu yang memasuki tubuhnya.


“Huaa... Kakak...Ibu... Rei disini..hiks hiks...”


Saat Reina menangisi keadaan keluarganya, tanpa ia sadari, beberapa makhluk gaib menghampirinya.


“Hai adik kecil, kenapa menangis? Ayo kamu ikut kami, hihihihi.” Seorang wanita berambut panjang mengelus rambut Reina.


“Tidak... Aku tidak mau sama hantu jelek seperti kalian!” teriak Reina.


“Cih! Kamu jangan menghina kami! Mentang-mentang rohmu sempurna mirip manusia, tapi tetap saja derajatmu sama seperti kami!” Kali ini wanita lain menggenggam tangan Reina dengan kasar.


“Ayo ikut kami... Kami akan mengenalkan kamu pada yang lain. Mereka pasti menyukaimu, hihih.”


Mereka menarik paksa Reina hingga keluar rumah dan mengarah ke arah hutan di belakang rumahnya.


“Tidak! Aku gak mau! Aku mau pulang!” Reina berontak untuk melepaskan diri. Namun hantu-hantu itu memegang kedua tangan dan kakinya agar tak bisa kabur.


“Kau tidak bisa pulang! Tubuhmu sudah milik laki-laki itu!”


Jiwa Reina akhirnya di bawa mereka ke dalam hutan, tepat di tengah-tengah hutan yang pernah ia datangi. Dimana tempat itu adalah sebuah batang pohon yang sudah terpotong rapi yang pernah ia tiduri.


“Kamu ingat kan? Kamu pernah tidur di sini. Lalu lihatlah sebentar lagi.” Mereka melepaskan Reina. Reina hanya menurut, ia berdiam diri melihat apa yang akan terjadi di sana.


Beberapa saat kemudian, batang pohon yang sudah mati itu kembali tumbuh tinggi dengan cepat. Batang pohonnya menjulang tinggi hingga ujungnya hampir tak terlihat lagi. Dahan dan rantingnya melebar hingga di tengah-tengah hutan itu membentuk sebuah lingkaran, dimana pohon besar itu adalah sebuah titik pusatnya.


Reina kagum melihat keajaiban yang ada di hadapannya.


“Waahhh...hebat!” seru Reina.


“Masih belum selesai, khekhekhe..” tawa hantu di sebelah Reina.


Kini di atas pohon itu terpancar cahaya putih seperti bintang yang tak bisa di hitung. Cahaya itu melesat turun ke bawah serentak bak hujan.


Syuuut...syuuut....


Cahaya putih itu mengelilingi Reina, yang ternyata mereka adalah sekelompok makhluk halus yang menghuni tempat itu.


“Selamat datang di dunia kami!” Seru salah satu dari mereka yang paling depan. Sepertinya dia adalah ketua dari makhluk-makhluk itu.


“Khekhekhe... Nah... Kamu mau kan bergabung dengan kami? Kami akan melayanimu seperti ratu kami.” Kini mereka mau bernegosiasi pada Reina.


“Ratu?” gumam Reina heran.


“Ya! Kamu disini akan mendapatkan apa pun yang kamu mau. Mainan, makanan, pakaian, uang dan sebagainya!”


“Benarkah?!” seru Reina.


“Ya, benar... Asalkan ada satu syarat yang harus kau lakukan, khekhekhe...”


“Apa itu?”


“Kami dengar gosip dari makhluk lain, ada seorang anak manusia yang mempunyai energi yang sangat besar dan anak itu adalah kau! Bisakah kau perlihatkan pada kami energi itu? Hehe.” Ucap sang ketua sambil menyeringai dengan wajah yang menyeramkan.


“Benar! Perlihatkan pada kami!” seru yang lain.


Reina terdiam sejenak, ia jadi ingat pesan Deemon untuk menyembunyikan energi yang terpancar di tubuhnya, karena itu bisa berakibat fatal untuk dirinya.


“Ka-kalau aku tidak mau bagaimana?” ucap Reina sedikit gugup.


“Kenapa kamu tidak mau?”


“Soalnya aku tidak tahu cara mengeluarkannya, lagi pula aku sedang tidak berada di tubuhku kan? Aku hanyalah roh, jadi tidak mungkin aku bisa mengeluarkannya tanpa adanya tubuhku,” jawab Reina dengan lancarnya ia mencari alasan.


“Begitu... Baiklah, kalau begitu jika kami membawakan tubuhmu, apakah kamu mau mengeluarkan energi itu?” ucap sang Ketua.


“Tentu saja!” jawab Reina dengan cepat meyakinkan ketua hantu itu.


Akhirnya sang ketua memerintahkan lumayan banyak anak buahnya untuk membawa tubuh Reina.


“Bagaimanapun juga, kalian harus merebut paksa tubuh anak ini dari setan yang memasuki tubuhnya! Kalau dia tidak mau keluar juga, habisi dia!” Ucap sang Ketua dengan tegas.


👻👻👻


Sementara itu, di rumah Reina masih saja ribut mengenai tubuh Reina yang mengamuk di sebabkan hantu yang merasuki tubuhnya.


“Maya! Kamu harus jauh-jauh sama laki-laki itu!” teriak Reina yang kesurupan sambil menunjuk ke arah Badrun.


“Aku tak tahu apa maksudmu?! Tapi kamu harus keluar dari tubuh adikku!” bentak Maya.


“Apa kamu tak mempercayaiku?!”


“Tentu saja aku tak percaya sama setan sepertimu!” bentak Maya lagi.


Mendengar ucapan Maya, setan itu mengamuk sejadi-jadinya. Ia meraung-raung sambil menangis. Ia kembali mengambil pisau dan mengancam ke arah Maya.


“Kalau kamu tak percaya, kamu harus mati!” seru setan itu dengan mengancam dan mau mengarahkan pisau itu pada Maya.


“Hentikan! Keluar kau dari tubuh anak itu! Maya lari!” Teriak pak Husai berusaha menahannya, tentu saja jarak dia dengan Maya tak sedekat setan yang merasuki tubuh Reina. Dia yakin tak berhasil menolong Maya, tapi setidaknya ia berusaha agar pisau itu tak mengenai Maya dengan berteriak menyuruh Maya menghindar.


Tapi tubuh Maya kaku, ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Adik-adiknya pun berteriak padanya. Tetap saja ia tak bisa bergerak. Ia menangis sambil menatap Reina yang kesurupan mau menyerangnya dengan pisau. Lalu ia menutupkan matanya dan berusaha menerima serangan itu.


“Ukhhh....” rintih setan yang ada dalam tubuh Reina. Ia tak bisa bergerak, tubuhnya gemetar dan ia mulai berkeringat dingin.


“Dia kenapa lagi, pak?” lirih Maya.


“Aku juga tidak tahu... Kita lihat dan tunggu saja apa yang akan dia lakukan.”


“Kak... Kak Maya gak apa-apa kan?” Denny dan Khalis menghampiri Maya.


“Oeeekkkkk!!! Ooeekkk!!” tiba-tiba saja teriakan Putri, anak bungsu Aminah yang masih kecil langsung berteriak di kamar.


Dengan cepat Aminah ke kamar dan menggendongnya untuk menenangkannya. Tapi tetap saja Putri histeris berteriak sambil menangis.


“Ada apa? Kenapa dia tiba-tiba menangis sekencang itu?!” Bentak Badrun kesal sambil menutupi kedua kupingnya.


“Aku juga tidak tahu, sepertinya dia kaget karena sesuatu,” ucap Aminah sambil menenangkan dan mencoba mau memberikan ASI, tapi tetap saja Putri berteriak.


Di sisi lain tubuh Reina kini juga berteriak dengan mengancam ke segala arah. Membuat semua orang yang ada di sana semakin bingung.


“SIAPA KALIAN?! TUBUH INI SEKARANG MILIKKU!” dia membentak dan berbicara sendiri kepada siapa? Entah tak ada yang melihatnya.


“AKU TAK AKAN MENYERAHKANNYA PADA KALIAN!!”


“Kak... Jangan-jangan ada makhluk lain yang mau masuk ke tubuh Reina?” bisik Denny pada Maya.


“Benar juga...” Pak Husai bergumam setelah mendengar sedikit ucapan Denny.


“Ada apa pak?” Maya heran mendengar pak Husai bergumam.


“Sepertinya adikmu di sukai makhluk lain. Sebelumnya kan dia pernah hilang selama 2 hari. Kami mencarinya kemana-mana, sampai masuk ke dalam hutan. Tapi ketika ia di temukan dia ada di hutan kampung sebelah. Tubuhnya jadi pucat berwarna kuning.”


“Apa? Jadi selama 2 hari ia ada di alam lain? Begitu maksudmu, pak?” ucap Maya.


“Ya, kemungkinan itu yang terjadi.”


“AAARGHHH!!! LEPASKAN AKU!” Teriak hantu yang ada di tubuh Reina, kini tubuhnya melayang-layang. Kedua tangan dan kakinya merenggang seperti ada yang memegangnya.


“Hei, hei Pak! Dia kenapa lagi?!” ucap Aminah sedikit takut.


“Kami juga tidak tahu, bu.” Ucap Pak Husai cemas.


BRAKK!!


Tiba-tiba saja pintu belakang rumah mereka terbuka, sehingga angin kencang di malam itu masuk ke dalam rumah mereka.


“Kenapa pintu belakang tak di kunci?!” Bentak Badrun. Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Mereka fokus pada tubuh Reina yang kini sudah tak berteriak lagi. Tapi tubuhnya masih melayang.


Whuuusss....!


Tubuh Reina melesat cepat terbang keluar dari arah pintu belakang yang sudah terbuka.


“GAWAT!! SEPERTINYA MEREKA MEMBAWA TUBUH REINA!” teriak Pak Husai panik.


“Pak! Kita harus minta bantuan warga lain! Kita harus menemukan tubuhnya!” Seru Pak Husai pada Pak Anshori.


“Baik! Aku akan mengumpulkan beberapa warga yang bersedia mencari anak itu. Aku yakin dia di bawa ke hutan!” Pak Anshori langsung keluar rumah.


“Pak...tolong selamatkan adik kami pak...” lirih Maya dengan suara serak.


“Benar Pak... Tolong kami..” tambah Denny memohon.


“Jangan memohon sama Bapak... Berdoalah sama Allah, agar Reina cepat di temukan.” Pak Husai tak tega melihat ketiga bersaudara itu. Dia melirik ke arah Badrun yang tampak terlihat tak peduli sama sekali pada anak-anak di depannya. Aminah juga sibuk menenangkan anak bungsunya itu yang kini sudah mulai tenang sejak Reina keluar.


👻👻👻


Tubuh Reina kini sudah ada di tengah hutan, tepat di samping pohon besar. Tubuhnya datang bersama hantu yang merasuki tubuhnya yang kini sudah keluar. Ia sangat marah, namun tak bisa melawan karena tubuhnya di ikat sama hantu-hantu yang lain.


“Si*lan!” gumamnya dengan wajah yang sangat marah pada Reina.


“Terima kasih.” Ucap Reina pada sang Ketua.


“Kau harus menepati janjimu, kan?! Khekhekhe” tawa sang Ketua.


“Akan aku usahakan, tapi aku harus kembali ke dalam tubuhku terlebih dahulu,” ucap Reina dengan tenang.


“Baik, masuklah kamu ke dalam ragamu.”


Reina melayangkan rohnya kemudian ia memejamkan matanya, lalu masuk ke dalam tubuhnya.


Bwooshhhh...


Reina berdiri dalam keadaan masih menutup matanya, aura hitam terpancar sangat besar keluar dari tubuh Reina. Semua hantu yang ada di sana tercengang melihatnya.


“A-aura apa itu? Besar sekali?”


“Hah?! Apa anak itu spesial? Kenapa aku baru menyadarinya? Harusnya aku sadar sejak dia bisa melihatku.” gumam hantu laki-laki yang sebelumnya memasuki tubuh Reina.


“Khekhekhe... Inilah yang ku tunggu-tunggu,” gumam sang Ketua terkekeh-kekeh melihat Reina.


“Hentikan bocah! Kau mengeluarkan aura sebesar itu hanya mengundang makhluk-makhluk lain!”


Semua makhluk yang ada di sana terkejut mendengar suara seseorang.


Reina juga ikut terkejut, ia langsung membuka kedua matanya dan sangat kaget sekaligus senang melihat kedatangan makhluk itu.


“DEEMOON!!” Seru Reina sambil berlari ke arah Deemon dan memeluknya.


“Hehe... Aku kembali bocah!”


.


.


Bersambung...