
**Jangan lupa, tap Like dan Ratenya ya Readers...
Selamat membaca**...
“Kak! Aku yakin upah kita hari ini lebih banyak dari kemarin,” ucap Khalis bersemangat saat dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Ya, semoga saja," gumam Denny.
“Hmm... Kira-kira berapa ya?” Tanya Reina penasaran.
“Aku yakin. Kita dapat upah masing-masing dapat 5000.” Kata Khalis.
“Wahh... Benarkah?!” Seru Reina.
“Yups...”
“Reina, ini pertama kalinya kamu ikut berjualan. Nanti uangnya di tabung, ya...” Ucap Denny.
“Iya, pastinya kak. Aku mau beli tas baru.” Jawab Reina.
Denny tersenyum, lalu ia menatap adik laki-lakinya.
“Kalau kamu uangnya untuk apa, Lis?”
“Hmm... Mau beli tamiya.”
“Eh, kamu tak mau beli peralatan sekolah?”
“Kan bisa minta sama ibu. Kalau soal mainan pasti tak di kasih. Aku juga mau main kak.”
“Hahhh.... Ya sudah kalau kamu maunya begitu.” Denny pasrah.
.
.
Ketiga bersaudara itu telah sampai di rumah mereka, di sambut ibu dan ayah tirinya.
Aminah mengucap syukur karena melihat isi dua termos dan nampan kue itu kosong. Sementara Badrun menyeringai dan tak sabar melihat uang perolehan dari hasil jualan anak-anak itu.
“Mana? Mana uangnya?!”
“Dasar tak sabaran.” Batin Denny sambil merogoh sakunya.
Denny menyerahkan uang hasil penjualan itu yang sudah ia masukkan dalam dompet. Kali ini ia menyerahkan uang itu secara sopan, dia tak ingin membuat masalah. Bisa-bisa hukumannya malah tak di kasih upah, padahal kedua adik-adiknya sangat berharap dengan upah itu.
Badrun dengan cepat mengambil uang dalam dompet itu. Ia langsung mengeluarkan isinya dan menaruhnya di lantai. Dia menghitung uang itu sambil tersenyum penuh keserakahan.
“Woww... Banyak sekali keuntungan hari ini.” Batin Badrun sambil menyusun uang pecahan.
“Sebagian mereka tak mau di kembalikan uang kembaliannya. Jadi, apakah kami akan dapat upah yang lebih?” Tanya Denny membuat Badrun menghentikan aktivitasnya menghitung uang.
“Hmm... Nanti aku pikir-pikir dulu. Kalian istirahat saja, nanti aku antar ke kamar upah untuk kalian.” Ucap Badrun.
“Baiklah,” jawab Denny singkat, ia lalu mengajak kedua adiknya ke kamar untuk istirahat.
.
.
Sekitar jam 4 sore, Aminah meminta izin pada suaminya untuk pergi keluar untuk mengajar jadi guru les untuk murid-murid kelas 6. Tak lupa juga ia minta memberitahukan kepada anak-anaknya.
Denny dan kedua adik-adiknya bersiap-siap untuk pergi mengaji sama Pak Haji di kampung itu. Denny merapikan sarung Khalis dan juga jilbab Reina agar terlihat rapi. Setelah mereka siap, Badrun datang ke kamar mereka.
“Nih, upah jualan kalian hari ini.” Ucap Badrun sambil menaruh uang di ranjang, lalu ia langsung pergi keluar kamar.
Denny kaget melihat uang di atas ranjang itu. Ia langsung keluar kamar dengan membawa uang kertas 3 lembar seribuan.
“Tunggu!! Kenapa upah kami hanya 3000 rupiah?!!” Seru Denny dengan lantang.
“Hee?? Itu kan cukup banyak buat kalian. Toh, pas kan kalian bagi bertiga jadi masing-masing dapat 1000 rupiah.” Ucap Badrun dengan nada mengejek.
“Apa?!! Tapi penjualan hari ini lebih banyak dari kemarin! Bahkan beberapa pembeli juga tak mengambil uang kembaliannya!” Protes Denny dengan lantang.
Khalis dan Reina ikut keluar kamar melihat kakaknya yang emosi sama Badrun.
“Sialan! Bocah ini lagi! Selalu saja dia melawan denganku!” geram Badrun.
“HEH?! SUDAH UNTUNG KAN AKU KASIH KALIAN UPAH SEGITU?! TOH UANG HARI INI BUAT NUTUPIN MODAL KEMARIN YANG JUALAN KALIAN GAK HABIS!!” Bentak Badrun.
“Apa?!!” Denny kaget.
“JANGAN BILANG 'APA'!! KAU SEKARANG MULAI BERANI DENGANKU?!”
Whusss....
Sosok merah di belakang Badrun muncul. Reina jadi gemetar melihat Badrun, dia takut melihat Badrun yang marah, juga sosok merah yang menyeringai sangat mengerikan di belakang Badrun.
“Rei... Kamu kenapa?” Bisik Khalis cemas melihat adiknya gemetar serta di tangannya mulai keluar keringat dingin.
“Sialan! Kalau tau begini jadinya. Uang kembalian dari mereka harusnya aku sisihkan terlebih dahulu.” Batin Denny penuh penyesalan.
“*Reina ingin tas sekolah...”
“Aku mau tamiya*...”
Terngiang ingatan dalam benak Denny tentang keinginan adik-adiknya. Dia mengepalkan kedua tangannya sambil menatap Badrun.
“Sial! Tatapan itu lagi.” Geram Badrun jadi sangat marah namun ia berusaha menahan emosinya.
“Kalau begitu, kenapa tak kau saja yang berjualan keliling kampung?!” Ucap Denny dengan lantang.
BUAKKK!!!
Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Denny. Seketika itu juga Denny ambruk dan juga pindah dari posisi sebelumnya.
“Sakiiit...” rintih Denny dalam hati sambil menahan rasa sakit di wajahnya.
Khalis dan Reina langsung menghampiri kakaknya dan langsung membantunya berdiri.
“Hiks...hiks... Kak Denny...” isak Reina sudah menangis melihat kakaknya yang di pukul.
“Anak-anak kurang ajar!! Kalian sudah kuberi makan 3 kali sehari sudah untung! Masih saja mau minta lebih! Untung kalian tak aku usir dari rumah ini!!”
Emosi Denny yang mendengar itu jadi memuncak, lalu matanya menatap tajam ke arah Badrun.
“Tidak. Yang keluar dari rumah ini harusnya kau. Kau hanya orang baru yang masuk ke rumah ini!”
“Bocah ini...” geram Badrun, urat di wajahnya muncul. Dia sangat emosi mendengar bocah yang masih 10 tahun bisa bicara seperti itu padanya.
BAGGH!!
BUUGH!!
BAKK!!
Badrun memukuli dan menendang anak-anak itu dengan membabi buta. Khalis menyilangkan kedua tangan ke kepalnya sambil menangis. Reina berteriak sekeras-kerasnya sambil menangis. Hanya Denny yang tak menangis, ia menerima semua pukulan dan tendangan dari Badrun.
Selagi Badrun memukuli Denny yang sambil memeluk Reina, Khalis berlari ke arah dapur, lalu ia mengambil sebuah pisau dapur.
“HENTIKAN!!” teriak Khalis sambil menangis, ia mengarahkan pisau ke arah Badrun dengan kedua tangannya yang gemetar.
“Lis, hentikan...” gumam Denny yang melihat Khalis memegang pisau. Ia tak ingin adiknya jadi seorang pembunuh.
“Oh, jadi kamu mau membunuhku?”
DUAKKK!!!
Badrun menendang Denny dengan keras sehingga terpisah dari Reina. Dengan cepat Badrun menjambak rambut Reina.
“HUAAA....!!” Teriak Reina sambil menahan rambutnya.
“Ayo serang kesini pakai pisau itu, apa kamu berani?!” seringai Badrun.
“Sialan!” batin Khalis melihat adiknya di tangkap Badrun.
“Hiks...hiks... Deemoon, tolong...” lirih Reina memanggil seseorang. Namun yang di panggil Reina tak menampakkan diri.
“Kamu ngomong apa bocah?!” bentak Badrun sambil menjewer telinga Reina.
“WUAAA.... SAKIIIT” Teriak Reina membuat kedua kakaknya yang mendengar juga ikut merasakannya.
“LEPASKAN DIA! BANGS*T!!” Teriak Denny, air matanya kini sudah keluar melihat adiknya.
“Suruh dulu adikmu untuk membuang benda berbahaya itu.”
“Lis, buang pisau itu!”
Khalis terpaksa melempar pisau itu ke arah dapur.
BUAAKK!!
“INI HUKUMAN KALIAN KARENA BERANI MENENTANGKU!!” Badrun meninju bagian ulu hati tubuh Reina.
UHUUKK!!
Reina terbatuk-batuk mendapat serangan itu, dia tersungkur di lantai dengan posisi tengkurap.
DUKK!!
Badrun menginjak punggung Reina, walau tak memakai dengan kekuatannya sepenuhnya, namun itu sudah membuat Reina kesakitan di dadanya.
“LEPASKAN DIA BANGS*T, BUKANKAH KAU BERJANJI MAU MELEPASKANNYA?!” Bentak Denny.
“Sial! Dia membohongi kami.” Geram Khalis.
“Belajar dari mana kau memanggilku dengan 'bangs*t'?” Badrun menatap Denny.
Denny tak menjawab, wajahnya sangat marah. Ia tak bisa sembarangan bergerak menyerang Badrun. Ia takut kalau dia bergerak sembarangan, Badrun akan menyiksa Reina yang ada di bawah kakinya.
“Padahal Reina hanya seorang gadis kecil. Tapi sudah mendapat perlakuan seperti itu.” Batin Denny melihat adiknya, air matanya pun sudah deras mengalir di kedua pipinya.
“Aku mohon... Lepaskan dia...” lirih Denny.
“Hah?! Apa?! Aku tak dengar nih!!” ucap Badrun menyorongkan telinganya dengan pura-pura tak mendengar.
“Aku mohon! Lepaskan dia!” ucap Denny lantang dengan suaranya yang bergetar.
“Bersujudlah!!!”
“Apa?!” Denny kaget.
“Heh?! Apa kamu tuli?! Aku bilang bersujudlah, kalau kau mau meminta adikmu di lepaskan.”
Brukk!!
“Lepaskan! Hiks...hiks... Lepaskan Reina...” Khalis bersujud di lantai sambil menangis.
Reina tak tega melihat kakaknya seperti itu, ia menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit.
Crakk!!
Reina mencakar kaki Badrun, sehingga membuat Badrun kesakitan dan melepas injakan kakinya.
Kesempatan itu di ambil Reina, ia lalu menggigit kaki Badrun yang berbulu tebal. Bahkan ia juga menarik bulu kaki Badrun dengan sekuat-kuatnya hingga bulu kaki Badrun lepas.
Badrun mengerang kesakitan di kakinya. Dia sangat murka dengan Reina, apalagi melihat wajah Reina yang mulurnya berdarah bekas menggigit kakinya.
“BOCAH KURANG AJAR!!” Bentak Badrun mau menghajar Reina, namun langsung di halangi Denny.
“REINA!! LARI!!” Teriak Denny.
"Ke...kemana?!" lirih Reina kebingungan.
"KEMANA SAJA, CEPAT LARII!!" teriak Denny.
Reina langsung menuruti teriakan kakaknya, ia lari lewat belakang rumahnya. Dia tak tahu harus lari kemana, yang penting ia harus terbebas dari siksaan Badrun. Ia terus berlari sambil menangis tanpa memakai alas kaki dan ia berlari masuk ke dalam hutan.
Bersambung...