
Jangan lupa untuk tap Like dan Ratenya ya Readers*...
。◕‿◕。 Selamat membaca。◕‿◕。
Terik matahari sangat menyengat, membuat orang di kampung itu enggan keluar rumah. Tapi tidak untuk ketiga bersaudara itu, mereka berjalan di pinggir jalan raya yang jalannya cukup sepi.
“Kue...!! Kue...!!”
“Es...! Es...! Es...!”
Teriak Denny dan Khalis bersahutan menawarkan dagangan mereka. Berharap orang-orang keluar dari rumah mereka untuk memanggil dan membeli jualan mereka.
Namun, siang itu entah orang malas keluar atau sedang tidur siang. Jadi tak ada yang memanggil mereka.
Reina berjalan mengikuti langkah kaki kedua kakaknya. Wajahnya yang putih itu jadi sedikit kemerah-merahan akibat terik matahari yang sangat panas. Jalannya mulai melambat, kepalanya mulai sedikit pusing karena panas.
Melihat adiknya yang sedikit lambat jalannya, Denny berhenti dan melihat Reina yang sudah tertinggal.
“Reina, kamu tak apa?” Denny sedikit cemas dengan adiknya itu. Apalagi melihat wajah Reina dan tangan adiknya jadi sedikit kemerah-merahan.
Reina hanya tersenyum, agar kakaknya tak perlu khawatir dengannya. Tapi senyumannya tak membuat tubuhnya bertahan. Pandangannya mulai kabur dan tubuhnya mulai tak seimbang.
Melihat Reina yang mau tumbang, Denny dengan segera menangkap Reina agar tak jatuh ke tanah.
BRAAKK!!
Semua kue yang tersisa dalam nampan yang di bawa Denny tumpah ke tanah. Dia tak peduli lagi dengan dagangannya, yang ia pikirkan saat itu langsung menangkap adiknya agar tak jatuh ke tanah.
“Kamu tak apa?” Denny menahan tubuh Reina.
“Rei... Sedikit pusing kak,” lirih Reina dengan nafasnya yang berat.
“Lis, kita istirahat sebentar."
“Rei... Ayo naik ke punggung kakak.” Denny berjongkok menyuruh Reina naik ke punggungnya.
Reina menurut, ia naik ke punggung kakaknya sambil merangkul leher Denny.
“Lis, sini termos esnya biar aku yang bawa, kamu bisa kan pungut sisa kue yang jatuh itu ke wadahnya.”
“Iya” jawab Khalis singkat sambil memungut kue-kue yang jatuh ke tanah.
Denny berjalan sambil menggendong adiknya, sementara Khalis mengikutinya di belakang sambil membawa nampan dan termos es kecil.
“Kita mampir di rumah kosong itu dulu, ya. Kita istirahat di teras rumah itu” Denny berjalan ke arah rumah kosong itu, diikuti Khalis.
Denny membaringkan Reina di papan teras rumah kosong itu.
“Reina, kamu minum dulu” Denny mengambil sebotol air mineral di dalam termos es.
Reina sedikit mengangkat kepalanya di bantu sama Denny. Ia meminum hampir setengah botol air mineral itu. Lalu ia menghela nafas panjang.
“Huh! Kalau tak kuat, lebih baik kamu di rumah saja, kan?!” gerutu Khalis kesal.
Reina tak menyahut perkataan Khalis, karena dia merasa ucapan kakaknya itu benar.
“Tapi kalau dia kita tinggal di rumah, bukankah dia nanti akan di pukuli sama laki-laki itu.” Ucap Denny.
“Tapi kak. Dari pada akhirnya begini kan? Percuma jadinya. Dagangan kita tumpah! Aku yakin pas pulang nanti kita akan di marahi! Tak hanya di marahi! Pasti kena pukul juga.”
“Kakak yang akan bertanggung jawab. Nanti aku akan bilang kalau aku tak sengaja menumpahkan kue-kue itu.” Ucap Denny mencoba menenangkan Khalis.
Khalis terdiam mendengar jawaban kakaknya.
“Tidak... Aku juga akan bertanggung jawab. Kita melakukannya bersama, jadi kita harus hadapi bersama...”lirih Khalis sambil menundukkan wajahnya.
.
.
.
“Hiks...hikss...malang sekali anak-anak di depan rumah itu.” Ucap seorang wanita paruh baya, wajahnya pucat, matanya hitam dan rambutnya berantakan. Ya, dia adalah penghuni rumah kosong yang sedang di jadikan Denny dan kedua adiknya beristirahat di depan rumah kosong itu.
“Heheheh.... Kenapa kamu kasihan sama manusia? Toh manusia juga tak peduli dengan kita.” Ucap seseorang lagi, dia seorang laki-laki jangkung dengan memakai pakaian lusuh dan kulitnya pucat tampak tersenyum di balik jendela di depan rumah itu melihat Denny dan kedua adiknya.
“Tapi aku juga sedikit kasihan sih sama anak-anak itu. Orang tua mana yang menyuruh mereka berjualan di hari yang sangat panas begini?! Apalagi mereka membawa anak kecil seperti dia” ucap seseorang lagi sambil menunjuk ke arah Reina.
Para penghuni di rumah itu berdebat dan membicarakan anak-anak yang ada di depan rumah mereka.
Sayup-sayup Reina mendengar pembicaraan mereka. Ketika kedua kakaknya lengah sedang beristirahat, Reina mendekati ke arah pintu rumah itu.
Ceklek! Ceklek!
Pintu rumah itu terkunci, namun ia masih melihat beberapa penghuni rumah itu sedang membicarakannya tanpa tahu kalau Reina juga melihat mereka.
Reina lalu mengintip lewat kaca depan rumah itu.
“Hei! Anak itu melihat kesini!”
“Biarkan saja! Toh, dia juga tak bisa melihat kita.”
“Haha...benar! Dia pasti mengira rumah kosong ini ada penghuninya!”
Reina lalu tersenyum ke arah mereka. Membuat para penghuni itu kebingungan.
“Hei! Dia tersenyum! Apa dia melihat kita?!”
“Mana mungkin?!”
Reina lalu mengisyaratkan mulutnya lewat kaca rumah itu.
“A-ku...bi-sa...li-hat... Ka..li...an.”
Seorang wanita menerjemahkan arti dari mulut Reina membuat penghuni rumah itu saling pandang.
Seorang penghuni perempuan menembus pintu rumah itu dan menghadap langsung ke hadapan Reina.
“Kamu bisa melihat kami?!” tanya wanita itu dengan serius.
Reina mengangguk.
Melihat temannya bisa berkomunikasi dengan anak itu, penghuni lain pun keluar dari rumah dan langsung menemui Reina.
“Hei, nak! Kenapa kalian berjualan di siang-siang begini?!” tanya seorang wanita.
Reina menempelkan jari telunjuk ke bibirnya mengisyaratkan agar dia tak bisa bicara pada 'mereka' untuk saat ini. Karena dia sedang bersama kedua kakaknya.
Seorang penghuni laki-laki meniupkan sesuatu ke arah kedua kakak Reina. Reina terkejut karena tiba-tiba kedua kakaknya tertidur.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Reina.
“Tak apa... Mereka hanya tertidur. Jadi kamu bisa bebas berbicara sama kami.”
Reina terdiam dan dalam hatinya bersyukur kalau kedua kakaknya tidak apa-apa.
“Bagaimana ceritanya kalau kamu bisa melihat kami?” tanya salah seorang penghuni wanita pada Reina.
Reina tak langsung menjawab, ia melihat ke sekitar dulu. Kalau-kalau ada yang melihat dirinya berbicara sendiri.
“Aku juga tidak tahu.” Jawab Reina singkat.
“Siapa namamu, Nak?”
“Dimana kamu tinggal?”
“Di belakang sekolah SD.....”
“Lalu, siapa menyuruh kalian jualan siang-siang yang sangat panas begini?”
Reina terdiam, ia menundukkan wajahnya. Sehingga membuat para penghuni rumah itu saling pandang.
Reina menghela nafasnya, lalu menceritakan semua kisahnya pada para penghuni rumah itu.
“Hiks...hiks... Malang sekali nasib kalian nak” isak seorang perempuan sambil menutup kedua matanya.
“Dasar manusia Iblis!! Ayah tiri kalian sangat kejam!”
Beberapa penghuni rumah itu mengumpat dan kesal mendengar cerita dari Reina.
“Tapi aku penasaran, kenapa kamu tak takut dengan kami, Nak?”
“Benar, kami sering menampakkan wujud kami. Sehingga membuat orang-orang yang lewat di rumah ini jadi lari ketakutan, hihihihi!" Tawa gelak salah seorang penghuni perempuan.
“Hmm... bagaimana aku bisa takut, wujud kalian seperti manusia, cuma kulit kalian yang sangat putih dan kalian bisa terbang.” Ucap Reina membuat para penghuni itu terbengong.
“Jadi maksudmu kami tak terlihat menakutkan di matamu?!” Teriak salah seorang laki-laki jangkung.
“Apa karena kamu sering melihat jenis dari kami?!”
“Oh, aku ada melihat di kamar kami. Dia si hitam yang ada di kamar kami. Dia terlihat menyeramkan, giginya tajam, lalu dia juga mempunyai tanduk. Awalnya aku juga sangat takut melihatnya. Karena wajahnya yang menyeramkan itu, tapi sekarang tidak lagi.” Cerita Reina bersemangat.
“Hm? Si hitam? Bergigi tajam dan bertanduk?” gumam para penghuni rumah.
“kenapa kamu menyebutnya si hitam?”
“Karena badan dan tubuhnya hitam. Kecuali matanya yang putih.” Sahut Reina.
“Hei, makhluk apa itu, kamu tahu?” salah seorang penghuni rumah bertanya pada sesama temannya. Temannya hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
“Anu... Adik kecil, bolehkah kami minta sedikit energi darimu, hehehe...” tawa seorang laki-laki jangkung menyeringai tertawa.
“Oh, benar juga, kami melihat ada energi besar ada padamu. Kalau kamu memberikan energimu sedikit, kami akan membantumu.” Ucap yang perempuan.
“Energi? Energi apa?” Reina bingung maksud pembicaraan para penghuni rumah itu.
Whussshhh ...
Memang Reina tak mengerti maksud pembicaraan mereka, tapi pandangan mereka pada Reina ada aura yang terpancar dari tubuh Reina. Aura itulah yang di inginkan mereka pada Reina.
“Oh, sepertinya kamu tak mengerti, kalau begitu apa kami boleh menyentuhmu, hihihihi!” gelak tawa si perempuan di ikuti tawa yang lainnya.
“Benar, kami menyentuhmu bolehkan?! hahaha.”
Reina masih kebingungan maksud perkataan para penghuni rumah itu. Sementara para penghuni itu terbang mengelilingi Reina yang berdiri di tengah-tengah mereka.
Whussss....
Para penghuni rumah itu terbang cepat ke arah Reina.
BRAAKKK....BRAKKK.....
Sosok hitam keluar dari tubuh Reina dan dengan cepat memukul beberapa hantu penghuni rumah itu. Pukulannya membuat mereka mengerang kesakitan dan tiba-tiba mereka jadi menghilang seperti asap yang di tiup angin.
“DASAR MAKHLUK RENDAHAN!! BERANI SEKALI KALIAN MAU MENYENTUHNYA!!” Teriak sosok hitam itu di belakang Reina.
Reina menoleh, “oh, hitam... Kok bisa kamu datang?!” seru Reina dengan wajah polosnya.
Beberapa penghuni rumah itu tampak ketakutan melihat kedatangan sosok hitam yang ada di belakang Reina
“A... Ampun Tuan... Ampuni kami...”
Sosok hitam itu tak menjawab, dia melihat ke arah saudara-saudara Reina yang tertidur.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ANAK-ANAK INI?!”
“A...ampun Tuan. Mereka hanya tertidur...”
Sosok hitam itu menatap kembali ke arah Denny dan Khalis.
“KALAU BEGITU, BERIKAN ENERGI KALIAN PADA KEDUA ANAK ITU!!”
“Apaa??!! Energi kami saja sedikit sekali, makanya kami mau minta sama gadis itu. Kalau kami memberikan sisa energi kami pada anak-anak itu, kami tidak bisa tinggal di dunia ini lagi!!”
“LEBIH BAIK MATI DI TANGANKU ATAU MEMBERIKAN SISA ENERGI KALIAN PADA MEREKA?!” Bentak si Hitam.
“Ba... Baiklah... Kami akan memberikan sisa energi kami pada mereka..”
Para penghuni rumah itu mengelilingi kedua kakak Reina. Reina hanya bisa menatap apa yang mereka lakukan.
“Hei bocah! Aku memang memberitahumu kalau kau tidak boleh menceritakannya pada manusia. Tapi kalau bisa jangan ceritakan kemampuanmu itu pada makhluk rendahan seperti mereka. Mereka akan menghisap semua energi yang ada padamu.” Ucap Si hitam sambil menatap Reina.
Reina mencoba mencerna setiap kata-kata yang di ucapkan makhluk hitam itu.
“Baiklah...” ucap Reina, walau masih tak mengerti apa yang di katakan sosok hitam itu.
“Lalu mereka sedang apa?” tanya Reina.
“Mereka akan memberikan energi mereka pada kakak-kakakmu.”
“Energi itu maksudnya apa?!”
“yah, semacam kakakmu jadi bersemangat lagi dan tidak merasa letih.” Ucap Si Hitam lagi.
“Oh, begitu..” Reina menggenggam tangan si hitam. Lalu kepalanya mendongak ke atas menatap wajah si hitam.
"Makasih ya Hitam,” ucap Reina tersenyum.
Sosok hitam itu memalingkan wajahnya, dia tak ingin melihat senyuman dari anak kecil yang menggenggam tangannya.
“Sudah kubilang jangan panggil namaku seperti itu, jelek sekali!” geram si Hitam.
“Lalu apa? Lihat mereka ada wanita dan laki-laki... Sedangkan kamu bentuknya seperti itu... Oh iya kamu ada tanduknya, kamu pasti hantu sapi!” ucap Reina.
“JANGAN SEBUT AKU SEPERTI ITU!!” Teriak si hitam marah, membuat hantu-hantu penghuni rumah kosong yang di sedang menyalurkan energinya ke saudara Reina melayang tak karuan. Rambut Reina juga melambai-lambai seperti di tiup angin yang cukup deras.
“Huh... Baiklah, aku mengubah bentuk ku...” lirih si hitam, lalu tubuhnya membentuk seperti orang, tak ada lagi ekor di belakangnya, tak ada lagi tanduk di atas kepalanya, tak ada lagi gigi taring yang tajam di mulutnya. Tapi warna tubuhnya tetap hitam, kepalanya bulat sempurna, tak ada rambut dan wajahnya juga tak punya hidung dan mulut, yang ada hanya mata putihnya yang jadi bulat sempurna.
Reina menatap seperti kagum ke arah sosok hitam itu.
“Wuahh... Kamu jadi terlihat lucu” ucap Reina bersemangat.
“heh?! Lucu? Bukankah aku sudah mengubah bentuk ku seperti manusia?!”
Reina tak menanggapi ucapan si Hitam, ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
“Oh, iya. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Deemon!” seru Reina sambil tersenyum.
.
.
.
Bersambung...