The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 4 Sembunyi



Jangan lupa Like dan Rate nya ya Readers...


🙂


“Bocah kurang ajar! Berani sekali dia mengigit tanganku!” geram Badrun, ia menyusul Reina ke kamar dan tak mendapati Reina di kamar itu.


Badrun menatap Khalis yang dari tadi ada di kamar itu. “Mana adikmu? Dia tadi lari ke sini kan?!”


Khalis menggelengkan kepalanya.


“Bohong!” bentak Badrun.


“jelas-jelas aku lihat dia lari ke arah sini!” lanjut Badrun.


Ia lalu mencari di dalam lemari, membongkar isi lemari kalau-kalau Reina bersembunyi di balik baju, Badrun tak menemukan Reina.


Reina hanya diam sambil menutup mulutnya di bawah Ranjang. Ia melihat langkah kaki yang membuatnya ketakutan.


“Aku pasti akan di pukul kalau keluar dari sini!” batin Reina.


“oh, aku tahu...” gumam Badrun


“DIA BERSEMBUNYI DI BAWAH RANJANG, KAN?!!” teriak Badrun langsung berjongkok melihat bawah ranjang itu.


Reina jadi sangat ketakutan dan tubuhnya jadi bergetar melihat wajah Badrun yang menemukan dirinya di bawah ranjang. Dia duduk meringkuk sambil memeluk lututnya di sudut kamar dan di bawah ranjang itu.


“Ayo, sini! Keluar kamu!” bentak Badrun


Tentu saja Reina tak keluar, dia yakin kalau dia keluar dia pasti akan di pukuli Ayah tirinya itu.


Badrun kesal karena Reina tak keluar, ia lalu mengambil sapu. Kemudian ia mencoba menggapai Reina yang ada di bawah ranjang itu, namun tak bisa menggapainya, karena ranjang itu sangat lebar dan panjang berukuran 2x3 meter, yang muat untuk tidur ke tiga bersaudara itu. Bahkan muat untuk ber-empat, kalau kakak mereka pulang dari pondok pesantren.


Badrun sangat kesal karena tak berhasil membalas perbuatan Reina. Gagang sapu yang dia coba, tak sampai menyentuh Reina. Ia menyerah lalu mengancam Reina.


“Awas kau kalau berani keluar dari sana. Aku tak akan segan-segan menghukummu!” ancam Badrun dengan gusar.


Dia menghela nafasnya dengan gusarnya, lalu melirik Khalis yang dari tadi pura-pura tak tahu menahu sambil membaca buku. Karena masih kesal, ia melampiaskan amarahnya pada Khalis.


PLAK!!


“Ini juga! Tadi berani sekali berbohong denganku! Bilangnya tidak tahu, jelas-jelas dia bersembunyi di bawah ranjang!”


Khalis meringis kesakitan menahan pipinya yang terkena pukulan keras dari Badrun.


Badrun keluar kamar dari itu, ia berpapasan dengan Denny yang mau masuk kamar.


“Semuanya gara-gara kamu, nih!” bentak Badrun sambil mengancam mau memukul.


Denny hanya diam, ia lalu masuk kamar. Seandainya pintu kamar itu bisa di kunci, ia ingin sekali mengunci kamar itu. Namun apalah daya, kunci kamar itu sudah di rusak oleh Ayah tirinya.


“Reinanya mana?” Tanya Denny pada Khalis.


“masih di bawah ranjang,” jawab Khalis yang masih menahan pukulan.


Denny mengintip ke bawah ranjang dan ia melihat samar-samar adiknya masih memeluk lututnya di sudut kamar.


“Reina...keluarlah, dia sudah pergi.”


Reina tak menjawab, suara isakan tangisnya yang pelan itu merupakan jawaban untuk kakaknya.


“sudahlah, kamu harus tahan... Kamu lihat kan luka kakak? Ini lebih sakit dari luka yang ada sama kamu,” ucap Denny lagi mencoba membujuk Reina agar keluar dari bawah ranjang.


Justru karena luka itu, kakaknya mendapatkan luka itu karena melindungi Reina. Reina juga merasa sangat bersalah pada kakaknya.


“Ta...ta...tapi... Kalau keluar, Reina nanti di pukul lagi...hiks..hiks..” ucap Reina sambil sesenggukan menangis.


“Dia sudah ke kamarnya, jadi tak apa. Ayo naik ke ranjang, lalu tidur,” bujuk Denny lagi.


“Hei, di bawah gelap loh... Nanti kamu bisa-bisa di makan sama hantu loh,” ucap Khalis mengintip dari ranjang.


“hantu...? Dimakan..?” ulang Reina, ia masih belum mengenal makna dari “Hantu” itu, maklum usianya baru 5 tahun.


“Khalis, kamu jangan menakut-nakuti adikmu.”


“Biar dia cepat keluar, kak,” sanggah Khalis tak mau di salahkan.


Denny menghela nafasnya, “kamu mau tidur di sana? Apa tak apa? Di sana gelap loh...lampu juga akan di matikan."


“tak akan! Dia tak akan melakukannya. Dia sudah tidur,” bujuk Denny lagi.


Namun Reina masih bersikeras untuk tetap di bawah ranjang itu. Denny terpaksa membiarkan adiknya di bawah ranjang.


Ia melemparkan sebuah bantal dan selimut untuk adiknya.


Reina mengambil selimut dan bantal itu, lalu ia mencoba untuk tidur menghadap tembok dinding kamar.


Walau kamar itu di matikan, namun cahaya lampu dari ruang tengah masih masuk ke kamar itu, jadi tak sepenuhnya gelap. Samar-samar masih terlihat suasana kamar itu.


Reina menyentuh dinding kamar dan memainkan jari-jarinya seolah-olah menggambar sesuatu di dinding itu. Dia habiskan waktu menggambar sesuai imajinasi dalam otaknya.


Jari Reina terhenti, ia melihat sesuatu di dinding itu. Meski samar-samar, ia melihat sepasang mata bulat putih.


“apa ini?!” batin Reina.


Mata itu juga seperti menatap Reina, Reina menggosok-gosokkan matanya. Lalu ia kembali melihat sosok mata bulat putih itu.


Kini Reina melihat dengan jelas, meski samar-samar karena lampu kamar di matikan, ia bisa melihat makhluk itu. Ya, sebuah kepala hitam bertanduk bengkok dan runcing serta matanya yang putih menatap kearahnya.


Seketika Reina teringat ucapan Khalis, “...nanti kamu akan di makan hantu, loh...” air mata Reina mulai keluar, ia lalu berteriak.


“HUAAAA!!!”


Sontak, teriakan Reina membuat seisi rumah itu jadi terbangun.


“Biar aku saja!” ucap Aminah yang melihat suaminya mau keluar kamar.


Terpaksa Badrun menuruti kata istrinya, karena dia sudah sangat mengantuk.


“ada apa?!” tanya Aminah pada anak-anaknya.


“aku juga tidak tahu, bu. Tiba-tiba Reina berteriak tadi,” ucap Denny yang menenangkan Reina yang baru keluar dari ranjang.


“tuh, kan...sudah ku bilang jangan tidur di sana,” ucap Khalis mengernyitkan dahinya kesal, karena ikut terbangun mendengar teriakan adiknya.


“kenapa dia tidur di bawah ranjang?!” tanya Aminah heran.


Denny tak bisa menjawab pertanyaan Ibunya. Kalau dia ceritakan, habislah sudah. Tak hanya dirinya yang kena pukul, adik-adiknya pasti juga kena pukul.


“Sudah! Ayo kembali tidur. Besok harus bangun pagi untuk ke sekolah,” ucap Aminah lagi, ia lalu keluar kamar.


“Memangnya kamu kenapa? Kenapa sampai berteriak?” tanya Denny penasaran


“di bawah ada kepala sapi hitam, bertanduk panjang. Lalu matanya putih...” jawab Reina ketakutan sambil menjelaskan apa yang dia lihat.


Denny terdiam mendengar alasan Reina, entah ia mau mempercayainya atau tidak. Tapi sepengetahuan Denny, adiknya itu tak bisa berbohong, apalagi ketika ia melihat bola mata Reina yang tak ada menunjukkan kebohongan sama sekali.


“hah?! Kamu kangen sama sapi Pak Mu'is?” tanya Khalis sedikit meledek adiknya.


“bukan! Aku benar-benar melihatnya, sapinya bukan warna coklat seperti punya Pak Mu'is, tapi sapinya warna hitam,” sanggah Reina dengan gemetar.


“mungkin karena gelap, makanya jadi warna hitam,” ledek Khalis lagi.


“Bukan! Jelas-jelas aku...”


“Sudah-sudah... Ini sudah tengah malam, ayo kembali tidur. Lalu Reina, kalau kamu takut tidur di bawah, kamu bisa kembali ke ranjang. Sudah kubilangkan, kalau laki-laki itu sudah tidur. Buktinya tadi yang datang ibu, bukan dia," ucap Denny.


Reina terdiam, ia setuju dengan ucapan kakaknya. Lalu ia naik ke atas ranjang.


Denny mengambilkan bantal dan selimut di bawah ranjang, lalu menyerahkannya pada Reina.


Akhirnya mereka bertiga kembali tidur. Ketika ketiga bersaudara itu sudah terlelap dengan mimpi mereka, sosok hitam dari balik dinding menatap ke arah tiga anak itu. Matanya yang putih dan bersinar, di atas kepalanya mempunyai dua buah tanduk yang cukup besar dan panjang, makhluk itu menyeringai hingga gigi-gigi tajamnya terlihat sangat mengerikan.


Bersambung...


.


.


.


Jangan lupa Like, Rate, comment dan votenya ya Readers....☺️