
**Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗
.
.
Selamat Membaca 🤗**
________________________
"Rei... Kamu kenapa? Dia kakak Maya, loh.” Ucap Denny.
“Aduh, kakak jadi sedih nih. Masa Reina tak mau dekat sama kakak...” keluh Maya sambil memajukan bibirnya.
“Kamu sih, May, jarang pulang. Sampai-sampai adikmu sendiri jadi lupa sama kamu,” ucap Aminah muncul di depan mereka. Semua pandangan anak-anaknya mengarah pada dirinya. Termasuk sosok putih itu kembali menatap Maya, karena ia berjalan menghampiri ibunya, jadi sosok itu juga mengikuti Maya.
“Assalamualaikum, bu. Maafkan Maya, selama ini ya Bu...” Maya langsung mencium punggung tangan Aminah serta mencium pipi kanan dan kiri ibunya.
“Iya, tak apa-apa. Yang lalu, biarlah berlalu. Bagaimana sekolahmu?”
“Alhamdulillah lancar Bu,” ucap Maya sambil melirik ke arah Reina.
“Duh, sini Rei sama kakak. Kakak kan kangen sama kamu...” Maya mengulurkan tangannya lagi, namun Reina masih tak menyambut uluran tangan kakaknya.
“Reina, dia kakak Maya, kakak kita semua.” Ucap Denny sedikit memaksa Reina untuk menghadapi kakaknya. Akhirnya dengan bantuan Denny, Reina mau juga menyalami tangan Maya.
Reina sambil melirik ke arah belakang kakaknya itu yang ternyata masih berdiam diri memandang wajah kakaknya.
“kenapa laki-laki putih itu selalu melihat wajah kak Maya?” lirih Reina membatin. Reina memandangi wajah kakaknya, tapi tak ada yang aneh di wajahnya.
“Seandainya ada Deemon di sini, aku bisa tanya langsung sama dia,” batin Reina.
.
.
🌚🌚🌚
“Siapa yang datang, sih?!”
Suara laki-laki yang tak ingin di dengar oleh Denny, Khalis dan Reina muncul di sela-sela pertemuan di ruang tamu itu.
Ia berdiri di mulut pintu ruang tengah, sambil menguapkan mulutnya lebar-lebar. Sepertinya dia terlihat baru bangun tidur siang.
“Oh, ini... Anak perempuanku yang paling sulung. Dia kemarin tidak datang saat pernikahan kita. Kamu belum kenal kan sama dia, ini orangnya.” Ucap Aminah memperkenalkan putrinya pada suaminya.
“May, ini suami baru ibu. Ini pertama kalinya kamu bertemu dengannya kan?” sambung Aminah juga memperkenalkan suaminya pada Maya.
Maya melotot ke arah laki-laki yang berperawakan gendut, pendek bahkan pendeknya kurang lebih dari tubuhnya. Juga ada sebuah dengkulan yang ada di punggungnya dan kulitnya kuning langsat.
“HAH?!! Gak salah ini suami baru ibu? Sudah pendek, gendut pula. Dia terlihat seperti b*bi berkulit kuning langsat.”
“Apa yang membuat ibu sangat menyukai dia? Sampai-sampai dulu ibu sangat bersikeras menikah dengan laki-laki itu? Apa karena dia kaya? Gak mungkin. Kalau dia kaya, gak mungkin dia ikut tinggal di rumah sini.”
“Atau karena dia lebih muda dari ibu? Tapi masa karena dia lebih muda, kenapa harus memilih laki-laki seperti **** ini?”
Di saat Maya sibuk dengan pikirannya, Laki-laki itu juga menatapnya dari bawah sampai ke atas. Hingga ia cukup lama memandang wajah gadis belia yang ada di depannya itu.
“Manis juga anak ini,” batin Badrun matanya tak berkedip melihat Maya.
Lalu dengan angkuhnya ia mengulurkan tangan kanannya. Artinya dia memberikan sebuah kode, kalau anak tirinya itu harus menghormati dirinya sebagai Ayah tirinya.
“Ayo, May... Salim dulu sama Ayah barumu,” ucap Aminah memahami maksud suaminya itu.
“Hah??!! Serius aku harus menyalimi tangan B*bi ini?!” pikiran Maya berontak. Dia tak ingin mencium tangan laki-laki itu, tetapi hatinya tak ingin membuat ibunya kecewa karena sikapnya seolah-olah tak menghormati suami baru ibunya.
Lalu dengan terpaksa akhirnya Maya menyambut tangan Badrun, bahkan terpaksa mencium punggung tangannya.
Melihat hal itu, Badrun tersenyum puas. Bahkan dia sedikit membelai tangan anak tirinya itu. Sehingga membuat Maya risih dan melepaskan tangannya dari Badrun.
Di saat bersamaan, Reina dari tadi masih mengawasi sosok putih yang ada di belakang Maya mulai berubah. Aura putih keluar dari seluruh tubuhnya, lalu wajahnya juga jelas sekali terlihat marah. Tapi matanya tak tertuju pada Maya, melainkan ke arah Badrun.
“A-anu... Maya mau istirahat dulu ya, Bu. Capek di jalan...” ucap Maya yang sebenarnya merasa tak nyaman dengan Ayah barunya itu. Apalagi dia sadar kalau ayah tirinya memandangi dirinya, itu sangat membuatnya jadi tak nyaman.
Maya mengambil ranselnya kemudian mengajak adik-adiknya ke kamar.
Reina yang sadar di ajak ke kamar, ia lalu mengikuti kakak-kakaknya. Sesekali ia melirik ke belakang melihat sosok putih itu seperti bertarung dengan seseorang, tapi Reina tak tahu dengan siapa. Ia memilih untuk tak memedulikannya, yang penting kakaknya sudah tak bersama makhluk putih itu.
.
🌚🌚🌚
“Ya. Si B*bi itu suami Ibu yang baru. Kakak sih, kenapa tidak datang saat pernikahan ibu? Kalau datang kan, kita bisa bareng-bareng ngehancurin pernikahan Ibu sama **** itu.” Jawab Denny datar namun pelan. Mereka tak ingin pembicaraan mereka terdengar sampai keluar kamar.
“Tapi, bagaimana sikap laki-laki itu pada kalian? Lalu apa kalian juga memanggil dia Ayah?”
“Mana mungkin, kak. Kami tak pernah memanggil dia Ayah. Apalagi sampai mengakuinya! Aku juga tak mau di antara kita memanggil dia Ayah. Dia bukan Ayah kita!” geram Denny sambil mengepalkan tangannya.
"Oh, iya. kenapa kakak tadi mau bersalaman sama B*bi itu? kami saja tak pernah bersalaman sama dia." sambung Denny.
"Ya mau bagaimana lagi, dia sendiri mengulurkan tangannya sama kakak. Bahkan ibu juga menyuruhku untuk bersalaman sama dia."
"Kan bisa saja kakak bilang kalau tangan kakak lagi kotor! Atau cari alasan yang lain!" bentak Denny sangat kesal teringat kakaknya mencium tangan Badrun.
Maya terdiam melihat adiknya yang terlihat kesal.
“Ada apa? Memangnya apa yang dia lakukan pada kalian?”
Denny tak langsung menjawab, ia menghela nafasnya, lalu menatap kedua adiknya yang masih sibuk di atas ranjang.
“Nanti kakak juga akan tahu sendiri jika tinggal di sini.” Gumam Denny.
Maya jadi semakin penasaran atas jawaban adiknya. Tapi melihat Denny yang terlihat malas menceritakannya, ia memilih untuk diam.
Pandangannya beralih pada kedua adik-adiknya yang ada di ranjang.
“Hayoo... Kalian suka gak hadiah dari kakak?!” Maya menghampiri kedua adiknya, lalu ia duduk di bibir ranjang.
“Rei, suka!” seru Reina sambil mengangkat hadiah dari kakaknya yang berupa seperangkat alat tulis yang bergambar hewan yang lucu-lucu.
“Kenapa hadiahku dengan Reina hampir sama? Padahal aku kan dapat rangking 1, sedangkan Reina hanya dapat rangking 3!” Khalis menggerutu sambil menyusun buku-bukunya.
Maya menghela nafas dan tetap tersenyum mendengar adiknya yang kesal. Sebenarnya hadiah itu memang untuk adik-adiknya bukan di lihat dari rangking mereka. Maya sengaja sebelumnya mengatakan kalau mereka dapat juara, akan dapat hadiah darinya.
“Ini nih, contoh manusia tak bersyukur... Masih untung loh kak Maya kasih hadiah, Ibu saja gak pernah kasih kita hadiah kan?” ucap Denny datar.
Khalis berdengus kesal mendengar ucapan kakaknya menohok perasaannya.
“Ini buat kak halis...” ucap Reina menyerahkan beberapa buku baru.
“Hah?! Bukannya itu hadiah untukmu? Apa kamu sengaja mau mengejekku?!” ucap Khalis dengan nada kesal.
Reina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan kedua tangannya masih memegang beberapa buku.
“Rei kan masih gak perlu banyak buku, jadi sisanya buat kakak.”
Wajah Khalis terasa panas mendengar ucapan adiknya yang polos itu. Padahal dia sebelumnya sangat iri padanya. Tapi adiknya malah memberikan sebagian hadiah itu kepadanya.
“Huh. Baiklah aku akan menerimanya,” ucap Khalis mengambil buku di tangan Reina namun pandangannya ke arah lain, ia tak berani menatap Reina karena wajahnya sedikit memerah.
Maya dan Denny tersenyum melihat kedua adik mereka
“Kalian tidak tidur siang? Malam ini kita tarawih bareng yuk di mesjid.” Ucap Maya.
“Tarawih?” gumam Reina.
“Besok kan sudah memasuk bulan Ramadhan, jadi malam ini sudah mulai sholat tarawihnya,” sahut Denny.
“Reina ikut!” seru Reina.
“Yakin mau ikut? Nanti malah ketiduran di mesjid,” ledek Khalis.
“Iya! Pokoknya Reina mau ikut!”
“Awas loh, kalau ketiduran nanti akan aku siram wajahmu!” ancam Khalis, tentu saja ancaman itu hanya gertakan saja untuk Reina.
.
.
Malam tiba, keluarga Reina melakukan makan malam bersama. Suasana makan malam berubah karena kehadiran Maya.
“Bu, malam ini kami mau sholat tarawih di mesjid dan Reina katanya mau ikut, bolehkan?” Ucap Maya.
Aminah belum menjawab, Badrun sudah mendahului menjawabnya, “Bukannya sholat tarawih bisa saja di lakukan di rumah? Ngapain kalian ke mesjid segala? Tapi terserah kalian! Kalau mau sholat di luar rumah silahkan! Asal jangan lewat jam 8 malam, maka pintu rumah ini sudah aku kunci. Jadi kalian tidur saja di luar!” ucap Badrun dengan ketus ia lalu mencuci tangannya dan langsung berdahulu pergi meninggalkan mereka yang belum selesai makan.
**Bersambung...
Jangan lupa Like, Rate, Vote, komment... 🙂**