The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 2 Kena Pukul Lagi?



Setahun kemudian...


“BUAKK!!”


“BUGH!!”


“DAKK!!”


“DASAR ANAK TAK TAHU DIRI!! BERANI SEKALI KAMU MENGADU SAMA IBUMU, HAH?!!” teriak seorang laki-laki sambil memukuli dan menendang seorang gadis kecil. Wajahnya pucat, matanya sayu dan kantung matanya sudah bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.


Air matanya pun juga sudah kering karena sudah terlalu banyak keluar. Dia sudah pasrah di pukul dan di tendang sama laki-laki itu yang merupakan adalah ayah tirinya.


“A..ammpuun...maaf...ampuni aku,” lirih gadis itu dengan suara yang sangat lemah, dia sudah lelah berteriak dan menangis.


Dia sampai bersujud di hadapan laki-laki itu untuk memohon pengampunan.


Ayah tirinya hanya diam sambil menatap gadis kecil itu dengan tatapan penuh emosi.


Dia kemudian melepas ikat pinggangnya, “hei, lihat aku, bodoh!” bentak ayah tirinya.


Dengan pelan gadis itu mengangkat wajahnya.


“Bagus! Tetap seperti itu...” seringai ayah tirinya.


“PTASS!! PTASS!!”


“AAAAKHH” teriak gadis itu menahan sakit di punggungnya kena cambukkan dari ayahnya.


“DIAAMM!! BANGS*T!! DASAR ANAK GAK GUNA!! MAU AKU TAMBAH LAGI HAH?!!” teriak ayah tirinya.


Gadis itu dengan segera menutup mulut dengan kedua tangannya agar tak berteriak. Tubuhnya bergetar antara takut dan menahan rasa sakit yang ada di tubuhnya.


“Jika kamu berani mengadu sama ibumu, aku akan lebih dari ini memukulimu, ingat itu!” ancam Ayah tirinya sambil menjambak rambut gadis itu.


“BUAAKK!!”


Ayah tirinya kembali meninju perut gadis itu dengan sangat keras, sehingga membuat gadis itu muntah bercampur sedikit darah.


“Ukhh,” rintih gadis itu menahan perutnya, dia terkulai lemas di lantai.


“heh!! Bangs*t!! Bersihkan itu! Dasar jorok!” perintah ayah tirinya, lalu ia meninggalkan gadis itu pergi ke kamar.


Dengan tubuh yang lemah, gadis itu menuruti perintah Ayah tirinya, dia membersihkan muntahan itu dengan bajunya. Kemudian dia mandi membersihkan dirinya.


Sesekali ia meringis kesakitan menahan sakit di sekujur tubuhnya yang terkena air dingin. Setelah mandi dengan segera ia memakai baju berlengan panjang dan celana panjang.


Dia sengaja memakai baju yang serba panjang di karena kan takut kalau ibunya bertanya lagi tentang bekas luka atau memar di tubuhnya. Kalau ibunya mengetahui luka itu dari ayah tirinya, maka dia akan kena hukuman yang lebih berat lagi dari ayah tirinya.


Gadis itu menatap cermin, wajahnya lesu dan pucat. Tak ada terlihat keceriaan di wajahnya, kantung matanya bengkak karena sudah terlalu lama menangis dan banyak mengeluarkan air mata.


“Woi Reina!! Kalau sudah selesai jaga adikmu!! Aku mau tidur siang! Jangan lupa sambil jagain adikmu tidur, lipat baju cucian yang sudah kering!” bentak ayah tirinya.


Badrun, itulah sapaan ayah tirinya yang sangat kejam terhadap anak-anak tirinya bila istrinya tak ada di rumah, ataupun saat istrinya lengah.


Reina hanya menuruti kata-kata laki-laki itu, dengan cepat ia mendatangi ke tempat ayunan dimana adiknya sedang tertidur di dalam ayunan tersebut. Adiknya baru berusia setahun lebih, adiknya itu adalah anak dari ayah tirinya sama ibunya yang menikah 2 tahun yang lalu.


Sebelum ibunya menikah dengan laki-laki itu, Reina tak pernah mendapatkan perlakuan kasar. Dia anak yang ceria dan aktif yang senang bermain dengan teman seusianya.


Keceriaannya tak berlangsung lama, setelah ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki yang usianya 8 tahun lebih muda dari ibunya.


Entah apa yang membuat ibunya sangat mencintai laki-laki itu, sehingga dia mau menikah dengannya. Bukannya membuat anak-anaknya bahagia, malah membuat mereka menderita.


Padahal Badrun adalah seorang laki-laki pengangguran biasa. Dengan tinggi lebih rendah dari ibunya yang hanya kurang lebih sekitar 130 cm, dengan tanda sebuah dengkulan di punggungnya sebesar kepala bayi.


Begitulah yang di pikirkan Reina, meski umurnya masih 5 tahun lebih, dia sebenarnya anak yang cukup cerdas. Di usianya dia sudah masuk sekolah kelas 1 SD. Namun karena masih kelas 1, dia pulangnya lebih awal dari pada kelas 2 sampai kelas 6, yaitu sekitar sebelum jam 11 siang.


Pada saat pulang sekolah itulah dia di sambut ayah tirinya dengan beberapa pukulan. Bahkan ayah tirinya sebelum memukulinya, dia mengunci pintu terlebih dahulu, agar Reina tak bisa kabur darinya.


“Kyuu~uk,,” suara perut Reina mulai berbunyi, dia menahan perutnya antara sakit dan juga rasa lapar tercampur menjadi satu. Dia tak berani makan terlebih dahulu, sebelum ayah tirinya mengijinkan. Kecuali kalau ada ibunya, dia bisa langsung minta makan.


Reina kembali menarik ayunan adiknya, ia menatap adiknya yang tertidur pulas.


“enaknya dia bisa tidur tenang..” pikir Reina, sesekali perutnya kembali berbunyi. Matanya mulai kabur menahan rasa sakit di tubuhnya dan juga rasa lapar. Dengan pelan ia berbaring di dekat ayunan adiknya dengan berbantal lipatan baju. Tak butuh waktu lama akhirnya dia tertidur.


🌚🌚🌚


“DUAKK!!”


“Ukhh!!” rintih Reina menahan pinggangnya kena tendangan dari Ayah tirinya. Dia langsung di bangunkan ayah tirinya dengan sebuah tendangan karena tertidur.


“sudah kubilang jaga adikmu! Tapi kamu malah tidur! Lipatan baju pun tak kamu selesaikan! Apa karena mentang-mentang aku tidur, lalu kamu juga mau tidur, hah?!” geram Ayah tirinya menatap tajam ke arah Reina. Reina tak berani menjawab ia hanya gemetar sambil menunduk, tak berani menatap wajah ayah tirinya itu.


“DUAK!!”


Ayah tirinya kembali menendang mengenai wajah Reina. Reina kembali menangis sesenggukan.


“jawab aku! Bangs*t!!”


“A-aku ketiduran karena lapar...makanya..”


“PLAK!!”


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Reina.


“Dasar bodoh! Baru juga siang kenapa sudah lapar?! Kamu tak boleh makan sebelum selesaikan pekerjaanmu, mengerti?!!” bentak Badrun.


Reina hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya dengan lemah. Dia kembali melipat baju cucian yang cukup banyak.


“Heh...untung anakku tak bangun. Kalau bangun, pasti sangat repot. Memangnya kamu bisa mengurus bayi, hah?!” tanya Badrun pada Reina, dia duduk di samping ayunan anaknya sambil mengipasi dirinya. Perutnya yang buncit jadi terlipat di saat dia sedang duduk. Reina hanya menggelengkan kepalanya sambil melipat baju yang kering.


🌚🌚🌚


“Assalamualaikum..” ucap ibu Reina datang ke rumah bersama dua anak laki-laki yang merupakan kakak-kakak Reina.


“Waalaikumsalam," jawab Badrun menyambut istrinya.


“Putri mana?” tanya Ibu.


“Lagi tidur di ayunan," Jawab Badrun dengan ketus.


Aminah mendatangi putrinya yang tidur di ayunan, sementara Reina bergegas ke kamarnya untuk menghindari ibunya. Dia takut kalau ketahuan ibunya dia habis menangis karena di pukul Ayah tirinya.


Reina melihat di bagian tubuhnya, di bagian lengan dan perut. Disana terdapat beberapa bekas pukulan dari Ayah tirinya.


Perih yang di rasakannya karena ada bekas cambukkan dari Ayah tirinya, dia tak kuat menahan rasa perih itu sehingga ia menangis sesenggukan tanpa suara.


“Ada apa? Kena pukul lagi?” tanya Khalis, kakak ke tiga Reina yang baru masuk ke kamar. Ya, kamar itu adalah kamar tidur mereka bertiga, karena ranjangnya cukup panjang dan lebar, jadi ranjang itu cukup untuk tidur mereka bertiga.


Reina hanya menganggukkan kepalanya.


“Tahanlah...luka seperti itu tak seberapa, luka kakak yang kemarin aja masih belum sembuh. Lihat...masih belum kering lagi," ucap Khalis memperlihatkan luka di lengan dan di bagian pahanya yang ia dapat dari Ayah tirinya.


Denny mendengar percakapan kedua adiknya, ia hanya terdiam. Luka yang ia dapat juga ada di tubuhnya, namun dia bisa apa? Umurnya masih 10 tahun, dia tak bisa berbuat apa-apa untuk kedua adiknya. Bahkan, Ibunya juga tak mau mendengar perkataan anak-anaknya.


Setiap mereka mengadu, bukannya dapat pembelaan, mereka malah dapat hukuman yang lebih parah dari Ayah tirinya.


Jadi sebisanya mereka hidup bersama Ayah tirinya agar selalu tak membuat kesalahan sedikit pun.


Hai Readers...


jangan lupa tap LIKE, COMMENT, RATE ⭐⭐⭐⭐⭐ dan VOTE seikhlasnya... 🤗