
Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗
.
.
Selamat Membaca 🤗
Sudah beberapa hari Maya liburan di rumah ibunya, Aminah. Dia semakin tak betah tinggal bersama ibunya. Semua itu hanya karena Badrun selalu memperhatikan gerak gerik dirinya. Apalagi saat di dapur, si Badrun sengaja duduk di tempat meja makan sambil memperhatikan Maya yang sedang memasak.
Maya semakin kesal, jadi jika Badrun ke dapur hanya sedang duduk-duduk, dia langsung pergi menemui adiknya di ruang tengah.
Kali ini di ruang tengah hanya ada Reina yang sedang nonton kartun di TV. Maya mengendap-endap ingin mengagetkan Reina yang matanya masih fokus ke arah TV.
“BAAM!!”
Reina menoleh dengan santainya, tak ada tanda-tanda ia kaget.
“Kakak kenapa?” ucap Reina polos.
Maya yang berharap adiknya kaget, jadi malu sendiri karena tak sesuai dengan yang ia kehendaki.
“Kamu gak kaget?”
Reina menggelengkan kepalanya.
“Enggak kak...” Reina kembali fokus ke arah layar TV tabung 14 inci yang menayangkan kartun favoritnya.
“Sayang sekali, padahal kakak berharap kamu kaget. Ternyata rencana kakak gak berhasil, ya.” Rengek Maya sambil memeluk adiknya.
Reina hanya diam di peluk kakaknya, ia masih fokus dengan TV. Baginya pelukan kakaknya adalah pelukan yang membuatnya nyaman. Padahal Ibunya saja hampir tak pernah memeluk dirinya.
“Dek, mau ikut kakak, gak?”
“Kemana?”
Reina mengalihkan pandangannya ke arah Maya.
“Ke Kota P, kakak mau mengenalkan kamu sama Ayah kalau kamu sudah besar.”
“Ayah?” gumam Reina.
“Iya, kamu belum pernah ketemu sama Ayah, kan?” ucap Maya di akhiri dengan senyumannya.
“Apa Ayah itu juga seperti laki-laki yang di dapur itu? Apa dia juga suka memukul?” Reina berbisik, ia khawatir kalau suaranya terdengar sama Badrun.
“Bukan. Dia adalah Ayah kandung kita. Dialah Ayah kita sebenarnya, dia tak pernah memukul anaknya.” lirih Maya dengan suara bergetar. Dia tau adiknya itu belum pernah bertemu dengan Ayah kandungnya sendiri, adiknya hanya mengenal sosok Ayah yang serumah dengannya yang selalu menyiksanya.
“Baiklah, Reina ikut.”
“Mau kemana?” Denny tiba-tiba datang dan langsung menghampiri dua saudaranya itu.
“Oh, kakak mau mengajak Reina ketemu sama Ayah. Kan kasihan Reina belum pernah bertemu sama Ayah,” jawab Maya.
Denny terdiam, ia menatap Reina dengan wajah datar.
“Menurutku... Lebih baik kamu tak usah mengenalnya.” Ucap Denny sambil berlalu.
“Den... Gak boleh ngomong kayak gitu. Bagaimanapun juga dia Ayah kita!” ucap Maya.
Denny tak menjawab, ia lalu masuk ke kamar.
“Haishh... Anak itu semakin dingin aja.” Gumam Maya.
“Kenapa dingin kak? Kak Denny biasanya hangat kok saat Reina memegang tangannya.”
“I-iya... Maksud kakak juga begitu, hehe...” Maya tergagap dan terpaksa berbohong.
.
👻👻👻
Tiba hari H keberangkatan Maya dan Reina untuk menemui Ayah mereka. Sebelumnya mereka sudah minta izin terlebih dahulu pada Ibunya dan Ibunya mengizinkan mereka.
“Hati-hati di jalan ya, May. Jangan lupa baca doa.” Ucap Aminah.
Maya menyalimi tangan Ibunya.
“Semoga betah kalian berdua di sana, jadi tinggal di sana saja.” Ucap Badrun ketus.
Maya tak meladeni ucapan Badrun, ia hanya menganggap ucapan Badrun itu sebagai angin lewat saja.
“Rei... Nanti kalau ketemu Ayah, bilang. Khalis minta uang buat belu baju, ya?”
“I-iya...” lirih Reina.
“Titip salam buat Rahman, ya.” Ucap Denny sambil mengusap rambut Reina.
“Rahman?”
“Dia sepupu kamu, Rei. Nanti kita akan menginap di rumahnya. Dia juga banyak komik kartun kesukaanmu juga loh!”
“Wuahh... Benarkah?! Wajah Reina jadi ceria, ia seperti tak sabar ingin sampai ke tempat sepupunya itu.
“Sudah siap semua, May?” Pak Husai datang di depan rumah dengan membawa motornya. Sebelumnya Pak Husai dimintai tolong sama Aminah untuk mengantarkan ke persimpangan keluar kampung agar dapat mobil angkot menuju kota P. Karena di kampung itu hampir tak ada mobil angkot yang lewat, di sebabkan karena jalannya yang sangat hancur, kalau panas sangat berdebu kalau hujan penuh dengan lumpur. Belum lagi lubang di sana sini, karena jalannya seperti bulan yang berlubang-lubang.
“Siap, Pak Husai.” Maya menaruh tas ranselnya pada Pak Husai yang langsung di sambut Pak Husai dan menaruhnya di depan motornya.
“Wah, kali ini Reina yang ikut, ya. Sini kamu duduk di depan.” Pak Husai sambil menepuk jok motor di depannya.
Reina terdiam sesaat, melihat tas kakaknya yang juga ada di depan dia berpikir kalau duduk di depan pasti tas kakaknya akan kotor.
“Tidak, Rei duduk di belakang aja,” Reina langsung naik di belakang Pak Husai. Ia meremas jaket di pinggang pak Husai karena takut jatuh.
“Lah, kenapa?”
“Nanti tas kakak, kotor.”
“Hahaha, begitu ya.”
“Gak, mau... Reina di sini saja,” lirih Reina.
“Baiklah, kakak gak akan maksa,” Maya lalu naik di paling belakang.
Mesin motor sudah di nyalakan pak Husai.
“Awas jatoh. Pegang yang erat ya!” ucap Pak Husai melirik ke arah Reina. Reina pun semakin kuat meremas jaket Pak Husai.
“Maya berangkat dulu ya, Ma. Dek! Assalamualaikum!” seru Maya.
“Waalaikumsalam.....” ucap Aminah hampir bersamaan dengan Denny dan Khalis.
.
👻👻👻
Selama perjalanan Reina menengok ke kiri dan kanan, ia kagum melihat pemandangan di sepanjang jalan. Pepohonan yang rimbun di pinggir jalan membuat jalanan itu jadi tak terlalu panas. Hingga mereka sampai di persimpangan jalan barulah terik matahari menyengat kulit mereka.
Maya turun dari motor, lalu membantu Reina yang juga turun.
“Ini, Pak... Ada sedikit rezeki buat Bapak,” Maya menyalimi tangan Pak Husai sekaligus mau memberi selembar kertas yang sudah terlipat berwarna hijau.
“Gak usah, May. Bapak ikhlas kok,” Pak Husai mau mengembalikan, namun langsung di tolak Maya.
“Tak apa Pak, itu Ibu yang kasih kok.”
Pak Husai lalu memanggil Reina, “Rei, ini uang buat kamu jajan” ucap Pak Husai sambil tersenyum menyerahkan uang itu dan langsung di sambut Reina.
“Makasih, Pak!” Seru Reina sangat senang.
“Reinaaa...” Maya mau menegur Reina.
“Hahaha... Tak apa May. Biarkan saja dia, itu ada mobil angkotnya mau mendekat.”
Pak Husai melambaikan tangannya pada mobil angkot itu. Mobil pun menyalakan reting kirinya dan berhenti.
“Kami berangkat Pak Husai. Terima kasih sudah mengantar kami.”
“Sama-sama...” Pak Husai menatap Reina yang sudah duduk di samping pengemudi.
“Ingat ya Rei, nanti minta uang sekarung sama Ayahmu itu. Biar kamu bisa beli baju baru, mainan, kalau bisa beli rumah sekalian. Bilang aja itu uang ganti karena telah mengabaikanmu selama ini.” Pak Husai mengusap rambut Reina.
Reina hanya merespons dengan senyumannya.
“Haha... Boro-boro sekarung, ngisiin dompet aja gak pernah penuh Pak,” sahut Maya.
Pak Husai tertawa, “Ya sudah, hati-hati di jalan ya.” Pak Husai menutup pintu mobil, mobil angkot itu pun melaju meninggalkan dirinya.
Pak Husai terkesiap ada sosok hitam seolah-olah memberi hormat padanya dengan membungkukkan badannya. Sosok hitam itu pun dengan cepat melesat ke arah mobil yang membawa Reina dan Maya.
“A-apa yang barusan aku lihat?” Pak Husai mengucek kedua matanya. Namun sosok hitam itu sudah menghilang.
“Ternyata aku salah lihat, tapi kenapa seperti terlihat sangat jelas?” Pak Husai bermonolog, kemudian dia tak memikirkan lebih jauh lagi dan ia memilih pulang.
.
👻👻👻
Sekitar 30 menit kemudian, Maya dan Reina sudah sampai di terminal angkot kota P. Mereka lalu berjalan kaki ke arah belakang terminal yang merupakan pusat pasar tradisional di kota itu. Terlalu banyak orang yang lalu lalang bahkan sesak di pasar itu.
“Kenapa kita kesini kak?” Reina dengan erat menggandeng tangan kakaknya, khawatir ia akan tersesat di pasar yang sesak itu.
“Kita ke tempat bibi dulu, beliau juragan ayam di pasar ini, loh.”
Reina hanya diam, ia hanya mengikuti langkah kaki kakaknya.
“Wah, benar-benar sesak ya... Gak hanya manusia, tapi sekumpulan makhluk seperti kami juga penuh di sini.” gumam seseorang di samping Reina. Dia adalah sosok hitam yang mengikutinya, Deemon.
Reina tak menyahut ucapan Deemon, ia terus mengikuti kakaknya. Hingga mereka ke lokasi yang berbau ikan. Reina menutup hidungnya karena tak terbiasa di tempat seperti itu.
“Assalamualaikum, Bi!” seru Maya, ia menyalimi tangan seorang wanita paruh baya berperawakan gemuk. Di lehernya di hiasi kalung emas yang cukup besar, di kedua pergelangannya juga di hiasi emas yang cukup banyak dan besar-besar. Kepalanya di tutupi bolang haji, yang menunjukkan kalau dia pernah naik haji. Namanya beliau adalah Khairiyah, jadi sering di sapa dengan Bi Iyah. Dia merupakan saudara Ayah kandung Maya.
“Waalaikumsalam...!”
“Ehh... Maya! Kapan datangnya?” ucapnya ramah, lalu matanya tertuju pada Reina. Reina langsung bersembunyi di balik tubuh Maya.
“Aduh, Rei. Dia bibi Iyah. Bi, maafkan sikap Reina, ya. Waktu pertama kali ketemu aku juga begitu.”
“Tak apa, May. Mending kalian ke rumah dulu istirahat. Nanti bibi telepon Ayah kalian untuk datang ke rumah.”
“Baik, Bi. Ayo Rei saliman dulu sama Bibi.”
“Gak usah May. Tangan Bibi bau ayam, kalian langsung saja ke rumah.”
“Iya, baiklah Bi.” Maya lalu mengajak Reina keluar pasar.
Saat mereka sudah pergi, pedagang lain di dekat Bi Iyah bertanya.
“Bu, Haji. Siapa anak kecil bersama Maya itu, kok aku baru lihat.”
“Oh, itu anak bungsunya Helmi dari Istrinya yang pertama. Si Helmi itu juga, punya anak kok gak pernah di tengok. Selalu saja diam di tempat istri mudanya yang gak tahu diri itu, aku heran, dia selalu menurut sama bininya.” Geram Bi Iyah.
“Wah, kasihan istri pertamanya dong. Biayain ke empat anaknya sekaligus, kenapa Helmi gak bertanggung jawab sama sekali?”
“Aku juga ndak tau Bu, Helmi itu susah sekali di omongin. Dia selalu saja membela istri mudanya itu, heran aku! Dia meninggalkan istrinya yang sudah PNS demi wanita murahan itu!”
“Jangan-jangan istri mudanya punya ilmu hitam, supaya suaminya tunduk.” Penjual itu berbisik pada Bi Iyah.
“Ah, gak mungkin. Saya ndak percaya hal kayak gituan Bu.”
“Ya, siapa tau aja kan Bu haji. Aku juga dengar gosip-gosip yang lain.”
“Makanya jangan termakan gosip-gosip begituan.” Gumam Bi Iyah. Ia lalu menelepon Helmi yang merupakan adik kandungnya itu. Ia juga sudah lama curiga pada adiknya itu yang selalu menurut pada istri mudanya. Dia ingin lebih menyelidiki lebih lanjut tentang keluarga adiknya itu, namun selalu di cegah Helmi. Malah Helmi selalu memarahi dirinya yang selalu ikut campur masalah keluarganya. Jadi, dia pasrah dan tak ingin mencampuri keluarga baru adiknya itu. Kecuali dengan anak-anaknya dari istri pertamanya itu.
.
Bersambung