
**Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗
.
.
Selamat Membaca 🤗**
“Hei, gadis kecil. Aku juga punya nama. Jangan mentang-mentang auraku merah, lalu kau langsung memberi sebutan untukku dengan sebutan 'Si Merah'.” Sahut sosok merah itu, ia lalu kembali berubah wujudnya seperti bentuk laki-laki remaja seperti sebelumnya.
“Lalu kamu siapa?”
“Aku adalah Raja Mammon!” Seru laki-laki itu sambil memamerkan aura merah di belakangnya.
“Mammon?” gumam Reina.
“Dia adalah iblis keserakahan, kekayaan dan ketidakadilan,” ucap Deemon datar.
“Apa?! I-iblis...?” Reina gemetar mendengar kata Iblis. Dia menyadari kalau dirinya tak hanya melihat hantu, tapi dia juga melihat iblis yang menipu para manusia ke jalan yang salah. Begitulah ingatan Reina saat di ceritakan kakaknya tentang Iblis.
“Heehh?! Apa kamu takut gadis kecil? Khekhekhe.” Tawa Mammon melihat Reina yang bersembunyi di balik Deemon.
Reina mengingat doa-doa pengusir setan, yang ia ingat hanya doa makan dan doa sebelum tidur.
“PERGI KAU SETAN!!” Teriak Reina sambil memegang tangan Deemon.
“Apa?! Kau yang memanggilku gadis kecil? Hehe” tawa seseorang di belakang Reina.
“Wuaaa!!” Reina kaget karena tiba-tiba ada sosok bertubuh laki-laki tanpa memakai baju sudah ada di belakangnya, tapi kepalanya kepala binatang, lebih tepatnya kepalanya seperti burung dan di punggungnya ada sayap besar.
“HAHAHA...! Tapi maaf saja gadis kecil, sepertinya kamu salah panggil namaku, namaku bukan Setan! Tapi Satan!” tawa Satan sambil berkacak pinggang dan memekarkan kedua sayapnya.
“Sa-satan?!” gumam Reina ketakutan.
“Satan! Kau mengagetkannya!” Bentak Deemon.
“Oh, maafkan aku Tuan...” Satan menundukkan tubuhnya meminta maaf ke arah Deemon.
“Dia adalah Satan! Dia juga Iblis pendosa yang memiliki sifat pemarah, dia sebenarnya juga bersembunyi di dalam tubuh Ayah tirimu.” tutur Deemon menjelaskan pada Reina.
“Apakah itu sebabnya Ayah tiriku suka memarahi kami?!”
“Tidak! Lebih tepatnya Ayah tirimu lah yang memberikan kekuatan untuk kami, hahaha!” tawa Satan menggema di atap rumah itu.
“Apa?!” Reina seolah-olah tak percaya ucapan Satan.
“BOHONG!! Aku yakin kamu yang membuat Ayah tiriku selalu memarahi kami!” Bentak Reina.
“DIAM KAU BOCAH!! AKU BUKAN SI PEMBOHONG! AKU INI SANG PEMARAH!” Bentak Satan marah pada Reina.
“Hei, Kalian berisik!! Ganggu orang mau tidur saja!” Sahut seseorang datang, kali ini dia mirip seperti kakek-kakek berjenggot ia juga memiliki tanduk kecil di atas kepalanya. Ia berjalan sambil menguap lalu mendekat ke arah Reina. Matanya sayu terlihat sangat mengantuk, badannya juga bungkuk mirip kakek-kakek tua renta yang mau tutup usia.
“Siapa kakek itu?” tanya Reina pada Deemon.
“Dia Belphmon, dia Iblis sang kemalasan sekaligus kekayaan, dia menghasut Ayah tirimu agar cepat kaya, namun caranya licik, seperti memanfaatkan kalian bertiga untuk bekerja keras berjualan. Lalu ayah tirimu bermalas-malasan di rumah menunggu hasil uang yang kalian dapatkan.” Ucap Deemon menjelaskan.
“APA?! BELMON?!” teriak Reina kaget.
“AKU BELPHMON!! BUKAN BELMON!! PAKAI 'P' DAN 'H'!!” Bentak Belphmon tak terima namanya salah di sebut Reina.
“Belpon?” gumam Reina, membuat Satan dan Mammon terkekeh mendengarnya.
“Tumben kamu marah Bell? Khekhekhe!” Tawa satan sambil terkekeh.
“Sialan! Itu karena aku ada di dekat kamu! Sana kau pergi jauh-jauh. Malas aku menghadapi orang pemarah sepertimu!” kesal Belphmon. Satan tak menjauh, ia masih terkekeh menertawakan Belphmon.
Belphmon lalu mendekati Reina, “Begini ya bocah kecil, lihat aku!” Belpmon seperti menuliskan sesuatu di udara dengan jarinya sehingga membentuk alfabet yang terbentuk dari api. Tulisannya membentuk B-E-L-P-H-M-O-N yang melayang di udara.
“Hei, Bell... Tumben kamu jadi rajin menjelaskan pada anak itu? Khekhekhekhe” tawa Mammon di ikuti tawa satan.
“Lebih baik seperti ini, aku malas mendengar dia nanti yang akan selalu salah menyebut namaku!"
“Nah, bocah! Sekarang eja huruf-huruf itu!” bentak Belphmon pada Reina.
“B-E-L-P-H-M-O-N” Teriak Reina.
“Bagus! Sekarang di baca apa?”
“Belmon?” Sahut Reina dengan wajah polosnya.
“Bukan! Bukan! Padahal kau mengejanya dengan benar! Kenapa tetap salah membacanya?!!”
Belphon berulang kali menyuruh Reina mengeja tulisan nama yang ia buat, namun Reina tetap saja salah mengucapkannya.
“Baru kali ini ada Iblis membantu manusia mengeja tulisan, khekhekhe” Mammon bersama Satan menertawakan kelakuan Belphmon yang sedang mengajari Reina.
Sementara Deemon membiarkan Reina yang sedang belajar mengeja tulisan nama Belphmon.
.
.
“Salah! Salah! Bodoh! Kamu ini tak pernah belajar apa?!” Kesal Belphmon pada Reina.
“Kalau kamu lancar membaca! Kenapa kamu selalu salah membaca namaku?!”
“Namamu jelek dan susah di sebut! Aku akan memanggilmu Belmon!!” seru Reina tak mau kalah.
Hal itu membuat Mammon dan Satan tertawa cekikikan mendengarnya.
“Namanya makin jelek, khekhekhe,” tawa Mammon sama satan.
Belphmon jadi kesal mendengarnya, lalu ia pasrah.
“Ya, sudah. Terserah kamu sajalah memanggilku apa. Malas aku menanggapi orang sepertimu” gumam Belphmon yang sekarang di panggil Belmon.
“Baiklah Belmon, kami juga akan memanggilmu seperti itu, khekhekhekhe!” tawa Mammon dan Satan.
“KALIAN JANGAN IKUTAN!! Bisa-bisa nama asliku akan hilang gara-gara anak ini” Belmon kesal mendengar mereka menertawakan dirinya.
“Sudah! Tak perlu berdebat lagi. Sudahkan kalian perkenalannya? Sekarang Mammon, Satan dan...” kalimat Deemon terhenti saat melihat Belphmon.
“Belmon.”
“KAU JUGA JANGAN IKUTAN SALAH SEBUT NAMAKU!” teriak Belphmon kesal membuat Satan dan Mammon kembali tertawa.
Deemon tak memedulikan kekesalan Belphmon, pandangannya beralih pada Reina.
“Reina... Perkenalkan mereka adalah 3 raja iblis yang menguasai dalam tubuh ayah tirimu. Jadi kamu tak perlu heran, kalau ayah tirimu memiliki sifat seperti mereka bertiga.” Ucap Deemon datar memperkenalkan ketiga iblis itu yang masih terkekeh-kekeh menertawakan hal yang tidak lucu bagi Reina.
Mendengar hal itu, tentu saja membuat Reina kaget.
“Jadi karena kalian... Hiks ... Jadi karena kalian mempengaruhi ayah tiriku dia jadi jahat sama kami?! Hiks.. hiks,” isak Reina sambil mengusap air matanya.
“Khekhekhe... Itu tak sepenuhnya benar!” Sahut Satan sambil terkekeh.
“Bohong!” bentak Reina.
“SUDAH KUBILANG AKU BUKAN SANG PEMBOHONG!!” Bentak Satan dengan suaranya menggema, sehingga membuat penghuni di sekitar sana menoleh ke arah mereka.
“Satan! Kau jangan membuat perhatian makhluk lain!” ucap Mammon memperingati.
“Cih! Ini semua gara-gara anak ini!” gumam Satan kesal.
“Tidak! Itu gara-gara kamu sendiri yang teriak-teriak! Lalu gara-gara kalian bertiga ayah tiriku menyakiti kami, huaaa...!!!” tangisan Reina tumpah, ia tak kuat menahan perasaannya lagi, ia luapkan perasaannya di malam itu di hadapan tiga Raja iblis.
“Berisik! Satan! Ini semua gara-gara kamu! Cepat hentikan tangisan anak itu! Malas aku mendengarnya!” Bentak Belphmon.
“Kau saja sana! Dia saja yang terlalu cengeng!” balas Satan sambil menutup kedua telinganya.
Puk!
Deemon menepuk pelan kepala Reina, sehingga membuat Reina menghentikan tangisannya, ia menatap Deemon sejenak.
“Mereka tak sepenuhnya salah,” gumam Deemon.
“Eh?! Apa maksudnya Deemon?” Reina kebingungan mendengar ucapannya.
“Hah?! Deemon?!” ucap Mammon, Satan dan Belphmon hampir bersamaan.
“Hei, bocah! Kau memanggil siapa?” ucap Mammon lantang.
Reina tak langsung menjawab, ia menggenggam tangan Deemon, lalu berkata.
“Oh, ini Deemon!” seru Reina.
“APA?!!” Teriak Satan, Mammon dan Belphmon bersamaan.
“De-Deemon?!” gumam mereka bertiga.
Reina terheran-heran melihat mereka bertiga yang kaget sekali mendengar dia mengucapkan nama Deemon.
“Mereka kenapa?” tanya Reina pada Deemon.
“Mereka hanya kaget.” Jawab Deemon datar.
“Kenapa kamu memanggilnya dengan nama itu?!” bentak Mammon di hadapan Reina.
“Memangnya kenapa? Biasanya aku memanggilnya seperti itu, kok.” Jawab Reina dengan polosnya.
“APA?!”
ketiga Iblis itu kaget mendengar penuturan Reina.
“Tuan! Kenapa tuan mau di panggilnya dengan nama itu?” tanya Belphon menghadap Deemon.
“Eh?! Ada apa?” gumam Reina kebingungan.
“Hei bocah! Kau jangan sembarangan menyebutnya, Dia adalah tuan kami. Dia adalah Tuan Lucifer, Rajanya Raja Iblis!” Ucap Mammon dengan lantang.
.
.
Bersambung, jangan lupa tap Like, Rate, Vote, Komment dan Klik Favorit ya Readers...