
***Jangan lupa untuk tap Like dan Ratenya ya Readers*...
🌚 Selamat Membaca 🌚**
“Ai... Aku ada lihat hantu merah itu apa? Apa kamu tahu?” Tanya Reina pada saat di sekolah.
“Hm? Hantu merah? Tunggu... Aku cari dulu," Aida langsung memeriksa buku catatannya.
“Hantunya seperti apa?” Tanya Aida sambil memeriksa catatannya.
“Hmm... Cuma terlihat matanya yang merah semua."
“Oh, ini dia. Itu hantu api... Kata nenekku biasanya hantu merah itu ada pada saat kebakaran rumah. Jadi itu artinya, hantu itu akan membakar rumah itu, jadi kamu harus hati-hati”.
“Eh? Hantu api? Tapi dia nempel di Ayah tiriku,” gumam Reina.
“Apa?! Masa ayah tirimu akan terbakar?” bisik Aida.
“Tapi aku juga lihat di jalan menuju sungai tadi malam, dia seperti menatapku. Waktu itu aku menemani kak Denny untuk mengambil air di sumur. Kak Denny sepertinya juga melihatnya, soalnya dia menyuruhku untuk diam." cerita Reina.
“Kenapa di sekitar rumahmu banyak sekali hantunya?”
“Aku juga tidak tahu, hehe... Tapi menurutku mereka tidak menakutkan," ucap Reina dengan tertawa kecil.
“Kamu belum ketemu sama si putih itu sih, itu namanya si pocong. Dia sangat menakutkan! Aku yakin, kamu pasti takut sama dia,”
“Putih... Oh, kemarin malam aku juga ada lihat si putih itu, tapi tidak mirip pocong yang seperti kamu ceritakan. Dia tidak di bungkus, tapi terlihat seperti pakai baju putih kotor biasa, dia duduk di pohon."
“Aku tahu!! Itu namanya Kunti... Iya... Itu hantu Kuntilanak namanya!” Seru Aida.
“Kuntilanak? Kenapa namanya seperti itu?”
“Aku lihat di TV, dia gentayangan karena mati saat melahirkan! Biasanya bagian perutnya bolong. Dia kadang juga menggendong anaknya. Makanya di sebut Kuntilanak.” Ucap Aida menjelaskan dengan gaya bicaranya yang seperti sok tahu.
“Wuahh.... Aida hebat! Bisa tahu semua jenis hantu!” seru Reina. Pujian Reina inilah yang di tunggu-tunggu Aida, sehingga ia menunjukkan senyum sombongnya itu seakan-akan dia orang yang paling mengetahui semuanya.
“Oh, iya. Aku penasaran, Rei... Kamu memanggil Ayah tirimu itu apa?”
“Hm... Apa ya...?” Reina berpikir keras, karena selama ini dia tak pernah memanggil Ayah tirinya itu. Malah ayah tirinya yang sering memanggilnya untuk menyuruh dia bekerja pekerjaan rumah.
“Apa Ayah juga? Atau paman? Kakak?” tanya Aida tak sabar menunggu jawaban Reina.
“Entahlah, soalnya aku tak pernah memanggilnya” ucap Reina menundukkan wajahnya.
Aida tak melanjutkan pertanyaannya lagi walau sebenarnya dia masih penasaran.
“Rei, apa sore ini kamu mau main di rumahku?”
“Eh? Main?” Batin Reina, selama ini dia jarang main ke rumah teman-temannya, karena takut akan di marahi Ayah tirinya.
“Baiklah...” Jawab Reina pelan.
.
.
🌚🌚🌚
.
Sepulang sekolah, Reina mengendap-endap menuju kamarnya. Kakaknya belum pulang dari sekolah, sementara Badrun di rumah sedang tidur bersama Putri, adiknya. Dengan cepat ia mengganti bajunya dengan baju harian biasa. Setelah itu, ia keluar rumah dengan sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan sama Badrun.
.
.
Reina sudah tiba di rumah sahabatnya, Aida. Ia masuk ke kamar Aida yang tampak rapi dan juga bersih.
“Kamu sendirian di rumah?” tanya Reina.
“Iya, Ayah dan Ibuku sedang bekerja, tapi kalau siang biasanya mereka akan pulang untuk makan siang," ucap Aida sambil membuka jendela kamarnya yang memakai teralis kayu. Ketika jendela di buka, hembusan angin lembut dari luar masuk ke dalam kamar, membuat mereka sangat menikmati angin itu dengan memejamkan mata mereka.
“Lalu, nenekmu tinggal dimana?”
“Oh, Nenekku di sebelah rumah itu. Nanti kita ke rumah Nenekku ya. Kita minta nenek untuk cerita hantu lagi. Kamu pasti suka!” seru Aida sambil menunjuk rumah sebelah lewat jendela.
.
.
Tak lama kemudian kedua orang tua Aida datang. Aida langsung menyambut dan menyalami tangan kedua orang tuanya.
“Aduh, siapa yang datang nih? Teman kamu ya, Ai? Siapa namamu Nak?” tanya Ayah Aida menyapa Reina sambil tersenyum.
Belum sempat Reina menjawab, Aida langsung menjawab pertanyaan Ayahnya dengan semangat.
“Dia Reina, Ayah. Dia teman sebangkuku di sekolah! Dia sangat pintar loh... dapat juara 3 di kelas!” seru Aida.
“Tapi aku tetap kalah tuh sama kamu yang juara 1.” ucap Reina sedikit kesal pada Aida. Karena Aida seperti memuji namun sambil menyombongkan dirinya yang mendapat rangking pertama di sekolah.
“Haha... Kalian ini. Aida, kamu tak boleh ngomong seperti itu pada temanmu. Sekolah itu bukan ajang untuk mendapat juara, tapi mencari ilmu. Percuma kan kalau selalu dapat juara, tapi tak mendapatkan ilmunya sama sekali,” jelas Ayah Aida dengan lembut sambil tersenyum pada anaknya.
“Ayahmu benar, Aida. Reina, maafin Aida ya? Kamu pasti kesal karena ucapan Aida tadi kan?” Tanya Ibu Aida sambil tersenyum pada Reina.
Reina tertegun sebentar melihat sikap kedua orang tua Aida yang sangat lembut pada anaknya.
“Oh, tak apa kok tante. Aida memang pintar kok. Aku selalu di bantu sama dia” ucap Reina pelan.
“Bagaimana kalau kamu ikut siang bersama kami?” tanya Ibunya Aida, sebut saja namanya Bu Sari. Meski usianya memasuki hampir 40 tahunan, wajahnya masih terlihat awet muda dan tampak cantik. Mungkin kecantikannya itu lah yang membuat Aida juga cantik seperti ibunya.
“Wah, pasti seru nih. Kamu mau kan, Nak. Makan siang bersama kami?” tanya Ayah Aida. Sebut saja namanya Pak Faisal. Wajahnya yang memiliki kumis tipis di bawah hidungnya, serta bertubuh yang kekar dan tinggi. Tapi, ternyata sangat ramah pada Reina. Beliau juga seumuran dengan Bu Sari, mereka menikah sudah cukup lama. Namun hanya mempunyai seorang anak, yaitu Aida. Makanya Aida sangat di sayang oleh kedua orang tuanya. Lalu kedatangan Reina membuat mereka jadi sangat senang, karena anak mereka jadi punya teman di rumah.
“Benar! Kamu belum makan siang, kan. Rei? Kamu makan siang di sini, ya?!” ajak Aida bersemangat.
“Baiklah” jawab Reina singkat sambil tersenyum.
.
.
“Ayo, Nak. Di tambah nasi dan lauknya," ucap Bu Sari pada Reina melihat di piringnya sudah habis.
“Eh? Boleh?” tanya Reina. Karena selama ini di rumahnya ada peraturan tak boleh nambah porsi makan.
“Hah? Kamu ini, jangan sungkan nak! Ayo, akan yang banyak, nih... Ikan dan sayurnya juga. Biar kamu makin pinter dan cepat besar,” ucap Pak Faisal sambil memasukkan nasi ke piring Reina lengkap dengan lauknya.
Lagi-lagi sikap kedua orang tua Aida membuat Reina tertegun. Ia menatap Aida yang berada di antara Pak Faisal dan Bu Sari, Aida tertawa bahagia dengan kedua orang tuanya itu.
“Kenapa aku tak punya ibu seperti ibunya Aida? Kenapa aku tak punya Ayah seperti Ayahnya Aida?” batin Reina, dadanya merasa sesak.
“Andai aku ada di sana...” batin Reina lagi melihat Aida yang ada di tengah Bu Sari dan Pak Faisal.
.
.
“Kenapa kamu melamun, Nak?” tanya Pak Faisal melihat Reina yang masih sibuk dengan pikirannya.
“Ayo, cepat habiskan makan siangmu. Bukankah setelah itu kalian mau main?” ucap Pak Faisal lagi sambil mengusap lembut rambut Reina.
Tak terasa cairan bening di mata Reina mengalir dengan sendirinya.
“Eh? Kamu kenapa, Nak?” Pak Faisal heran karena tiba-tiba Reina menangis, begitu pula dengan Aida dan Bu Sari.
Reina hanya menggelengkan kepala sambil mengusap air matanya. Lalu melanjutkan makan siangnya.
.
.
“Sini, ibu saja yang mencucinya. Duh, anak ini pinter sekali mau mencuci piring sendiri. Gak seperti Aida, setelah makan langsung aja ninggalin piringnya di atas meja dan langsung ke kamar” ucap Bu Sari sambil mengambil piring dan gelas di tangan Reina.
“Namanya juga anak-anak, bu.” ucap Pak Faisal tersenyum.
“Apa sih? Kalau ibu mau minta bantu kan bisa langsung bilang sama Aida” sungut Aida kesal.
“Ayo, Rei! Kita main di belakang rumah, yuk!” Seru Aida menarik tangan Reina. Reina hanya menurut dan mengikuti langkah kaki Aida.
“Hati-hati! Jangan naik pohon terlalu tinggi, ya!” teriak Pak Faisal memperingati mereka yang sudah keluar lewat pintu belakang rumah.
Teriakan Pak Faisal tak di dengar oleh mereka, Aida mengajak Reina menaiki sebuah pohon jambu air dan mengambil beberapa buah yang ada di pohon itu.
.
.
“Rei... Kenapa tadi kamu nangis waktu makan?” tanya Aida sambil menikmati buah jambu yang dia dapat, ia menikmati buah itu bersama Reina dengan duduk di dahan pohon jambu itu.
Reina tak langsung menjawab, ia masih asyik mengunyah buah jambu yang ia dapat di pohon itu.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Reina singkat. Dia tak ingin menceritakan masalah di rumahnya pada sahabatnya itu.
.
.
🌚🌚🌚
.
Reina mau pulang ke rumahnya ketika hari sudah mulai agak sore. Tak lupa ia minta izin pada kedua orang tua Aida.
“Nanti sering-sering main ke sini, ya!” seru Pak Faisal.
“Benar. Nanti kita makan siang bareng lagi,” ucap Bu Sari.
“Iya, Rei... Lagi pula kita belum dengar cerita hantu dari nenek,” bisik Aida.
“Ngapain kalian bisik-bisik?” tanya Bu Sari mengernyitkan kedua alisnya.
“Tak apa bu... Hehe” ucap Aida spontan sebelum Reina yang menjawab.
Reina hanya tersenyum pada kedua orang tua Aida.
“Ya, aku akan sering-sering main ke sini." jawab Reina dengan semangat.
Tentu saja Reina sangat senang ke rumah temannya. Selain mendapatkan kehangatan orang tua Aida, Reina bisa main dengan temannya dan juga bisa makan sepuasnya.
.
.
🌚🌚🌚
.
Sesampai di rumah, alangkah terkejutnya Reina karena kedatangannya sudah di sambut dengan wajah yang tak ingin di lihatnya. Ya, Badrun menyambutnya dengan wajahnya yang sangar, ia berkacak pinggang ketika Reina masuk lewat pintu depan.
“TUTUP PINTUNYA!!” Bentak Badrun.
Reina dengan pelan menutup pintu rumahnya, wajahnya yang sebelumnya terlihat bahagia kini langsung berubah.
Apalagi saat itu di rumah hanya tinggal dia, Badrun dan Putri, adiknya yang sedang mengoceh sambil memainkan mainan bayinya. Sedangkan kedua kakaknya pasti sedang keluar untuk jualan kue dan es lilin keliling kampung. Lalu ibunya juga sibuk keluar untuk menjadi guru les murid kelas 6 yang akan mengikuti ujian.
“DARI MANA SAJA KAMU, HAH?!!”
Belum sempat Reina menjawab, Badrun lebih dulu menampar wajah Reina dengan keras.
PLAKK!!
Reina memegang pipinya bekas pukulan Badrun, dia langsung menangis tanpa suara dan air matanya sudah mengalir deras membasahi di kedua pipinya.
.
.
Bersambung...