
Jangan lupa Readers...
tap Like dan Ratenya... 😊
Azan subuh berkumandang, hawa dingin pagi buta itu membuat ingin kembali menarik selimut. Tapi tidak untuk anak yang sudah berusia 10 tahun itu, ia membangunkan kedua adik-adiknya untuk bangun dan sholat subuh.
Dengan mata yang masih berat, kedua adiknya itu bangun, walau sedikit terpaksa. Hawa dingin tak mengalahkan mereka untuk tetap mengambil air wudhu.
Usai sholat, mereka bertiga mengambil handuk dan kain sarung untuk mandi ke sungai. Karena kalau sudah jam 06.00 pagi, sungai tersebut jadi ramai. Sehingga mereka harus pergi ke sungai ketika langit masih gelap.
Denny membawa ember yang berisi peralatan mandi dan sabun cuci. Setiap kali mandi, mereka harus mencuci baju mereka sendiri. Namun, kadang-kadang Badrun tak segan-segan melemparkan pakaiannya pada Denny untuk minta di cucikan. Tapi untuk saat ini, Badrun masih terlelap di dalam selimutnya.
Ketiga bersaudara itu berjalan beriringan menuju sungai yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah mereka. Walau mereka datang di pagi buta, ternyata sudah ada beberapa warga yang mencuci di sungai itu dan juga mengambil air untuk keperluan di rumah.
Ya, di sungai itulah sumber air untuk keperluan sehari-hari di kampung itu. Airnya jernih dan menyejukkan karena daerah pegunungan, jadi airnya bisa di ambil untuk di minum. Tapi pada saat musim kemarau, sungai itu akan kering. Sehingga masyarakat di kampung itu sangat kesulitan mencari air bersih.
“aduhh...rajin sekali ketiga anak ini."
“Pagi-pagi sudah mandi, apa tak kedinginan?” ucap salah seorang warga yang kebetulan dia sedang mencuci di sungai tersebut.
“Dinginlah bu, tapi kalau sudah terbiasa mandi pagi. Dinginnya jadi tak berasa lagi.” jawab Denny.
Khalis dengan segera membuka bajunya, lalu ia terjun ke sungai. Untungnya sungai itu tak terlalu dalam, sehingga sangat aman untuk anak-anak mandi di sungai itu. Kalau siang, di sungai itu akan terlihat batu kerikil di dasar sungai dan ikan-ikan kecil pun juga sangat terlihat jelas.
“ayo sini buka bajumu Reina, biar kakak yang cucikan,” ucap Denny.
“Huh, dasar manja. Baju aja minta cucikan sama kak Denny, kayak kakak dong, bisa cuci baju sendiri,” ledek Khalis.
Reina menjadi kesal mendengar perkataan Khalis, “Reina juga bisa cuci sendiri!” bentak Reina.
“Benarkah? Ya sudah, cuci aja sekalian titip bajuku, ya...hahaha.” ucap Khalis lagi.
Denny hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Denny tahu kalau adik laki-lakinya itu hanya bercanda pada Reina. Namun Reina selalu menanggapi perkataan Khalis. Dia mudah tersinggung dan juga sering merajuk. Itulah yang membuat Khalis semakin suka menjaili adiknya.
“Khalis... Bajumu cuci sendiri ya.”
“Reina, tak apa...sini bajumu, kakak aja yang cucikan, ya.”
“Gak mau! Reina bisa cuci sendiri."
Denny menghela nafasnya, ya, Dennya tahu kalau sikap Reina sudah seperti itu, dia akan berusaha keras untuk melakukannya.
“Ya, sudah... Kakak ajarin caranya ya..” ucap Denny mengalah. Dia tak ingin terlalu berdebat dengan adik-adiknya.
“aduhh..pinternya kalian ini, kecil-kecil sudah mandiri...sudah rajin mandi tiap pagi, bisa cuci baju sendiri pula. Kalian anak-anak hebat!” puji ibutadi yang sudah hampir selesai mencuci baju.
Denny hanya tersenyum pada ibu itu. “Ya, kami melakukannya terpaksa, kami juga baru-baru saja bisa melakukan hal seperti ini. Sebelumnya kami juga tak pernah melakukannya, sebelum laki-laki itu datang di kehidupan kami” batin Denny.
“Kak Denny!” tegur Reina.
“Hm? Ada apa?”
“Perih kak...hiks...” isak Reina menahan rasa sakit di punggungnya.
“Ya, sudah... Reina mandinya gak usah pakai sabun dulu ya. Nanti makin perih, lalu Reina bisa cuci muka, tangan dan kaki aja dulu.”
“iya, kak...hiks..”
Reina pun melakukan apa yang di suruh kakaknya, ia mencuci mukanya di pinggir sungai. Melihat Reina yang tidak mandi, Khalis kembali mengejeknya.
“Wah, ada yang gak mandi nih, nanti aku teriak di sekolah kalau ada yang belum mandi...hehe.”
Mendengar perkataan Khalis, Reina jadi tersinggung. Lalu ia akhirnya mandi, walau rasa perih di punggungnya sangat menyakitkan untuknya ketika terkena air dingin.
.
.
Hari sudah mulai sedikit terang, warga yang ke sungai itu sudah mulai berdatangan. Reina sudah selesai mandi, sementara Khalis masih asyik bermain di sungai.
“Ibu duluan ya anak-anak...” ucap ibu yang dari tadi ikut mencuci di sungai itu.
p
“Iya, bu," sahut Denny.
Ketika ibu itu mengangkat cuciannya, seketika langkahnya terhenti karena melihat punggung Reina yang merah.
Denny kaget ketika ibu itu melihat punggung Reina. Denny langsung menghampiri Reina dan menutupi tubuh Reina dengan handuk.
“tak apa-apa bu,” jawab Denny.
Ibu itu melihat wajah Denny yang jelas sekali menyembunyikan sesuatu.
“Khalis, ayo cepat! Kita pulang.” ucap Denny.
Khalis segera naik dari sungai, ia lalu mau mengambil handuk. Namun, lagi-lagi ibu itu melihat tubuh Khalis yang ada bekas memar-memarnya. Bahkan ada beberapa luka yang di tubuhnya.
“Nak, ceritakanlah...apa yang terjadi pada kalian?!”
Denny terdiam, dia tak mungkin menceritakan kepada tetangga. jika ia ceritakan, itu akan berakibat fatal pada mereka bertiga.
“ada apa ya, bu Lilis?” tanya warga lain yang heran pada ibu yang bertanya pada Denny.
“ini loh bu Dian, anak-anak ini aku lihat di tubuhnya ada bekas luka dan memar-memar.”
Denny menyembunyikan luka di tangannya, ia lalu bergegas siap-siap mau pulang bersama kedua adik-adiknya, agar tak ada pertanyaan lagi untuk mereka.
“Tunggu! Kalian bisa jelaskan, luka kalian itu kalian dapat dari mana, nak?” tanya Bu Dian.
Ketiga anak-anak itu terdiam.
“Jawab saja, tak apa... Kami tak akan menceritakannya pada orang lain” bujuk Bu Dian lagi.
“Dari Ayah tiri kami ...” sahut Denny dengan lemah.
“Kenapa tak bilang pada ibu kalian, kalau suaminya menyiksa kalian?!” tanya Ibu Lilis.
“Kami tak bisa bilang bu. kalau kami mengadu sama ibu kami, hukuman untuk kami semakin berat” jawab Denny.
“Kami permisi ya bu,” sahut Denny lagi meninggalkan ibu-ibu yang masih penasaran kepada mereka.
Ibu-ibu itu melihat ketiga anak-anak itu yang pulang bersama.
“Kasihan sekali ketiga anak-anak itu, ya Bu.” ucap Bu Dian.
“Benar, padahal mereka anak-anak yang pintar. Aku dengar dari anakku yang satu kelas sama Denny mereka selalu mendapat juara di kelas. Tak kusangka mereka bertiga mendapat siksaan seperti itu dari Ayah tirinya.”
“ada apa dengan Ibu Aminah ya? Kenapa dia sama sekali tak membela anak-anaknya?”
“tadi kan kamu sudah dengar dari mereka. Kalau mereka mengadu sama ibunya, mereka akan mendapatkan hukuman yang lebih keras lagi sama suami barunya itu”
“Kasihan sekali ketiga anak-anak itu mengalami siksaan yang begitu kejam sama Ayah tirinya."
Sementara ibu-ibu itu asyik dengan gosip-gosip mereka, Aminah datang ke sungai itu.
“aduh, ibu-ibu... Pagi-pagi kok sudah asyik bergosip, gosip apa ya kalau boleh saya tahu?” tanya Aminah sambil menaruh cuciannya di pinggir sungai.
“Ah, tidak kok. Kami gak bergosip, aku duluan ya..” ucap Bu lilis bergegas meninggalkan sungai.
“hm... Kenapa dia terburu-buru begitu?” tanya Aminah dengan heran.
“Tidak, bu... Dia emang dari tadi sudah mau pergi kok." ucap Bu Dian.
“Oh, begitu ...”
Ibu Dian menatap Aminah yang sedang mencuci, lalu ia memberanikan diri bertanya langsung pada Aminah.
“Bu Minah... Boleh tanya?”
“hm? Ada apa ya bu?”
“itu... Hubungan kamu dengan anak-anakmu baik-baik saja?”
“maksud Bu Dian apa ya? Tentu saja hubungan kami baik-baik saja” jawab Aminah.
“Aku tak bermaksud apa-apa kok bu, baguslah kalau baik-baik saja” ibu Dian kembali dengan menyelesaikan cuciannya. Dia tak ingin banyak bertanya dengan urusan rumah tangga Aminah, walau ia sangat penasaran.
.
.
Bersambung...