The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 27 Kamu Dimana Deemon?



Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗


.


.


Selamat Membaca 🤗


.


“TIDAAAK!” Reina berteriak sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Ia langsung berjongkok di atas atap itu berusaha menghindari serangan dari Deemon.


Deemon terhenti saat anak itu duduk berjongkok sambil menutupi kedua matanya.


“Apa yang kamu lakukan?!”


“Aku tidak mau ... Kamu kan tidak jahat denganku, kenapa aku harus melupakanmu?! Aku tidak mau! Hiks...” isakan tangisan Reina mulai terdengar, membuat Deemon mengurungkan niatnya. Cahaya hitam yang ada di tangannya sudah menghilang.


“Ayo kita kembali...” lirih Deemon sambil mengulurkan tangannya.


Reina dengan pelan mendongakkan kepalanya menatap Deemon.


“Kamu tak marah lagi?”


“Siapa yang marah? Aku hanya mau menghilangkan kemampuanmu saja.”


“Aku tidak mau!”


“Kenapa?”


“Nanti aku tidak bisa main sama kamu lagi...” lirih Reina sambil menatap Deemon.


Deemon tak menjawab, ia lalu menggenggam tangan Reina lalu dengan kekuatannya ia membuat Reina tertidur. Kemudian Deemon membawa roh Reina ke kamarnya dan langsung mengembalikan roh Reina ke dalam tubuhnya.


.


.


“Allahu akbar... Allahu akbar...!!”


Suara azan berkumandang di mesjid, sayup-sayup terdengar hingga ke rumah-rumah penduduk di kampung M. Beberapa dari mereka ada yang keluar untuk segera ke rumah Allah untuk menyambut panggilan sholat itu.


Karena sudah terbiasa bangun subuh, Aminah langsung bangun, ia menatap suami dan putri bungsunya masih tertidur dengan lelap. Ia biarkan mereka tertidur, lalu ia keluar kamar menuju kamar anak-anaknya dari suaminya yang terdahulu. Aminah berniat membangunkan anaknya, namun saat di kamar ternyata mereka sudah bangun, kecuali Reina yang masih tertidur pulas yang masih di bangunkan kakaknya, tetapi masih belum bangun juga.


“Ada apa?” ucap Aminah melihat Denny dan Khalis yang berusaha membangunkan Reina.


“Ini, bu. Dari tadi Reina tak bisa bangun-bangun..” jawab Denny dengan wajah cemas.


Aminah langsung menghampiri anak perempuannya itu. Ia memeriksa nafas di hidungnya dan denyut nadi di tangannya.


“Masih hidup...” batin Aminah.


“Tolong ambilkan air.”


Dengan segera Denny ke dapur lalu mengambil air dengan membawa gayungnya.


“Bismillahirohmanirrahiim...” ucap Aminah sambil membasuh kan air ke wajah Reina.


Seketika itu juga Reina langsung terbangun dan nafasnya tersengal-sengal.


“Kenapa kamu tidurnya seperti orang mati?” ucap Khalis kesal melihat Reina langsung bangun.


Reina tak langsung menjawab, ia menoleh ke kiri dan kanan seolah-olah mencari seseorang.


“kamu cari apa? Ayo bangun, sholat subuh dan mandi.” Ucap Aminah sambil membawa gayung yang masih berisi air ke luar kamar.


“Ayo, Rei...Lis..” ajak Denny.


Khalis langsung menurut ia mengikuti kakaknya, sementara Reina dengan langkah berat ia terpaksa mengikuti kakaknya keluar kamar.


.


.


🌚🌚🌚


Usai sholat subuh, masih pagi buta, tiga bersaudara itu pergi ke sungai untuk mandi serta mencuci baju mereka.


Sebenarnya Reina malas mandi pagi itu, dia masih teringat kejadian malam itu yang bagaikan nyata dan mimpi baginya.


“Benarkah aku tak bisa melihat Deemon lagi?” Batin Reina sambil memainkan kakinya di air.


Reina terlihat sedang melamun, tanpa ia sadari ada sesuatu yang melihatnya dari bawah sungai. Ia seperti tertarik pada anak yang sedang mengepakkan kakinya di pinggir sungai itu. Diam-diam ia mendekat ke arah Reina dan menarik kakinya.


“Aakhhh...!” teriak Reina berusaha berontak di dalam air.


“UHUK!! UHUK!!” Mulut Reina sudah banyak kemasukan air, dia kesulitan untuk bernafas dalam air. Samar-samar ia melihat seorang wanita berambut panjang menyeringai sambil menarik kakinya.


“Kak!! Reina tenggelam!” teriak Khalis melihat adiknya di tengah sungai.


Mendengar teriakan Khalis, Denny langsung menceburkan dirinya untuk menolong Reina. Dengan cepat ia menghampiri Reina dan berusaha menolongnya.


“Eh?! Apa ini? Kenapa tubuhnya sangat berat?” Denny kebingungan, namun ia masih berusaha menolong adiknya untuk muncul ke permukaan air.


“UHUK!! UHUK!!” Reina sempat ke permukaan mengambil nafasnya, namun kakinya masih di tarik wanita itu sehingga ia kembali masuk ke dalam air.


Denny kembali berusaha menolong adiknya, dia seperti menarik sesuatu yang sangat berat. Dia mengambil nafas dalam-dalam, lalu mencoba menyelam kedalam sungai. Alangkah kagetnya ia, kalau kaki adiknya ada sebuah tangan yang pucat berusaha menariknya.


“Ya, Allah... Tolong adikku!” gumam Denny dengan sekuat tenaga menarik Reina ke permukaan. Samar-samar ada sesuatu yang hitam dengan cepat mengarah mereka. Sosok hitam seperti asap itu menyerang sosok yang menarik kaki Reina, sehingga tangan itu melepaskan Reina.


Denny tak berpikir panjang lagi, kesempatan itu di ambilnya untuk menolong adiknya ke permukaan. Akhirnya ia berhasil membawa Reina ke tepi sungai. Mereka berdua terbatuk-batuk karena sudah banyak menelan air.


“kamu tak bisa berenang, kenapa main ke tengah-tengah sungai?” ucap Denny setelah mulai membaik.


“Reina tidak main ke tengah, kak. Aku duduk di pinggir sungai, lalu seperti ada yang menarik kakiku!”


“Menarik kakinya? Jadi waktu itu aku tak salah lihat,” batin Denny menatap wajah Reina yang sama sekali tak menunjukkan kebohongan di wajahnya.


“Apa jangan-jangan kamu tergelincir, lalu terbawa ke tengah sungai? Makanya belajar berenang! Biar gak tenggelam seperti tadi.” Sahut khalis dengan wajah kesal namun sebenarnya dalam hatinya sangat khawatir.


“Tidak! Reina yakin ada yang menarik kakiku saat aku main di pinggir sungai, lalu dia membawaku ke tengah sungai,” ucap Reina meyakinkan kakaknya.


“Sudah, sudah... Ayo lanjutkan mandinya. Sekarang kamu tak boleh main-main di pinggir sungai lagi ya.” Denny menepuk rambut Reina yang sudah basah.


“Apa kakak juga tak percaya padaku?”


“Kakak, percaya. Makanya kamu harus hati-hati, ya.” Ucap Denny sambil melemparkan sebuah senyuman kepada Reina agar adiknya percaya dengan ucapannya.


“Ayo, cepat selesaikan mandi kalian, lalu jangan terlalu lama main-main di sungai.”


“Cih! Kak Denny selalu saja membela Reina,” batin Khalis kesal ia mengernyitkan kedua alisnya sambil menatap Reina yang sedang memakai handuk ke kepalanya.


.


.


🌚🌚🌚


Hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga akhirnya hampir setahun Reina tak pernah lagi melihat Deemon. Tapi kalau sekedar kuntilanak atau penampakan lain, ia sering melihatnya, namun ia sengaja untuk pura-pura tak melihatnya.


“Deemon... Dimana kamu sekarang?” lirih Reina membatin sambil berbaring di ranjangnya menghadap ke tembok kamar.


Malam itu Reina memilih untuk tiduran langsung agar ia bisa langsung tertidur, berharap-harap kalau dia bisa terbang lagi dan bisa bertemu dengan Deemon.


“Rei... Reina?! Kamu sudah tidur?” Khalis menggoyangkan tubuh Reina.


Dengan malas Reina berbalik ke arah kakaknya.


“BAAA!!” Teriak Khalis menakut-nakuti dengan membungkuskan wajahnya pakai kain putih yang di atasnya ia ikat dengan karet gelang.


Berharap adiknya kaget dan berteriak, Khalis malah melihat wajah Reina yang datar dan tak bersemangat. Setelah melihat dirinya yang sudah berusaha menakut-nakutinya, adiknya kembali berbalik menghadap ke tembok kamar.


Khalis heran melihat adiknya yang sikapnya seperti itu, dia ingin menanyakan langsung pada Reina, namun ia urungkan niatnya. Khalis menghampiri kakaknya yang sedang duduk di meja belajarnya.


“Kak... Apa kakak sadar, kalau akhir-akhir ini sikap Reina berubah?”


Denny tak langsung menjawab, ia menoleh ke arah Khalis, lalu melihat ke arah Reina yang tiduran di ranjang menghadap tembok sambil memainkan jarinya seperti menggambar sesuatu di dinding tembok itu.


“Reina... Kamu lagi gambar apa?”


Reina langsung menghentikan jarinya, lalu dengan pelan ia menjawab.


“Bukan apa-apa kak.”


“Reina? Apa kamu ada masalah? Kamu kena pukul lagi?” kali ini Denny menghampiri Reina, ia duduk di bibir ranjang di ujung kaki Reina.


Reina hanya menggelengkan kepalanya sambil memeluk guling yang ada di sampingnya.


“Oh, iya. Aku lupa bilang sama kalian. Tadi ibu bilang kalau kakak Maya akan datang ke sini,” ucap Denny pada kedua adiknya.


“Benarkah?!” seru Khalis yang sudah ada di dekat mereka.


“Kakak Maya?” gumam Reina, ia penasaran lalu membangunkan diri dan duduk menatap Denny.


“Oh benar juga, Reina pasti lupa. Karena kakak Maya ketemu kamu saat kamu masih berusia 3 tahun.”


“Asyiik...!! Kali ini aku akan dapat hadiah apa ya? Hehe” tawa Khalis membayangkan kedatangan kakak perempuannya.


“Eh? Memangnya dapat hadiah apa?” Reina jadi penasaran mendengar Khalis mengucapkan kata hadiah.


“Biasanya kalau kakak Maya datang, dia selalu tanya rangking raport kita. Kalau kita dapat juara, kakak maya akan kasih kita hadiah!” Seru Khalis bersemangat.


“Tahun kemarin kan aku dapat juara 1, lalu aku di kasih hadiah tas loh! Itu tasku yang biasanya aku pakai, dapat hadiah dari kakak Maya!” ucap Khalis menambahkan.


“Rei Cuma dapat juara ke-3 apa juga dapat hadiah?”


“Tentu saja. Bukankah kamu itu termasuk prestasimu?!” Jawab Denny dengan tersenyum, sehingga membuat Reina jadi senang.


“Tapi aku yakin. Hadiahmu tak sebesar punyaku. Kamu kan hanya dapat rangking 3, sedangkan aku rangking 1. Hehe” Khalis mengejek Reina.


“Nanti juga aku akan mendapatkan rangking 1!” seru Reina bersemangat.


“Haha... Gak mungkin, yang ada nanti dapat rangking pertama dari bawah...” ejekan Khalis membuat Reina kesal. Lalu mereka saling lempar bantal dan memukul guling. Denny menghela nafasnya lega karena adik mereka sudah seperti biasanya. Walau saling lempar bantal, namun di wajah mereka tak menunjukkan rasa marah, malah menampakkan wajah bahagia mereka.


Denny pun tak tinggal diam, ia ikut bergabung bermain perang bantal sama kedua adiknya. Tak lupa ia berpesan pada kedua adiknya kalau tak boleh terlalu berisik, bisa-bisa Badrun datang memarahi mereka.


.


.


Bersambung.