The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 1 Lahirnya Reina



Reina Khairunnisa, yang di sapa dengan akrab dengan Reina. Usianya 5 tahun bertubuh kurus dan kecil, berkulit putih dan rambutnya panjang sepunggung yang selalu di biarkannya terurai. Dia sudah memasuki kelas 1 SD yang letak sekolahnya tak jauh dari rumahnya. Ya, sekolahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya.


Reina merupakan anak bungsu dari empat saudara, kakaknya yang paling sulung bernama Maya yang usianya 13 tahun yang bersekolah di pondok pesantren. Dia sangat menyayangi adik-adiknya, namun karena dia tinggal di pesantren, jadi dia sangat jarang sekali pulang ke rumah untuk ketemu dengan adik-adiknya.


Saudara Reina yang kedua bernama Denny, usianya 10 tahun, kelas 4 SD yang satu sekolah dengan adik-adiknya, ia terkesan cuek, namun sangat peduli terhadap adik-adiknya. Sebelumnya dia bukan anak yang cuek, namun karena kehadiran ayah tirinya, maka sikapnya pun jadi sangat berubah.


Saudara Reina yang ketiga bernama Khalis, ia merupakan kakak laki-laki yang suka sekali mengganggu Reina dan sering jail terhadapnya. Namun, di balik kejailannya dia tetap menyayangi adik perempuan satu-satunya itu. Lalu, semenjak kehadiran ayah tirinya, dia juga jadi sangat jarang menjaili adiknya. Usianya 7 tahun dan ia juga satu sekolah dengan Reina dan kakaknya, Denny.


Ibu Reina bernama Aminah, ia merupakan seorang janda yang di tinggal suaminya karena sang suami selingkuh dengan perempuan lain dan akhirnya menikah dengan selingkuhannya. Walau suaminya sudah menikahi perempuan lain, Aminah masih mempertahankan hubungan dengan suaminya itu demi anak-anaknya. Sehingga ia pun rela untuk di madu sebagai istri tua.


Aminah merupakan seorang guru SD di tempat anak-anaknya sekolah, walau seorang guru, gajinya hanya cukup untuk memenuhi kehidupannya dan anak-anaknya. Karena gajinya terlalu banyak potongan untuk membayar hutang untuk modal usaha suaminya.


Ayah Reina bernama Helmi, dia adalah seorang pengangguran, namun beberapa kali ibunya memberikan modal untuk ayahnya, selalu saja mengalami kerugian. Bukannya untung, malah membawa hutang.


Gosip-gosip tetangga bermunculan, kalau ayahnya sedang selingkuh dengan perempuan lain, bahkan sudah memiliki beberapa anak. Ya, suaminya selingkuh ketika kelahiran anaknya yang kedua, Denny. Dia sudah menikah siri dengan perempuan lain tanpa seizin Aminah.


Tibalah ketika Aminah mengandung Reina 2 bulan, Helmi benar-benar tak peduli lagi dengan Aminah, mengunjungi pun tidak atau sekedar menanyakan kabarpun juga tidak ada, apalagi memberi nafkah untuk anak-anaknya.


Aminah mengalami prustasi yang luar biasa, dia merasa hidup sebatang kara di kampung orang. Apalagi dia menghidupi anak-anaknya sendirian, jauh dari keluarganya. Ia putus asa, dan mau menggugurkan kandungannya, dia memakan nanas muda, minum jamu, bahkan dia hampir bunuh diri dengan meminum racun. Untungnya nyawanya di selamatkan oleh tetangga, sehingga dia berhasil di selamatkan oleh warga. Anehnya anak di dalam kandungannya pun juga masih selamat.


Untungnya warga di kampung tersebut sangat peduli dengan Aminah, mereka mengerti akan keadaan Aminah yang di tinggal suami, dan membiayai ketiga anak-anaknya yang masih kecil, bahkan mau menunggu kelahiran anaknya yang ke empat.


Tibalah Aminah mau melahirkan Reina, warga pun membantu Aminah dalam proses lahiran, bahkan ada yang pergi mencari suami Aminah di tempat istri mudanya yang jaraknya cukup jauh dari kampung itu.


Ya, Aminah melahirkan Reina tepat di tengah malam jum'at Kliwon, yang katanya di malam jumat itu termasuk malam yang cukup menyeramkan. Dan Author sendiri tak bisa menjelaskan, intinya malam jumat Kliwon itu malam yang cukup menakutkan 😁


Proses kelahiran Reina berjalan lancar, tepat setelah Helmi sang Ayah baru datang. meskipun sempat listrik padam saat bayi itu keluar dari rahim ibunya. Helmi pun menggendong bayi itu, dan entah dapat dari mana ia memberikan nama pada bayi itu dengan nama “Reina Khairunnisa”.


Aminah terbaring lemah, sementara Helmi menggendong anaknya, Helmi mengernyitkan dahinya, ia merasa heran dengan bayi tersebut.


“Aneh, bayi ini kenapa sangat putih bersih? Padahal aku ini hitam, bahkan Ibunya juga berkulit coklat,” ucap Helmi.


Beberapa warga pun menatap Helmi yang berkata seperti itu.


“Loh, bukannya bagus putrimu itu putih bersih, cantik lagi," ucap salah seorang warga.


“Jangan-jangan dia bukan anak kandungku?” ucap Helmi.


“Itu anakmu! Memangnya kenapa kalau kulitnya berbeda dengan kita? Dia tetap anakmu!” ucap Aminah sambil menangis.


“Kalau benar anakku, harusnya dia mirip dengan kita. Lihat! Dia sama sekali tak mirip! Coba lihat ke tiga saudaranya, tak ada kulitnya seputih bersih seperti anak ini! Jangan-jangan anak ini hasil dari hubungan gelapmu dengan laki-laki lain?!!” bentak Helmi.


“Tidak! Aku tak pernah berhubungan dengan laki-laki lain!” sanggah Aminah dengan tangisannya yang air matanya sudah membasahi kedua pipinya.


“Aminah benar, kami saksinya, selama kamu meninggalkan dia, dia tak pernah berhubungan dengan laki-laki lain, yang berhubungan dengan orang lain itu kamu!!” bentak seorang warga.


“Benar! Laki-laki macam apa kamu?! Sudah tak bertanggung jawab, tak mengakui anak kandungmu lagi.”


“Benar! Kamu keterlaluan! Aminah baru melahirkan, kamu dengan lantangnya tak mengakui anakmu, bahkan saat mengandung anakmu sendiri, kamu tak pernah menjenguk dia!” teriak warga lain.


Helmi terdiam, karena ucapan warga memang benar. Dia menaruh bayi itu di samping Aminah. Kemudian pergi meninggalkan Aminah tanpa sepatah katapun. Tentu saja kelakuan Helmi itu membuat tetangga geram. Namun tak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan Aminah.


Kelahiran Reina membuat Aminah kurang menyayanginya, dia kurang peduli dengan Reina. Bahkan Aminah pernah meninggalkan Reina saat berumur 2 bulan di rumah sendirian. Sementara Aminah pergi ke sekolah untuk mengajar. Beberapa guru kadang mempertanyakan Aminah dengan anaknya, “Reina di rumah sama siapa?” tanya seorang guru lain. Aminah tak menjawab, namun ketika jam istirahat, ia pulang melihat Reina.


Anehnya ketika Aminah pulang, Reina tak menangis, bahkan juga tak tidur. Ia seperti bermain dan mengoceh sendiri.


“Kenapa kamu tertawa?” gumam Aminah sambil menatap Reina. Reina hanya tertawa dan tangannya bergerak-gerak seolah-olah ingin minta di gendong.


“Apa kamu senang hidupku menderita?” tanya Aminah lagi. Tentu saja Reina hanya mengoceh dengan suara bayinya.


“Gara-gara kamu lahir, aku berpisah dengan suamiku! Aku bahkan mau menggugurkanmu! Tapi kenapa kamu masih hidup?!” geram Aminah dengan isak tangisannya.


Reina lalu ikut menangis, entah karena ia melihat ibunya yang sedang menangis atau karena haus.


⭐⭐⭐


Perasaan Aminah terhadap Reina tak menentu, kadang ia sayang sama anaknya, namun terkadang ada rasa benci pada Reina. Bahkan dia ingin sekali melenyapkan Reina, karena teringat mantan suaminya yang tak mengakui keberadaan Reina.


Untuk menghindari perasaan bencinya, Aminah sering menitipkan anaknya pada warga di kampung tersebut, yang jarak rumahnya tak terlalu jauh dengan rumah Aminah.


Tentu saja Reina di terima baik oleh warga itu, sebut saja namanya Ibu Faridah, atau biasanya di panggil Bu Idah. Ia sangat menyayangi Reina seperti anak kandungnya sendiri.


Namun Ibu Faridah tak bertahan lama mengasuh Reina, hanya bertahan 2 sampai 3 hari, ia mengembalikan Reina ke Aminah.


“Loh, kenapa? Apa Reina rewel? Biasanya dia jarang menangis,” kata Aminah sambil menggendong Reina.


“Ah, tidak... Reina memang anteng kok anaknya, tapi...” Ibu Faridah tak bisa melanjutkan kata-katanya, dia seperti berfikir keras untuk berkata pada Aminah.


“Tapi kenapa, Bu?” tanya Aminah penasaran.


“Gak, bu... Reina lebih cocok sama ibunya, sudah dulu ya, bu... Aku pulang dulu,” kata Ibu Idah bergegas meninggalkan Aminah.


Aminah menghela napasnya dengan berat, ia menatap Reina yang tertawa melihat Aminah.


Aminah lalu mencoba menitipkan Reina sama warga lain, tentu saja awalnya mereka menerima sangat baik sama Reina. Namun lagi-lagi Reina di kembalikan sama ibu kandungnya.


Aminah mulai prustasi, mungkin ia mengalami baby blues, setiap kali meliat Reina ia jadi kesal dan membencinya. Apalagi dia hidup tak di dampingi keluarganya dia hidup hanya bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil.


Aminah lalu pergi ke sungai membawa Reina, yang letaknya kurang lebih sekitar 300 meter dari rumahnya. Ia meletakkan Reina di balik rerumputan yang tinggi, sehingga kalau di lihat dari balik rumput tak ketahuan di sana ada bayi, kecuali bayi itu menangis barulah ketahuan.


Aminah bergegas pergi meninggalkan Reina yang beralaskan kain sarung, tak ada tangisan dari Reina. Apalagi siang itu, suasana di sungai itu cukup sepi, jadi masih tak ada yang tahu perbuatan Aminah.


Tiba di rumah, Aminah menghela nafasnya, ia merasa lega. Namun ada juga perasaan khawatir di benaknya, entah itu insting seorang ibu, namun dia juga merasa tak peduli lagi terhadap Reina.


“assalamualaikum...!!” teriak seseorang di luar rumah. Aminah segera ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


Alangkah kagetnya ia, ternyata yang datang ternyata anak perempuan sulungnya, Maya, sambil menggendong adiknya Reina.


“Ibu kenapa bisa lupa, sih?! Untung Maya tadi ke sungai mau mandi sama teman-teman, lalu lihat Reina di tepi sungai. Untungnya Reina gak jatuh ke sungai,” ucap Maya yang dia kira ibunya lupa meninggalkan Reina di sungai.


“Apa?! Di tepi sungai? Tidak! Aku menaruhnya di balik semak belukar,” batin Aminah kaget mendengar penjelasan putri sulungnya.


“Maaf, ibu lupa...fikiran ibu akhir-akhir ini sering lupa,” ucap Aminah sengaja berbohong dengan putrinya.


Maya menyerahkan Reina pada Ibunya. Aminah terpaksa menerimanya, ia menatap Reina dengan dalam. “Apakah aku harus merawat anak ini? Tentu saja, dia kan anakku...ya, anak yang tak di akui ayah kandungnya sendiri,” ucap Aminah dalam hati sambil menatap Reina.


4 tahun kemudian...


Reina jadi tumbuh besar, tak terlalu besar sih, namun tumbuh seperti anak normal biasa, anaknya periang dan mudah bergaul. Walau dia masih belum pernah mengenal Ayahnya, namun tak membuatnya mencari atau menanyakan tentang ayahnya, mungkin dia masih belum mengerti.


Banyak yang menyukai dia, tak hanya anak seumuran dia, bahkan orang dewasa pun juga menyukainya.


Di umur Reina 4 tahun inilah ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki yang berperawakan tubuh pendek, dan ada sebuah tanda dengkul di punggungnya sebesar kepala bayi.


Entah apa yang membuat Aminah menyukai laki-laki seperti itu. Padahal laki-laki tersebut umurnya 8 tahun lebih muda dari Aminah dan juga hanya seorang laki-laki pengangguran biasa.


Sebenarnya pernikahan Ibunya di tentang keras oleh Maya, kakak sulung Reina. Tapi karena jadwal pernikahan ibunya sudah di tentukan oleh pihak keluarga, sehingga pernikahan ibunya tetap di laksanakan.


Sehingga akhirnya Reina dan kakak-kakaknya memiliki Ayah tiri yang kejam bagi mereka. Walau awalnya tak kejam, semakin lama Ayah tirinya tinggal bersama mereka, perlakuannya pada anak-anak tirinya semakin kejam.


*****Jangan lupa ya Readers untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya...🤗


klik Fav❤️ juga*****...