
Jangan lupa untuk tap Like dan Ratenya...
🌚Selamat Membaca🌚
Azan Subuh berkumandang, suara ayam pun sudah bersahutan, meski sang mentari belum memancarkan sinarnya.
Seperti biasa Denny membangunkan kedua adiknya sebelum Ayah tirinya yang duluan membangunkan mereka.
Dengan sedikit berat Reina bangun, dia masih sangat mengantuk karena begadang dengan 'teman' barunya.
“Ayo, jangan malas. Cepat berwudunya,” ucap Denny.
Reina menuruti perkataan kakaknya walau ia sangat malas melakukannya, karena airnya sangat dingin di waktu subuh.
Mereka sholat subuh berjamaah yang di imami oleh Denny. Usai sholat subuh, mereka pergi ke sungai seperti biasa.
Reina mengikuti kedua kakaknya di belakang, sambil membawa handuk dan baju gantinya. Sesekali ia menguap karena masih mengantuk.
Khalis menoleh ke belakang melihat Reina yang sedikit tertinggal dari kedua kakaknya.
“Kak, tadi malam aku lihat Reina sedang bicara sendiri. Waktu aku tanya, katanya dia sedang menghafal sesuatu,” bisik Khalis pada Denny.
“Ya bisa saja kan dia memang beneran lagi menghafal pelajarannya."
“Tapi kurasa dia bukan seperti menghafal, tapi terlihat sedang bicara sama orang lain."
“Hah?! Jadi maksudmu adik kita sudah gila, yang bicara sendiri?”
“Bisa jadi...” lirih Khalis.
“Huss... Masa kamu menganggap adikmu sendiri gila?” ucap Denny.
“Kalau tak gila, terus apa? Jelas-jelas aku lihat dia bicara sendiri tadi malam,” ucap Khalis dengan serius.
Denny menghela napasnya, ia menghentikan langkah kakinya lalu menatap Reina yang sedikit tertinggal di belakang.
“Ada apa, kak?” tanya Reina menghampiri kedua kakaknya.
“Tadi malam kamu bicara sama siapa?” tanya Denny.
“Sama kak Khalis...” ucap Reina datar.
“Hei! Sebelum denganku. Kamu bicara sama siapa? Terus waktu itu aku pura-pura tidur, aku lihat kamu sedang bicara dengan seseorang!” bantah Khalis kesal.
“Mungkin kak Khalis sedang bermimpi...” ucap Reina datar.
“Tidak mungkin aku bermimpi!! Jelas-jelas aku...”
“Sudah! Sudah... Tak usah di perpanjang lagi! Ayo kita mandi dulu” ucap Denny menengahi kedua adiknya.
Reina tersenyum pada Khalis yang masih kesal padanya. Khalis menggerutu kesal, lalu memalingkan wajahnya.
“Kamu benar hitam. Kak Khalis melihat kita tadi malam," bisik Reina pada sosok hitam di sampingnya.
“HAHA.... Benarkan?! Jadi mulai sekarang kamu tak perlu menceritakan apa yang kamu lihat pada orang lain. Kamu paham kan, bocah?!”
“Baiklah, hitam.” ucap Reina tersenyum.
“JANGAN PANGGIL AKU HITAM!! JELEK SEKALI PANGGILAN ITU!”
“Lalu apa?!”
“Reina! Kenapa jalanmu pelan sekali? Ayo cepat!” Denny memanggil Reina yang jarak jalan mereka sedikit agak jauh.
“Iya, tunggu!” Reina berlari kecil menghampiri kedua kakaknya. Lalu mereka bertiga berjalan beriringan. Reina menoleh ke belakang dan menatap makhluk hitam yang sempat dia ajak bicara. Kemudian ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Makhluk hitam menatap Reina yang sedang tersenyum itu.
“Baru kali ini ada anak manusia yang menatapku sambil tersenyum. Biasanya mereka memasang wajah ketakutan."
.
.
*di sekolah*
“Reinaa!!!” Teriak Aida ketika baru datang ke kelas ia langsung menyapa Reina.
Aida duduk di samping Reina, ia mengatur napasnya lalu bertanya.
“Rei... Apa kemarin kamu melihat sesuatu lagi?” seperti biasa, dia selalu bersemangat kalau ada masalah tentang hantu.
“Tidak ada lihat apa-apa,” jawab Reina berbohong.
“Aku sudah janji sama si Hitam, kalau aku tak boleh menceritakan kemampuanku yang bisa melihat hantu” batin Reina.
“Yahh... Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali mendengar cerita darimu.”
Reina hanya tersenyum mendengar keluhan Aida.
.
Jam istirahat tiba, hampir semua murid di sekolah itu keluar dari kelas. Ada yang jajan, bermain, atau ada yang tetap di kelas sambil belajar.
Reina keluar kelas bersama sahabatnya Aida dan Sari. Mereka keluar bukan untuk jajan, tapi cuma duduk di ujung teras sekolah sambil menikmati angin yang berhembus pelan.
“Aku jajan sebentar, ya... “ ucap Sari berdiri.
“Jajannya yang banyak ya!” teriak Aida.
Sari tak menyahut, ia berlari kecil menuju arah kantin. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa jajan yang cukup banyak.
“Nih, buat camilan kita.”
“Wahh... Makasih banyak Sari” ucap Reina dan Aida hampir bersamaan.
“Reina! Habis sepulang sekolah, main ke rumahku lagi, yuk!” seru Aida.
“Eh, kenapa aku tak di ajak?” sungut Sari.
“Kalau kamu mau ikut, ya datang saja.”
Reina terdiam, dia jadi teringat dengan hukuman yang dia dapat dari Ayah tirinya setelah pulang dari rumah Aida.
“Maaf, Ai... Sepertinya aku tidak bisa” ucap Reina pelan.
“Eh, kenapa? Padahal Sari juga mau ikut. Makin banyak orangnya, makin seru.” Sahut Aida.
“Apa kamu tak mau aku ikut main sama kalian?” ucap Sari dengan sedih.
“Membantu apa?” tanya Aida penasaran, begitu juga dengan Sari jadi ikut penasaran.
“Jualan keliling...”
“Eh?! Jualan sehabis pulang sekolah?” tanya Aida sedikit terkejut.
“Iya...” ucap Reina lemah dengan menundukkan wajahnya.
Aida dan Sari saling pandang, lalu mereka mencoba memahami perasaan Reina.
“Tak apa Reina... Setidaknya kamu bisa main bersama kami saat di sekolah.” Aida dan Sari tersenyum pada Reina.
Reina membalas senyuman mereka, namun senyumannya beralih dengan wajah kagetnya ketika ia melihat di belakang kedua temannya seorang anak kecil yang seumuran dengan mereka dan berwajah pucat juga tersenyum ke arahnya.
“kamu kenapa, Rei?” tanya Sari melihat wajah Reina berubah.
“Ah, ti...tidak... Kita ke kelas, yuk.”
“Baiklah...” sahut kedua temannya hampir bersamaan.
.
.
🌚🌚🌚
“Kak, Reina ikut kakak jualan, ya” ucap Reina pada Denny yang baru datang sekolah.
“Hah?! Kenapa? Kamu istirahat saja di rumah. Lagi pula di luar panas, nanti kamu malah gosong lagi.”
“Biarin aja kak dia ikut dan jadi gosong! Atau kita tukeran, kamu yang jualan aku di rumah.” ledek Khalis.
“Kalau di rumah Reina kena pukul, Reina takut kak. Padahal Reina sudah mengerjakan apa yang dia suruh.” Ucap Reina dengan suara yang bergetar, ia ingin menangis namun ia tahan.
Denny dan Khalis terdiam mendengar keluhan adiknya. Jadi selama ini, adiknya walau pun tak bekerja di luar, tapi dia bekerja di rumah. Bahkan kena pukulan dari laki-laki itu.
“Sialan! Laki-laki itu padahal sudah menyuruh kami bekerja. Tapi adik kami yang masih kecil pun, dia suruh bekerja dan di siksa,” batin Denny mengepalkan kedua tangannya.
“Baiklah, kalau begitu kamu ikut kakak, ya.” Denny menepuk rambut Reina, Reina hanya mengangguk.
.
.
Denny meminta ijin kepada ibunya untuk membawa Reina pergi berjualan bersama mereka. Namun alangkah kagetnya Denny mendengar jawaban dari ibunya.
“Terserah...” ucap Aminah datar.
“Wah, bagus! Kalau begitu tambah aja jualannya, suruh dia bawakan es pakai termos kecil.” Sahut Badrun yang ikut mendengar jadi bersemangat.
“Tidak, Reina hanya ikut bersamaku, bukan untuk berjualan.” Sanggah Denny cepat.
“Apa?! Percuma dong membawa dia tapi tidak ikut jualan. Kalau begitu lebih baik dia di rumah saja” geram Badrun kesal mendengar ucapan Denny yang selalu menentang perkataannya.
“Oh, benar juga. Lebih baik Reina di rumah saja, kan kasihan dia ikut bersamamu panas-panasan. Lagi pula dia masih kecil.” Ucap Aminah.
“Apa?! Kasihan?! Ibu sendiri apa tak tahu atau tak mau tahu kalau anak kalian di siksa laki-laki itu? Apa kamu tak kasihan melihat kami?!” geram Denny dalam hatinya sangat kesal.
“Kalau dia di rumah laki-laki itu akan menyiksanya.” Denny menatap tajam ke arah Badrun.
“Baiklah, Reina akan kusuruh membawakan termos es kecil. Dia akan kusuruh ikut berjualan.” Ucap Denny pasrah. Dia tak ingin adiknya di rumah di pukuli, lebih baik dia membawa Reina bersamanya.
.
.
“Reina... Kamu bisa kan bawa termos es kecil ini buat kita jualan?” tanya Denny pada Reina.
Reina tak langsung menjawab, ia langsung mengangkat termos kecil yang berisi es lilin.
“Bisa, nih!” seru Reina.
Denny tersenyum pada adiknya.
“Baiklah, kamu sudah siap, kan?”
Reina mengangguk.
“Ayo kita berangkat,” ucap Denny pada kedua adiknya.
Mereka berjalan beriringan, Denny membawa dua nampan yang lumayan besar berisi kue yang masih hangat. Sedangkan Khalis membawa termos es yang juga lumayan besar.
.
.
“Hei, adik-adik! Sini sebentar!” teriak seseorang. Ketiga bersaudara itu menoleh ke sumber suara. Tampak seorang ibu tersenyum ke arah mereka di depan rumahnya yang cukup besar walau hanya terbuat dari papan kayu Ulin.
Ketiga bersaudara itu mendatangi ibu itu.
“Aduh, kalian ini kecil-kecil sudah bisa jualan sendiri. Kalian jual apa?”
“Ini tante...” jawab Denny singkat sambil membuka isi nampannya dan juga membuka tutup termos es.
“Wah, kelihatannya enak. Masih anget lagi. Aku beli, ya. Tunggu sebentar, aku ambil piringku dulu.” Ucap ibu itu ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa piring. Ia mengambil beberapa kue dan juga es.
“Ini uangnya...” ucap Ibu itu menyerahkan uang selembar sepuluh ribuan.
“Maaf, tante... Tante adalah orang pertama yang membeli jualan kami siang ini. Jadi kami tak ada kembalian uangnya. Apa tante ada uang pas saja?” ucap Denny.
“Tak apa... Sisanya buat kalian saja.” Sahut ibu itu tersenyum.
“eh?!” ketiga bersaudara itu terkejut.
“Apa tak apa? Soalnya kembaliannya masih banyak. Atau tante mau ambil lagi kue atau esnya?” ucap Denny merasa tak enak menerima.
“Jangan, kalau tak habis aku makan, nanti malah mubazir kan?! Udah...terima saja.”
“Ka...kalau begitu terima kasih.” Ucap Denny.
Denny berpamitan dengan ibu itu, lalu Denny melanjutkan jualan mereka bersama kedua adik-adiknya.
.
.
Bersambung...