
Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Komment ya kak... 🤗🤗🤗
.
.
(◠‿◕) Selamat membaca (◠‿◕)
“Demon? Siapa itu?” Khalis penasaran begitu juga dengan Denny.
“Ah, gawat. Aku keceplosan,” batin Reina langsung menutup mulutnya.
“Reina... Apa ada yang kamu sembunyikan?” Denny menatap Reina.
Reina menggelengkan kepalanya, ia tak ingin menceritakan rahasianya tentang Deemon.
“Hayoo... Pacar kamu ya?” tebak Khalis sambil mengejek.
“Hah? Pacar? Pacar itu apa?”
“Lis, kau jangan mengajarinya macam-macam. Lalu Reina, siapa Deemon itu?” Denny mengernyitkan kedua alisnya menatap Reina.
“Itu... Rei udah janji kak. Katanya Rei gak boleh cerita sama orang lain.” Reina menunduk tak berani menatap wajah kakaknya sambil meremas ujung bajunya.
“Baiklah, aku tak akan menanyakannya lagi. Asal kamu tak melakukan yang aneh-aneh itu sudah tak apa. Ayo lanjutkan belajar kalian, kalau tak paham bisa tanyakan pada kakak.” Denny memalingkan tubuhnya menghadap meja belajarnya.
Reina kembali dengan buku tulisnya yang ada di ranjang, ia sambil tiduran membaca buku itu. Khalis menatap Reina, dari tadi ia masih penasaran maksud adiknya itu.
Khalis ikut tiarap di samping adiknya yang sedang menggambar di buku tulisnya.
“Hei! Apa benar kamu bisa lihat hantu?” bisik Khalis.
Reina tak langsung menjawab, ia menatap Khalis yang jaraknya sangat dekat dengannya.
“Kenapa kakak mau tahu?”
“Ya.”
“Beli aja di pasar, banyak orang jualan tahu...hihihi,” tawa Reina sambil menutup mulutnya.
Ctak!!
Khalis kesal dengan jawaban Reina, langsung menjitak dahi adiknya.
“Aduuhh...” rintih Reina sambil mengusap dahinya.
“Di tanya serius, jawabannya malah bikin orang emosi,” ucap Khalis dengan kesal, ia kembali duduk dengan bukunya sambil bersandar di dinding kamar.
Rasa penasaran Khalis masih terbayang di kepalanya, ia sesekali mengintip adiknya yang sedang asyik menggambar sesuatu dengan buku tulisnya.
“Rei...” Khalis memanggil adiknya lagi dengan pelan.
“Hm?” jawab Reina sambil asyik menggambar.
“Kalau kamu bisa lihat hantu, apa yang kau lihat di belakangku?”
Reina menoleh ke arah kakaknya, “Hmm, ada putih-putih...”
“HIIII!!!” Spontan Khalis melompat dan berteriak, ia langsung menghampiri kakaknya, Denny yang sedang duduk di meja belajarnya.
“Kak, ternyata benar. Reina bisa lihat hantu!” seru Khalis memegang lengan kakaknya.
“Lis, kamu itu cowok, masa cowok takut sama hantu?” Denny menatap Reina yang senyum-senyum melihat Khalis yang ketakutan.
“Reina! Yang kamu katakan bohong kan?”
“Rei gak bohong kak, hihihi...”
“Tuh, di belakang kak Khalis kan ada dinding cat putih, hehehe.” Tawa Reina sambil menutup mulutnya.
“Tuh, lihat. Jadi kamu takut sama tembok dinding kita yang bercat putih?” ucap Denny tersenyum pada Khalis.
Khalis merasa kesal karena merasa di permainkan sama adiknya, ia langsung menyambar Reina dan mencubit kedua pipinya.
“Sialan! Kamu berani menjebakku? Nih makan! cubitan kepiting raksasa memakan kedua pipimu!”
“Aduduh... Kak! Maaf... Sakiit... Kak Denny tolong Rei...” rintih Reina.
Denny tersenyum melihat kedua adiknya, lalu ia meletakkan pulpen di tangannya dan menutup buku belajarnya.
“Siap-siap ya... Aku sang buaya akan memakan kalian. Wuaaargghh...!” Denny menirukan tangannya seperti mulut buaya, berpura-pura mau menerkam kedua adiknya.
“Rei, awas! kita akan tangkap buayanya!” Seru Khalis menghindari kakaknya yang merayap di ranjang menirukan buaya yang sedang berjalan di daratan.
“Rei berhasil menangkap buayanya!” Seru Reina menindih punggung Denny dan memegang rambut kakaknya sebagai pegangan.
“Bagus Rei!” Seru Khalis, ia segera ikut menindih tubuh kakaknya.
“Sekarang buayanya sudah kita tangkap! Ayo buaya, bawa kami jalan-jalan!” Seru Khalis sambil mengarahkan tinjunya ke atas.
Denny hanya tersenyum, dan mencoba merayap semampunya.
“Hei, kalian berat! Mana bisa aku membawa kalian berdua sekaligus.”
“Rei? Apa kamu mendengar ada orang bicara?” tanya Khalis seolah berpura-pura tak mendengar Denny bicara. Khalis memberi kode pada Reina agar mengikuti sandiwara Khalis.
“Aku tak dengar apa-apa tuh.” Sahut Reina sambil menggelengkan kepalanya.
“Hei, kalian sengaja ya? Pura-pura tak dengar...”
Reina dan Khalis tak menghiraukan suara Denny, mereka asyik tertawa di atas punggung kakaknya.
“Siap-siap ya... Awas jatuh..” Denny mengangkat punggungnya sambil menggoyangkan tubuhnya.
“Awas jatuh Rei! Pegang kuat-kuat!”
Reina semakin menjambak rambut Denny agar tak jatuh dari punggung kakaknya.
Brukk!!
Khalis sudah terjatuh dari punggung Denny, untungnya mereka bermain di atas ranjang. Jadi tak akan sakit jika adiknya jatuh dari punggung kakaknya.
“Sisa satu lagi, ya,” gumam Denny, dan dengan mudahnya ia membalikkan keadaan. Karena tubuh Reina masih sangat ringan, Denny membalikkan tubuhnya sehingga Reina langsung terbaring di ranjang.
“Sekarang kakak akan menerkammu adik kecil, hehe,” Tawa Denny menyeringai mengancam adiknya seolah-olah siap mau menerkam Reina.
“Huaa... Kak Khalis.. tolong Reina!”
“Siap! Aku datang menyelamatkanmu!” seru Khalis mau menunggang punggung kakaknya lagi.
Namun Denny berhasil menghindari Khalis, sehingga Khalis terjatuh di dekat Reina. Dengan cepat Denny menaruh bantal di atas dada Khalis dan menahannya dengan sebelah kakinya.
“Sekarang tak ada yang menolongmu lagi adik manis...” seringai Denny menatap Reina.
“Dan terimalah setruman dari jari-jariku ini...!!” seru Denny mengklitikan jarinya ke pinggang Reina.
“Ahahaha... Ahihihihi...” tawa Reina tak bisa di tahan saat kakaknya memainkan jarinya ke pinggang Reina.
“Ahahaha.... Ampun kak... Hihihi...!”
Khalis berhasil melepaskan diri dari, lalu mau menyerang Denny.
“Oh, kamu juga mau kena setrum?” Dengan mudahnya Denny menangkap Khalis lalu melakukan hal yang sama seperti Reina.
“Ahahaha... A-ampun kak...! Geli kak...” tawa Khalis sambil berusaha melepaskan diri dari kakaknya.
“Ayo Rei! Apa kamu juga mau ikut menyetrum Khalis?” Ucap Denny sambil menahan tubuh Khalis.
“Baiklah, kak... Aku bersiap menyetrum Kak Khalis..!!” seru Reina bersiap menyerang.
“HEI KALIAN BERISIK!!” Bentak Badrun tiba-tiba masuk ke kamar.
PLAKK!
PLAKK!
PLAKK!
Masing-masing dari tiga bersaudara itu mendapat sebuah pukulan keras di wajah mereka.
“DARI TADI AKU DENGAR KALIAN KERJAANNYA BERISIK TERUS! KALAU KALIAN MAU MAIN, KALIAN KELUAR SAJA DARI RUMAH INI!”
Ketiga bersaudara itu menunduk, seperti biasa kalau Badrun marah, mereka tak ingin menjawab apalagi membalas ucapan yang keluar dari mulut Badrun. Itu hanya membuat mereka menambah masalah.
Reina sedikit mengintip ke arah Badrun, ia sedikit kaget karena melihat di belakang Badrun ada sosok merah yang ia lihat tadi sore.
Reina langsung menundukkan wajahnya karena merasa terancam akan kena pukul lagi.
Melihat adiknya yang akan kena pukulan lagi, dengan cepat Denny melindungi Reina dengan memeluknya.
PLAKK!
Pukulan Badrun mengenai Kepala bagian belakang Denny.
Mata Reina berkaca-kaca melihat kakaknya yang kena pukul. Rasa sesak di dadanya karena menahan tangisannya.
“Sstt...” bisik Denny menyuruh adiknya tetap diam dan tak menangis.
“SIAL! INI LAGI BERANI SEKALI MENGHALANGIKU!!” Badrun langsung menendang punggung Denny.
DUAKK!
Brughh!
Denny langsung terkapar menindih tubuh Reina. Untungnya mereka jatuhnya di atas ranjang, sehingga tak membuat Reina kesakitan. Hanya saja Denny yang merasakan sakit di punggungnya.
Setelah memberikan tendangan itu, Badrun keluar kamar.
“Hiks...hiks... “ isak tangis Reina mulai terdengar, air matanya tumpah membasahi kedua pipinya.
“Ssstt... Sudah, jangan nangis. Dia sudah pergi, tenanglah...” ucap Denny menenangkan adiknya.
“Kak Denny tak apa-apa?” Khalis khawatir lalu mengelus punggung kakaknya.
“Sudahlah, aku tak apa...” bisik Denny menoleh ke arah Khalis yang ternyata air matanya sudah keluar.
“Kenapa kamu ikut nangis? Masa cowok nangis?”
“Aku tak nangis! Hanya kemasukan debu” ucap khalis beralasan sambil mengusap kedua matanya.
“Tadi sepertinya kaki laki-laki itu berdebu saat menendang kakak. Lalu debunya terbang ke mataku.” Lanjut Khalis lagi berbohong.
Denny tersenyum mendengar kebohongan adiknya. Ia mematikan lampu kamar lalu mengambil posisi di tengah ranjang.
“Sudahlah, ayo kita tidur. Kali ini kakak yang di tengah ya.” Ucap Denny sambil berbaring di tengah-tengah ranjang.
Reina pun ikut berbaring di sebelah kakaknya sambil memeluk guling.
“Tapi Reina belum ngantuk.”
“Aku juga belum ngantuk,”sahut Khalis sambil ikut berbaring di sebelah Denny.
“Kalau begitu, apa kalian mau dengar cerita?”
“Cerita apa?” sahut Reina penasaran, ia mengubah posisi berbaringnya dengan menghadap ke arah Denny.
“Jangan bilang kancil dan buaya. Aku sudah bosan dengarnya.” Sahut Khalis dengan memajukan bibir bawahnya.
Denny menghela nafasnya, “lalu mau cerita apa?”
“Cerita yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.” Ucap Khalis ketus.
“Hei, kakak bertanya sama Reina, bukan sama kamu. Reina, kamu mau di ceritakan apa?”
“Mau cerita yang berbeda dari sebelumnya kak.” Ucap Reina mengikuti ucapan Khalis.
“Haahhh... Kalau begitu tak ada cerita malam ini, kalian tidur saja.” Sahut Denny dengan pura-pura memejamkan matanya.
“Tadi katanya mau cerita...” rengek Reina sambil menggoyangkan tubuh Denny.
“Kakak lagi kehabisan bahan cerita buat kalian.” Sahut Denny.
“Nanti kakak pinjam buku di perpustakaan deh buat kalian.” Lanjut Denny lagi.
“Kalau gitu kita main dulu, gimana?” ucap Khalis.
“Main apa?!” tanya Reina bersemangat mendengar kata main.
“Hei, hei, ini sudah malam. Kalian malah mau main? Kalian lupa apa yang sudah terjadi saat kita main tadi?” sahut Denny menghentikan niat kedua adiknya.
“Kita main tebak-tebakan aja kak, jadi gak akan berisik.” Sahut khalis.
“Main tebak-tebakan? Baiklah... Kalau gitu kakak duluan yang memberikan pertanyaan untuk kalian, boleh kan?” ucap Denny tersenyum sambil menatap langit-langit kamar.
“Boleh.” Sahut Reina dan Khalis hampir bersamaan, posisi mereka berbaring menghadap Denny yang ada di tengah-tengah mereka.
“Aku mau tanya, cita-cita kalian apa?”
“Hah?! Pertanyaan apa itu? Itu bukan tebak-tebakan namanya.” Sahut Khalis.
“Jawab saja...”
“Hmm... Aku mau jadi guruu!” Seru Reina bersemangat, tapi dengan suara yang pelan tentunya.
“Wahh, cita-cita Reina bagus juga. Lalu kamu inginnya jadi guru apa?”
“Eh? Guru apa ya? Memangnya guru itu ada macamnya?”
“Tentu saja! Ada guru olah raga, guru agama, guru bahasa. Kamu kan sudah sekolah, masa kamu tak tahu?” sahut Khalis ketus.
“Aku jadi guru wanita saja.” Sahut Reina dengan polos.
Denny tertawa kecil mendengar jawaban Reina yang polos.
“Hei, padahal sudah aku jelaskan, tadi...” kalimat Khalis terhenti saat Denny menengahinya.
“Sudah, sudah... Kalau kamu, apa cita-citamu Lis?”
Khalis terdiam beberapa saat, seperti berpikir keras. Denny dan Reina sabar menunggu jawaban dari Khalis.
“Aku...”
“Aku ingin jadi penjahat kak.” Ucap Khalis datar.
“Eh, penjahat?” Reina heran.
Denny hanya terdiam dan ikut kebingungan mendengar jawaban adik laki-lakinya itu. Dia melirik wajah Khalis yang datar sambil menatap langit-langit kamar.
“Apa maksudmu, Lis? Kenapa kamu mau jadi penjahat?”
“Aku ingin jadi penjahat, agar aku bisa menghajar laki-laki itu.” Lanjut Khalis lagi sambil mengarahkan tinjunya ke atas langit-langit.
Denny tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar ucapan adiknya. Dia mengerti perasaan adiknya karena perlakuan ayah tirinya, sepertinya adiknya itu jadi pendendam. Namun, karena mereka masih kecil, jadi mereka tak bisa melawannya.
Denny jadi teringat ketika adiknya yang berani mengarahkan pisau ke arah ayah tirinya, apakah itu yang membuatnya berkata ingin menjadi seorang penjahat?
“Kalau begitu, kak Denny yang jadi polisinya dong!” Seru Reina pelan, membuat Denny tersadar dalam lamunannya.
“Hah?! Kenapa kamu seenaknya menentukan cita-cita kak Denny?” sahut Khalis kesal.
“Biar kak Denny yang menangkap kak Khalis.”
Denny tersenyum lagi mendengar kedua adiknya berdebat.
“Sudah-sudah... Sekarang aku tahu cita-citaku. Aku ingin jadi orang yang bisa membuat kalian jadi orang yang hebat tanpa harus jadi penjahat.”
“Jadi kakak melarang cita-citaku?” gerutu Khalis.
“Lis, kamu tak perlu jadi penjahat untuk membalas perbuatan laki-laki itu.”
“Tapi...”
“Lis, ada banyak cara untuk membalas perbuatan laki-laki itu tanpa kamu harus jadi seorang penjahat dan aku tak ingin adikku jadi seorang penjahat hanya karena dendam. Apa kamu mengerti?”
“Baiklah kak...” sahut Khalis pasrah.
“Sudah, sekarang waktunya tidur. Kakak sudah ngantuk, pejamkan mata kalian, lalu tidur,” ucap Denny mengakhiri pembicaraan, lalu menutup kedua matanya.
Khalis mengubah posisi tidurnya, ia mengarah dengan membelakangi kakaknya.
Reina mulai menguap sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar. Lalu ia juga mengubah posisi tidurnya menghadap tembok kamar, lalu memejamkan matanya untuk berusaha tidur.
.
.
BERSAMBUNG...