
***Jangan lupa, tap Like dan Rate nya...
Selamat membaca***...😘
Reina menyambut kedua kakaknya, dia kaget melihat kakaknya yang terluka. Denny dengan segera menanggapi kalau mereka tak apa-apa agar adiknya itu tenang.
“Ada apa?! Kalian kenapa?” Tanya Aminah kaget melihat kedua anaknya babak belur.
Badrun juga keluar melihat kedatangan kedua anak itu, ia melihat kedua anak itu babak belur, tapi ia tak peduli dengan kedua anak itu.
Perhatiannya tertuju pada kue yang di bawa pulang oleh mereka yang kotor bercampur pasir dan tanah.
“Kenapa jualan kalian ada tanahnya?!” Geram Badrun.
Denny menghela nafas, lalu menjawab pertanyaan Badrun.
“Itu bekas jatuh.”
“APA?!!” bentak Badrun kaget.
“Kamu kira ibumu membuatnya tanpa modal apa?!” bentak Badrun.
“Mana uangnya?! Mana uang hasil jualan kalian?!!”
Denny merogoh sakunya dan mengeluarkan semua uang yang di beri oleh Pak Mu'is dan beberapa warga. Tentu saja Denny menyerahkan uang itu dengan sengaja menjatuhkan ke lantai.
“ANAK KURANG AJARR!!” teriak Badrun merasa tersinggung dengan sikap Denny.
BUAKKK!!!
Badrun menampar Denny mengenai punggungnya, membuat Denny tersungkur di lantai.
“APA YANG KAMU LAKUKAN?!” Bentak Aminah pada Badrun.
“KAMU TAK LIHAT APA?! DIA TAK TAHU SOPAN SANTUN! DIA SENGAJA MENJATUHKAN UANG ITU KE LANTAI!” Bentak Badrun pada Aminah.
“Kamu ini, masalah seperti itu saja di perbesar-besarkan,” ucap Aminah menghela napas dengan berat sambil mengernyitkan kedua alisnya. Dia lalu memungut uang yang berceceran di lantai.
“Nih, sudahku ambil. Jadi tak perlu di perbesar-besarkan lagi," ucap Aminah menuju dapur.
Badrun berdengus kesal, dia berpaling menuju kamar.
“Kak Denny tak apa-apa?” tanya Reina dengan wajah yang penuh khawatir.
Denny hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan tetap tersenyum pada adik perempuannya.
“Bohong! Khalis saja bekas kena pukulan dari preman tadi masih sakit. Kalau kak Denny tadi ditambah pukulan sama laki-laki itu pasti tambah sakitkan?” sungut Khalis dengan suara gemetarnya. Ia mau menangis namun tetap ia tahan.
Aminah kembali menemui ke tiga anaknya yang sudah ada di kamar mereka.
“Kalian itu kenapa jadi sampai kena pukul?” tanya Aminah penasaran.
Denny menghela nafasnya, “Kami berkelahi sama preman kampung sebelah itu, bu." jawab Denny dengan datar.
“Kenapa kalian sampai berkelahi dengan mereka?”
“Mereka yang duluan kok Bu. Mereka memakan dagangan kami tanpa membayar. Untung saja kami di tolong Pak Mu'is dan warga lain,” jawab Khalis dengan kesal.
Aminah terdiam mendengar jawaban dari anaknya.
“Ya sudah, lain kali hati-hati. Jangan sampai bertemu dengan mereka,” ucap Aminah datar, lalu ia keluar kamar itu.
Denny merasa kecewa dengan ibunya. Kenapa ibunya tak membela mereka? Kenapa ibunya tetap mengizinkan anak-anak mereka berjualan? Kenapa ibunya selalu menuruti kemauan laki-laki itu? Mana kepedulian dia sebagai seorang ibu? Denny menundukkan kepalanya, hatinya merasa sakit, sangat sakit.
Bahkan kedua adik-adiknya juga mendapatkan perlakuan kasar dari Ayah tirinya. Dan sekarang susahnya lagi, mereka harus bekerja untuk mendapat makan dan jajan.
Denny menatap kedua adiknya, mata mereka sayu, pakaian mereka lusuh, tak ada senyuman dari keduanya. Apa bedanya mereka dengan anak gelandangan? Ya memang beda, anak gelandangan tak punya orang tua, sedangkan mereka masih punya orang tua. Tapi orang tua mereka tak peduli dengan mereka. Ayah mereka sibuk dengan Istri barunya, dan Ibu mereka sibuk dengan suami barunya.
“Sore ini kita istirahat dulu ya, jadi kita libur dulu belajar mengajinya,” ucap Denny pelan pada kedua adiknya.
“Baiklah, aku mau tidur siang," ucap Khalis.
Reina hanya diam, dia menundukkan kepalanya.
“Reina, kamu juga tidur siang ya...” ucap Denny.
Reina kemudian menganggukkan kepalanya. Dia sebenarnya ingin pergi belajar mengaji, karena bisa bertemu dengan teman-temannya dan bisa bermain dengan mereka.
.
🌚🌚🌚
Ketika kedua kakaknya tertidur, Reina ke dapur dan membuka pintu belakang rumahnya.
Angin di sore itu berhembus pelan, sehingga membuat Reina ingin pergi keluar. Reina berjalan di halaman belakang rumah mereka yang masih banyak pepohonan yang rimbun.
Srakk... sraakk...
Reina mendengar sesuatu arah menuju hutan yang ada jalan setapaknya. Reina penasaran dengan suara itu.
"Hei Nak! Kamu mau kue ini?" Tanya seorang nenek menawarkan roti pada Reina.
"Kalau kamu mau, ayo ikuti nenek. Aku punya banyak kue untukmu" sambung nenek itu.
Reina mengangguk, ia lalu mengikuti Nenek itu.
“Mungkin kalau dekat sini saja tak apa-apa,” batin Reina, ia lalu berjalan menuju jalan setapak itu dan memasuki hutan mengikuti langkah nenek itu. Anehnya, semakin lama ia mengikuti, semakin cepat nenek itu berjalan masuk ke dalam hutan.
Reina menyerah untuk melanjutkan kakinya untuk melangkah lagi. Lalu nenek itu menghilang dari pandangannya.
"hmm... cepat sekali nenek itu berjalan" batin Reina merasa kesal.
Angin berhembus pelan membuat ilalang-ilalang di pinggir jalan setapak itu bergoyang. Reina mengulurkan tangannya untuk meraih ilalang liar itu. Reina terus berjalan hingga ia menemukan bekas potongan pohon yang besar. Reina melupakan tentang Nenek itu, dan dia menemukan sesuatu yang baru bagi dirinya.
“Wuahh.... sepertinya bagus nih buat tempat sembunyi,” batin Reina sambil tersenyum.
“Nanti kalau main sama teman-teman aku sembunyi di sini saja.” gumam Reina tertawa kecil.
Reina duduk di potongan pohon yang besar itu, ia lalu menatap langit sore itu yang masih cerah. Angin sepoi-sepoi membuat berisik dedaunan yang sedang bersentuhan. Burung-burung pun berbunyi bersahutan menikmati sore itu.
“Siapa?!” gumam Reina.
Reina menoleh ke kiri dan kanan mencari sumber suara, Namun tak ada siapa-siapa di sana. Hanya suara angin, burung dan suara berisik dedaunan yang terkena angin.
Reina mengabaikan suara itu, lalu ia kembali dengan kesendiriannya dan berbaring di atas bekas tebangan batang pohon itu. Angin sepoi-sepoi itu membuatnya jadi mengantuk dan akhirnya ia tertidur.
.
🌚🌚🌚
.
“Reina hilang!” seru Aminah geger di rumahnya, dia khawatir karena Reina belum pulang-pulang juga, padahal hari sudah mulai memasuki azan Maghrib.
Denny dan Khalis juga ikut cemas, mereka berdua pergi ke sungai mencari Reina, namun tak menemukannya. Bahkan mereka pergi ke tempat teman-teman Reina, tapi hasilnya tak mendapatkan apa-apa.
“Anak itu kenapa sih?! Bikin repot orang saja!” dengus Badrun.
Aminah lalu menanyakan ke tetangga, tapi jawaban mereka tak ada yang mengetahui keberadaan Reina.
“Sudahlah! Nanti kalau dia lapar pasti pulang.” geram Badrun kesal.
“Nanti kita cari lagi setelah makan malam. Mungkin dia di rumah temannya," ucap Aminah mencoba menenangkan kedua putranya.
Setelah makan malam, Denny dan Khalis keluar rumah mencari Reina. Bahkan Denny meminta bantuan ke beberapa tetangga.
“Tolong kami Pak! Reina masih belum pulang."
“Baik nak, Bapak akan panggil beberapa warga lain untuk membantu kalian," sebut saja nama Bapak itu Pak Husai, beliau adalah tetangga mereka yang hanya selisih satu buah rumah dari mereka.
Pak Husai lah yang selalu membantu mereka jika ada kesulitan. Walau kadang pak Husai ingin sekali ikut campur masalah keluarga Denny.
Pak Husai memanggil beberapa warga lain untuk membantu mencari Reina. Mereka masing-masing membawa senter dan pergi menuju hutan, sungai dan kebun mereka. Tapi tetap saja tak menemukan Reina.
“Maaf kami tak menemukannya, apa sebelumnya dia pernah mengatakan sesuatu sebelum pergi?” tanya Pak Husai pada Denny.
Denny menggelengkan kepalanya, “sekitar jam 3, kami tidur. Aku pikir Reina juga tidur sama kami. Tapi ternyata tidak” ucap Denny dengan suara bergetar.
“Apa ada sesuatu yang membuat dia untuk kabur dari rumah?” tanya Pak Husai.
Mendengar perkataan itu, wajah Denny memanas, wajahnya merah penuh emosi.
Denny langsung berlari ke rumah di iringi beberapa warga, termasuk pak Husai.
“Ada apa?! Apa dia sudah tahu keberadaan adiknya?”
“Entahlah, kita coba saja ikuti anak itu."
Brakk!!
Pintu di buka dengan kasar oleh Denny, membuat Badrun terkesiap dan Putri jadi menangis.
“APA-APAAN KAU!! GAK BISA APA MEMBUKA PINTU DENGAN PELAN?!” Teriak Badrun emosi sambil menggendong anaknya.
“GARA-GARA KAU!! GARA-GARA KAMU BANGS*AT!! ADIK KAMI MENGHILANG!!” Bentak Denny sambil menangis.
Semua warga di teras rumah Denny saling memandang penuh keheranan. Kecuali Pak Husai yang mengetahui cerita tentang ke tiga anak-anak itu, karena dia pernah mendengar Denny menceritakan semua tentang kelakuan Ayah tirinya.
Badrun kaget mendengar bentakan Denny. Bahkan anak tirinya itu sudah berani berteriak di depannya dan di depan semua warga yang melihat ke arahnya.
“Apa maksudmu?! Kenapa kamu menyalahkanku?” ucap Badrun dengan datar dan mengubah intonasi suaranya supaya tak terlihat sedang emosi.
“GARA-GARA KAMU YANG SELALU MEMUKULINYA! LALU DIA KABUR DARI RUMAH INI!” bentak Denny yang masih menangis.
“Denny! Jaga bicaramu! Kamu harus tahu sopan santun pada orang tua! Kamu harus tahu cara bicara yang baik pada orang tua!” bentak Aminah pada Denny.
Denny semakin kesal karena Badrun mendapatkan pembelaan dari ibunya sendiri.
“Tenanglah...” ucap Pak Husai menenangkan pertengkaran keluarga di rumah itu.
“Begini, bu... Kami hanya menanyakan apa yang membuat Reina hilang dari rumah. Yah siapa tau karena itu dia jadi tidak betah rumah,” kata pak Husai.
“Dia tak terlihat seperti mau kabur dari rumah. Siang itu dia baik-baik saja. Mungkin dia sembunyi di tempat temannya!” bentak Aminah.
Pak Husai menghela nafasnya, beginilah sikap Aminah yang keras kepala. Sikap Aminah berubah ketika dia menikah lagi dengan suami barunya.
“Baiklah, anggap saja begitu. Dia sembunyi di tempat temannya. Tapi sama siapa? Kami sudah mendatangi ke rumah teman-temannya tapi tak ada yang tahu dimana Reina berada," ucap pak Husai dengan tenang.
"M**asa anak yang baru berusia lima tahun itu pergi ke rumah temannya dan tak pulang?" batin Pak Husai
Aminah terdiam, “Lalu kemana lagi mencari dia?” gumam Aminah.
“Apa kalian ada melihatnya keluar?” tanya pak Husai.
“Sepertinya tidak ada. Soalnya kedua kakaknya tidur dan kami ada di kamar” jawab Aminah.
“Lalu, apakah ada pintu terbuka tadi siang? Siapa tahu dia lupa menutup pintu saat keluar," ucap salah satu warga.
“A...ada sih, pintu dapur kami terbuka,” jawab Aminah gugup.
“Tunggu! Dia tidak di ambil 'Ngayau' kan?” gumam salah seorang warga.
(Ngayau: sebutan dari kampung itu menyebut orang yang suka menculik anak kecil, lalu di jual atau organ tubuhnya di ambil untuk di jual).
Karena kampung itu masih belum banyak penduduknya dan cukup sepi, sehingga banyak gosip-gosip tentang 'Ngayau' berkeliaran di kampung itu.
Semua warga yang ada di rumah Aminah itu berbisik-bisik membicarakan tentang 'Ngayau' itu.
Denny menangis sejadi-jadinya, begitu pula dengan Khalis.
“Maaf, kami tak bisa membantu banyak. Nanti kita coba cari Reina besok saat hari siang bagaimana?” tanya Pak Husai menenangkan Denny.
Denny hanya mengangguk pelan sambil mengusap air matanya.
Bersambung...