The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 23 Aku Bisa Terbang!



Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya kak 🤗🤗🤗


.


.


Selamat Membaca 🤗


______________________________________________


“Kau belum tidur?”


Reina kaget melihat kedatangan Deemon, ingin ia langsung berteriak tapi mulutnya di bekap sama Deemon.


“Kakakmu ada yang belum tidur,” ucap Deemon.


Reina mengatur nafasnya, setelah tenang Deemon melepas tangannya di mulut Reina. Setelah itu ia menarik sesuatu dari tubuh Reina, tanpa sadar Reina berteriak.


“APA YANG KAU LAKUKAN?!!”


“Eh?!” Reina langsung menutup mulutnya, khawatir kalau Ayah tirinya akan kembali ke kamar dan menghukumnya karena telah berani berteriak.


“Tak apa, kau bebas berteriak,” ucap Deemon dia melayangkan tubuhnya hingga mencapai langit-langit kamar.


Reina merasa aneh dengan tubuhnya yang ringan seperti melayang, bahkan ia merasa sangat dekat dengan Deemon, padahal Deemon tubuhnya melayang hingga mencapai langit-langit kamarnya.


“Eh? Aku takut nanti aku di marahi lagi,” bisik Reina.


“Lihatlah ke bawah,”


“Eh? Bawah?” Reina langsung melihat ke bawah, alangkah kagetnya ia melihat tubuhnya sendiri yang sedang terbaring seperti orang tidur.


“Apa ini? Aku ada dua?”


“Kau yang sekarang ini adalah rohmu, sedangkan yang terbaring di sana adalah jasadmu.” Jelas Deemon.


“Jasad? Jasad itu apa?”


“Oh, benar juga. Aku lupa kalau kamu ini hanya anak kecil yang bodoh.”


“Aku tidak bodoh. Aku dapat juara 3 di kelas, guruku selalu menganggapku pintar. Bahkan kakakku sering memujiku anak pintar.” Sahut Reina.


Deemon menatap Reina tanpa ekspresi, entah apa yang di pikirkannya.


“Baiklah anak pintar, biar aku jelaskan. Yang di sana itu tubuhmu dan yang disini adalah rohmu. Jadi sekarang rohmu terpisah dari tubuhmu karena aku yang menarik rohmu keluar.” Jelas Deemon, namun orang yang minta penjelasan tak mendengarkan. Ia asyik melayang-layangkan tubuhnya di kamar itu.


“Hebat! Aku bisa terbang!”


“Makasih Deemon sudah membantuku keluar, aku bisa main terbang-terbangan!” Seru Reina sambil menggerak-gerakkan tubuhnya seperti berenang dalam air.


“Apa kamu suka?” tanya Deemon datar.


“Ya! Aku suka sekali!”


“Kalau begitu kamu harus mati.”


“EEHH??!!”


“Kenapa aku harus mati?!” Reina berhenti melayang-layangkan tubuhnya, kini ia dengan tenang menatap Deemon.


“Lihat tubuhmu yang ada di sana? Tubuhmu itu tanpa roh, itu artinya kamu sama saja dengan mati. Jadi kalau kamu suka main terbang-terbangan seperti tadi, itu artinya kamu ingin mati.”


Reina terdiam, ia melihat tubuhnya yang seperti sedang tertidur. Tubuh yang tak memiliki roh, artinya dia mati.


“Jadi, apa sekarang aku sudah mati?”


“Belum.”


“Lalu apa benda hitam yang ada di sekitar tubuhku itu?” Reina menunjuk ke arah tubuhnya yang di kelilingi aura hitam.


“Itu melindungi tubuhmu yang kosong, bisa gawat kalau makhluk lain yang akan memasuki tubuhmu.”


“Eh? Kenapa?”


“Itu artinya kau tak bisa kembali ke tubuhmu, dan kau tak akan bisa lagi bertemu saudaramu,” ucap Deemon menarik Reina keluar kamar.


“Kita mau kemana?”


“Apa kamu tak ingin melihat Ayah tirimu sedang tidur?”


“Tidak mau! Kalau dia bangun, bagaimana?!”


“Dia tak akan mendengarmu, mau kau berteriak pun dia tak akan dengar.”


“Benarkah?”


“Ya, untuk apa aku berbohong?”


Akhirnya Reina melayang ke arah kamar ibunya dimana Ayah tirinya juga ada di sana. Reina takjub bisa melayang di udara, bahkan ia bisa menembus pintu. Deemon hanya memperhatikannya dari belakang seolah mengawasi anak itu agar tak kabur dari pengawasannya.


Kini Reina sudah ada di kamar ibunya. Ibunya tampak belum tidur, ia masih sibuk menyusui adiknya, Putri. Sementara Badrun di sampingnya sudah tertidur, bahkan terdengar suara dengkuran dari mulutnya yang sedikit terbuka.


“Ternyata ibu belum tidur,” bisik Reina.


“Tak perlu bisik-bisik seperti itu. Kan sudah ku bilang kalau suaramu tak akan di dengar oleh manusia.” Ucap Deemon.


Reina mengangguk, ia lalu mendekati Badrun yang sedang terlelap tidur.


“Bweeeekk!!” Reina menjulurkan lidahnya sambil melototkan kedua matanya untuk mengejek Badrun yang sedang tidur.


“Kamu benar Deemon! Dia tak dengar suaraku! Lihat, dia masih tidur saat aku sedang mengejeknya, hehehe” Tawa Reina kegirangan bahkan Reina mengarahkan tinjunya ke arah wajah Badrun.


Saat Reina sedang asyik dengan kepalan tinjunya ke arah Badrun, tiba-tiba saja mata Badrun terbuka dan langsung bangun, sontak membuat Reina kaget dan berteriak.


“WUAAA!!” Reina langsung meloncat mundur ke belakang.


“HAHAHAHA!!” Tawa Deemon melihat Reina yang kaget.


“Sama makhluk seperti kami kau tak takut. Tapi melihat dia bangun kau malah takut. Padahal dia manusia sama sepertimu loh,” ucap Deemon.


Reina memajukan bibirnya, kesal mendengar ucapan Deemon. Ia melihat Badrun turun dari ranjangnya lalu keluar kamar.


“Aku benci laki-laki itu. Dia suka menyiksa kami. Bagaimana kami tidak takut, setiap kami melakukan kesalahan, kami selalu kena pukul. Dan itu membuat kami sakit...” keluh Reina dengan wajah sedih.


Deemon menatap wajah Reina, seolah-olah ia juga mengerti perasaan Reina.


“Mau ke tempat lain?” ajak Deemon membuat mood Reina jadi berubah.


“Sini tanganmu.”


Reina mengulurkan tangannya, langsung di sambut sama Deemon. Demon mengarahkan tubuhnya di ikuti tubuh Reina yang juga ikut melayang. Mereka menuju pintu rumah Reina dan menembusnya.


“Wuaah.... !” Reina kagum, dia melihat di luar rumahnya terlihat sangat ramai. Bahkan suasananya bukan seperti siang atau malam. Tapi terlihat seperti mendung.


“Apa harinya mau hujan?” Tanya Reina menatap Deemon.


“Tidak, inilah dunia Roh, dimana roh manusia yang sudah meninggal yang masih belum di terima langit dan bumi. Bahkan bercampur juga dengan roh siluman dan jin. Yah, anggap aja ini antara siang dan malam.”


Reina tak mendengarkan suara Deemon, ia sedang asyik melihat kiri kanan. Banyak sekali bentuk aneh yang ia lihat. Bahkan badannya sangat besar dan tinggi. Bahkan ada hewan, tapi dia berjalan layak manusia.


Reina kaget ketika mendengar suara lengkingan kuda. Kuda tersebut berwarna putih bersih, ia di kaitkan dengan sebuah kereta yang tampak seperti membawa seseorang putri atau raja. Reina lalu mengintip isi kereta itu yang lewat jendelanya yang terbuka. Tapi di dalam kereta itu tak ada seseorang di dalamnya.


“Deemon! Boleh kita naik delman?” Reina sambil menunjuk kereta kuda kencana itu.


Deemon kaget, ia langsung menarik Reina untuk menjauh kereta kuda itu.


“Ada apa?” Reina heran karena Deemon langsung menariknya.


“Jangan jauh-jauh dariku. Bahaya jika kau langsung masuk ke dalam kereta itu. Bisa-bisa kau akan di bawanya dan kau akan tersesat di dunia sini.”


“Kan kita bisa terbang kalau kereta itu mau menyesatkan kita. Ya, ya... Aku belum pernah naik kuda seperti itu. Pasti seru!”


“Tidak boleh. Kuda itu bukan seperti kuda yang ada di dunia manusia. Dia bisa berlari sangt cepat. Yah... Bahkan melebihi kecepatan mobil yang ada di dunia manusia,” ucap Deemon memperingatinya supaya Reina takut. Namun bukannya takut, Reina malah merasa takjub mendengar ucapan Deemon.


“Waah...Hebat! Keren sekali! Aku mau naik...”


Demon menghentikan niat Reina, “sudah ku bilang jangan! Ayo kita ke tempat lain."


Deemon menggenggam tangan Reina, mereka melayang di udara, kini mereka ada di lapangan bola yang ada di sekolah, masih dekat dengan rumah Reina yang ada di hadapan lapangan bola itu.


Kali ini Reina tertarik pada sebuah rumah mewah berwarna putih, tepat di seberang rumahnya sekitar 300 meter. Reina membawa tubuhnya melayang ke arah rumah itu. Tentu saja Deemon juga mengikutinya.


“hmm... Perasaan di sekitar sini tak ada rumah. Cuma ada bekasnya bangunannya saja.”


“Ada apa?” Deemon penasaran karena Reina cukup lama menatap rumah besar itu.


“Kenapa di sini ada rumah besar? Padahal di sini tidak ada rumah.”


“Mungkin di duniamu tidak ada rumah itu, tapi di dunia sini ada, tak usah kau pikirkan. Ayo kita pergi.”


Brakk!!


Pintu rumah itu terbuka dengan sendirinya, dengan segera Reina masuk ke dalam rumah itu tanpa memedulikan suara Deemon. Rasa penasarannya lebih besar dari pada rasa takutnya.


Dia mengamati isi rumah itu yang terlihat sangat mewah, seperti rumah-rumah yang ada di film-film yang ia lihat di tv.


“Hei! Kau jangan masuk sembarangan!” Seru Deemon menghampiri Reina.


“Tak apa. Lihat, rumahnya kosong juga, hehe” Reina tertawa sambil asyik mengamati rumah mewah itu.


“Apa kau suka tempat ini, gadis kecil?” seseorang datang langsung menyapa Reina, tubuhnya tegap, tinggi dan kekar. Ia berbaju seperti seragam hitam seorang letnan Belanda lengkap dengan tempelan bintang di bajunya. Tapi wajahnya sangat pucat itu mencoba memaksakan dirinya tersenyum ramah pada Reina.


Letnan itu membungkukkan tubuhnya tanda ia menghormati kedatangan Reina. Melihat orang di hadapannya membungkuk, Reina jadi ikut membungkukkan tubuhnya.


“Hei, tak usah kau pedulikan orang itu.” Sahut Deemon, dengan segera ia mencoba menarik tangan Reina untuk segera pergi dari rumah itu, namun tubuh Reina menolak.


“Tunggu sebentar, Deemon.”


“Kau mau apa lagi? Jangan sembarangan berkomunikasi dengan mereka. Mereka itu penipu...” belum selesai Deemon bersuara, Reina meninggalkannya. Reina mengikuti langkah Letnan Belanda itu menuju suatu ruangan.


“Kenapa anak itu tak takut-takutnya pada mereka?” gumam Deemon kesal, ia lalu menyusul Reina.


Reina kembali kagum melihat ruangan lain, bahkan ruangan itu di hiasi emas dan permata yang berwarna warni.


“Cantiknyaa...” gumam Reina.


“Hallo adik manis... Apa kamu mau ikut makan bersama kami?” Kali ini seorang wanita muda berpakaian gaun mekar berwarna biru muda menyapanya. Wanita itu cantik bak seorang putri, namun wajahnya seperti orang Bule seperti letnan yang ia lihat tadi.


Rambutnya panjang bergelombang berwarna kuning keemasan yang di biarkan terurai. Kulitnya putih, tapi pucat seperti orang mati, di kedua matanya pun ada lingkaran hitam. Kalau orang biasa mungkin akan langsung lari melihatnya, tapi seperti biasa Reina tak merasakan takut pada wanita itu.


“Makan?” gumam Reina.


“Ya! Kalau adik mau ayo ikuti kakak,” wanita itu berjalan menuju ruangan, diiringi oleh Reina. Tapi kakinya tak menyentuh lantai, ia berjalan seperti berjalan di udara.


“Cih, kali ini anak itu kemana lagi?” gumam Deemon melihat Reina dari kejauhan mengikuti wanita bule itu.


Lagi-lagi Reina di buat takjub melihat di dalam rumah itu. Kali ini ia melihat sebuah keluarga besar yang sedang bersiap menikmati makan bersama. Tampak seorang ibu, bapak, dua anak perempuan yang hampir seusianya yang sangat mirip, serta ada seorang anak laki-laki yang seumuran dengan kakaknya, Denny. Reina yakin kalau wanita yang menuntunnya ke ruangan itu adalah anak tertua dari keluarga itu.


Sebuah meja besar dan panjang yang sudah lengkap dengan hidangannya di atasnya tersusun rapi. Buah-buahan yang lengkap, sup, kue, minuman, daging dan sebagainya, semuanya ada di atas meja itu.


Wanita yang menuntun Reina sudah duduk bergabung di meja makan itu. Bahkan letnan yang ia temui pertama kali, juga ada di ruangan itu. Tapi ia hanya berdiri tegap di dekat pintu ruangan bersama seorang letnan lain yang juga memakai baju yang sama.


Semua orang yang duduk di meja makan itu menatap ke arah Reina. Wajah mereka pucat semua dengan kedua matanya yang hitam seperti orang mati. Mereka semua tersenyum ke arah Reina.


“Ayo sini sayang, ikut makan bersama kami,” ucap seorang wanita paruh baya sambil menyeringai mengerikan. Reina yakin kalau wanita itu adalah ibu dari anak-anak itu, sementara di hadapannya itu adalah suaminya.


“Kamu tak usah takut sama kami, kamu bisa puas makan disini” seringai sang suami.


Reina mulai tergoda, apalagi saat melihat makanan yang melimpah di atas meja itu. Makanan yang tidak pernah ia rasakan di kehidupannya selama ini. Ia lalu duduk di kursi kosong tepat di samping anak yang seusianya.


“Nama kamu siapa?” tanya anak itu pada Reina, salah satu anak yang mirip dengannya beralih posisi duduknya ke samping Reina. Kini posisi Reina di apit anak kembar itu.


“Aku Reina...”


“Kenalkan aku Nara dan di sebelahmu Nira, kami kembar.” Ucap Nara tersenyum, lagi-lagi senyuman mereka itu senyuman yang mengerikan di lihat orang biasa. Tapi Reina menanggapinya seperti biasa, ia malah tersenyum dengan manisnya pada mereka.


“Boleh aku bertanya nona kecil? Dari mana asalmu? Kenapa rohmu bisa sempurna seperti manusia? Kau sangat berbeda dari kami,” tanya Bapak itu menatap Reina.


“Maksud bapak apa ya? Aku tak paham. Aku kan memang manusia.” Ucap Reina santai.


“APA?!” Semua orang di rumah itu kaget mendengar ucapan Reina. Melihat respon keluarga itu terhadap Reina membuatnya jadi heran.


“Itu artinya saat ini tubuhnya kosong kan?” gumam sang Ibu menatap ke arah suaminya yang langsung di jawab suaminya dengan menganggukkan kepalanya.


“Kau manusia? Lalu tubuhmu ada di mana?” Seringai wanita kakak tertua itu langsung menghampiri Reina. Dia seperti tak sabar menunggu jawaban Reina.


“Tak perlu kau jawab, bocah! Hei kalian! Jangan sentuh anak itu!” bentak Deemon yang baru datang ke ruangan itu. Kali ini semua orang pandangannya tertuju pada Deemon.


.


.


Bersambung...