
Jangan lupa tap Like dan Ratenya ya, Readers... ☺️
Langit sudah mulai gelap, azan magrib pun sudah selesai berkumandang. Denny mengajak kedua adiknya untuk sholat berjemaah.
“Tapi tanganku masih perih, kak.” ucap Khalis dengan lemah.
“Punggung Reina juga masih perih, kak. Hiks...” ucap Reina dengan isak tangisnya yang ia tahan agar tak di dengar ibu dan Ayah tirinya.
“Ssssttt....jangan nangis Reina! Nanti dia malah mukul kita lagi,” bisik Khalis menenangkan Reina.
“Tapi....” Reina menutup mulutnya untuk menahan tangisannya, namun air matanya tetap keluar membasahi di kedua pipinya.
Melihat kedua adiknya yang seperti itu, hati Denny sebenarnya sangat sakit. Ia juga tak tega melihat kedua adiknya yang kesakitan menahan siksaan dari Ayah tirinya. Ia mau menenangkan mereka berdua, namun itu tak akan membuat adiknya tenang. Jadi ia membiarkan kedua adiknya itu untuk beristirahat.
Denny ke dapur, ia mengambil air wudhu. Selagi ia berwudhu, Ayah tirinya juga kebetulan ke dapur. Ia mengambil air minum dan duduk di kursi tempat meja makan.
Denny melirik ayah tirinya yang duduk di kursi sambil mencatat sesuatu di buku tulis. Entah apa yang dia tulis, Denny tak peduli, ia berniat mau sholat maghrib, namun lngkahnya terhenti karena teringat kedua adiknya.
Ia menatap Ayah tirinya dalam waktu beberapa saat. Merasa ada yang memperhatikannya, Badrun menoleh ke arah Denny.
“Apa liat-liat!!” bentak Badrun dengan suara kasarnya.
Tatapan Denny dingin ke arah Badrun, seolah-olah tatapannya seperti menantang Badrun untuk berkelahi.
“Bocah sialan ini... Kamu mau menantangku, hah?!” bentak Badrun melangkah ke hadapan Denny. Denny tak bergerak, ia masih menatap Badrun dengan tatapan yang sangat marah.
“kalau kamu mau menghajarku, hajar saja aku... Tapi jangan kau siksa adik-adikku!” geram Denny sambil menatap tajam ke arah Badrun.
Melihat sikap Denny yang sangat berani terhadapnya, membuat Badrun sangat emosi.
“BOCAH KURANG AJAR!!”
BUAKK!!
Badrun meninju Denny dengan sekuat tenaganya tepat mengenai tulang rahang Denny.
BRAKK!!
Denny terkapar, kepalanya menghantam sudut pintu dapur, sehingga kepalnya sedikit mengeluarkan darah.
“ADA APA INI?!!” teriak Aminah melihat anak dan suaminya berkelahi.
Reina dan Khalis juga ikut keluar kamar, karena mendengar keributan.
“ANAK KURANG AJAR INI BERANI SEKALI MENANTANGKU!” ucap Badrun sambil menunjuk Denny yang tersungkur di lantai.
“Menantang bagaimana?” tanya Aminah heran, masa anak 10 tahun menantang orang dewasa, begitu pikir Aminah.
“DIA MENATAPKU SEOLAH-OLAH MAU MENGAJAKKU BERKELAHI!! BAHKAN DIA BERANI SEKALI MENJAWAB PERKATAAN ORANG DEWASA!!” Bentak Badrun.
“Denny! Coba kalau sama orang tua itu kamu tidak boleh melawan! Kamu mau mengajari adik-adikmu hal yang tidak baik, apa?!!” bentak Aminah sama Denny.
Badrun menyeringai karena istrinya membela dirinya.
“Dasar anak tak tahu diri! Gini nih, anak yang tak di didik Ayah kandungnya. Dia gak bisa belajar sopan santun sama orang tua,” geram Badrun, lalu ia menuju kamar di ikuti Aminah dari belakang.
Denny terdiam, ia lalu berdiri sendiri. Kemudian ia menatap kedua adiknya yang dari tadi terdiam melihat kakaknya yang tadi hanya terdiam mendengar bentakan Ayah tirinya.
“maaf, aku masih belum bisa melindungi kalian,” batin Denny.
“Kak, Denny. Kepala kakak benjol tuh,” ucap Reina dengan polosnya.
“Tak apa, nanti juga sembuh,” ucap Denny ia memalingkan wajahnya. Lalu ia mengambil sajadah untuk sholat.
Dalam sholat Denny merasa tak khusyuk, ia cukup lama dalam sujudnya sambil menangis. Entah menangis karena rasa sakit di tubuhnya atau rasa sakit di hatinya.
🌚🌚🌚
Jam menunjukkan jam 09.00 malam, ketiga bersaudara itu masih belum tidur. Mereka sedang asyik belajar, sesekali Reina bertanya dengan kedua kakaknya.
“gini aja gak bisa, dasar payah,” ledek Khalis pada Reina.
“Karena aku tak bisa, makanya nanya biar gak payah,” jawab Reina pada Khalis.
“soal begini biasa aja jawabnya. Sini aku ajarin,” sahut Khalis, walau ia meledek Reina, ia tetap membantu adiknya belajar.
Khalis juga minta bantuan Denny bila ada pelajaran yang dia tak di pahami. Kedua kakak Reina sangat pintar, mereka selalu mendapatkan rangking pertama setiap semester di kelas mereka, padahal satu kelas mempunyai hampir 30-an lebih siswanya.
Hanya Reina yang selalu menetap di rangking 2 atau 3, itu membuatnya merasa tertinggal dari kakak-kakaknya, bahkan kakak perempuannya yang saat ini mondok di pesantren, selalu mendapat rangking pertama terus dari SD.
“kak Khalis, temenin Nia ke WC dong.” pinta Reina sambil menarik baju Khalis.
“Gak!!”
“pergi aja sendiri, dasar penakut,” jawab Khalis dengan jutek. Ia sibuk dengan buku dan pensilnya sambil tiarap di atas ranjang.
Denny menghela napasnya, “ayo, sama kakak.” ucap Denny sambil menuntun adiknya.
.
.
.
PRANGG!!
Gelas jatuh di lantai, tak sengaja kena senggolan tangan Reina.
“ADA APA INI?!!” Bentak Badrun langsung keluar kamar setelah mendengar suara gelas pecah.
“Ma...maaf...Rei...”
“Aku tak sengaja menjatuhkan gelas,” sahut Denny memotong perkataan Reina, ia menarik tangan Reina agar adiknya itu ada di belakangnya.
“Itukan yang beli gelasnya ibu, bukan dari dia” batin Denny, Denny membalas tatapan Ayah tirinya. Tatapan Denny membuat Ayah tirinya emosi.
“Bocah kurang ajar ini mulai berani sekali ya kamu sama aku,” geram Badrun.
PLAKK!!
Badrun menampar dengan keras wajah Denny. Denny menahan pipinya yang merah bekas tamparan Ayah tirinya.
Tak hilang rasa emosinya, Badrun kembali menendang Denny dengan kasarnya.
DUAK!!
“ukhh..” rintih Denny menahan perutnya, ia jadi merasa mual dan hampir mau memuntahkan isi perutnya.
“hentikan...hiks...hikss.” isak Reina melihat kakaknya di siksa Ayah tirinya.
Namun suaranya tak di hiraukan ayah tirinya.
Tak tahan dengan sikap Ayah tirinya, Reina jadi kalap mata. Emosinya memuncak dan dia mulai berteriak.
“AKU BILANG HENTIKAAANNN!!!”
PTASS!!
Lampu langsung padam saat Reina berteriak. Aminah langsung keluar kamar sambil menggendong Putri yang tiba-tiba menangis.
“Ada apa lagi ini?! Kenapa ribut-ribut?! Senter mana senter...tolong cari,” ucap Aminah sambil menenangkan Putri di gendongannya.
“SIALAN! ANAK-ANAKMU INI NIH, KENAPA AKHIR-AKHIR INI SUKA MELAWAN DENGANKU!!” Bentak Badrun, ia lalu keluar rumah memeriksa aliran listrik. Badrun membetulkan aliran listrik yang tombolnya jadi berpindah sehingga membuat mati lampu.
“aneh, kenapa ketika anak itu berteriak lampu di rumah ini jadi mati?!” batin Badrun, ia lalu masuk ke rumah.
“SIAPA TADI YANG BERTERIAK?!” bentak Badrun.
“Bukannya kamu juga teriak-teriak?! Putri jadi bangun lagi, kan?!” ucap Aminah sambil menenangkan Putri.
“AKU INI MENGAJARI ANAK-ANAK KURANG AJAR INI! GARA-GARA KAKAKNYA, ADIKNYA JUGA IKUTAN MELAWANKU!” bentak Badrun.
Aminah menatap kedua anaknya yang baru keluar dari toilet.
“kenapa kalian melawan sama orang tua?” tanya Aminah menatap tajam ke arah kedua anaknya.
Reina tak bisa menjawab, kalau dia berkata jujur, dia akan menerima ganjaran yang sangat parah dari sebelumnya. Begitu juga dengan Denny, ia tak menjawab pertanyaan dari ibunya. Perasaannya sangat kesal pada ibunya yang tak membela anaknya.
“giliran di tanya, gak jawab!” bentak Badrun lagi.
“kamu ke kamar saja, tidurkan Putri,” ucap Badrun menyuruh Aminah ke kamar. Aminah hanya menurut, ia lalu masuk kamar dan menutup pintu.
Setelah istrinya masuk kamar, Badrun menatap kedua anak di hadapannya itu.
“Aku tahu, siapa tadi yang berteriak...”
“Itu, kamu kan?” ucap Badrun sambil menjewer telinga Reina.
“Aaakhhh....sakiit” rintih Reina sambil menangis.
“diam! Kamu mau lebih sakit dari ini, hah?!” gertak Badrun sambil mengencangkan jewerannya di telinga Reina. Reina hanya menahan tangisan dan rasa sakit di telinganya.
Denny sangat marah pada Badrun, dia mau menolong adiknya. Namun...
BUAKK!
Sekali hantaman, Denny langsung terkapar sekitar dua meter dari Badrun. Ia hanya bisa meringis kesakitan sambil melihat adiknya yang menangis tanpa suara.
Di balik pintu dapur Khalis hanya bisa mengintip, tak bisa berbuat apa-apa terhadap kedua saudaranya. Keberadaan Khalis di ketahui oleh Badrun.
“apa?! Kamu mau minta di hukum juga?!” gertak Badrun.
Khalis tak menjawab, ia langsung pergi ke kamar.
Setelah puas menghukum kedua anak itu, Badrun melepas Reina dan Denny.
“Tunggu! Kalian mau kemana?”
“bersihkan dulu cangkir yang kalian pecahkan!” bentak Badrun.
Denny lalu berjalan ke pecahan gelas itu, ia mau memungut pecahan kaca.
“AAAKHH”
Teriak Denny, tangannya di injak Badrun sehingga tangan Denny terluka kena kaca.
“Ups, gak sengaja...bukankah tadi kamu bilang juga tak sengaja memecahkan gelasnya,” ucap Badrun sambil nyengir.
Reina menangis melihat kakaknya, bahkan ia melihat Denny melepas pecahan kaca di tangannya.
Reina sangat marah pada Ayah tirinya, dadanya bergejolak dan terasa panas. Ia menggigit tangan Badrun.
“Aaarghhh!!!” rintih Badrun tangannya berdarah bekas gigitan kuat Reina.
Seketika itu juga Reina langsung berlari ke kamar lalu masuk ke bawah ranjang untuk bersembunyi.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa LIKE, Comment, Rate dan Votenya ya, Readers...