
Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗
.
.
Selamat Membaca 🤗
*****
“Rei... Apa benar kamu sudah tak lihat yang aneh-aneh lagi?” Ucap Maya di perjalanan menuju pulang.
Reina hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu,”
Maya lalu memikirkan ucapan Pak Haji tadi, yang mengatakan kalau Ibunya terkena sihir dari Ayah tirinya.
“Apa itu sebabnya Ibu mau menikahi **** itu?”
“Lalu bagaimana caranya agar Ibu lepas dari sihir **** itu?”
“Aaarghhh.... Kenapa aku tak langsung menanyakannya sama Pak Haji tadi? Masa aku harus bilang ke Ibu kalau suaminya itu harus di ruqyah?”
“Yang ada malah nanti Ibu akan marah-marah denganku,” Maya membatin, tanpa sadar ia di kejutkan oleh Reina.
“Kak... Kakak melamun?”
“Ah, ti-tidak kok. Ayo kita pulang."
👻👻👻
Sesampai di rumah, Maya menceritakan kepada Ibunya atas ucapan Pak Haji, kecuali tentang Badrun. Ia masih tak berani membicarakan suami Ibunya itu untuk di Rukiyah. Bisa-bisa Ibunya malah memarahinya.
Reina pergi ke kamar, sementara Maya membantu ibunya di dapur. Mencuci piring, bersih-bersih rumah dan menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.
Di saat Maya sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah. Badrun hanya duduk-duduk di tempat meja makan, dia seperti membaca buku, namun matanya kadang melirik ke arah Maya. Dia mulai terpesona pada anak tirinya itu yang sudah remaja. Sesekali ia mengisap bibir bawahnya sambil melihat tubuh Maya.
Badrun tak sadar kelakuannya itu di ketahui oleh Denny yang berdiri di dekat pintu dapur. Denny jadi kesal melihat Badrun yang dari tadi memperhatikan kakaknya.
“Kak Maya!” seru Denny dengan sedikit menaikkan volume suaranya, sontak membuat Badrun terperanjat.
“Iya, ada apa dek?” Maya menatap adiknya yang menuju ke arahnya.
“Sini, ikut aku sebentar,” Denny menarik tangan Maya menuju kamar.
“Kak... Si **** itu dari tadi liatin kakak terus.” Ucap Denny ketus.
Maya terdiam sebentar.
“Ya, kakak tau. Waktu pertama kali bertemu kakak juga, dia liatin kakak terus. Kakak merasa risih jadinya,” keluh Maya.
“Kita bilang saja sama Ibu.”
“Jangan! Nanti aku malah yang gak enak sama Ibu.”
“Gak enak kenapa? Kakak kan gak salah apa-apa,” ucap Denny mengerutkan kedua alisnya.
“Iya, aku tau... Tapi ya gak enak aja sama Ibu. Lagi pula aku di sini cuman sebentar saja. Maaf kakak jadi jarang bersama kalian. Seandainya Ayah dan Ibu tak berpisah...” kalimat Maya terhenti, ia tak bisa meneruskan ucapannya. Lidahnya kelu dan dadanya terasa sesak untuk melanjutkan ucapannya.
“Aku malah bersyukur Ibu pisah sama Ayah yang tak bertanggung jawab itu. Lalu aku juga tak mau Ibu nikah lagi sama si **** itu. Semuanya yang menikah sama Ibu sama saja! Seandainya waktu bisa di ulang, aku ingin sekali membatalkan pernikahan Ibu dengan **** itu!” geram Denny dengan mengepalkan kedua tangannya.
Maya kaget mendengar ucapan adiknya, ia tak menyangka adik laki-lakinya itu yang dulu periang kini berubah jadi seorang laki-laki yang dingin. Maya juga menyadari, saat dia datang menemui ketiga adik-adiknya itu, dia tak melihat mereka tersenyum apalagi tertawa.
“Sebenarnya apa yang terjadi selama dua tahun ini, ketika aku tidak pulang?”
Denny terdiam sejenak, ia memejamkan kedua matanya sambil menghela napasnya.
“Di rumah ini kami cuma numpang tidur kak. Tak boleh makan kalau kami tak bekerja. Semua pekerjaan rumah, kami yang mengerjakannya. Lalu **** itu yang mengaku sama Ibu kalau dia yang mengerjakannya semuanya.”
“Kenapa kalian gak bilang sama Ibu, kalau itu semua kalian yang mengerjakannya?!”
“Sudah kami lakukan. Tapi hasilnya, kami malah di siksa sama **** itu ketika Ibu gak ada di rumah. Bahkan Reina pun juga mengalami siksaannya.” Geram Denny dengan suara bergetar.
Maya yang mendengarnya tanpa sadar sudah mengeluarkan air matanya. Dia tak menyangka selama ini adik-adiknya mengalami kenyataan yang sangat pahit.
“Tapi kalian hanya mengerjakan rumah saja, kan? Kalau kalian mengerjakannya bersama-sama, pasti tak terlalu berat.”
“Apa?!”
“Ya, awalnya aku dan Khalis yang berjualan. Sering jualan kami tak habis sehingga menyebabkan **** itu marah besar karena mengalami kerugian. Lalu selama kami bekerja, dia melampiaskan semua pekerjaan rumah pada Reina. Tentu saja pekerjaan itu tak bisa di lakukan Reina sendirian. Sehingga Reina di rumah di siksa **** itu saat Ibu tak ada di rumah.”
Maya terisak mendengar cerita adiknya, dia tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Lalu, karena aku tak mau Reina di siksa sama **** itu. Aku juga mengajaknya jualan keliling kampung. Entah kenapa jualan kami selalu habis, bahkan banyak mereka yang tak mau di kembalikan uang kembaliannya. Sehingga membuat jualan kami memiliki keuntungan tiga kali lipat.”
“Wah, kalian hebat,” gumam Maya.
“Awalnya juga keuntungan itu di ambil sama **** itu. Tapi sekarang aku mengerti, dia sangat licik. Kami tak mau tertipu untuk kedua kalinya. Jadi jika ada orang yang tak mau di kembalikan uang kembaliannya, kami simpan untuk kami.”
“Lalu, apa Ibu membiarkan kalian berjualan seperti itu?”
“Ya, malah Ibu yang mempersiapkan jualan kami, lalu hasilnya buat ***i itu,” Denny duduk di kursi belajarnya sambil menundukkan wajahnya di atas meja.
“Aku lelah kak sama sikap Ibu yang menuruti perkataan ***i itu, apalagi ***i itu selalu menyiksa kami. Seandainya aku sudah dewasa, aku akan membawa Reina dan Khalis pergi dari rumah ini.” Gumam Denny membenamkan wajahnya di atas meja belajarnya.
“Maaf... Selama ini kakak tidak tahu kalian menderita seperti itu.” Lirih Maya mengusap rambut Denny.
“Gimana kabar Ayah sama istri barunya kak? Apa dia masih suka mabuk-mabukan?” Denny menegakkan punggungnya.
“Aku kurang tahu, tapi sepertinya beliau tidak mabuk-mabukan lagi, apalagi main judi. Soalnya kata tante Lina beliau sudah mulai bekerja di peternakan ayam.”
“Oh, apa Ayah sudah bertobat?”
“Kurasa tidak, seandainya dia bertobat, dia pasti akan menjenguk kita kan? Atau memberi nafkah.”
“Kak Maya benar. Kenapa kita punya keluarga seperti ini kak? Punya Ayah yang tak bertanggung jawab, lalu punya Ayah tiri yang kejam. Ibu kita juga tak pernah membela kita.”
“Sampai kapan kita akan seperti ini, kak?”
“Sudah... Kita bersabar dulu ya, dek. Kamu tau kan, setelah badai hujan reda lalu akan muncul apa?”
Denny tak menjawab pertanyaan kakaknya itu, dia hanya memilih diam, karena dia sudah tahu jawabannya. Menurutnya gampang saja menjawab, tapi susah untuk mereka jalani.
Sabar? Ya, mereka sudah bersabar. Tapi bertahan sampai kapan? Denny kemudian memilih untuk kembali menelungkup kan wajahnya di atas meja.
“PELANGI!! Setelah hujan reda akan muncul pelangi!” teriak Reina tiba-tiba masuk ke kamar.
“Reina benar kan, kak?!” seru Reina.
“Reina! Kamu gak usah teriak-teriak. Kalau dia dengar teriakan mu, bagaimana? Nanti dia akan memarahimu lagi,” bisik Khalis.
“Oh, maaf,” ucap Reina langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.
“Wah, seperti seru kalian berkumpul seperti ini, sedang membicarakan apa?” Aminah tiba-tiba masuk ke kamar.
Denny pura-pura sedang belajar, sementara Maya bingung harus jawab apa.
“Kami sedang cerita tentang pelangi, Bu!” seru Reina menatap Ibunya.
Maya merasa lega karena adiknya langsung menjawab pertanyaan Ibunya di saat dia sedang kebingungan.
Aminah menatap Reina sebentar, lalu pandangannya beralih pada Maya.
“May, nanti bantu Ibu nyiapin makan, ya.”
“I-iya, Bu.”
Aminah lalu keluar kamar.
Maya merasa heran pada Ibunya yang bersikap dingin pada Reina.
“Tak perlu heran, kak. Sikap Ibu memang seperti itu pada Reina.” Ucap Denny yang seperti mengetahui apa yang di pikirkan kakaknya.
“Kenapa?”
“Kami juga tidak tahu kak. Sepertinya Ibu juga mulai tidak sayang lagi pada kami.” Ucap Denny pelan, membuat Khalis dan Reina wajah keduanya berubah jadi muram. Seperti awan mendung di langit yang sebentar lagi akan hujan.
.
.
Bersambung