The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 17 Kita Tak Pernah Sendirian



**Jangan lupa untuk tap Like dan Ratenya ya Readers...


🌚 Selamat Membaca 🌚**


“Deemon?! Hmm... Cukup bagus juga, baiklah panggil aku dengan nama itu. Tapi kau dapat dari mana nama itu?” Tanya sosok Hitam itu yang sekarang namanya adalah Deemon.


“Oh, itu karena bentuk kepalamu yang bulat seperti Doraemon, hehehe.” Tawa renyah Reina.


“Hah? Apa lagi itu?! Tapi tak apalah...setidaknya lebih baik dari sebelumnya.” Ucap Deemon tak ingin mempermasalahkannya lagi soal nama panggilan.


Kedua kakak Reina terbangun, mereka sedikit kebingungan karena bisa-bisanya tertidur di sana. Denny langsung menatap Reina yang berdiri menatap ke arahnya.


“Reina... Kamu sudah tak apa-apa?!”


“Iya, kak.” Jawab Reina cepat.


Para penghuni rumah itu dengan wajahnya yang terlihat sangat kelelahan, karena energi mereka hampir habis di salurkan ke kedua anak-anak itu.


“Aneh, kenapa aku bisa tertidur di tempat seperti ini?!” batin Denny.


“Reina... Apa kamu juga tertidur di sini?”


Reina menggelengkan kepalanya.


“Ya, sudah. Ayo kita lanjutkan lagi jualan kita.” Denny berdiri sambil mengangkat nampan kue.


“Eh?! Kenapa aku merasa tak penat lagi? Rasa bekas luka memarku juga tak terasa sakit lagi. Apa karena aku tertidur sebentar, semua rasa sakit itu hilang?” batin Denny.


“Tapi syukurlah kalau tidak sakit lagi. Ini sebuah keajaiban untukku.”


Denny menatap Khalis, melihat Khalis yang tak mengeluh membuatnya jadi penasaran.


“Lis, apa luka yang ada di tubuhmu masih sakit?”


“Tidak, tak sakit sama sekali. Mungkin sudah sembuh."


“Begitu... Syukurlah kalau sudah sembuh.”


“Reina, apa kamu sudah siap?”


“Iya.” Sahut Reina sambil mengangkat termos es kecil.


Ketiga bersaudara itu kembali berjalan sambil membawa dagangan mereka. Reina berada di belakang kedua kakaknya, ia menoleh ke belakang. Mulutnya komat-kamit ke arah penghuni rumah itu dengan mengucapkan “Te-ri-ma ka-sih” tanpa suara sambil melambaikan tangannya.


Para penghuni rumah kosong itu ikut melambaikan tangannya melihat kepergian ketiga anak-anak itu. Sementara Deemon hanya berdiam diri melihatnya.


“Kamu saja...”


“Tidak, aku takut... Kamu saja."


Bisik-bisik penghuni rumah mulai terdengar oleh Deemon. Ia memalingkan tubuhnya menatap ke semua penghuni rumah itu.


“Heh?! Katanya akan mati kalau menyalurkan energi kalian pada mereka, ternyata kalian masih hidup tuh!”


“Anu... Maafkan kami Tuan atas kelakuan kami sebelumnya.”


“Kalau boleh tau, hubungan Tuan sama gadis itu apa?” tanya salah seorang penghuni rumah itu memberanikan diri.


“Tak ada hubungannya dengan kalian!” ucap Deemon, lalu ia menghilangkan dirinya menjadi sebuah gumpalan hitam yang melayang di udara. Lalu cahaya hitam itu perlahan memudar dan hilang tanpa sisa.


.


.


.


“Kue! Kue! Kue!!!”


“Esnya Bu... Esnya Pak!!!”


Teriak Denny dan Khalis menawarkan dagangan mereka ketika melewati rumah-rumah yang ada di pinggir jalan.


“DEEKK!! SINII...” Teriak seseorang yang ada di seberang jalan dari tempat mereka berdiri.


“Ayo kita kesana, ada yang panggil tuh.” Ucap Denny cepat.


Khalis dan Reina mengikuti langkah kakaknya dan menuju rumah orang yang memanggil mereka. Rumahnya terbuat dari beton yang cukup besar. Halamannya juga luas yang di sekitar halamannya ada beberapa pohon rambutan dan mangga.


“Kalian jual apa?” tanya ibu itu yang memanggil mereka, ibu itu memakai daster dan di wajahnya memakai bedak dingin yang tebal, serta ia sambil mengayunkan sebuah kipas yang terbuat dari bambu ke arah wajahnya.


“sisa es saja lagi, tante.” Ucap Denny.


“Hah?! Tadi aku dengar kalian teriak-teriak ada kue.” Sanggah ibu itu cepat.


Denny terdiam, ia lupa waktu di jalan itu kalau kue yang di bawanya sudah bekas terjatuh dan kotor. Saat dia menuju ke rumah ibu itu barulah dia ingat.


“Maafkan kami tante, aku lupa. Kalau kuenya terjatuh, jadi tidak kami jual.”


“Kok bisa jatuh, mana sini aku lihat, memangnya kue apa sih yang kalian jual?!” ibu itu menarik nampan yang sudah di letakkan Denny di teras rumahnya. Denny membiarkan ibu itu membuka isi nampannya agar ibu itu percaya kalau kuenya sudah kotor.


Ketika ibu itu membuka isi nampan itu, ya memang benar beberapa kue sudah kotor dan tercampur pasir tapi ada juga yang masih bersih.


“Ya sudah, aku pilih yang bersihnya aja, kebetulan aku juga sangat lapar dan pengen camilan di rumah.” Ucap Ibu itu sambil memilih-milih kuenya.


Denny dan Khalis saling pandang tak percaya. Kalau kue mereka masih laku di beli ibu itu.


Belum selesai ibu itu melakukan pembayaran, tetangga sebelah rumah ibu itu memanggil mereka.


“Apa yang kalian jual dek?!” teriak seorang wanita muda dengan rambutnya yang di kuncir sambil duduk di kursi teras rumahnya.


“Adanya es kak!” teriak Denny.


“Kakak mau dong.”


“Lis, kamu kesana ya..”


“Baiklah” Khalis segera menuju wanita yang memanggilnya itu.


Sementara Denny menunggu ibu yang membeli kue dan es mereka, ibu itu ke dalam rumah untuk mengambil uangnya.


“Alhamdulillah... Ternyata kuenya masih laku juga ya dek.” Ucap Denny bersyukur sambil menatap Reina.


Reina hanya menjawab dengan anggukan kepalanya sambil tersenyum.


“Nih, uangnya nak.” Ucap ibu itu menyerahkan uang 20 ribuan.


Denny mengambil uang itu dan mau menyerahkan uang kembaliannya.


“Tante, ini kembaliannya.”


“Tak usah, nak. Kembaliannya buat kalian saja.” Ibu itu menolak sambil melirik ke arah Reina.


“Tapi masih terlalu banyak tante. Atau tante mau ambil kue dan esnya?” tawar Denny merasa tak enak.


“Tidak perlu nak. Oh iya, adik kalian ini usianya berapa?” tanya ibu itu sambil mengusap rambut Reina. Bahkan ibu itu mengasuh Reina di pangkuannya.


“Umurku 5 tahun dan aku baru kelas 1 SD.” Ucap Reina sambil tersenyum.


“Wahh... Pinter sekali kamu, di usia begini sudah masuk SD.”


“Iya, tante. Dulu waktu dia umur 4 tahun ikut kakaknya yang di sana itu di kelas 1. Jadi guru walinya menyuruh ibu untuk langsung memasukkannya ke sekolah.” Denny menjelaskan.


“Eh?!” Denny kaget mendengar permintaan ibu itu. Denny menatap Reina yang masih duduk di pangkuan ibu itu.


Reina masih tak mengerti maksud dari perkataan ibu itu, jadi dia hanya bisa diam.


Khalis yang mau kembali ke saudaranya pun juga terdiam, karena ia juga sedikit mendengar pembicaraan ibu itu.


“Itu artinya aku akan berpisah sama adikku, kan? Tapi kalau dia tinggal bersama ibu itu. Aku yakin Reina akan bahagia. Dia tak perlu lagi mendapatkan siksaan dari laki-laki itu.” Batin Denny.


“Bagaimana?” desak ibu itu tak sabar menunggu keputusan Denny.


“Itu... Terserah Reinanya saja tante,” ucap Denny berusaha tetap bersikap sopan.


“Bagaimana sayang? Apa kamu mau jadi anak tante dan tinggal di rumah tante?” Ibu itu menatap Reina ia berharap sekali kalau anak di pangkuannya itu langsung menyetujuinya.


“Tinggal di rumah tante?” lirih Reina.


“Iya, kamu bisa tinggal bersama tante. Oh iya kamu juga akan dapat baju baru dan mainan.” Tawar Ibu itu lagi merayu Reina.


Reina menatap kedua kakaknya. Khalis hanya berdiri menatap dirinya, sedangkan Denny menganggukkan kepalanya agar ia segera menyetujuinya.


“Tante di rumah tinggal sama siapa?” tanya Reina.


“Oh, aku tinggal berduaan dengan suami tante. Itu pun suami tante jarang pulang, jadi tante sering sendiri di rumah.”


Reina terdiam, ia melihat pintu rumah ibu itu yang pintunya masih terbuka lebar. Namun di dalamnya terlihat agak gelap karena kurangnya cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah itu. Walau agak gelap, ada seorang nenek tua yang menyeringai dengan matanya yang hitam dan rambutnya yang putih terurai acak-acakan.


Reina menelan ludahnya dan ia menggosok-gosokkan kedua matanya. Ya, jelas sekali di matanya ia melihat seorang nenek tua, bahkan sekarang ada dua orang anak kecil yang tak memakai baju sedang meloncat-loncat di dalam rumah itu.


“Apa tante sekarang di rumah sendirian?” tanya Reina dengan sangat pelan.


“Iya, sekarang pun aku sendirian. Aku kesepian nak di rumah. Suami tante juga belum ada pulang. Makanya tante ingin sekali punya anak sepertimu biar bisa menemani tante.” Ucap ibu itu tersenyum.


“Reina... Reina mau tinggal sama kak Denny dan kak Khalis saja tante.” Lirih Reina sambil menundukkan wajahnya.


“Eh?! Tapi kakakmu nanti bisa kok datang ke rumah tante untuk menjengukmu. Jadi kamu tak perlu khawatir sama kakak-kakakmu.”


Reina tetap menggelengkan kepalanya, dia merasa tak nyaman dengan rumah itu. Karena di rumah itu ada beberapa 'mereka' yang tinggal di sana. Dia takut akan kejadian seperti di rumah kosong waktu itu. Apalagi kalau 'mereka' itu tahu bahwa dirinya bisa melihat 'mereka'.


Ibu itu menghela nafasnya, ia sedikit kecewa. Namun ia tak bisa memaksa kehendak anak gadis itu.


“Baiklah kalau begitu, tante tak bisa memaksa.” Ibu itu melepas Reina walau hatinya masih sangat berat melepaskannya. Reina memberikan senyumannya pada ibu itu sehingga membuat perasaan ibu itu menjadi lebih lega dan membalas senyuman Reina.


“Sepertinya kamu sangat menyayangi kakak-kakakmu, ya. Sering-seringlah kesini, nanti tante akan beli lagi.”


“Baik, tante. Terima kasih” ucap Denny sambil berpamitan pergi.


.


.


.


“Huh, kenapa kamu tak mau jadi anak angkat ibu itu, Rei?!” ucap Khalis ketika sudah jauh dari rumah ibu tadi.


“Kalau aku jadi kamu, aku langsung menerima tawaran itu. Toh aku bakal dapat mainan dan bisa bermanja-manja setiap hari tanpa perlu bekerja susah payah begini.”


“Ibu itu tidak sendirian di rumah.” Gumam Reina.


“Hah?! Maksudmu apa? Benar sih dia tak sendirian di rumah karena dia masih punya suami. Tapi suami beliau kan jarang ada di rumah.”


“Ta... Tapi. Di rumah ibu itu masih ada orang lain lagi. Dia tidak sendirian.” Lirih Reina.


Denny yang dari tadi hanya mendengarkan kedua adiknya, lalu ia bertanya pada Reina.


“Reina, lagi-lagi kamu melihatnya lagi, ya?”


Reina mengangguk.


“Eh?! Apa maksudnya? Reina melihat apa?” tanya Khalis tak mengerti.


“Tak, apa Lis. Ingat! Walau kita sendirian di suatu tempat. Jangan merasa sendirian di tempat itu. Karena kita tak pernah sendiri, selalu ada yang menemani kita. Entah itu iblis atau malaikat. Jadi berdoalah agar kalian selalu di temani seorang malaikat.” Ucap Denny membuat Khalis terdiam. Dia tahu ucapan kakaknya itu. Tapi ada hal lain yang masih mengganjal dalam pikirannya.


“Iya, aku tahu kalau kita tak pernah sendiri. Tapi aku masih tak mengerti, Reina melihat apa? Apa yang kalian sembunyikan dariku?” batin Khalis.


"Tunggu! aku ingat... saat dia di kamar sedang berbicara sendiri. Apa jangan-jangan dia bisa melihat hantu?!" batin Khalis sambil menatap Reina yang sedang berbicara pada kakaknya, Denny.


“Ayo kita lanjutkan lagi jualan kita.” Ucap Denny.


Mereka bertiga kembali menjual dagangan mereka. Tak terlalu lama dagangan mereka hari itu habis, hanya tersisa beberapa kue yang kotor karena terjatuh. Mereka duduk di pinggir jalan yang ada sebuah pohon besar, sehingga sangat teduh di bawah itu.


“Syukurlah dagangan kita hari ini habis. Hanya tersisa kue yang ada pasirnya ini.” Ucap Denny.


“Kak, boleh aku makan sisa kue itu. Aku lapar...” lirih Khalis.


“Eh, tapi kue itu kotor.”


“Tak apa, kan bisa di buang bagian kotornya.”


Khalis langsung mengambil kue yang masih ada berpasir. Ia membuang pasir yang menempel di kue itu dan sebagian di buangnya apabila ada bagian yang susah di bersihkannya.


Ketika ia mau memakannya, ia menatap Reina yang dari tadi ternyata memperhatikannya. Khalis menghela nafasnya, lalu memberikan kue yang ada di tangannya.


“Nih untuk kamu...”


“Eh?! Boleh?”


“Ya, aku tahu dari wajahmu, kamu pasti mau kan?!”


Reina menerima kue itu di tangan Khalis. Lalu khalis mengambil lagi kue yang lain dan membuang beberapa bagian yang kotor.


Denny menghela nafasnya melihat kedua adiknya yang sedang memakan sisa kue-kue itu. Ia mengambil air mineral yang ada dalam termos es dan segeram meminumnya.


“Kak Denny... Ini buat kakak.” Reina menyerahkan nampan kue yang masih ada tersisa dua kue yang sudah di bersih dari pasir.


“Kalian saja yang makan.”


“Kami sudah makan 2 kue, kak. Jadi sisanya buat kak Denny.” Ucap Khalis cepat.


“Bukankah katanya tadi kalian lapar?”


“I..iy...” sahut Reina, namun langsung di potong Khalis.


“Huss... Kamu kan sudah makan tadi bagianmu. Tadi sisa kuenya ada 6, jadi kita bagi 3 saja. Makanya sisa dua kue itu buat kak Denny.”


“Baiklah” Denny menerima kue itu, ia mengambil satu lalu ia berikan ke Reina, Reina mengambilnya dengan senang dan langsung menikmatinya.


“Ternyata dia masih lapar.” Batin Denny sambil memakan sisa kue terakhir.


.


.


.


.


.


Bersambung....