The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 26 Lucifer Sang Raja Iblis Sejati



**Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗


.


.


Selamat Membaca 🤗**


Cerita ini hanya fiktif belaka. Sekali lagi hanya FIKTIF.


“Hei bocah! Kau jangan sembarangan menyebutnya, Dia adalah tuan kami. Dia adalah Tuan Lucifer, Rajanya Raja Iblis!” Ucap Mammon dengan lantang.


“Apa?! Deemon adalah raja iblis?” Reina bergumam dan dia sangat kaget karena selama ini ternyata dia sudah berteman dengan Raja iblis yang sesungguhnya.


Reina menatap Deemon dalam waktu yang lama. Dia tak menyangka makhluk yang selama ini bersamanya adalah rajanya raja iblis.


“Benarkah?” gumam Reina sambil menatap Deemon.


“Itu dulu...” jawab Deemon datar.


“Tidak Tuan... Anda tetap Tuan kami. Selamat datang kembali Tuan Lucifer yang agung. Anda adalah tuan kebanggaan kami!” sahut Mammon sambil berjongkok menghadap Deemon seolah-olah ia menyembah Deemon, diikuti oleh Satan dan Belphon.


Reina yang berdiri dekat Deemon jadi kebingungan karena tiga Raja iblis di hadapannya sedang bersujud di depannya.


“Berdirilah kalian, aku bukan tuan kalian lagi. Tuan kalian Lucifer sudah tidak ada lagi... Sekarang namaku adalah Deemon, dan aku bukan sang iblis kebanggaan kalian lagi.”


“APA?!” teriak tiga iblis itu hampir bersamaan.


“Tidak Tuan! Anda masih Tuan kami... Kami sudah lama menunggu kembalinya tuan setelah beribu-ribu tahun lamanya...” belum selesai Satan dengan kalimatnya, Mammon langsung bersuara.


“Benar Tuan. Tanpa Tuan, kami tak akan pernah ada di dunia ini,”


“Jadi... Deemon juga iblis?” lirih Reina masih tak percaya sambil menatap Deemon.


“Tentu saja, bocah! Dia adalah Tuan kami, Tuan Lucifer! Jadi kamu jangan sembarangan menyebut nama lain sama dia! Tuan Lucifer adalah Raja kami. Dia adalah Raja dari segala Raja dunia iblis! Dialah Raja Iblis sejati!” Sahut Satan dengan lantang.


“Raja iblis sejati?” gumam Reina mengulang ucapan Satan.


“Benarkah itu Deemon? Ah, tidak Lu-luu...” belum selesai Reina dengan ucapannya, Deemon langsung bicara.


“Panggil saja aku sesukamu. Sepertinya aku sudah menyukai nama itu,” ucap Deemon.


“Benarkah?!” Seru Reina tersenyum gembira karena nama yang ia berikan ternyata di sukai oleh Deemon.


“Ya.” Jawab Deemon singkat.


Ke tiga iblis di sana terpana mendengar tuannya yang sudah memiliki nama baru. Satan merasa tak terima karena Tuan yang ia hormati sudah memiliki nama baru, bahkan nama itu di berikan oleh anak manusia.


“Tunggu! Kenapa tuan...”


“Tak apa Satan. Kan sudah kubilang, kalau aku bukan Lucifer yang dulu kalian banggakan. Lucifer yang dulu sudah tidak ada lagi, yang ada di hadapan kalian adalah Deemon, sang iblis yang lemah.”


“Tapi...” Mammon ingin membantah, namun Deemon memberikan kode dengan tangannya untuk tak boleh bicara lebih banyak lagi. Kedua iblis lain pun ikut diam, tak berani lagi berbicara.


“Jadi... Selama ini aku berteman dengan Iblis?” gumam Reina sambil meremas ujung bajunya, matanya tertuju pada kedua kakinya yang tanpa alas kaki.


“Apa kamu sekarang mulai takut?” kali ini Deemon berjongkok menyetarakan tingginya dengan tubuh Reina. Lagi-lagi ketiga iblis yang lain heran melihat sikap Deemon pada anak manusia yang ada di hadapan mereka.


Reina tak menjawab, ia menggelengkan kepalanya. “Aku bukannya takut. Tapi aku khawatir, apa kita tak bisa berteman lagi?”


Mendengar ucapan Reina, ketiga iblis yang ada di sana selain Deemon, mereka terkejut.


“Berteman?” gumam mereka saling pandang.


“Tentu saja!” sahut Deemon dengan tenang. Hal itu semakin membuat ketiga iblis itu marah.


“Cih, sudah kuduga. Ternyata kau memang memihak pada manusia! Aku curiga saat kau muncul di belakang anak itu!” bentak Mammon dengan kesalnya.


“Tuan Lucifer! Anda sedang bercanda kan?!” sahut Belphmon.


“Tidak Belmon! Aku tidak sedang bercanda.”


“KAU JANGAN MAIN-MAIN?! APA KARENA ANAK ITU KAU MENGKHIANATI KAMI?!” kali ini Satan berteriak.


“Aku tidak pernah bermaksud mengkhianati kalian. Karena sekarang aku bukan Lucifer lagi, jadi tugasku sekarang tidak ada lagi.”


“Deemon, apa yang terjadi? Kenapa mereka marah?” Reina masih kebingungan dengan sikap ketiga Iblis itu.


“Cih! Seandainya aku boleh membunuh anak manusia ini. Sudah aku bunuh dia dari tadi!” gumam Satan menatap tajam ke arah Reina. Reina langsung bersembunyi di balik kaki Deemon.


“Reina, tak perlu takut sama mereka. Mereka tak bisa menyentuh, apalagi sampai membunuhmu.” Ucap Deemon menenangkan Reina.


“Benarkah? Syukurlah...” lirih Reina keluar dari persembunyiannya di kaki Deemon.


“DASAR PENGKHIANAT!!” teriak Satan, dia menyemburkan api merah dari mulutnya ke arah Deemon. Dengan cepat Deemon menahan api merah itu dengan mengeluarkan api hitam dari tangannya. Sehingga api merah itu seolah-olah di makan sama api hitam.


“Ke-kenapa kalian bertengkar?” Reina masih kebingungan dengan apa yang dia lihat.


“Ini semua gara-gara kamu, bocah!” sahut Mammon lantang, dengan kekuatannya ia sudah ada di belakang Reina.


“Kenapa?” Reina masih heran.


“Akan aku jelaskan.”


“Dulu kami tidak ada, yang ada hanyalah para malaikat, hewan, roh para kebajikan dan satu Iblis yaitu Tuan Lucifer sang cahaya dan kebanggan. Pada saat itu Tuan Lucifer yang paling berkuasa di antara yang lainnya. Dia penguasa ilmu pengetahuan dan sebagainya. Hingga pada akhirnya Tuhan kami menciptakan sesuatu yang membuat mereka menyembahnya, yaitu kalian para Manusia.”


“Tentu saja hewan dan malaikat langsung menurut dengan Tuhan kami. Hanya satu orang yang menentangnya, yaitu tuan Lucifer! Tuhan kami pun mengusir dan mengutuk tuan Lucifer. Dari sang cahaya menuju kegelapan yang sangat gelap. Namun Tuan Lucifer menahan kutukan itu dengan kekuatannya, sehingga terpecahlah kekuatannya itu jadi 6 bagian dari kami.” Cerita Mammon dengan panjang lebar.


Satan pun ikut menambahkan, “Ya, saat itulah ingatan kami tentang Tuan Lucifer masih melekat lewat kekuatannya itu. Kami pikir tuan Lucifer saat itu lenyap. Hingga akhirnya dia muncul hari ini. Tapi tak kusangka, dia malah melupakan jati dirinya hanya karena kamu, bocah!” bentak Satan.


Reina hanya diam, sebenarnya dia juga masih tak paham arah pembicaraan para Iblis itu.


“Kalian sudah puas bicaranya? Sebenarnya kalian ceritakan panjang lebar seperti apa pun anak ini tak akan mengerti. Karena dia masih bocah, haha” tawa Deemon membuat ketiga iblis itu terdiam dan merasa sia-sia mereka bercerita panjang lebar pada anak di hadapannya itu.


“Tujuan kalian berkumpul disini untuk menutup penglihatannya kan?” ucap Deemon lagi.


“Eh? Apa maksudnya? Apa aku akan buta?” Reina kebingungan saat mendengar ucapan Deemon.


“Bukan! Bocah bodoh!” bentak Satan


“Hei gadis kecil... Kami ini para iblis! Dan tugas kami adalah membisiki umat manusia ke jalan kejahatan. Semakin jahat mereka, maka semakin kuatlah kami, khekhekhe...” tawa Mammon.


“Apa?!! Itu gak boleh! Kalian jahat! Gara-gara kalian... Ayah tiriku jadi menyiksa kami... Hiks, hiks...” isak Reina mulai menangis.


“Deemon... Bisakah kau memusnahkan mereka? Mereka jahat!” seru Reina.


“Apa?! Jahat?! Justru kalianlah para manusialah yang lebih jahat!” bentak Satan.


“Apa maksudmu?!” balas Reina marah.


“Hei, walau kami ini iblis. Kami tak pernah membunuh sesama kami. Lihatlah manusia, bukankah mereka saling bunuh? Bahkan membunuh anak-anak mereka yang masih suci... Dan yang paling parah mereka berkhianat pada Tuhan mereka. Bahkan kamu sadar sendiri kan? Kamu lebih takut sama ayah tirimu dari pada kami... Jadi apakah kamu mengakui siapa yang lebih jahat? Khekhekhe...” Tawa Satan penuh kemenangan.


Reina langsung terdiam mendengar ucapan Satan saat mendengar kalimat terakhir.


“Tapi kan, itu karena kalian membisiki Ayah tiri kami...” lirih Reina membalas ucapan Satan.


“Itu karena manusia makhluk bodoh! Padahal dia sudah di beri akal sama Tuhan. Mereka bisa membedakan mana yang benar dan salah. Tapi mereka memilih nafsunya ketimbang akalnya! Mereka sebenarnya tahu perbuatannya itu salah, tapi mereka tetap saja menuruti hawa nafsunya yang tak pernah puas. Khekhekhe....” tawa Mammon di ikuti kedua iblis lainnya.


Lagi-lagi ucapan para iblis itu membuat Reina terdiam.


“Kau tak perlu menanggapi ucapan mereka.” Ucap Deemon melihat Reina yang sedang kebingungan.


“Eh?! Apa yang di ucapkan mereka itu salah?”


“Tentu saja itu benar.” Jawab Deemon dengan datar, ia lalu menatap ke arah tiga iblis itu.


“Sekarang bukankah saatnya...” gumam Deemon.


“Baiklah...” sahut tiga iblis hampir bersamaan.


Ketiga iblis itu mengeluarkan kekuatan mereka berupa cahaya merah, kuning, dan orange. Cahaya itu melesat menuju mata Reina.


“Eh? Apa ini?” Reina mencoba menutup matanya karena silau, tapi walaupun ia menutup mata, cahaya itu bisa menembus kelopak matanya. Jadi percuma saja kalau dia menutup mata, cahaya itu tetap dapat di lihatnya meski menutup mata.


“Kami akan menutup penglihatanmu... Pada dasarnya manusia tak boleh melihat kami. Itu sebuah ancaman untuk kami, karena kami tak bisa menyentuh manusia. Jadi, mulai sekarang kau tak akan bisa melihat kami lagi.” Ucap Mammon mengakhiri kekuatannya bersamaan dengan kedua iblis lainnya.


Seketika itu juga Reina tak bisa melihat ketiga iblis itu, mereka hilang di pandangannya. Yang ada dirinya bersama Deemon yang masih diam berdiri menatap ke arahnya.


“Kemana mereka?!” teriak Reina menoleh kekiri dan kekanan.


“Mereka masih ada, cuma kamu tak bisa melihat mereka lagi.” jawab Deemon.


“Begitu...” lirih Reina.


“Sekarang giliranku...” ucap Deemon mengeluarkan cahaya hitam di tangannya.


“Eh?! Kenapa?!” Reina terkejut melihat Deemon mengeluarkan kekuatan di tangannya.


“Bukankah sudah jelas, kalau manusia di larang melihat kami? Jadi aku juga akan menghilangkan kekuatanmu untuk melihatku.” Deemon langsung mengarahkan kekuatan di tangannya ke arah mata Reina.


Reina sangat terkejut, dia tak bisa bergerak dan matanya melotot ke arah tangan Deemon yang mengarah cepat ke matanya.


.


.


Bersambung.