
Jangan lupa ya Readers...
Untuk tap Like dan Rate nya...
🌚Selamat Membaca🌚
“Kamu tak apa Rein? Bagaimana kalau kamu istirahat saja dulu di rumah. Lihat! Tubuhmu masih agak kuning begini” ucap Denny melihat adiknya yang sudah memakai seragam sekolahnya.
“Reina baik-baik saja kak Denny. Lagi pula kalau di rumah, nanti dia menyuruh Reina macam-macam terus,” lirih Reina sambil menghela nafasnya dengan wajah yang cemberut.
“Ya sudah, kalau kamu kenapa-kenapa, nanti datang saja ke kelas kakak, ya."
Reina hanya menganggukkan kepala sambil memegang tas ranselnya.
Setelah berpamitan dengan Aminah, mereka bertiga berangkat, tentu saja mereka bertiga tidak berpamitan dengan Badrun. Malah mereka menghindari untuk bertemu Badrun.
.
.
🌚🌚🌚
“Reina? Apa kamu tak apa-apa?” tanya Aida ketika melihat Reina yang sudah duduk di kursinya.
“Aku tak apa-apa”.
Aida duduk di samping Reina, lalu menatap wajah Reina yang masih sedikit kuning. Tapi tak sepucat kemarin.
“Apa tak ada yang sakit?” Tanya Aida lagi.
Reina menggelengkan kepalanya.
“Lalu bagaimana kamu bisa ke alam lain? Aku penasaran, kalau kamu kesana aku ikut ya...” ucap Aida sedikit berbisik pada Reina.
“Aku juga tidak tahu bagaimana caranya. Tiba-tiba saja aku ketiduran lalu pas bangun aku ketemu sama hantu miskin itu loh,” ucap Reina bersemangat.
“Oh, yang bertanduk itu? Apa dia mau minta uang lagi?”
“Bukan, katanya dia itu bukan hantu miskin,"
“Lalu dia itu hantu apa?” tanya Aida penasaran.
“Aku juga tidak tahu, tapi aku sempat dengar kalau dia lapar," gumam Reina sambil mengingat-ingat kejadian itu.
“Hah?! Jadi dia mau minta makan sama kamu? Itu sama saja dia pengemis! Dia memang tidak minta uang, tapi dia mau minta makanan sama kamu,” ucap Aida dengan lantang.
Aida lalu mengambil buku kecil dan sebuah pensil. Ia menuliskan sesuatu dengan tulisannya yang masih anak-anak, namun masih tetap bisa di baca. Tulisan di depannya tertulis “Jenis-jenis Hantu”.
“Wuahh ... Kamu kenal jenis-jenis hantu?” tanya Reina setelah mengeja tulisan di depan buku tulis Aida.
“Ya, aku kenal. Nenekku yang menceritakan banyak jenis hantu, lalu aku catat deh” jawab Aida sambil tertawa kecil.
“Aida keren!”
“Huh! Tentu saja. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Ini hanya rahasia kita saja, soalnya ayah dan ibuku akan marah kalau aku cerita tentang hantu."
Reina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
.
🌚🌚🌚
.
Malam harinya, terdengar perkelahian antar mulut dari Aminah dan suaminya, Badrun. Entah apa pemicu pertengkaran suami istri itu. Hal seperti itu adalah hal yang biasa bagi ketiga kakak beradik itu mendengarkan perkelahian ibu dan ayah tirinya. Mereka hanya diam di kamar sambil belajar. Kalau mereka ikut campur, konsekuensinya mereka malah akan kena pukul oleh Badrun. Jadi, diam adalah pilihan terbaik untuk mereka.
Saat pertengkaran terjadi, Reina keluar kamar, Ia bermaksud untuk ke toilet. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Ibu dan ayah tirinya bertengkar. Ia melihat sosok berwarna merah di belakang Badrun. Matanya sangat tajam dan sepenuhnya berwarna merah menyala. Reina memalingkan wajahnya, dia seperti tak melihat apa-apa. Lalu ia meneruskan langkahnya untuk ke toilet.
Setelah dari toilet, ia kembali menuju kamar.
“Oh, si Merah itu masih belum pergi," batin Reina yang masih melihat makhluk itu di belakang Badrun.
Merasa ada yang memperhatikannya, Badrun menatap Reina yang mau ke kamar.
“APA KAU LIHAT-LIHAT?!!” Bentak Badrun, sehingga makhluk merah itu juga menatap Reina.
Reina hanya menunduk ketakutan, bukan karena takut pada makhluk itu, tapi takut pada Ayah tirinya kalau dia akan kena pukul, lalu ia dengan bergegas masuk ke kamarnya.
.
.
🌚🌚🌚
“Itu, Reina nganggur. Sama Reina saja,” ucap Khalis langsung. Padahal Reina sama sibuknya seperti dia yang sedang asyik dengan buku tulisnya.
“Hahh.... Khalis, bilang aja kamu malaskan?” keluh Denny pada adiknya.
“Lalu, Reina. Apa kamu bisa bantu kakak?” tanya Denny lagi menatap Reina.
Reina tak langsung menjawab, ia meletakkan bukunya sambil berusaha bangkit dari ranjang dengan sedikit malas.
“Memangnya kak Denny mau bantu apa?” tanya Reina dengan suara yang memelas.
“Air wudhu di rumah sudah habis, jadi terpaksa kakak harus wudhu di luar. Sekalian mau ambil wudhu di sumur Pak Anshori buat subuh nanti, jadi pegangin senter buat kakak” ucap Denny.
Di rumah Reina, mereka tak memilik mesin pompa air, atau mesin air yang sering di pakai di zaman sekarang. Di kampung itu alternatif mengambil air hanya di sungai atau sumur untuk keperluan sehari-hari. Cukup susah bukan? Mereka bolak-balik menimba air atau mengangkut air dengan ember dari sungai ke rumah dengan jarak yang cukup jauh.
“Oh, baiklah," ucap Reina santai.
Di sebut dengan sumur Pak Anshori, karena letak sumur itu ada di depan rumah Pak Anshori. Sumur itu juga memang milik beliau, dan siapa pun boleh memakainya. Cukup dekat letaknya dengan rumah Reina, hanya bersebelahan rumah. Walau boleh siapa pun memakainya, tetapi tetangga di dekat situ tetap memilih mandi atau mengambil air untuk keperluan lain ke sungai. Kecuali di saat genting, barulah mereka akan meminta izin untuk memakai sumur itu.
Termasuk saat ini Denny yang mau mengambil air wudhu di sumur itu. Bahkan dia meminta izin terlebih dahulu dengan pemilik sumur, karena kebetulan Pak Anshori saat itu sedang berada di depan rumah sedang asyik ngobrol dengan Pak Husai sambil merokok.
.
Denny mulai menimba air di sumur dengan menggunakan katrol sumur. Sementara Denny sibuk menimba air, Reina menunggu di sampingnya. Pandangan Reina tertuju ke arah jalan sungai yang biasanya tiap pagi di lewatinya bersama kakak-kakaknya. Dia melihat sosok mata merah yang sedang menatapnya.
“oh, bukankah itu si Merah yang di belakang ayah tiriku tadi?” batin Reina.
Reina meremas baju kakaknya, sehingga membuat Denny menghentikan aktivitasnya.
“Ada apa?”
“Kak Den. Lihat! Disana ada mata merah. Itu apa?” tanya Reina dengan polos sambil menunjuk mata merah itu yang jaraknya cukup jauh, namun tetap terlihat jelas oleh Reina.
Denny terdiam sejenak, dia sedikit gemetar mendengar perkataan adiknya. Namun ia sembunyikan rasa takutnya itu untuk adiknya.
“Reina, tenanglah. Lalu jangan kau tunjuk dia seperti itu. Pura-puralah kamu tak melihat dia," ucap Denny.
“Baiklah."
.
.
Setelah dua ember berisi air penuh, Denny mengangkat kedua ember berisi air itu dan pulang sambil di bantu Reina yang sedang memberikan penerangan jalan memakai senter.
Mereka masuk melalui jalan belakang rumah mereka. Ketika tiba di depan pintu belakang, tiba-tiba Reina mengarahkan senternya ke atas pohon.
“Ada apa Reina?” tanya Denny.
“Itu di atas pohon ada putih-putih kak,” ucap Reina datar.
Ucapan Reina membuat Denny mempercepat dan menarik tangan Reina untuk masuk ke dalam rumah, lalu ia langsung mengunci pintunya. Tampak Denny seperti di kejar sesuatu, jantungnya berdegup dengan cepat.
Ia menarik napasnya dan menghembuskannya dengan pelan, lalu ia menatap adiknya.
“Reina, apa yang kamu lihat itu belum tentu orang lain bisa melihatnya," ucap Denny sambil memegang kedua bahu Reina.
“Apa kak Denny tak percaya padaku?” gumam Reina dengan wajah yang tampak kecewa karena merasa tak di percaya.
“Bukan! Kakak percaya. Tapi setidaknya kamu bisa kan untuk diam? Atau kamu pura-pura tidak melihatnya, apa kamu bisa?”
“Tapi kak... Di belakang Ayah tiri kita juga ada, itu merah..” bisik Reina pada Denny. Denny terkejut dan memalingkan tubuhnya karena tiba-tiba Badrun datang ke dapur. Untung saja percakapan mereka tak di dengar olehnya.
“Ngapain kalian di sana?! Bisik-bisik segala!, Kalian sedang membicarakanku?! Hah?!” geram Badrun sambil duduk di meja makan sambil menuangkan segelas air.
“Tidak...” gumam Denny.
“Ayo, Rei...kita ke kamar...” ucap Denny menarik tangan Reina.
Sikap cuek Denny itu selalu membuat Badrun kesal. Dia selalu ingin memukul Denny, sehingga ia sering mencari kesalahan kecil Denny sebagai alasan untuk memukulnya.
Reina mengikuti langkah kaki kakaknya, arah pandangannya tertuju pada makhluk merah yang ada di belakang ayah tirinya yang juga sedang menatapnya hingga pandangannya hilang ketika ia sudah keluar dari dapur.
Bersambung...