
Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗
.
.
Selamat Membaca 🤗
*****
“Eh?! Ruqiyah? Ruqiyah itu apa?” Ucap Reina keesokan harinya setelah mandi.
“Ikut saja sama kakak, ya.” Maya membujuk tanpa menjelaskan pertanyaan Reina.
Reina hanya mengangguk pelan.
Reina dan Maya bersiap-siap, lalu minta izin pada ibunya untuk pergi membawa Reina.
“Mau kemana kalian?” Ucap Badrun ketus melihat mereka mau pergi.
“Mau bawa Reina untuk beruqiyah.” Sahut Maya.
“Hm? Sama siapa?”
“Kami coba dulu sama Pak Haji,” jawab Maya datar.
“Berapa upah buat Meruqiyah adikmu?”
“Hah?! Upah? Masih belum tahu sih... Tapi aku isi di amplop lima puluh ribu,” jawab Maya sambil memperlihatkan amplopnya.
Spontan Badrun mengambil amplop itu dengan kasar dari tangan Maya.
“Banyak sekali. Nih aku tukar dengan pecahan sepuluh ribu. Itu sudah cukup!” bentak Badrun sambil mengambil uang lima puluhan dengan sepuluh ribuan.
“Apa?! Kembalikan uangnya! Itu uangku!” bentak Maya.
“Hah?! Apa kamu bilang? Uangmu? Kamu pasti minta uang ini dari Ibumu, kan? Jadi itu termasuk uangku juga. Ingat! Aku kepala rumah tangga di sini. Kamu jangan melawanku!” bentak Badrun sambil berlalu meninggalkan Maya.
Denny melihat kejadian itu, ia langsung melaporkan hal itu pada Ibunya.
“Hahhh... Lagi-lagi mereka bertengkar. Nih uangnya Ibu ganti. Kasihkan itu ke kakakmu.” Ucap Aminah menyerahkan uang lima puluhan.
Denny sebenarnya tak ingin mengambilnya, tapi karena kakaknya mau pergi, dengan terpaksa ia buru-buru langsung menyerahkan uang itu.
“Kenapa Ibu tak menegur si **** itu? Malah mengalah untuk memberikan uang lagi,” batin Denny melihat Maya dan Reina pergi.
.
.
👻👻👻
“Assalamualaikum, Pak Haji...!” Teriak Maya memberi salam di ikuti mengetuk pintu rumah Pak Haji.
Tak menunggu lama, seorang wanita menjawab salam Maya, ia membukakan pintu untuk Maya dan menyuruh duduk di ruang tamu yang cukup luas.
“Aduh, May. Lama kamu gak pulang. Kamu sudah jadi gadis rupanya. Makin cantik aja.”
“Hehe, Bu Haji bisa aja memujiku. Gimana kabar Ibu dan Pak Haji?”
“Alhamdulillah, sehat. Lalu sekolahmu di pondok pesantren gimana?”
“Lancar kok, Bu. Oh iya, Bu. Maksud kedatangan kami ini sebenarnya mau minta tolong sama Pak Haji, buat meruqiyah adik saya, Bu.”
“Ruqiyah? Memangnya dia sakit apa?” Bu Haji menatap Reina yang tak ada terlihat sakit.
“Dia bisa melihat 'mereka' Bu,” bisik Maya.
“Hah?! Benarkah?” Bu haji kaget.
“Iya, bu. Bahkan kata adikku. Dia pernah bicara sendiri.”
“Apa dia sudah berteman dengan makhluk lain?”
“Entahlah, Bu. Saya juga tidak tahu.”
“Baiklah, kamu tunggu di sini dulu ya, May. Aku panggilkan Bapaknya dulu, dia tadi di belakang memberi makan ayamnya.”
“Iya, Bu.”
Bu Haji meninggalkan Maya dan Reina sebentar di ruang tamu.
.
“Loh, Reina...!”
Reina dan Maya tertuju pada suara anak kecil yang memanggil Reina. Tubuhnya kurus, tingginya kurang lebih sama dengan Reina, ia memberikan senyum pada Reina dan menghampirinya.
“Kamu kesini mau main, ya?” ucapnya lagi pada Reina.
“Hm... Siapa dia dek?” Bisik Maya.
“Oh, dia anak Pak Haji, dia juga teman sekelasku. Namanya Khairul, kak.”
“Wah... Lama gak ketemu ya Rul. Kamu sudah besar!” seru Maya tersenyum.
“Gak ah kak. Aku tak tambah besar. Masih kurus.”
“Maksudnya kamu lebih besar dari dulu, hehe.” Ucap Maya sambil tertawa kecil.
“Rul, main apa?” Reina turun dari kursinya dan mau menghampiri Khairul, namun Maya langsung menahannya.
“Eits! mau kemana kamu? Kita kesini bukan untuk main loh.”
“Rul, mainnya nanti aja ya, setelah Reina selesai di ruqiyah.” Maya mengedipkan matanya pada Khairul.
“Aku temani, ya.” Sahut Khairul pendek, ia duduk di dekat Reina. Melihat anak itu duduk di samping Reina, Maya jadi mengernyitkan alisnya.
“Tunggu! Kalian tak boleh duduk bersampingan seperti tadi, ya. Gak boleh!”
“Kenapa?” ucap Khairul sedikit kesal.
“Karena kalian bukan mahrom.” Ucap Maya.
“Mahrom?” Reina bingung mendengar kata-kata baru di telinganya. Artinya Maya harus menjelaskannya kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Mahrom artinya semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan. Contohnya Reina, Denny dan Khalis. Nah kalian itu satu mahrom jadi boleh bersentuhan.”
“Lalu supaya jadi mahrom, harus gimana kak?” ucap Khairul.
“Menikah, contohnya Pak Haji dan Bu haji. Mereka kan sudah menikah, jadi sudah mahrom.” Ucap Maya menjelaskan di akhiri dengan senyumannya.
“Ohh... Begitu... Tapi dulu Reina pernah bersentuhan sama Pak Husai, waktu bersaliman. Apa tidak apa-apa?” ucap Reina polos.
“Eh?! I-itu...” Maya jadi tergagap kebingungan untuk menjelaskannya.
“Kalau begitu, supaya kita jadi mahrom. Kita harus menikah, Rei!” seru Khairul menatap Reina.
“Wah, wah... Anak Bapak berani sekali mengajak anak orang untuk menikah.”
Suara seorang Bapak mengejutkan mereka. Dia memakai baju koko dengan sarung, serta tak ketinggalan peci putih di kepalanya.
“Assalamualaikum, Pak Haji,” ucap Maya memberi salam.
“Waalaikumsalam warahmatullah...” sahut Pak Haji.
“Sini, kamu. Duduk di dekat Bapak saja. Ngapain kamu ajak anak orang menikah. Disunat aja belum.” Ucap Pak Haji di sambut dengan tertawaan Maya dan Bu Haji. Khairul lalu menghampiri Bapaknya.
“Besar sekali...” gumam Pak Haji melihat Reina.
“Jadi, Reina yang akan di ruqiyah?”
“Benar, Pak Haji.” Ucap Maya singkat.
Pak Haji tersenyum melihat Reina, lalu pandangannya beralih pada Maya.
“Tidak, yang harus di ruqiyah itu kamu, Maya.”
“Apa?! Tapi kemarin malam dia kesurupan Pak Haji. Kenapa...” belum selesai kalimat Maya, Pak Haji memberikan tanda dengan menadahkan tangan kanannya pada Maya agar menjeda bicaranya.
“Ya, Bapak tahu. Tapi dia kesurupan karena bawaan olehmu.”
“Eh? Aku?” gumam Maya. Lalu ia teringat kejadian saat pertama kali bertemu Reina yang takut melihatnya.
“Tapi... Bagaimana dengan Reina?”
“Dia baik-baik saja.”
“Tapi kata adikku, Denny. Katanya Reina bisa melihat dan berkomunikasi dengan 'mereka'!”
“Sekarang dia tidak apa-apa. Kemampuannya sudah lepas saat kejadian yang menimpanya kemarin malam.” Ucap Pak Haji sambil menatap Reina.
“Benarkah?” Maya sedikit ragu dengan ucapan Pak Haji, ia melirik ke arah Reina yang dari tadi hanya diam dan tersenyum tipis menatap Pak Haji.
“Iya. Oh iya. Satu lagi pesan Bapak. Yang perlu di ruqiyah dari rumahmu ada satu orang lagi.”
“Siapa itu pak?” Maya penasaran.
“Itu, si Badrun. Alias Bapak tirimu itu.”
“Eh?! Tapi bagaimana caranya saya menyampaikan itu padanya? Dia orangnya sangat pemarah sekali.” Maya lalu teringat kejadian saat uangnya di ambil Badrun.
“Bilang saja lewat Ibumu, biar Ibumu sendiri yang menyampaikannya. Oh, itu pun kalau ibumu mau. Karena Ibumu juga kena sihir laki-laki itu.”
“Apa?! Sihir?! Apa maksud Pak Haji?”
“Aduh, tegang sekali bicaranya. Ini minuman dan kuenya silahkan di minum May.” tiba-tiba Bu Haji datang sambil menaruh makanan dan minuman itu ke atas meja.
“Oh, terima kasih Bu,”sahut Maya.
Bu haji membalas dengan tersenyum, lalu ia kembali ke arah dapur.
“Rul, kamu bantu Ibu sana di dapur.” Pak Haji menyuruh anaknya.
“Aku maunya di sini,” rengek Khairul.
“Hayoo... Kamu mulai membantah ya?”
“Iya, iya... “ Khairul dengan terpaksa pergi ke arah dapur menemui ibunya dengan perasaan yang masih mendongkol.
“Ada apa Rul, kok wajahmu seperti itu?” ucap Bu Haji melihat Khairul.
“Kesal sama Bapak... Gak seperti biasanya. Biasanya kan Bapak selalu ngijinin aku untuk tetap duduk di samping Bapak saat ada tamu. Tapi kenapa hari ini Bapak tak mau aku duduk di sini?”
“Sudahlah. Mungkin Bapakmu sedang gak mau di ganggu, ayo sini bantuin Ibu,” sahut Bu Haji.
Dengan terpaksa Khairul menuruti perkataan Ibunya. Ia melirik ke arah Bapaknya dan dua tamunya. Lalu pandangannya juga pada temannya, Reina. Yang dari tadi diam dan tersenyum pada Bapaknya itu membuat Khairul sedikit penasaran.
.
.
👻👻👻
“Terima kasih Pak Haji, atas sarannya. Kami mau pulang dulu. Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam... Warahmatullah..”
Akhirnya Maya dan Reina pun pulang.
Melihat kedua tamunya pulang, Bu Haji bertanya pada suaminya.
“Pak, beneran tuh anak itu gak perlu di rukiyah?”
“Iya, aku mau ke kamar dulu sebentar. Kepalaku pusing. Jangan ganggu ya.” Ucap Pak Haji meninggalkan Istrinya yang masih heran.
.
Pak haji dengan susah payah berjalan ke kamar, lalu mengunci pintunya dari dalam. Dia memijat pelipisnya sambil duduk di bibir ranjang.
“Astagfirrullah... Aku sudah berbohong...UHUKK!!” Pak Haji terbatuk-batuk, seketika ada aura hitam keluar dari tubuh Pak Haji.
“Hahh....hahh... Itu kan kemauanmu? Sesuai janjimu, dengan begini kamu tak akan menyakiti istri dan anak-anakku kan?” ucap Pak Haji dengan tersengal-sengal. Keringat dinginnya keluar dari bandan dan wajahnya. Dia sedikit mundur melihat sosok hitam di depannya hingga menempel pada dinding kamarnya.
“Tentu saja.” Jawab sosok hitam itu yang ternyata adalah Deemon.
“Lalu, apa sebenarnya tujuanmu? Kamu tak akan menyakiti mereka kan?” ucap Pak Haji cemas.
“Aku tak pernah menyakiti manusia, malah manusia yang saling menyakiti manusia. Contohnya Ayah tirinya itu.” Sahut Deemon datar.
“BOHONG! Jelas-jelas sebelumnya kamu mengancamku untuk menyakiti keluargaku. Jika aku berani meruqiyah anak itu!” geram Pak Haji.
“Oh, itu... Aku bohong, kok. Hehe,” sahut Deemon datar sambil tertawa kecil, ia lalu mau pergi.
“Si*l! Bisa-bisanya aku percaya sama setan kecil ini,” Pak Haji membatin.
“Aku bukan setan kecil, lalu tak di sangka seorang ulama yang di percayai di kampung ini masa percaya sama setan kecil?” Deemon mengetahui pikiran Pak Haji.
“Sebenarnya kamu ini apa? Iblis? Setan? Jin? Siluman? Atau apa?” geram Pak Haji.
Deemon terhenti saat mau pergi, ia masih memunggungi Pak Haji.
“Tidak ada di antara yang kamu sebut tadi.” Deemon kemudian menghilang lewat tembok kamar, menyisakan banyak pertanyaan untuk Pak Haji.
“Kalau tak ada di antara yang kusebut tadi, masa kamu manusia? Gak mungkin, kan?” gerutu Pak Haji sambil mengepalkan tangannya.
“Reina... Kenapa bisa akrab dengan makhluk itu?”
.
Bersambung