The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 24 Pertemuan Dengan Si Merah



Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya kak 🤗🤗🤗


.


.


Selamat Membaca 🤗


.


____________________________________________


“Siapa kau?! Berani sekali memerintah kami!” Bentak kepala keluarga itu, aura gelap keluar dari tubuhnya.


Melihat tuan rumah marah, letnan yang berjaga di pintu ruangan itu langsung mencoba untuk menenangkan tuannya.


“Maafkan kami Tuan, aku pikir dia adalah pelayan gadis itu,” sahut letnan itu sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada tuan rumah.


Deemon langsung menghampiri Reina, dia memaksanya untuk menjauhi meja makan itu.


“Jangan kau sentuh makanan itu!” Bentak Deemon.


“Kenapa?”


Deemon tak menjawab, ia mengusap kedua mata Reina.


“Lihatlah apa yang kau lihat di atas meja itu.”


Reina kemudian melihat semua hidangan yang ada di atas meja, dia kaget melihat semua hidangan itu berubah jadi busuk semua.


Daging yang ada di atas meja di penuhi belatung. Buah-buahannya tak ada yang segar, semuanya tersedia dalam keadaan busuk. Tak ada kue yang terlihat enak, yang ada hanya seperti sampah-sampah makanan sisa yang tersedia di meja itu. Minumannya juga cairan hitam yang berbau sangat busuk.


“Humpp!!!!” Reina langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, ia jadi mual melihat makanan yang di atas meja itu berubah.


Reina tak tahan berada dalam ruangan itu. Baunya sangat busuk, ia lalu menarik Deemon mengajaknya keluar. Namun di cegat oleh kedua letnan yang berjaga di muka pintu.


“Kalian tak boleh keluar dari sini! Kecuali kalian memberi tahu tubuh asli anak itu ada dimana? khekhekhe,” Tuan rumah itu terkekeh memamerkan gigi-giginya yang hitam, di ikuti anak dan istrinya yang juga ikut tertawa.


“Rei... Maukah kamu main sama kami?” ucap Nira dan Nara hampir bersamaan, setelah itu keduanya tertawa bersama.


Reina menggelengkan kepalanya sambil bersembunyi di balik tubuh Deemon, ia memegang tangan Deemon sangat erat.


Deemon merasakan genggaman kuat dari tangan Reina, ia lalu dengan tenang bertanya pada Reina.


“Apa kau takut?”


“Sedikit...” lirih Reina.


“Makanya kamu harus mengikuti kata-kataku. Ayo kita pulang.” Ucap Deemon, dengan tenang ia berjalan sambil menuntun Reina ke arah pintu yang di hadang kedua letnan itu.


“Jangan bergerak! Atau kalian akan mati!” ancam kedua letnan itu mengarahkan pistolnya ke arah Deemon.


Namun Deemon tetap tenang berjalan menuju ke arah pintu itu.


“Deemon... Mereka mau menembak kita,” lirih Reina khawatir.


“Jangan lepaskan genggaman tanganmu.”


Kali ini Reina menurut dengan ucapan Deemon, ia tetap menggenggam tangan Deemon dengan erat sambil mengikuti langkah kakinya.


“Tak akan kubiarkan anak itu kabur!” Seru sang Tuan rumah melesat mau menghampiri Reina.


Bwoshhhh....


Aura hitam pekat melindungi Reina dan Deemon, aura itu membentuk melingkari mereka berdua.


Semua penghuni rumah itu kaget melihat aura yang mengelilingi dua orang asing itu. Bahkan mereka tak berani mendekat. Karena aura hitam itu terlalu kuat untuk mereka, bahkan bisa mengelupaskan kulit pucat mereka jadi hitam.


Sang Tuan rumah mengurungkan niatnya untuk menangkap Reina.


“Mundur! Kalian Nak!!” Seru sang Ayah mencoba melindungi keluarganya. Tangannya sudah sedikit menghitam karena ia terlalu berani mau menangkap Reina.


“KALIAN BERDUA KENAPA DIAM SAJA?!! CEPAT TEMBAK MEREKA!!” Teriak tuan rumah itu memerintahkan kepada dua orang letnan yang berjaga.


**Dor..!!


Dor ..!!


Dor**...!!


Terdengar suara tembakan keluar dari senapan itu. Namun peluru mereka tak bisa menembus tameng aura hitam dari Deemon.


Deemon menuntun Reina kembali terbang ke udara. Reina hanya diam menatap Deemon penuh dengan kekaguman. Tangan Deemon mengarahkan ke rumah itu, aura hitam pekat keluar lagi di tangannya. Aura itu awalnya kecil, lalu lama kelamaan membesar.


Bwooooshhhh.....


Aura hitam besar itu melesat menuju rumah besar itu lalu...


BOOMM!!


Rumah itu meledak seketika, kobaran aura hitam itu tampak seperti api hitam yang membara memakan semua rumah besar itu bersamaan dengan penghuninya.


Semua makhluk yang ada di sekitar sana menatap ke arah mereka dan rumah itu. Mereka berkerumun seolah-olah mencari tahu penyebab meledaknya rumah itu.


“Apa yang kau lakukan?!” Teriak Reina, dia tak menyangka kalau Deemon membakar rumah itu beserta semua isinya.


“Tentu saja memusnahkan makhluk rendahan seperti mereka,” jawab Deemon dengan santainya tanpa ada ekspresi di wajah hitamnya itu.


“Tapi... Kenapa sampai menghancurkan mereka tanpa sisa? Apa itu tidak keterlaluan?!” lirih Reina melihat rumah itu sudah hilang, semua makhluk yang ada di sekitar sana juga tak peduli. Mereka lalu bubar setelah rumah itu benar-benar lenyap di makan api hitam.


“Keterlaluan? Bocah! Ini dunia kami berbeda dengan dunia manusia. Peraturan di sini yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan musnah. Tapi jika si lemah tak berbuat masalah, dia akan baik-baik saja,” ucap Deemon datar.


“Lagi pula kalau mereka tak di musnahkan, bukankah mereka tadi mengincarmu? Seandainya aku tak ada, kau akan terjebak bersama mereka. Apa kamu mau tinggal bersama mereka?”


Reina terdiam mendengar penuturan dari Deemon. Ya, seandainya ia tak di tolong sama Deemon, bisa-bisa dia sudah memakan makanan busuk yang ada di meja tadi.


Mengingatnya saja membuat perut Reina jadi mual. Reina bersyukur kalau dia datang ke rumah itu bersama Deemon. Ia lalu menatap wajah Deemon yang bulat sempurna itu.


“Ada apa?” Deemon heran karena anak di hadapannya menatapnya cukup lama.


“Kalau begitu apakah kamu termasuk orang yang kuat?”


Deemon terdiam sesaat mendengar pertanyaan anak itu.


“Kamu, ayo ikut aku. Ada seseorang yang mau menemuimu.” Ucap Deemon memilih tak menjawab pertanyaan Reina, ia menggenggam tangan Reina dan membawanya melayang ke udara.


“Tunggu! Kamu belum jawab pertanyaanku!” seru Reina terpaksa mengikuti Deemon, rambutnya melambai-lambai di terpa angin.


“Itu tak penting! Yang penting sekarang kau harus menemui 'dia'.”


“’Dia’? Dia siapa?”


Deemon tak menjawab, ia melesat terbang menuju rumah Reina, lebih tepatnya ke arah atap rumah Reina. Dimana 'seseorang' yang menunggu Reina sudah ada berdiri di atas atap itu. Kedua tangannya ia masukkan dalam saku celananya, jelas sekali kalau dia sudah berdiri di sana sambil menunggu seseorang.


Tap!!


Reina dan Deemon mendarat di atap rumah tepat di hadapan orang itu.


“Heh! Kemana saja kalian? Aku sudah menunggu kalian dari tadi!” Bentak orang itu.


Tubuhnya seperti anak laki-laki remaja 17 tahunan, dengan memakai kemeja putih yang ia biarkan dua kancing di atasnya terbuka, serta memakai jas hitam melapisi kemeja putihnya itu. Rambutnya berwarna merah seperti darah, dan memilik dua tanduk kecil di atas kepalanya. Ia menyeringai ke arah Reina dengan memamerkan giginya yang tajam.


“Si-siapa?” tanya Reina penasaran.


“Oh, kau tak mengenalku gadis kecil?” sahut laki-laki itu berjongkok menyetarakan tingginya dengan tubuh Reina.


Reina hanya menggelengkan kepalanya.


“Oh, benar juga. Sebelumnya aku bertemu denganmu tidak dalam bentuk seperti ini, khekhekhe” ucap laki-laki itu terkekeh.


“Deemon... Dia siapa?” tanya Reina lagi ke arah Deemon, ia menggenggam erat tangan Deemon, ia takut kalau orang di depannya akan menipunya seperti sebelumnya.


“Nanti kau juga akan tahu. Tenanglah, dia tak akan berani menyentuhmu,” ucap Deemon menenangkan Reina.


Reina menatap laki-laki berambut merah itu, ia berdiri sambil masih memamerkan gigi taringnya, lalu muncul aura merah di belakang tubuhnya. Semakin lama aura merah itu semakin pekat warnanya. Berkumpul jadi satu menutupi tubuh laki-laki itu.


Sssshhhhh....


Aura merah itu berubah bentuk bersamaan hilangnya laki-laki berambut merah, ia menyatu bersamaan dengan aura merah itu berubah menjadi sosok merah yang di temui Reina saat di rumahnya. Ya, sosok merah itu yang ia lihat di belakang tubuh Ayah tirinya.


“Ka...kamu...” Reina kaget melihat perubahan wujudnya.


“Si merah?!!” gumam Reina sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


.


.


Bersambung...