The Story Of REINA

The Story Of REINA
BAB 28 Maya



Jangan lupa untuk tap Like, Rate, Vote dan Kommentnya ya kak 🤗🤗🤗


.


.


Selamat Membaca 🤗


Terik matahari sangat menyengat di siang itu, seorang gadis turun dari sebuah mobil taksi tepat di persimpangan tiga jalan. Ia menyerahkan uang 10 ribuan kepada supir taksi. Gadis itu berusia sekitaran 13-14 tahunan berkulit sawo matang, ia tak jelek, tapi juga tak terlalu cantik. Namun terlihat manis di pandang, apalagi saat dia tersenyum pada supir taksi yang membawanya.


“Makasih ya bang!” ucap gadis itu sambil tersenyum.


“Sama-sama Neng, ini kembaliannya!” Sambil menyerahkan uang lima ribuan.


“Eh?! Bukannya 10 ribu, bang?”


“Buat Neng diskon 50% deh hehe,” tawa supir taksi itu sambil berbisik, dia tak ingin ucapannya di dengar oleh penumpang lain.


“Wah, makasih banyak, Bang! Maya doain moga penumpangnya tiap hari makin banyak deh! Aamiin.” Doa gadis itu yang ternyata bernama Maya.


“Aamiin! Makasih Neng doanya. Hati-hati ya,” ucap supir itu sambil menyalakan mesin mobilnya, lalu melaju perlahan meninggalkan Maya yang masih berdiri di persimpangan jalan itu.


Maya merapikan jilbabnya dan mengangkat ranselnya. Terik matahari siang itu membuat dia sedikit mengeluh, karena kulitnya yang sudah sawo matang malah jadi makin matang.


“Tak apalah, bukankah sawo matang itu buahnya manis? Jadi aku ini anak yang manis,” batin Maya sambil tersenyum memuji dirinya sendiri. Dia jadi teringat ibunya yang bilang kalau dirinya itu berkulit hitam manis. Mengingat tentang ibunya, ia jadi menghela nafas berat. Wajahnya yang sebelumnya tersenyum jadi berubah karena memikirkan sesuatu.


“Bagaimana kabarmu, Ibu? Apa kamu bahagia sama laki-laki pilihanmu? Maaf, aku hampir membencimu selama dua tahun ini, bahkan tak mengunjungimu. Lalu, adik-adikku... Bagaimana kabar kalian? Aku kangen kalian, makanya aku pulang,” Maya membatin.


Ia kemudian mencari pangkalan ojek di dekat sana yang kebetulan jaraknya tak terlalu jauh dari tempat dia turun dari angkot tadi. Karena tempat yang ia tuju masih cukup jauh, masuk ke dalam persimpangan jalan yang ada di sana. Jalannya sudah beraspal, tapi jalannya sudah rusak, untuk masuk ke sana Maya harus naik ojek.


“Assalamualaikum...” ucap Maya di pangkalan ojek itu, yang disana ada beberapa Bapak yang sedang bermain catur selagi menunggu penumpang.


“Waalaikumsalam, dek. Mau kemana?” tanya salah seorang Bapak di sana, umurnya mungkin sekitar 40an tapi masih memanggil Maya dengan sebutan 'Adek' begitu pikir Maya.


“Bisa antarkan ulun ke kampung M?” pinta Maya dengan bahasa sesopan mungkin kepada Bapak-bapak ojek itu. (Ulun: saya).


“Oh, enggeh. Bisa, dek.” (enggeh: boleh).


“Hei, panumpang ngini gasan unda, lah?” (Penumpang ini buat aku, ya?) ucap Bapak itu pada teman-temannya.


“Ayuha, gasan nyawa... Pas haja nyawa balum dapat urdiran panumpang hari ini,” (Iya, buat kamu... Pas saja kamu belum dapat orderan penumpang hari ini).


“Ayo, dek. Naik motor bapak!” Seru Bapak itu dengan ramah. Ia langsung menghidupi mesin motornya yang terbilang cukup tua, karena bunyi mesinnya saja sudah seperti bunyi mesin kelotok (perahu motor (di daerah Kal-Sel) terbuat dari kayu untuk kendaraan di sungai).


Maya pun duduk di belakang motor Bapak itu dengan menaruh ranselnya di tengah-tengah motor itu.


.


.


Motor ojek itu perlahan melaju memasuki jalan ke arah kampung M. Dimana setiap jalan masih banyak pepohonan yang rimbun dan jalannya agak sepi karena masih belum banyak penduduknya.


Jalannya pun sangat rusak, bahkan motor ojek yang di naiki Maya tak bisa melaju kencang. Hanya bisa melaju di jalan sekitar 40 km/jam.


“Pegang yang erat ya dek. Jalan ke arah kampung ini masih belum juga di perbaiki pemerintah. Padahal sudah sangat lama jalan ini rusak, tetap saja tak di perhatikan oleh pemerintah sini.”


“Iya, pak.” Sahut Maya sambil memegang pada pegangan motor yang ada di belakang ojek itu.


“Benar, saat kami ke kampung sini sekitar 6 tahun yang lalu. Saat ibu lebih memutuskan pergi dari Ayah yang mana ibu masih mengandung Reina. Waktu itu jalan ke arah kampung sini juga seperti ini. Tak ada perubahan sama sekali,” Maya membatin sambil terkenang ingatan masa lalunya.


“Pulang kampung, ya dek?” tanya bapak itu sambil mengendarai motornya. Sepertinya ia sengaja mengajak Maya mengobrol untuk mencairkan suasana yang dalam perjalanan.


“Iya, pak. Ibu dan adik-adik ulun tinggal di kampung M. Kebetulan kan lagi libur mau puasa, jadi ulun mau liburan di bulan Ramadhan ini sama keluarga.”


“Adek mondok di pesantren?”


“Iya, Pak. Kok bisa tahu?”


“Kelihatan dari jilbabnya yang lebar, dek. Hehe.”


Maya hanya tersenyum mendengar Bapak itu.


“Adek berapa bersaudara?”


“Ada empat Pak dan saya anak sulung.”


“Oh, iya. Kamu bilang tadi ibu dan adik-adik? Bapakmu mana? Maaf bapak jadi banyak takun,” ucap bapak itu dengan campuran bahasa daerah sana, untungnya Maya sudah mengerti dengan bahasa daerah sana. (Takun: tanya).


“Ibu sama Bapak sudah cerai, Pak. Karena Bapak menikah lagi dengan perempuan lain,” ucap Maya dengan suara merendah, raut wajahnya pun jadi berubah.


“Oh, begitu... Maaf Bapak malah bertakun macam-macam.”


“Tak apa Pak.” Ucap Maya dengan datar.


“Jadi, sekarang Ibumu jadi janda kan? Haha... apa tak apa ibumu sendirian mengurus adik-adikmu?” Tanya bapak itu sambil tertawa pelan.


“Yahh... Tak ada kesempatan lagi deh, buat Bapak, hehe,” keluh Bapak ojek itu sambil tertawa ringan.


“Bukannya Bapak sudah punya istri dan anak kan?! Kalau mereka tahu Bapak di luar bertanya tentang perempuan lain, bagaimana perasaan anak dan istri bapak? Pasti sangat kecewa kan? Bapak tak hanya menyakiti istri bapak, bahkan anak-anak Bapak juga aku yakin akan kecewa mendengarnya. Maaf Pak, saya bicara begini karena saya tahu bagaimana rasanya di tinggalkan seorang Ayah.” Ucap Maya dengan suaranya yang sedikit bergetar karena teringat tentang Ayah dan Ibunya berpisah.


Bapak ojek terdiam, Lagi-lagi ucapan penumpang di belakangnya itu menohok perasaannya.


“Maaf dek. Bapak kan hanya bercanda, haha.” Ucapnya di akhiri tawa yang sangat garing, karena tak ada lucu sama sekali bagi Maya.


.


.


“Pak, di seberang mesjid itu ada gang kecil. Nah, masuk sana ya pak,” ucap Maya sambil menunjuk sebuah mesjid yang di seberangnya ada sebuah gang. Di depan gang itu juga ada sebuah plang sekolah yang bertuliskan ‘SDN KAMPUNG M'.


“Siaap!” Seru bapak itu dengan segera menyalakan lampu reting ke arah kanan dan menyeberang memasuki gang itu.


Sekitar 200 meter memasuki gang terlihat sebuah sekolah yang sepi, karena kebetulan hari itu sudah memasuki hari libur Nasional bulan suci Ramadhan.


“Itu, di belakang sekolah ada yang rumahnya beratap warna biru. Nah, di sana pak!” ucap Maya sambil menujukan jarinya ke arah rumah itu.


“Oke!”


Motor ojek itu berhenti tepat di depan rumah yang di tunjukkan oleh Maya. Maya langsung turun dan menyerahkan uang dua puluh ribuan.


“Ini kembaliannya, dek.” Bapak itu menyerahkan uang sepuluh ribuan dan selembar uang lima ribu.


“Eh?! Gak salah nih, pak? Bukankah katanya aku penumpang pertama Bapak hari ini? Masa cuma 5000 rupiah, pak?”


“Tak apa dek. Itung-itung Bapak bersedekah sama adek. Lalu Bapak juga minta maaf sama ucapan Bapak waktu di jalan tadi yang kalau membuat adek tersinggung. Sepanjang jalan tadi Bapak jadi teringat anak dan istri bapak di rumah. Karena ucapan adek semuanya benar.” Ucap Bapak ojek itu sambil memberikan senyuman yang sangat ramah pada Maya.


“Bapak seorang Ayah yang baik untuk anak-anak Bapak. Terima kasih pak sudah bersedekah sama saya, semoga rezeki keluarga bapak lancar dan mengalir terus buat Bapak sekeluarga,” ucap Maya sambil menerima uang kembalian dari Bapak ojek itu.


“Aamiin... Makasih doanya dek!” Bapak itu langsung memalingkan motornya dan mulai melaju meninggalkan Maya.


Maya menghela nafas melihat kepergian Bapak ojek itu, ia kemudian melangkahkan kakinya ke rumah yang ada di depannya.


Tok...tok...


“Assalamualaikum...!” Maya langsung membuka pintu rumah itu yang tak di kunci.


Mendengar suara yang tak asing di telinga Denny, ia langsung keluar kamar dan menyambutnya.


“Waalaikumsalam, Kak.” Denny langsung menyalami tangan kakaknya itu, di ikuti Khalis yang juga ternyata sudah ada di sana.


“Wah, adik-adik gantengku sudah besar. Lama gak lihat kalian, kalian berdua sudah sebesar ini. Lalu hadiah yang kakak kirim tahun kemarin, apa kalian menyukainya?”


“Terima kasih kak hadiahnya. Tentu saja kami menyukainya.” Jawab Denny.


“Ini, aku dapat juara satu lagi di kelas. Kali ini aku dapat hadiah apa lagi?” Khalis memamerkan buku raportnya ke arah Maya.


“Lis, kakak Maya kan baru datang. Nanti juga bisa kan?” Denny langsung menegurnya.


“Haha, tak apa. Sini kakak ....” Maya mengambil buku Raport di tangan Khalis, namun kalimatnya terhenti saat melihat gadis kecil yang menatapnya di belakang Denny. Dia seperti takut melihat ke arahnya, tampak sekali karena ia bersembunyi di belakang Denny.


“Rei... Kenapa kamu sembunyi seperti itu?” ucap Khalis melihat adiknya.


“Oh, iya. Kamu Reina?! Wahh... Kamu sudah sebesar ini...!” Maya langsung menangkap Reina dan mengangkatnya dengan mudah. Setelah menurunkan adiknya, Reina kembali sembunyi di balik tubuh Denny sambil meremas baju kakaknya.


“Eh?” Maya heran melihat adik perempuannya itu seperti menghindarinya.


“Mungkin dia merasa kakak Maya sebagai orang asing. Ini kan pertama kalinya dia bertemu sama kakak, dulu dia masih kecil, pasti dia sudah lupa sama kakak,” ucap Denny sambil melirik Reina di belakangnya.


“Oh, benar juga!” Maya menepuk kedua telapak tangannya.


“Reina... Sini main sama kakak!” ucap Maya tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya berharap adik perempuannya itu langsung menghampiri dan memeluknya.


Reina masih diam di belakang Denny sambil mengintip kakak perempuannya. Hal itu membuat ketiga kakaknya heran melihat sikap Reina. Padahal biasanya adiknya itu bersikap bisa saja sama orang lain.


Pandangan Reina sebenarnya bukan ke arah kakak perempuannya, tapi lebih tepatnya ke arah sosok yang ada di belakang kakaknya. Dia terlihat seperti laki-laki berbaju serba putih yang kulitnya juga berwarna putih. Bukan putih seperti manusia biasa, tapi warnanya ke arah putih pucat. Dia melayang di belakang Maya itu sebabnya ujung kakinya yang sedikit terlihat oleh Reina tak menyentuh lantai sama sekali.


Wajahnya tidak jelek, malah terlihat sangat tampan, tapi wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa pun dan pandangan matanya selalu tertuju pada wajah Maya.


“Kak... Maya, sama siapa?” lirih Reina dengan suara kecilnya.


Mendengar ucapan Reina, tiba-tiba saja mata makhluk putih itu langsung tertuju ke arah Reina.


Reina terkejut melihat sosok putih itu melotot ke arah dirinya, sehingga dia semakin bersembunyi di balik tubuh Denny sambil meremas baju belakang kakaknya.


.


.


Bersambung... Jangan lupa Likenya ya...