
**Jangan lupa untuk tap Like dan Ratenya ya Readers... 🙂
Selamat membaca...🤓**
.
.
.
“Hahh...hahh...hahh...”
Deru nafas Reina saat berlari, ia memasuki hutan lewat jalan setapak. Ia terus berlari semampu ia kuat menggerakkan kedua kakinya yang sudah terluka. Rasa sakit di kakinya sudah tak ia pedulikan lagi saat terkena duri semak belukar di jalan yang ia lewati.
“A-apa aku sudah cukup jauh dari laki-laki itu?” Batin Reina melihat ke belakang. Ia mengatur nafasnya dan mulai berjalan perlahan.
Reina terus berjalan memasuki hutan yang pepohonannya masih cukup banyak di hutan itu. Bahkan rumput ilalang di hutan itu sangat tinggi, melebihi tinggi tubuhnya.
Reina tak tahu lagi ia harus kemana, ia hanya mengikuti jalan setapak di hutan itu. Hingga ia menemukan sebuah rumah besar yang terbuat dari papan kayu ulin.
.
.
“Halo, cu. Apa kau tersesat?!” Seorang nenek muncul di belakang Reina membuat Reina berteriak karena kaget. Ia langsung menjauh dari nenek itu.
“Oh, dia kan Nenek yang kemarin...” batin Reina.
Nenek itu tersenyum pada Reina. Tapi senyumannya tak seperti senyuman seorang nenek-nenek biasa. Senyumannya sambil menyeringai ke arah Reina.
Nenek itu masih saja menyeringai, sehingga menampakkan keriput di wajahnya. Perlahan ia mendekati Reina, “Sini, cu. Kemarilah...” si Nenek membuka lebar kedua tangannya agar Reina mendekat ke arahnya.
Tubuh Reina seperti terhipnotis dengan suara nenek, sehingga kakinya dengan bergerak sendirinya ke arah nenek itu.
“LAGI-LAGI KAU MASUK KE DALAM HUTAN INI!!”
Teriak seseorang menggema dalam hutan itu. Reina mendongakkan kepalanya ke atas, mencari si pemilik suara, tapi ia tak menemukannya.
“Suara itu... Apa kamu Deemon?!!” Seru Reina sambil mencari-cari makhluk hitam itu di sekitar sana.
“SIAPA KAU?!!” Teriak sang Nenek, aksinya gagal mau menangkap Reina.
Whussshhh.....
Sebuah gumpalan hitam berkumpul terbang di udara, gumpalan hitam itu memadat lalu membentuk seperti tubuh manusia, kepalanya bulat sempurna yang tak memiliki rambut, tak ada mulut dan hidung, yang ada hanya sepasang mata yang bulat sempurna berwarna putih. Ia memakai setelan jas hitam berdasi layaknya seorang bos dalam suatu perusahaan. Tampak sekali aura hitam memancar di belakang tubuhnya.
“SI-SIAPA KAU?!! JANGAN IKUT CAMPUR! ANAK ITU MILIKKU! KAU JANGAN MEREBUT MILIK ORANG LAIN!!” si Nenek melesat terbang dengan cepat mau menangkap Reina. Ia takut kalau anak itu lebih dulu di rebut oleh sosok hitam yang baru saja datang mengganggunya.
BRAKK!!!
Deemon langsung menginjak nenek itu sebelum menyentuh Reina.
“AAARGHHH!!”
Nenek itu mengerang kesakitan, ia menjauhkan diri dari Deemon. Tubuhnya langsung berubah menjadi sangat panjang, besar dan bersisik. Di saat tubuhnya yang berubah, wajahnya juga ikut berubah, ia memakai tudung di kepalanya, wajahnya pucat. Dan dia memegang senjata tajam di kedua tangannya, bersiap untuk menyerang balik pada orang yang telah berani menyerangnya.
Ular itu bergerak dengan gesit berjalan ke atas pohon ke pohon lainnya. Bahkan ular itu bisa melayang di udara.
Reina melihat ular besar yang melayang-layang di hutan itu menjadi sangat takut. Dia berpikir ular itu akan menggigitnya dan akan membunuhnya.
“KURANG AJ*R!! BERANI SEKALI KAU MAU MEREBUT MANGSAKU?!” Ular itu melesat terbang mengelilingi Deemon yang tampak tenang berdiri di tengah-tengah lingkaran tubuh ular itu.
“DEEMOON AWAAS!!” Teriak Reina.
“Hewan melata si*l! Kamu mau cari mati? Sepertinya kau meremehkanku!”
“APA?!! KAU YANG SEENAKNYA MENANTANGKU!! MEMANGNYA KAU SIAPA BERANI SEKALI MENANTANGKU?!!” ular itu berputar dengan cepat mengelilingi Deemon.
Bahkan kecepatannya tak bisa di lihat oleh mata Reina.
“Oh, kamu ingin tahu siapa aku?!”
Bwooshhhh.....
Cahaya hitam yang sangat besar memancar kuat di hutan itu. Lalu Deemon berubah bentuknya, entah itu bentuk aslinya atau bukan, tapi dia berubah jadi sangat besar melebihi ular itu.
Mulut siluman ular itu terbuka lebar melihat sosok hitam bertanduk yang sangat besar di depannya.
“Ka....kau...” gumam ular itu dengan suara yang bergetar di ikuti tubuhnya yang juga menunduk ke arah Deemon.
“A-Ampun... Ampuni hamba tuan! Hamba tidak tahu kalau itu adalah tuan.”
“Heh!! Bukankah kau tadi mau menyerangku? Mana semangatmu tadi?!!” Deemon menyeringai memamerkan gigi-giginya yang tajam.
“Ma-mana mungkin hamba berani mau menyerang Anda, Tuan. Maafkan hamba yang tadi karena tak mengetahui kalau itu adalah Tuan.” Nenek ular itu meringkuk serendah-rendahnya meminta pengampunan pada Deemon.
“MEMANGNYA AKU TUHAN, YANG BISA MEMAAFKAN SEMUA KESALAHAN?!” Deemon mau menyerang nenek ular itu dengan kukunya yang tajam.
“Deemon!” Seru Reina.
Deemon menghentikan serangannya, ia menoleh ke arah Reina.
“Deemon?!” Batin Nenek ular tercengang mendengar Reina memanggil makhluk hitam yang di sembahnya.
“Siapa sebenarnya anak itu?! Kenapa dia bisa memanggil Tuan dengan nama itu?” Nenek ular hanya bertanya dalam hati, ia tak berani bertanya langsung pada mereka.
“Deemon...hiks...hiks...” Reina menangis sambil duduk di tanah. Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya.
Deemon mengubah bentuk tubuhnya ke semula yang menjadi sosok hitam berbentuk manusia. Ia menghampiri Reina dan mencoba untuk menenangkannya.
“Deemon... Tolong aku, hiks...hiks...” isak Reina dalam tangisannya.
“Apa?! Kenapa gadis itu minta tolong sama Tuan? Apa hubungan mereka?!” Batin Nenek ular memperhatikan yang ada di hadapannya.
“Seperti ini kan, cara manusia menghadapi orang menangis?” gumam Deemon yang hanya terdengar oleh nenek ular. Mereka berbicara lewat telepati yang tak di dengar oleh Reina.
“I-iya Tuan...”
“Kenapa Tuan bisa bersikap seperti itu pada seorang anak manusia?” Nenek ular melongo memperhatikan Deemon mengusap kepala anak yang menjadi incarannya itu.
“Kenapa? Kenapa kamu baru datang? Hiks...hiks...Aku mau minta tolong... Tolong selamatkan kedua kakakku, hiks hiks...” isak Reina. Air matanya tumpah mengingat kedua kakaknya yang masih di siksa Ayah tiri mereka.
Reina menatap Deemon, “Bukankah kamu menolongku saat di rumah kosong itu? Kamu bisa memukul mereka sampai beberapa dari mereka hilang tanpa sisa.”
“Ya, aku memang bisa menyerang mereka karena mereka bukan manusia. Beda sama masalah yang sekarang kamu hadapi. Aku tak bisa ikut campur dalam urusan manusia.”
Reina mencerna setiap kata Deemon, ia mengartikan kalau Deemon tak bisa membantunya. Ia kembali menundukkan wajahnya yang terlihat kecewa, sedih dan takut.
“Hiks...hiks... Lalu aku minta tolong sama siapa lagi?”
“Kenapa kamu tidak minta tolong sama sesamamu?”
“Eh? Sesamaku?”
Di saat Reina masih kebingungan, Nenek siluman ular ikut menyela pembicaraan mereka.
“Maksudnya kau harus minta tolong sama manusia sepertimu!” Ucap Nenek itu lantang pada Reina.
“Siapa yang menyuruhmu untuk ikut bicara?!” bentak Deemon menatap nenek siluman ular. Walau bentuk Deemon tak menyeramkan lagi, tapi bisa membuat si nenek itu jadi gemetar ketakutan, lalu meminta maaf.
“Ma-maafkan hamba tuan. Hamba hanya ingin menjelaskan pada anak itu. Dia sepertinya masih belum paham dengan perkataan tuan. Bagaimanapun dia itu hanya anak kecil yang terlihat bodoh.”
“SIAPA YANG KAU BILANG BODOH?!” Teriak Deemon menggema di hutan itu.
Burung-burung jadi beterbangan seperti ketakutan mendengar suara itu, di sertai angin yang cukup kuat menggoyangkan ranting-ranting pohon sehingga menjatuhkan banyak dedaunan di sekitar tempat mereka berada.
“Ampuni hamba Tuan.” Siluman ular itu kembali menunduk pada Deemon layaknya seorang pelayan pada majikannya.
“Sekarang aku akan mengampunimu! Pergi kau dari sini sebelum aku melenyapkan mu!” Bentak Deemon.
“Hiiiii....” pekik nenek siluman ular itu bergerak cepat kabur dari sana. Reina melihat kepergian nenek siluman ular itu masuk ke dalam hutan yang gelap. Kepergian nenek itu membuat rumah besar yang ada di sana berubah seketika. Rumah itu jadi rumah kecil yang bobrok yang sudah tak layak di huni.
Siluman ular itu melesat dengan cepat masuk ke hutan, pikirannya kesal tertuju pada anak manusia yang di temuinya tadi.
“Sial!! Kenapa dia membela anak itu?! Siapa sebenarnya anak itu?”
.
“Hei, mau kemana kau terburu-buru seperti itu?!”
Suara seseorang mengagetkan nenek ular, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari sumber suara.
DAKK!!!
“AARGHHH!!”
Sebuah tombak tajam menghunus tubuh nenek ular.
“Ups! Aku tak sengaja mendarat mengenai tubuhmu yang panjang ini.” Seorang wanita menindih tubuh ular nenek, tubuhnya seperti manusia biasa, tapi ia datang bersama ular yang cukup besar di belakangnya serta membawa sebuah tombak di tangannya. Pakaiannya sangat minim sehingga menampakkan kedua pahanya yang putih serta memamerkan bongkahan gunung kembar di dadanya.
“SIALAN!! LEPASKAN TOMBAKMU INI!!”
“Baiklah” wanita itu mencabut tombaknya dengan kasar.
“AAARGHHHHH!!!”
Cairan hitam keluar sangat deras dari tubuh ular nenek itu. Tubuhnya bergetar dan melemah.
“He~eh... Berisik!” ucap wanita itu sambil mengorek kupingnya yang tak gatal.
“Si...sial... seandainya tadi aku bisa menghisap energi bocah tadi. Aku pasti sudah bisa mengalahkan gadis sombong ini.” Batin nenek ular, ia masih menahan luka di tubuhnya.
“Hihihi... Mati saja kau Nek! Kau sudah tua, lebih baik kau beristirahat saja dengan tenang di neraka. Hahaha!” Tawa wanita itu dengan lantang.
“Ukhh....” rintih nenek ular semakin melemah.
“Bagus! matilah dengan pelan. Dengan begini akulah yang akan jadi penguasa hutan ini. Hahaha!!”
“Huh! Jangan harap! Hahh... Hahh...” Nenek itu berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya.
“Apa maksudmu nenek tua?!” wanita itu mengernyitkan kedua alisnya.
“Hah... Hah... Karena dia sudah bangkit.. hhihihi."
DUAKK!!
BRAKK!!
Wanita itu menendang wajah nenek ular, membuat nenek itu terlempar ke pohon yang cukup besar.
“UHUKK!!” Nenek itu terbatuk-batuk dengan mengeluarkan cairan hitam di mulutnya.
Wanita itu langsung menghampiri nenek itu dan menjambak rambutnya dengan kasar.
“Heh! Nenek tua! Bicara yang jelas! Apa maksudmu tadi, hah?!”
Nenek itu menyeringai dan terkekeh-kekeh menertawakan gadis itu. Wanita itu sangat kesal, namun ia tetap menahan dirinya karena ingin tahu maksud perkataan nenek itu.
“Cepat jelaskan!!” mata wanita itu menyala merah ke arah mata nenek, sehingga mata nenek itu ikut berubah menyerupai mata wanita itu.
“Dia sudah bangkit...” lirih nenek itu sangat pelan.
“Siapa yang kau maksud itu?!” wanita itu mulai tak sabar.
“Dia... Tuan Luci... Fer...”
BRUK!!!
Ssshh....
Nenek itu ambruk dan seketika itu juga tubuhnya menghilang seperti abu yang di tiup angin.
“Apa?!! Tuan Lucifer sudah bangkit?!” batin wanita itu sambil menggigit ibu jarinya sampai berdarah. Wajahnya jadi pucat, keringatnya bercucuran ketakutan setelah mendengar kata terakhir si nenek ular.
.
.
.
Bersambung....